Virus Covid-19 dan Vaksin Puasa-20
Oleh : Muhammad Iqbal Amar
(Sumber foto ilustrasi : google)
Puasa Ramadhan adalah rutinitas umat Islam, yang mana rutinitas setiap tahun ini selalu dinanti dengan penuh kerinduan akan kemuliaannya dan keistimewaannya. Dipandang mulia karena berbeda dengan bulan-bulan biasanya. Bulan Ramadhan dikenal dengan bulan ampunan, bulan diturunkannya Al-Qur’an, dan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Disebut istimewa karena hanya di bulan Ramadhan sebagai tempat membakar dosa dan menuai banyak pahala. Dan cita-cita tertinggi seorang hamba untuk senantiasa berusaha memperoleh lencana taqwa. Atmosfir Ramadhan selalu membawa kisah dan pengalaman spiritual/ sosial yang baru. Mungkin alasan seperti itulah yang membuat sebagian orang menjadi rindu.
Disebut istimewa karena hanya di bulan Ramadhan sebagai tempat membakar dosa dan menuai banyak pahala. Dan cita-cita tertinggi seorang hamba untuk senantiasa berusaha memperoleh lencana taqwa. Atmosfir Ramadhan selalu membawa kisah dan pengalaman spiritual/ sosial yang baru. Mungkin alasan seperti itulah yang membuat sebagian orang menjadi rindu.
Momen sakral spiritual ini dimanfaatkan umat islam sebagai penyucian diri (tazkiyatun nafs) dari berbagai noda dan kotoran yang telah manusia sendiri perbuat. Penyucian diri secara rohani yang dapat dimanifestasikan dalam memperbanyak ampunan terhadap dosa-dosa yang banyak dilakukan atau dilupakan dan menambah intensitas ibadah untuk memperoleh sumber daya pahala dan rahmat disisi-Nya. Secara jasmani, puasa menjadi terapi kesehatan dalam menangkal berbagai toksit dan penyakit. Karena selaras dengan hadits nabi yang berbunyi, “berpuasalah kalian niscaya kalian akan sehat”. Dengan berpuasa kesehatan jasmani dan rohani terjamin.
Beda masa tentu beda rasa, puasa tahun ini, umat Islam harus berjuang secara ganda. Selain berjuang mengalahkan hawa nafsunya sendiri, pandemi covid-19 juga menjadi penguji dan ancaman yang mematikan. Sesuai arahan pemerintah yang memilih mengambil tindakan preventiv dalam memeutus rantai penularan wabah covid-19, yaitu kegiatan dalam bentuk kolektif dan berjamaah yang mewarnai Ramadhan harus dibekukan.
Kegiatan sosial keagamaan berupa pengajian, pesantren kilat, shalat berjamaah, buka bersama, diskusi bareng seminar, dan lain-lainnya terpaksa divakumkan. Semua kegiatan dikonsentrasikan dirumah masing-masing. Beribadah memanfaatkan suasana keluarga lebih baik daripada mengejar pekerjaan dan kesibukan yang penuh resiko.
Kegiatan sosial keagamaan berupa pengajian, pesantren kilat, shalat berjamaah, buka bersama, diskusi bareng seminar, dan lain-lainnya terpaksa divakumkan. Semua kegiatan dikonsentrasikan dirumah masing-masing. Beribadah memanfaatkan suasana keluarga lebih baik daripada mengejar pekerjaan dan kesibukan yang penuh resiko.
Tetapi semua itu adalah bentuk ujian. Sebagaimana firman Allah "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.... (Al Ankabut [29]: 2-3). Puasa diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang beriman. Bagi orang yang beriman pandemi ini adalah bentuk ujian dari Allah.
Meskipun demikian, alangkah baiknya jika puasa ditengah pandemi covid-19 ini, dilihat sebagai sesuatu hal yang positif. Allah sedang memberi ujian yang lebih, agar membuat umat islam semakin terlatih. Allah sedang menegur supaya hidup kita kembali teratur. Dan Allah menurunkan covid-19 supaya memperlihatkan hebatnya vaksin Puasa.
Puasa sebagai vaksin
Sebagaian masyarakat khawatir bagaimana ketika pandemi covid-19 ini belum sirna ketika ramadhan tiba. Sebenarnya puasa mempunyai arti penting bagi umat islam sendiri yaitu sebagai antibodi. Tidak sedikit sekali penyakit yang diobati hanya dengan puasa terutama penyakit batin dan akhlak. Dalam kacamata sejarah pun, puasa menjadi simbol kemenangan bagi umat Islam.
Salah satunya dalam perang badar umat Islam meraih kemenangan besar dalam melawan orang kafir Quraisy Makkah. Dan kemenangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan juga di bulan Ramadhan. Lalu apakah kemudian kita ragu dengan perintah Allah melalui Al-Qur’an yang didalamnya tidak ada keraguan?. Justru keyakinan harus bertambah dan berusaha untuk senantiasa tidak merusak dan terus menjaga kesempurnaan puasa.
Salah satunya dalam perang badar umat Islam meraih kemenangan besar dalam melawan orang kafir Quraisy Makkah. Dan kemenangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan juga di bulan Ramadhan. Lalu apakah kemudian kita ragu dengan perintah Allah melalui Al-Qur’an yang didalamnya tidak ada keraguan?. Justru keyakinan harus bertambah dan berusaha untuk senantiasa tidak merusak dan terus menjaga kesempurnaan puasa.
Tidak tepat juga jika ada seseorang yang meminta umat Islam untuk tidak berpuasa cukup dengan membayar fidyah. Dengan alasan, hal itu jika disalurkan kepada orang yang membutuhkan, diharapkan menyokong kebutuan logistik bagi yang kondisi hidupnya sedang dihinggapi kesulitan. Hal itu tidak efektif untuk menyelesaikan persoalan masyarakat yang kesulitan hidup saat isolasi atau karantina.
Selain itu membayar fidyah membutuhkan syarat-syarat syar’i tidak semerta-merta karena alasan sosial seperti itu dibolehkan. Justru dengan adanya cobaan pandemi Covid-19 ini, bagi umat Islam dan manusia sangat dianjurkan untuk berpuasa sebagai upaya detoksifikasi tubuh dari segala macam racun, penyakit, bahkan virus. Dengan demikian tubuh manusia akan terbebas dari penyakit, virus, dan bakteri karena Allah telah melengkapi tubuh dengan antibodi yang kuat.
Selain itu membayar fidyah membutuhkan syarat-syarat syar’i tidak semerta-merta karena alasan sosial seperti itu dibolehkan. Justru dengan adanya cobaan pandemi Covid-19 ini, bagi umat Islam dan manusia sangat dianjurkan untuk berpuasa sebagai upaya detoksifikasi tubuh dari segala macam racun, penyakit, bahkan virus. Dengan demikian tubuh manusia akan terbebas dari penyakit, virus, dan bakteri karena Allah telah melengkapi tubuh dengan antibodi yang kuat.
Selain menjadikan imunitas jasmani kuat, puasa juga menjadi vaksin bagi penyakit batin, mendorong pribadi manusia untuk senantiasa memperhatikan akhlak dan penyakit batin yang tentu saja lebih destruktif bagi imunitas dan ketahanan mental spiritual tubuh manusia. Yang semula menampakkan keegoisan karena kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan pangan sehingga melakukan belanja besar-besaran dan menimbun.
Di saat puasa dipaksa untuk saling berbagi. Yang semula disibukkan dengan pekerjaan dan proyek, dengan adanya himbauan pemerintah, kegiatan dikonsentrasikan dirumah. Memperhatikan kehidupan keluarga. Dan atmosfir spiritual dan sosial lebih kental. Karena tidak disibukkan dengan kegiatan luar.
Di saat puasa dipaksa untuk saling berbagi. Yang semula disibukkan dengan pekerjaan dan proyek, dengan adanya himbauan pemerintah, kegiatan dikonsentrasikan dirumah. Memperhatikan kehidupan keluarga. Dan atmosfir spiritual dan sosial lebih kental. Karena tidak disibukkan dengan kegiatan luar.
Selain itu sisi positif dengan adanya virus ini, menegur kita supaya all out dalam beribadah kepada Allah. Tanpa hangout, ngabuburit, jalan-jalan yang menghabiskan waktu ramadhan dengan sia-sia. Dalam kondisi seperti ini kita dipaksa untuk tetap berada dirumah dengan mengisi waktu Ramadhan yang berfaedah.
Dengan seluruh kemuliaan dan keutamaan puasa Ramadhan tahun ini yang diwarnai dengan pandemi, semoga bisa melaksanakan secara maksimal dan sepenuh hati. Puasa ramadhan menyehatkan dan mengebalkan badan atas izin Allah. Seiring menuju akhir ramadhan kemenangan akan kita raih, berjuang secara kaffah agar pandemi covid-19 secepatnya musnah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar