Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2025

Retak yang Tertahan

 Retak yang Tertahan

Oleh: Rahma Hulut Daniati


Muak…

Kata yang terus menggema di kepala

Tapi bisakah itu semua benar-benar terucap?

Kurasa tidak—atau tak akan pernah


Mulutku diam, tapi hatiku riuh

Menyimpan makian yang tertahan

Hubungan ini membelenggu suara

Karena jika kuungkap, habislah aku


Aku penasaran…

Bagaimana jika semua ini terbuka?

Akankah runtuh berkeping-keping

Atau tetap utuh, meski dengan retakan?


Mungkin menjauh adalah jawabannya

Bertemu hanya untuk sekadar formalitas

Meski bayangnya tak kunjung sirna

Setidaknya, begini lebih baik


Kendal, 15 Maret 2025


Tahan yang Terpendam

 Tahan yang Terpendam

Oleh: Septi Nur Fatimah



Dingin menyelusup, namun hangat juga menyelimuti

Nyaman, tapi ada gangguan yang tak tampak

Ada yang salah, namun apa yang salah?

Bertahun-tahun aku terperangkap dalam tanya


Berpisah memanglah mudah

Tapi aku menolak untuk melangkah pergi

Aku masih ingin menjadi bagian dari kisahnya

Selama yang kuinginkan, selama aku bisa


Tapi bisakah aku bertahan

Di dalam kabut yang tak kunjung sirna ini?

Kadang aku begitu yakin

Namun keraguan datang menyelimuti hati


Saat rasa tak nyaman menguasai

Aku hanya diam, menahan semuanya

Karena jika kuungkapkan

Habis sudah hubungan ini


Magelang, 15 Maret 2025


Kamis, 13 Maret 2025

Langkah di Tanah Perantauan

 Langkah di Tanah Perantauan

Oleh: Olyvia Bunga Puspitasari


Angin pagi menyentuh wajah

Menyapa jejak di jalan asing

Langkah perlahan menata arah

Di kota jauh yang bising dan hening


Gedung menjulang dingin membisu

Tak kenal nama, tak ingat wajah

Namun semangat terus menyatu

Mengejar mimpi, menembus pasrah


Larik senja di jendela kaca

Mengingatkan rumah yang kian jauh

Namun di dada api menyala

Takkan padam meski rapuh


Perantauan bukan sekadar jarak

Tapi kisah yang harus dituliskan

Meski sendiri melawan gelap

Pasti esok cahaya datang


Temanggung, 14 Maret 2025


Selasa, 11 Maret 2025

Di Ujung Senja

 Di Ujung Senja

Oleh: Nama: Ibnu Sailendra n.


Di ujung senja, cahaya merona,

Langit berbisik, cerita yang lama,

Angin lembut membelai dedaunan,

Menyanyikan lagu, alam yang tenang


Kisah-kisah terukir di atas awan,

Jejak langkah kita, takkan pudar zaman,

Setiap detik berharga, takkan terlupa,

Dalam pelukan waktu, kita berdua


Bintang-bintang mulai menampakkan diri,

Menyinari malam, harapan tak henti,

Dalam hening, kita berbagi rasa,

Cinta yang abadi, selamanya ada


Biarkan malam datang, bawa mimpi,

Dalam dekapan rembulan, kita berlari,

Menuju cakrawala, takkan terpisah,

Di ujung senja, kita temukan bahagia


Semarang, 11 Maret 2025


Sejuta Rindu

 Sejuta Rindu

Oleh : Nabila Retno Intani



Perihal Rindu

Ada rasa yang kian sulit tuk diutarakan

Ada rasa yang kian sulit tuk disampaikan

Gema rasa ini yang kian menyesakkan


Kucurahkan rasa rinduku pada selembar kertas

Dengan tinta yang menari nari diatasnya

Dengan jari jari yang menuntunnya

Kata demi kata yang tersirat penuh akan makna


Akankah rindu ini terobati

Dengan hanya selembar kertas

Akankah rindu ini terobati

Hanya dengan kata tersirat


Kepada siapa rindu ini kusampaikan?

Kutautkan rindu dalam harap akan pertemuan

Sampai kapan lagi rindu ini kusimpan?

Ingin kusampaikan sejuta rinduku padamu


 Temanggung, 10 Maret 2025


Arti Sebuah Kehidupan

 ARTI SEBUAH KEHIDUPAN

Oleh: Bunga suci maharrani


Hidup ini di dasari dengan rintangan

Untuk memahami arti kehidupan

Mulailah belajar memahami

Ini akan sangat berarti


Memang akan banyak rintangan

Maka kuatkan seluruh tekadmu

Untuk berdiri di atas kehidupanmu

Karena semua itu untuk masa depanmu


Semua ta'akan berhenti

Jika kamu berjuang dan terus berjuang

Ketika semangatmu berkobar

Jangan lelah untuk mencari arti kehidupan


Setiap langkahmu akan menjadi kesempatan

Tanpa perlu pikir panjang

Teruslah berjuang demi kehidupanmu

Untuk masa depan yang kamu inginkan


Grobogan, 11 Maret 2025


Senin, 10 Maret 2025

Kun Anta

 Kun Anta

Oleh: Alfin Fahsan Maulana


Berpijaklah di atas kaki mu sendiri

 Jangan biarkan kau jadi benalu

Kemandirian mu akan mandeg

Kau kan lupa jati dirimu


Biarkan kakimu menopang mu

Lapaslah pelukan mu dari orang lain

Penyesalan mu tiada arti kelak

Terlambat melangkah Kau harus kembali ke titik nol


Tak peduli saat itu

kau telah siap atau tidak

Maka raihlah mimpi mu

Tanpa harus bergantung pada siapapun


Kamu adalah kamu....

Jadilah dirimu sendiria Tanpa bayangan siapapun

Karna siapapun engkau

Dirimu lebih berharga dari segalanya


Tegal, 7 Maret 2025


Minggu, 09 Maret 2025

Cahaya Harapan Orang Tua

 Cahaya Harapan Orang Tua

Oleh: Mukhammad Ridho Abidin



Di tiap doa yang kau panjatkan,

Terukir harapan tanpa batasan

Agar aku tumbuh kuat dan tegar,

Menggapai mimpi setinggi bintang bersinar


Peluh menetes tak jadi beban,

Asal aku terus melangkah ke depan

Jangan ragu, jangan gentar,

Aku ingin kau selalu ada, jadi sandaran sabar


Langkahku mungkin akan tersandung,

Kadang letih, kadang bingung

Namun ingatlah, wahai orang tuaku,

Doamu Pasti sangat Membantuku


Aku akan maju tanpa ragu,

Gapai harapanmu dengan tekad yang padu

Doamu cahaya bagi kami,

Kebanggaan hati sepanjang hari


Purworejo, 9 Maret 2024


Jumat, 07 Maret 2025

Ku Harap yang Terakhir


Ku Harap Yang Terakhir

Oleh : Alfri Mauzizah


Hadirmu tak pernah ku nanti

Begitupun dengan hilangmu

Tak ‘kan ada yang bisa mengganti

Wahai dayita terkasihku

 

‘Ku harap kau tak hirap

Amertha dalam kalbuku

Berjanjilah untuk sungguh

Bukan hanya sekedar singgah

 

Jadilah yang terakhir ku cintai

Bersama mu kan ku rintis bahagiaku

Bersedialah menjadi pena untuk puisiku

Sampai pada aksara ku yang terakhir

 

Jangan biarkan lara lagi lagi datang

Bukalah lebar lebar jalan untuk harsa

Agar tak ada seorang pengganti dirimu

Cukup dengan mu saja aku melanjutkan hidup

 

Salatiga, 7 Maret 2025

Purnama yang Berbisik

 

   Purnama yang Berbisik

             Oleh : Shofiyatur Rohmah



 

Hening malam disaat purnama menampakkan keindahannya

Disaat kunang-kunang berdansa dalam cahaya

Memancarkan keserasian bagi jiwa yang melihatnya

Disaat itu juga, jiwa menyadari adanya kekosongan yang tak berdaya

 

Disaat malam yang sunyi

Ku disini menatap persis apa yang pernah terjadi

Namun hembusan angin pun berbisik, menyadarkan akan kekosongan yang tak terisi

Menyadarkan bahwa ada yang berbeda dimalam ini

 

Ku disini kembali, sendiri, benar benar sendiri

Dibangku hijau yang penuh dengan kenangan

Dihiasi dengan suka duka yang hanya dapat di angan

Berharap angan itu kan terjadi kembali

 

Hai teman, apa kau tak ingin hal itu terjadi kembali?

Bersua, bertukar cerita, sambil memandangi purnama

Hai teman, kau lupa mengajariku bagaimana melupakan itu semua

Apakah itu tanda bahwa kau akan kembali bersama?

 

Kab. Boyolali, 7 Maret 2025

Terperangkap dalam Cinta yang Tak Tersampaikan

 Terperangkap dalam Cinta yang Tak Tersampaikan

Oleh: Agus Satriyo


Di sudut hati yang paling sunyi,

Namamu terukir indah abadi

Cinta ini bagai melodi tak bertepi,

Namun tak mampu ku ungkapkan sendiri


Dalam diam aku mencintaimu,

Menyulam rindu dalam hening waktu

Terperangkap rasa, terbelenggu takut,

Bercakap dengan bayang,tanpa kata terucap


Tatapan tertunduk,kata kata tersimpan,

Hati berbisik dalam keheningan

Aku mencintaimu,namun tak berani untuk mengungkapkan,

Membiarkan harapan terpendam


Jika saja keberanian ini menemukan suara,

Mungkinkah kamu akan tahu,

Bahwa dalam sepi ini hanya ada kamu dan rasa cinta,

Tapi, aku akan slalu menunggu seiring dengan berjalanya waktu


Temanggung, 7 Maret 2025


Rabu, 05 Maret 2025

Luka Yang Dalam

 

Luka Yang Dalam

Oleh : Atika Nadiro



 

 

Hati yang dulunya berbunga

Kini hanya meninggalkan perasaan yang gundah

Hanya ditemani akara yang semu

Merengkuh atma yang sedang rapuh

 

Dalam kesendirian, aku terjebak dalam kabut yang begitu tebal

Berkelana di tengah kesepian yang menyakitkan

 Meluapkan kesedihan dalam tangisan

Menyisakan kepedihan yang abadi

 

Mengapa…

Mengapa duniaku kini menjadi begitu gelap

Detik demi detik terasa mambeku menghentikan langkah

Sementara jiwa ku kini terjatuh kedalam luka yang begitu dalam

 

 

Di mana kehidupanku yang dulu …

Aku mencari sinar yang dulu ada

Namun kini hanya ada akara yang datang untuk sekedar menyapa

 

Jambi, 4 Maret 2025

 

Selasa, 04 Maret 2025

Dalam Rengkuhan Ibu

 Dalam rengkuhan ibu

Oleh Asri Jaya Wiyanti



Dia, ibuku

Sosok wanita tangguh tak tergerus waktu

Senyumnya ayu, membelai jiwa yang layu

Binar matanya yang teduh menghanyutkan raga

Meski sukmanya telah membumi, namun cintanya selalu abadi

Ibu,

Bisik merdu dalam lelapku tak lagi ku dengar

Kala mentari menghangatkan dunia, tak lagi ku temui senyummu yang memesona

Bak terhantam batu karang samudra

Mengingatkan pada kasih jauh di sana

Ibu,

Betapa ku merindu tawamu

Air mata bercucuran, tatkala gurat kenangan mengalun syahdu

Doa ku terpatri dalam hening malam nan panjang

Ibu, ku rindu rengkuh hangat mu

Yang selalu bisa menenangkan dunia, yang tak pernah sempurna

Kepada ibu,

Meski raga mu telah melalang buana

Namun kasih mu kan selalu menyelimuti hati

Dalam setiap desiran nafas, ku rasakan belaian manja mu

Laksana bintang, terang benderang dalam kelam

Demak, 05 Maret 2025


Perpisahan Adalah Pilihan Terbaik

 Perpisahan Adalah Pilihan Terbaik

Oleh : Ayu Lu’liatil Afidah



Di bawah langit kelabu yang mendung, Kau dan aku terdiam dalam keraguan,

“Apakah kita masih saling peduli?”

kau tanya, Matamu penuh luka,hatimu terluka


Aku membisu,seakan tak bisa berkata, Kata-kataku terhenti di ujung tenggorokan,

“Jangan biarkan semua ini hancur begitu saja,” Kataku lirih,berusaha memperbaiki yang terluka


Namun jarak tak bisa dihindari,

Sebuah Keputusan yang harus kau buat,

“kita mungkin harus berjalan sendiri-sendiri,” Kau berkata, suara penuh Keputusan


Pada akhirnya,hanya kenangan yang tersisa, Cinta bukan tentang saling memiliki,

Namun tentang menerima perpisahan dengan Ikhlas,

Dan belajar bahwa hidup tetap harus berjalan

Semarang, 3 Maret 2025


Kau Ada

 Kau Ada

Oleh: Alvina Rohma


Kau ada, pada ketika daun jatuh

Kau ada, pada ketika angin berhembus

Kau ada, disetiap detik waktu

Kau ada, pada saat malam menjemput


Binar mata berpendar harap

Di dalam sunyinya malam

Bagai cahaya yang tak pernah padam

Sebuah keindahan yang tak pernah hilang


Pada taman yang penuh bunga

Sebuah melodi merdu terdengar di telinga

Diiringi derasnya hujan yang turun

Kau menjanjikanku kebahagiaan


Menyulam asa dalam kegelapan

Mendekap ragu dalam pelukan sabar

Menjaga mimpi yang nyaris hilang

Kutemui dirimu dalam setiap perjalanan

Tegal, 3 Maret 2025


Syauq

 Syauq

Oleh: Nurul Dahlia


Membaca kisahnya seperti berkelana di kehidupan nyata

Berimajinasi, seolah pernah hidup di masa nya

Bukan nya menjelajahi ruang dan waktu dalam gulita

Justru, kudapati keindahan budi pekerti yang tiada tara


Kelembutan tutur katanya sungguh mempesona

Tak bercela, padat, jelas dan “sarat” dengan makna

Mengingatnya, dapat membersihkan hati yang bernoda

Merasakan ketentraman hingga bercucuran air mata


Akhlaknya menakjubkan, memikat hati setiap jiwa

Bahkan pada seekor buraq tunggangan nya

Merintih menahan duka, sebab rindu dan cinta

Tak disangka, ialah yang terpilih diantara buraq lainnya


Walau harus melewati benua dan samudra

Ada yang rela berjalan agar dapat membebaskan lara

Sebab, pertemuan dengannya adalah sesuatu yang didamba

Meski nyatanya, rasa malu akan dosa itu sungguh menyesakkan dada

Gubug, 4 Maret 2025


Selepas Kehilangan

 SELEPAS KEHILANGAN

Oleh: Iza Nuryani



Kepada Abu …

Matahari baru saja kembali ke peraduannya

Aku tersenyum, melihat ia seakan mengajakku bernostalgia

Satu Windu, tentangnya ...


Aku bersama selepas kehilangan

Ditemani angin yang merayap dalam swasmita

Melepaskan semua keluh dalam kepala

Nyatanya, semua semakin terasa hampa


Aku bersama selepas kehilangan

Larut dalam resah memunguti puing-puing hati yang berserakan

Hei Tuan …

Aku tak pandai merawat kenangan


Aku bersama selepas kehilangan

Menyusuri jejak yang semakin pudar

Aku belajar merajut Cahaya

Dari luka yang ku peluk dengan rela

Grobogan, 3 Maret 2025


Penantian Mati Rasa

 Penantian Mati Rasa

Oleh : Salma Fatimah Az-Zahra


Dalam matamu senja berlabuh

Membuat seluruh mata terpikat jatuh

Senyummu bak bunga mekar di taman firdaus

Mewarnai ruang yang semula tandus


Mata kecil ini diam-diam menatap

Ketika kau mulai berucap

Bak melihat lukisan dewi aprodithe

Hanyut tertawan dalam pesona


Seperti kata bernadya

Kubaca sampai tuntas semua buku yang paling kau suka

Mungkin suatu saat kau anggapku cerdas

Kini menjadi hiburanku dikala rindu menghias


Kisah kita hanyalah angan semu

Bagai fatamorgana di tengah luasnya gurun

Tetapi biarlah, aku hanya cukup menunggu

Sampai rasa ini mati, tertelan waktu


Magelang, 3 Maret 2025


Rindu

 RINDU

Oleh : Tri Murti Azahra


Rindu yang abadi, menghantui hatiku

Seperti bayangan, yang tak pernah lenyap

Kamu datang tanpa permisi, dan pergi tanpa pamit

Meninggalkan luka yang tak pernah sembuh


Malam yang sunyi, aku merasakan kehadiranmu

Seolah olah kamu ada disini, bersamaku

Tapi ketika aku membuka mata, ternyata hanya ilusi saja

Kamu pergi dengan meninggalkan rindu yang tak pernah berakhir


Aku rindu senyummu, yang membuatku bahagia

Aku rindu suaramu, yang membuatku tenang

Aku rindu hadirmu, yang membuatku lengkap

Tapi aku tahu, rindu ini tidak akan pernah berakhir


Wahai bulan di malam hari

Jika kali ini aku berhasil menyinari malam

Tolong sampaikan padanya

Bahwa itu bukan sinarmu tapi itu rinduku

Semarang, 03 Maret 2025


Kerinduan Tak Terbayar

 Kerinduan tak terbayar

Oleh :  Yuniza Zahra Aulia



Di antara atma yang bahagia

Aku menantikan kedatangan mu

Tak sekalipun tampak wajah mu

Sekali pun ku mencari di ujung arunika


Kembali ku rayakan tanpa hadir mu

Rasa rindu yang mendalam

Meciptakan belenggu direlung hati

Menurunkan hujan yang tak diinginkan


Angkasa mengirimkan bintang untuk ku

Seakan memberikan jawaban atas sedih ku

Kehadiran mu seolah terasa dekat

Menenangkan hingga rasanya menusuk jiwa


Sosok mu kulihat dari jauh tersenyum dengan bahagia

Tak kuasa lengan ku untuk sekedar meraih mu

Bunga tidur dimalam hari menyadarkan ku

Bahwa kini hanya doa yang dapat ku panjat kan untuk mu

Bogor, 03 Maret 2025