Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2026

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

 

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

Karya : Fatma Hidayati



Hujan gerimis membasahi pelataran Masjid sore itu. Fatimah, seorang mahasiswi tingkat akhir, duduk bersimpuh di sudut saf belakang yang sepi. Di pangkuannya terbentang kitab Asy-Syama'il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Matanya berkaca-kaca saat jemarinya menyentuh baris demi baris teks yang menjelaskan ciri-ciri fisik Rasulullah SAW.

Nasi Goreng Malam Itu

 

Nasi Goreng Malam Itu

Oleh: Muannisa Lola Magfiroh




                  

 Sabtu sore itu rumah lagi enak banget suasananya, kami kumpul di ruang tamu. Aku, adik, ibu sama ayah duduk santai. Nggak ada yang sibuk sendiri-sendiri. Cuma ngobrol biasa, nonton TV sebentar, terus ketawa-ketawa.

Payung Biru

 

PAYUNG BIRU

Oleh: Dimas Muhammad Asysyifa

 


Kala hujan sore itu, mengguyur sebuah kota dengan ganasnya. Langit yang biasanya cerah berwarna biru, kian kini tertutup awan hitam pekat, seolah ikut merasakan kesedihan yang menggelayuti hati seorang bocah berusia 12 tahun itu. Dengan tubuh kecilnya yang berbalut pakaian lusuh dan basah kuyup, ia berdiri dipinggir jalan yang ramai, menari - nari di bawah derasnya hujan. Namun, ada yang berbeda kali ini, ia menggenggam sebuah payung biru kusam, bercorak cipratan lumpur, dan penuh dengan lubang di beberapa bagian.

Hangat Di Meja Makan

 

Hangat Di Meja Makan

Oleh: Hanisti Ayu Rahmalia



Hujan turun deras sore itu, suara rintiknya mengetuk ngetuk atap rumah kecil milik rahma. Di dalam rumah, aroma sayur sop dan ikan goreng memenuhi dapur, ibu sedang menyiapkan makan malam , sementara ayah baru saja pulang dari bekerja dengan jaket yang sedikit basah oleh hujan.

Rindu Yang Tak Tersampaikan

 

Rindu Yang Tak Tersampaikan

Oleh: zunita afifah

 


Pagi itu berjalan seperti biasa. Matahari baru naik perlahan, dan suara kendaraan mulai ramai di jalan depan kos. Aisyah duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap layar ponsel. Tidak ada pesan baru. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan bersiap pergi ke kampus.

Selasa, 24 Maret 2026

Senja yang Menunggu Adzan

 

Senja yang Menunggu Adzan

Oleh: Siti Arbaiah Pasaribu

                                     


 

Sore di pondok selalu punya suasana yang berbeda saat bulan Ramadhan. Langit mulai berubah warna menjadi jingga, sementara angin sore berhembus pelan melewati halaman pesantren.

Senja di Ujung Dermaga

 

Senja di Ujung Dermaga

Oleh: Rifqi Auliya’

 


Langit sore di kampung pesisir itu selalu berwarna tembaga. Matahari turun perlahan seperti bola api yang malas tenggelam, menyisakan garis cahaya panjang di permukaan laut. Di ujung dermaga kayu yang sudah tua, Arka duduk sambil menggoyangkan kakinya.

Birunya Langit

 

Birunya Langit

Oleh: Imam Khair Assalaam



Pada suatu hari di tahun 2026 , di sebuah negara bernama Malaysia, disana birunya langit sangat istimewa dan berharga, namun bagi Dilla, langit di Malaysia hanyalah langit biasa yang berwarna abu-abu dan membosankan.

Radio Masa Depan

 

RADIO MASA DEPAN

Oleh: Utin Maryatul Ulfa

 

 


Di sebuah kota kecil pada tahun 2045, teknologi berkembang sangat pesat. Televisi, ponsel, dan hologram menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun di sudut sebuah rumah tua, masih ada sebuah radio tua yang tampak sederhana. Radio itu milik seorang remaja bernama Raka yang sangat penasaran dengan masa depan. Ia sering bertanya-tanya, apakah radio yang dianggap kuno itu masih memiliki tempat di dunia yang serba canggih?

Di Antara Goresan Tinta,Warna dan Restu

 

Di Antara Goresan Tinta,Warna dan Restu

Oleh: Adyan Arinal Haq



Di sudut kamar yang jendelanya menghadap senja, Aku sering berbicara dengan cahaya. Bukan dengan suara, melainkan dengan goresan tinta dan  warna. Jingga yang hampir tenggelam di ufuk barat aku tangkap dengan kuas yang sudah agak lusuh, biru yang menggantung di langit aku simpan di sudut skatebook seperti rahasia kecil yang tak ingin dibagi oleh dunia.

Obat Di Kamar No. 4

 

Obat Di Kamar No. 4

Oleh: M.A Sabilarrosyad

 


RABU KELABU, begitulah Ahmad memberi label pada hari itu. Gelora jiwa muda memaksa dirinya masuk ke dalam sandiwara, bak novel-novel bertema asmara. Mengharap akhir bahagia, namun tak terlaksana. "Ah sial, dunia ini terlalu bercanda," umpatnya pelan.

Detik yang Berharga

 

DETIK YANG BERHARGA

Oleh: Marsha Kalyca Fakhrunnisa

 


   "Bip, bip, bip..." Suara getaran sayup-sayup di samping tempat tidur memaksaku terjaga. Aku meraih benda pipih tersebut dan mengerjapkan mata berkali-kali untuk melihat jam di layarnya. "04.15... Heh!" Sontak mataku membulat sempurna. "Aduh, kurang lima menit lagi sudah imsak!" Alhasil, aku hanya sempat meminum seteguk air putih dan membangunkan teman sekamarku yang juga terlambat sahur.

Awal Sebuah Perjalanan

 

 

Awal Sebuah Perjalanan

Oleh: Nurul Laila fajrina

 


Dag… dig… dug…

Jantung Rina berdetak seperti gendang perang yang dipukul tanpa jeda. Tepat pukul 10.00 WIB, layar laptop di depannya terasa lebih menegangkan daripada ruang ujian mana pun yang pernah ia hadapi.Hari itu, pengumuman SPAN PTKIN 2025 resmi dibuka.

Senin, 23 Maret 2026

Mimpi di Antara Luka

 

Mimpi di Antara Luka

Oleh : Umi Aryatul Fitriya



Heningnya malam dan riuhnya isi kepala menyatu dalam gelap, entah apa yang mampu menjadi penawar bagi rasa sepi dan gelisah yang terus mengendap di hati

Ruang di Balik Lemari: Dunia Kecil dalam Kepala Aris

 

Ruang di Balik Lemari: Dunia Kecil dalam Kepala Aris

Oleh: Nayli Rachma

 


      Aris baru saja merayakan ulang tahunnya yang ketujuh bulan lalu. Bagi orang dewasa, usia tujuh tahun adalah masa transisi dari balita yang lucu menjadi anak sekolah yang mulai mandiri. Namun, bagi Aris, dunia luar terasa seperti sebuah konser musik yang terlalu keras, di mana semua orang berteriak namun tidak ada yang benar-benar berbicara padanya.

Pesan Terakhir Di Draf

 

PESAN TERAKHIR DI DRAF

Oleh:Zayyin Masruroh

 


Layar ponsel Arlan retak di pojok kanan bawah, persis seperti hatinya setiap kali melihat notifikasi "Kenangan 1 Tahun Lalu" muncul di Google Photos. Di foto itu, ada sosok Genta yang sedang tertawa lebar, memegang stik PS dengan latar belakang kamar kos mereka yang berantakan.

Kehilanganmu Luka Bagiku

 

Kehilanganmu Luka Bagiku

Oleh: Tasya Mariska



Pagi itu terasa berbeda. Rumah yang biasanya hangat oleh suara ibu kini terasa sunyi. Tidak ada lagi suara lembut yang membangunkanku untuk salat subuh, tidak ada lagi aroma masakan yang selalu membuatku bersemangat memulai hari. Tapi kini semuanya hilang begitu saja. 

“Ibu…kenapa kamu pergi begitu cepat?” bisikku pelan.

Sejak kepergian ibu, hidupku terasa kosong. Setiap sudut rumah mengingatkanku padanya. Dapur yang dulu selalu ramai oleh suara ibu memasak kini sepi. Tidak ada lagi suara lembutnya yang memanggil namaku setiap pagi.

“Apa kamu sudah makan, Nak?” tanya Ayah pelan sambil menghampiriku.

Aku menggeleng. “Belum, Yah… Aku tidak lapar.”

Ayah menarik napas panjang. “Ibu pasti tidak ingin kamu seperti ini.”

Aku menunduk. Dadaku terasa sesak setiap kali mendengar kata ibu. Rasanya baru kemarin beliau tersenyum dan memanggilku dari dapur.

“Nak, sini sebentar,” suara ibu terngiang di kepalaku.

“Ada apa, Bu?” jawabku waktu itu sambil menghampiri.

Ibu tersenyum lembut. “Jangan lupa makan yang banyak. Kamu harus sehat.”

Aku tertawa kecil. “Iya, Bu. Ibu juga jangan capek-capek.”

Kenangan itu kini hilang begitu saj.

“Ayah juga sedih,” kata Ayah tiba-tiba. “Tapi kita harus kuat.”

Aku menatap Ayah dengan mata berkaca-kaca. “Aku kangen Ibu, Yah…”

Ayah menepuk bahuku. “Ayah juga.”

Tak lama kemudian sahabatku, Rani, datang ke rumah.

“Assalamu’alaikum,” katanya pelan.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku.

Rani duduk di sampingku. “Bagaimana keadaanmu?”

Aku menahan air mata yang hampir jatuh. “Aku masih tidak percaya Ibu sudah tidak ada.”

Rani menggenggam tanganku. “Aku tahu ini berat.”

“Aku merasa rumah ini kosong,” kataku lirih. “Tidak ada yang membangunkanku pagi-pagi lagi.”

Rani mencoba tersenyum. “Tapi kenangan ibu tetap ada.”

Aku terdiam sejenak.

“Dulu setiap pagi ibu selalu berkata,” kataku pelan, “‘Bangun, Nak. Cepat bantu ibu beres – beres rumah.’’

Rani bertanya pelan, “Apa lagi yang sering ibu katakan padamu?”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Ibu sering berkata, ‘Belajarlah yang rajin, Nak. Ibu ingin melihatmu sukses.’”

“Pasti ibu sangat bangga padamu,” kata Rani.

Aku menggeleng pelan. “Aku merasa belum membuat ibu bangga.”

“Kamu jangan berpikir seperti itu,” jawab Rani lembut. “Ibumu pasti sudah bangga hanya dengan melihatmu berusaha.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Aku ingin mendengar suara itu lagi,” kataku dengan suara bergetar.

Rani memelukku. “Ibumu pasti bangga melihatmu kuat.”

Aku menghapus air mata. “Tapi kehilangan ibu adalah luka besar bagiku.”

Rani mengangguk. “Luka itu mungkin tidak akan hilang. Tapi seiring waktu, kamu akan belajar menjaganya dengan kenangan yang indah.”

“Aku takut melupakan wajahnya,” kataku pelan.

“Kamu tidak akan lupa,” jawab Rani. “Karena cinta ibu selalu tinggal di hati anaknya.”

Aku memandang foto ibu yang tergantung di dinding.

“Bu,” bisikku pelan, “aku akan berusaha menjadi anak yang kuat.”

Ayah yang berdiri di dekat pintu ikut menatap foto itu.

“Kita semua merindukanmu,” kata Ayah pelan seolah berbicara pada foto ibu.

Angin pagi masuk melalui jendela, seolah membawa kehangatan yang dulu ibu berikan.

Walaupun ibu telah pergi, cintanya tetap tinggal di dalam hatiku.

Dan aku tahu, kehilangan ibu memang luka bagiku, tetapi cinta ibu akan selalu menjadi kekuatan dalam hidupku.

Amanat :

Kita harus menghargai dan menyayangi orang tua selagi ada. Ketika mereka telah tiada, kenangan dan nasihat harus kita jadikan kekuatan untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

 

 

 

 

Belajarlah Bersyukur Dalam Hidup

 

Belajarlah Bersyukur Dalam Hidup

Oleh: Saskia Rahmawati



Namaku Zarahira Ramadhani. Orang-orang biasanya memanggil diriku Rahma, panggilan itu diberikan oleh ibu kepadaku agar aku menjadi anak yang penyayang, baik hati dan mandiri. Tapi sayangnya, semua yang diharapkan ibu berbalik dengan kepribadianku.

Cerita yang Tak Pernah Didengar

 

CERITA YANG TAK PERNAH SEMPAT DIDENGAR

Oleh : Andivia Tsabita

 


Hujan turun sangat deras pagi itu. Langit terlihat gelap seperti menahan sesuatu yang berat. Di jalan yang basah, sebuah motor tergeletak di tengah genangan air. Tidak jauh dari sana, seorang remaja perempuan terbaring tak bergerak.

Zahra dan Hafalannya

 

ZAHRA DAN HAFALANNYA

Oleh : Faizatun Nazila

 


Jawa Tengah, tepatnya di Desa Benda, terdapat pondok pesantren yang di kelilingi sawah-sawah hijau dan udara yang begitu sejuk. Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al Hikmah 2. Di tengah kesejukan udaranya dan keasrian lingkungannya, terdapat satu kisah menarik yang datang dari seorang anak berusia 16 tahun. Ia adalah Fatimah Az-Zahra