Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2024

Kisah Peluh dalam Keluh

 KISAH PELUH DALAM KELUH


Oleh : Rani Ramadhani

Mengenyam pendidikan setinggi mungkin adalah impian bagi kebanyakan orang. Menjadi seorang sanjara, membanggakan orang tua, sukses, dan Sejahtera adalah tujuan semua makhluk didunia. Tak terkecuali gadis 18 tahun yang sedang berjuang melangkah sejengkal kearah Menara gadingnya. Gadis tersebut Bernama Arina Aristiana, biasa dipanggil Arin atau Arina. Kini, tenggat waktunya untuk lulus dari kelas 12 sudah menyentuh 3 bulan. Sudah saatnya bagi para pelajar SMA untuk mendaftarkan dirinya ke Universitas-Universitas yang diimpikan.

Arin dan teman-temannya mendaftarkan diri pada tes UTBK yang bertepatan di IPB Bogor.  Persiapan demi periapan telah ia lakukan dengan baik dan semaksimal mungkin. Tes telah terlaksanaka dengan lancar dan penuh dengan kepercayaan dirinya. Tidak terasa hari berlalu tanpa rasa ragu. Tepat pukul 14.00 WIB hati tidak henti-hentinya berdoa, mulut tidak henti-hentinya berucapkan kata pinta, dan tangan mengepal menadah kepada Sang Kuasa untuk kabar gembira yang entah ia terima atau duka. Arina pun membuka web pengumuman UTBK yang ia laksanakan. Namun, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Kata lulus kini bertulisakan Belum Lulus dengan baground merah.

Gagal bukan masalah besar bagi Arin, ia tetap berusaha mengejar impian yang telah lama ia pendam. Masih ada kesempatan di jalur UMPTKIN, mandiri, dan undangan, katanya. Arin terus belajar, berdoa, dan berusaha mempersiapkan dirinya menuju bulan Mei Dimana akan dilaksanakannya UMPTKIN. Kini, ia melaksanakan tes didekat rumah yaitu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak henti-hentinya Arina berdoa sembari mengerjakan tes. Menunggu dengan sabar ketika pengumuman kelulusan berharap mendapatkan hasil yang diinginkan. Nihil, Arina Aristiana kembali belum beruntung. Keberuntungannya kini masih diharapkannya pada jalur Undangan dan Mandiri Dimana ia akan bertarung sekali lagi.

Kesedihan Arin pecah ketika mendengar teman-teman seperjuangannya telah lolos ke kampus impian mereka. arin menangin, menyalahkan diri, menyendiri, dan mengurung diri didalam kamar. Siapa sangka salah satu teman Arina menghampiri Arina dan menyarankan untuk mengambil jalur Undangan di UIN Salatiga. Segala pertimbangan, diskusi, dan kepercayaan, akhirnya Arin mengambil jalur Undangan tersebut untuk melanjutkan studinya di UIN Salatiga.

Arina terlalu focus dengan keinginan yang dimilikinya. Ia lupa bahwa apa yang ia inginkan belum tentu baik untuknya. obsesi dan terlalu yakin untuk kemauannya, sehingga lupa bahwa allah memberi hamba rezeki itu untuk kebutuhannya bukan kemauan hambanya..dan di situ arina mulai bersyukur karna disini tempat terbaik dan yang di takdirkan untuknya meskipun tidak pernah terbayangkan tetapi ini ketetapan allah untuk hambanya untuk selalu bersyukur dan berdo'a kepadanya. arina pun terus berdo'a dan berterima kasih kepada allah telah memberikan banyak pelajaran hidup dan pengalaman yang bisa diambil hikmahnya untuk bisa menjadi lebih baik.

 

Selasa, 18 April 2023

Ingatan Kecil Tentang 3,5 th Lalu

 


Ingatan Kecil Tentang 3,5 th Lalu

 Isna Wardati Handayani

13 juli 2019,

ya,,, sejarah dimana aku berhasil menghujani mereka dengan perasaan gagal luar biasa. Hari dimana mereka hancur sehancur-hancurnya, jatuh sedalam-dalamnya. Tak perlu Panah Pasopati seperti Pangeran Arjuna membunuh saudaranya, Karna, juga tak perlu menjatuhkan bom atom dalam mematikan apa yang ada di depan mata, bahkan aku tak membutuhkan satu bambu runcing-pun untuk  membuat mereka terluka sedalam itu. nyatanya hanya dengan mulut tak beradap ini aku dengan tak sengaja membuat mereka seterpuruk tiga setengah tahun lalu. 

“Bun,,, aku pengen penerbangan,  bunda sendiri yang bilang dulu ayah ambil kedokteran atas kemauannya sendiri” kataku menggebu, selalu saja begitu hanya masalah ingin masuk jurusan penerbangan saja bunda selalu jadi penentang terkeras atas apa yang ku kehendaki. “apa kabar dengan bunda? Bunda juga ambil hukum karena bunda suka dunia politik,buda pilih sendiri apa yang ingin bunda ambil dulu, giliran aku, hah” kubuang nafasku kasar, tepat didepan bunda aku bicara dengan intonasi setinggi itu. “aku hanya ingin masuk penerbangan, bun. Apa salahnya, masalah uang? Aku yakin ayah sama bunda sanggup biayain aku sampai lulus, toh biayanya ngak semahal masuk kedokteran kok. aku punya cita cita sendiri , aku_”

PLAK... 

Panas, hal pertama yang aku rasakan setelah telapak tangan itu mendarat sempurna di wajah bagian kiriku. Bukan lagi kutangkap bunda dalam retina ini, melainkan ayah telah berdiri dengan kedua tangannya yang masing-masing mengepal disisi kanan kirinya, mata yang menatap nyalang dengan deru nafas amat berat menghadap kearah ku

“Puas!” bentakan itu adalah pertanda bahwa amarahnya tengah membuncah, tak terima atas perlakuan sang putra terhadap bundanya sendiri

“Puas kamu, sudah membuat istriku mengeluarkan air mata, lihat dia menangis karenamu  puas sudah menghancurkan kami, kami mendidik bukan untuk dihardik, kami hanya orang tua yang memimpikan punya anak dengan moral terdidik, jika tak mau diatur pergi!”

Hembusan berat itu tertangkap pendengaran ku, baru kusadari saat ayah berbalik dan merengkuh tubuh wanita parubaya yang kini tengah berderai air mata, menuntun bunda masuk lebih dalam ke rumah, baru satu langkah kulihat bunda meremat lengan sang suami seraya menghentikan langkah, berbalik dan tak kusangka melontarkan kata-kata lembut namun terasa mennyayat hati

"Pergilah nak,,, kejar mimpimu, ingat, jika sudah tercapai, saat bertugas fokuslah, jika lelah istirahat dulu ya, tidur mu dijaga, makannya juga, kami melepasmu nak, maaf tadi ibu sempat melarang mu," Masih dengan linangan air di pipinya, ia menyematkan senyum disetiap lontarkan kata-kata penggerak jiwa, berbalik lalu menggandeng lengan ayah, kulihat bahu itu bergetar, disertai isakkan kecil yang kala itu kian terdengar nyaring. bunda meneruskan kalimatnya,,, 

"Bunda cuma tidak ingin putra satu-satunya bunda pergi dalam tragedi yang sama, kecelakaan pesawat 8 tahun lalu sudah merenggut nyawa adik bungsu bunda nak, maaf maafkan bunda sekali lagi, ayo mas" Penutup dengan ajakan kepada sang suami untuk segera meninggalkan ruang keluarga, ternyata se-sesak ini melihat hati orang yang kita cintai remuk akibat dari mulut penentang sepertiku. Hingga punggung mereka hilang ditelan pembatas ruangan, aku melihat map coklat muda tergeletak diambang pintu ruang yang ku tempati, ya aku ingat, itu map yang sempat dbawa ayahku sebelum ia melemparkannya setelah menamparku tadi, Buru-buru ku dekati barang itu, 

'RADEN' satu kata yang tertulis dibagian depan map dapat kubaca degan jelas, itu adalah nama ku, dadaku bergemuruh, tak tau kenapa hanya dengan hanya membaca bagian depannya saja jantungku seakan ingin menerobos keluar dari sarangnya, 'Tuhan,,, ada apa ini'

Tangan gemetaran dan detak jantung yang kian bertambah kencang, ku beranikan membuka map untuk menilik isinya. 

Hanya ada dua kertas di dalamnya, kertas pertama,  uju raku tidak tau itu membahas tentang apa, kulewati dan segera membaca kertas yang ada di baliknya

DEG

‘Surat Perjanjian Pernyataan Penyerahan anak’

‘Tuhan apa lagi ini’, tabir yang baru ku ketahui seolah mempermainkan apapun menyangkut duniaku, tangan ini tak mampu lagi menggenggam sehelai kertas pun, nama ayah dan bunda serta tanda tangan entah milik siapa yang menjadi penguat bahwa aku memang hanya seorang pendatang yang tak tau apa-apa. Kala itu dimana katanya aku dikatakan lahir ke-dunia, kudapati sepucuk surat yang menyatakan bahwa aku bukan berasal dari rahim yang selama 18 tahun ini kusebut ia sebagai bunda. Kala itu pula adalah awal dimana aku berikrar untuk kebaikan, ‘tahun-tahun berikutnya aku bukan lagi anak pembangkang seperti aku di tiga setengah tahun lalu, awal dimana aku membuang jauh-jauh sifat tak beradap yang sialnya pernah aku miliki dulu, orang tua adalah nomor satu dari segalanya,kujanjikan mereka tak lagi sakit karna mulut ataupun tingkahlaku ku’ 

Entah tetes keberapa yang telah turun melewatiku, aku tak membermasalahkannya. Segera membangunkan diri aku berlari mencari dua malaikat ku sampai akhir hayat nanti, tanpa mengetuk pintu kamar didepanku aku langsung menerobos masuk ke dalam, aku tau memasuki kamar orang tua tanpa seijin pemiliknya adalah tindakan tak sopan. Sekarang yang ada dikepalaku bukan tentang itu, melainkan aku harus segera memintamaaf atas semua yang telah terjadi. Kuhampiti dua orang paru baya yang kala itu tengah duduk ditepian ranjang, aku bertekuk lutut di depan mereka, dengan kata maaf yang tak henti-hentinya keluar dari bibirku dan sebuah janji untuk meninggalkan mimpi memasuki jurusan penerbangan, bukankah mimpi bisa dibangun ulang? Isak tangis semakin terdengar hebar disetiap sudut ruangan kala bunda memelukku erat, merengkuh tubuhku yang tak lagi ada daya hanya untuk sekedar bangkit dari lantai dingin itu, 

“berjanjilah nak, jangan tinggalkan kami, bunda hanya takut orang yang bunda sayang pergi, bunda sama  ayah hanya punya kamu Raden” aku mengangguk cepat diiringi tangan kekar ayah yang menuntunku dan bunda agar sama-sama duduk ditepian tempat tidur. Ingatan itu tak pernah hilang dari benakku, bayang-bayang seberapa sayangnya ayah dan bunda kepadaku telah menempel didadaku, kini dengan hanya menempuk tiga setengah tahun aku telah menyandang gelar seperti bunda, Raden singsagama S.H. Aku sekarang bukanlah aku di tiga setengah tahun lalu,,,

Ayah,Bunda percayalah aku sayang kalian, terimakasih


By: Handayani Isna Wardati


Rabu, 05 April 2023

Firasatku




Firasatku

(Hidayatun Nafiah)

"Pagi pagi udah di bikin overthinking aja" cetus salah satu orang. Mereka menjadi terkenal akibat perbuatan si alex,  nama geng mereka tercemar.

Akan tetapi si alex tidak merasa bersalah sekali pun. 

Saat itu mereka berempat sedang berkumpul riang dibawah rindangnya pohon beringin. Mereka seperti sedang membicarakan suatu hal. 

" gara gara  kamu tuh nama kita jadi di ejek  anak sebelah. " cetus Alessa sambil menjotos dahinya si alex.  

" kok aku terus sih,  kan tadi ga cuma aku yang di sana!" celoteh si alex sembari memanyunkan bibirnya. 

Akan tetapi ketika mereka berdua sedang berdebat, tiba tiba Kiyara  tunjuk  tangan, ia berpendapat kalau semisal sebelum kelulusan SMA ini ia ingin mengukir kenangan sahabat mereka selama 5 tahun. 


Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian dan hasilnya kita berempat lulus semua.


Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi dan mengusap bekas ukiran yg 1 bulan dibuat oleh 4 sahabat itu. Mereka mengukir inisal nama mereka dan universitas yang mereka ingin kan.

Dan tak lupa mereka juga mengubur satu botol yang isinya terdapat segulung kertas warna hitam yang ditulis dengan pena putih. " Kami akan selalu bersama sampai akhir hayat nanti ". Salah seorang membaca kertas itu. 


Keesokan hari, aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi bersama ke suatu tempat dan di situlah saat-saat yang tidak bisa aku lupakan karena aris berencana untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Akhirnya aris dan kiyara   berpacaran.


Begitu juga dengan Alex , dia pun berpacaran dengan Alessa . Malam itu sungguh malam yang istimewa untuk kami berempat. Kami pun bergegas untuk pulang.


Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.


“Perasaanku ngga enak banget ya?” Ucapku penuh cemas.


“Udahlah kya, santai aja, kita ngga bakalan kenapa-kenapa” jawab Alessa dengan santai.


Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Kiyara  terjadi.


“Arissss awasss! di depan ada truk besar!” Teriak Kiyara


“Aaaaaaaaaa!!!”


Bruuukkk. Mobil yang kami kendarai ditabrak sebuah truk muatan besar dan mobil  kami masuk ke dalam kurang.  Aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir sampai aku tidak sadarkan diri.


Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku.


“Kiyara.. kamu sudah sadar, Nak?” Tanya ibuku.


“Ibu.. aku di mana? Di mana Alessa, Alex, dan Aris?” tanyaku.


“Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang sabar ya, Alex dan Aris tidak tertolong di lokasi kecelakaan” Jawab ibu sambil menitikkan air mata.


Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan air mataku menetes, tangisku tiada henti mendengar pernyataan ibu.


“Aris, mengapa kamu tinggalkan aku, padahal aku sayang banget ke kamu,  tapi kamu ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku, kucingku pergi, sekarang kamu .” batinku berkata.

Isak  tangis si Kiyara membuat ibundanya tidak tegas melihat akan anak kesayangnya.


Lantas, 4 bulan berlalu dan aku berkunjung ke makam mereka, aku berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenang kalian.

Kiyara baru sempat mengunjungi makam Aris dan Alex karena selama 4 bulan yang lalu iya harus menjalani perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Selasa, 04 April 2023

Perjuangan Seorang Santri


 Perjuangan Seorang Santri

(Alfan Kurniawan)


Di sebuah pesantren ada seorang santri yang rajin belajar untuk mencapai cita-citanya. Dia sangat gigih dalam belajar, untuk cita-citanya tercapai. Meskipun dia selalu disakiti oleh teman-temannya. Tetapi dia masih semangat dalam mencari ilmu. Cita-cita tersebut dia ingin menjadi guru, alasannya adalah supaya ilmu yang diperoleh dapat diamalkan, dan bermanfaat di kalangan masyarakat.


Di setiap harinya dia selalu mentaati peraturan yang ada di pesantren tersebut. Dia selalu meluangkan waktunya untuk selalu belajar. Dia juga termasuk anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dia selalu ingat pesan dari kedua orang tuanya “berjuanglah demi apa yang engkau inginkan”. Dia selalu mendapatkan rangking kelas setiap tahunnya. Dia selalu berdo’a kepada Allah untuk bisa menggapai cita-citanya tersebut. Meskipun ia tahu bahwa dirinya orang yang tidak mampu. Dia tetap berjuang demi apa yang dia inginkan. Bahwa dia ingin dirinya ketika lulius MA (Madrasah Aliyah) dia ingin mendaftarkan diri untuk kuliah di luar kota.


Setelah bertahun-tahun dia ada di pondok, akhirnya dia sudah lulus, dia pun mendapatkan beasiswa, akhirnya dia mendaftarkan diri untuk kuliah diluar kota. Saat kuliah dia masih mengingat apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Setelah 4 tahun lamanya  akhirnya dia wisuda, dan Alhamdulillah dia sukses menjadi seorang guru. Dan dia bersyukur kepada Allah yang maha kuasa, karena apa yang ia impikan sudah tercapai. Meskipun dia sudah menjadi seorang guru, dia tetap merendahkan diri dan tidak pernah meninggikan diri. Karena dia tahu bahwa ilmu tidak akan mengalir kepada orang yang meninggikan diri. Dan diapun mengajari murid-muridnya dengan baik. Dan diapun membahagiakan kedua orang tuanya dengan kesuksesannya tersebut.


Senin, 03 April 2023

Sebutir Tasbih


 Sebutir Tasbih

( Ikfin haula hakika )

Suasana bulan Ramadhan menentramkan hati para insan yang telah menunggunya, dimana seluruh umat Islam menyambutnya dengan penuh sukacita, hal itu pun di rasakan oleh Aqil, seorang pemuda yang baru boyong dari pesantren An nuronniyyah dengan ridho dan doa sang kyai.

Adzan isya' telah dikumandangkan dengan merdunya di masjid Baitul makmur, para warga sekitar segera keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid untuk sholat isya' dan tarawih secara berjamaah. Acara sholat berjamaah itu pun berlangsung sangat khusyuk dari awal sampai selesai.

setelah itu, Aqil tidak langsung pulang kerumah seperti warga yang lain, karena ia telah dimintai kyai masjid untuk tadarusan ba'da tarawih, dan di saat ia tengah menata meja di serambi masjid, kakinya tak sengaja menginjak sebuah tasbih kayu, tanpa pikir panjang ia segera memungut tasbih itu.

"tasbih siapa ini?" tanyanya dalam hati sembari membolak-balikan benda tersebut.

Aqil pun menemukan sebuah nama dengan huruf arab di bandul tasbih itu, ia mengamati tulisan itu sampai bibirnya bergumam    "Fina cholisantunnisa"

Aira sedang membuat cemilan untuk suami dan putri semata wayangnya di dapur, di tengah keasikannya suara lantunan ayat suci Alquran masuk kedalam telinganya dengan lembut hingga membuatnya heboh sendiri, saking hebohnya Aira sampai memanggil putrinya.

perempuan berwajah bening dengan balutan mukena putih menghentikan bacaan Alquran nya dan keluar dari kamar menuju dapur.

"ada apa umi?" tanyanya halus.

"Fina, coba denger tuh, bacaannya bagus banget.., merdu pula" cetus Aira dengan antusias.

Fina yang baru tersadar akan lantunan Darus di masjid semerdu ini, senyuman manisnya pun terukir di wajahnya tanpa sepengetahuannya, dengan langkah cepat ia kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan sang umi, Fina kembali membuka mushafnya dan mulai menyimak lantunan merdu itu, keesokan harinya Fina tersadar kalau tasbih kesayangannya tidak ada, dengan cemas ia mencari kesana-kemari namun belum juga ketemu, Fina lalu menanyakannya kepada Aira yang tengah menyapu.

"umi lihat tasbih Fina?" "enggak, paling jatuh saat tarawih di masjid kemarin" "umi tahu?"

"kan umi cuman nebak sayang.."

Aqil yang tengah wudhu mendengar dirinya di panggil oleh pak Saman selaku pengurus masjid, ia pun segera menyelesaikan wudhunya dan menghampiri pak Saman, ia sedikit terkejut karena pak Saman bersama seorang perempuan.

"ada apa ya pak?" tanya Aqil sembari membenarkan kopyah putihnya.

Pak Saman mempersilahkan Fina untuk menjelaskan kedatangannya.

kedua insan itu saling melihat satu sama lain, hingga kedua matanya bertemu secara tidak sengaja, Aqil dengan cepat menundukkan wajahnya, hati mereka berdetak kencang.

"A-afwan kang, lihat tasbih Fina nggak"

tanpa berkata apapun Aqil langsung menyerahkan tasbih yang di temunya itu kepada Fina dan pergi begitu saja, namun langkahnya terhenti saat perempuan itu memanggilnya.

"sukron ya kang, Fina pamit dulu, Assalamualaikum"

Fina berlari pergi meninggalkan Aqil yang masih terdiam di tempat, perlahan senyumannya merekah indah di wajahnya, hingga tanpa sadar ia bergumam.  "lucu banget"

sudah hampir dua Minggu pikiran Aqil di hantui  bayang-bayang Fina, dan entah sudah beribu-ribu kali ia meminta kepada Allah untuk berhenti memikirkannya, namun masih saja terbayang wajah Fina. karena hal itu sangat mengganggunya, akhirnya Aqil menanyakan tentang fina kepada pak Saman.

"kok tiba-tiba antum tanya soal Fina?" tanya pak Saman yang heran dengan sikap aneh Aqil.

"a-anu kok pak, cuma tanya aja"   "ohh... gitu.." ada jeda "Fina itu anak satu-satunya kyai zildan, ia sangat di sukai banyak orang, udah cantik, lembut juga orangnya, tapi dia sudah di jodohkan oleh orang tuanya"

"siapa pak?" "kalau itu saya kurang tahu" "gitu ya pak"

Malam ini Aqil tidak pulang kerumah, entah mengapa hatinya terasa sakit akan hal yang di sampaikan pak Saman tadi, ia termenung sendiri setelah tadarusan sampai tengah malam tanpa berpindah tempat sedikitpun, bibirnya terus berdzikir kepada Allah, namun hatinya masih saja terasa sakit, sampai akhirnya ia mengadu kepada sang pencipta.

"Ya Allah, engkau yang mengetahui segalanya, dan engkau pula yang memberi perasaan ku kepada ciptaan mu, namun aku hanya diam karena ku takut perasaan ku padanya akan mengganggu kedekatanku padamu ya Allah"

"Dan kini engkau telah memperlihatkan kepada ku sebuah hal yang dapat menjauhkan ku kepadanya, namun mengapa hati ini masih tidak dapat mengikhlaskan akan hal itu ya Allah"

"Ya Allah, segala perasaan ini aku serahkan kepadamu, karena aku belum bisa memutuskan akan hal yang tidak ku ketahui"

"Andaikan engkau perkenankan diriku denganya, maka aku mohon agar untuk sementara ini, berikan hamba kekuatan untuk melupakannya"

bulan ramadhan telah usai, Aqil mendapat beasiswa untuk kuliah, dan ia juga di tawari oleh temanya pak maman untuk berjualan sempol di dekat masjid yang tidak jauh dari kampus, lalu ia pun menyetujui dan memutuskan untuk tinggal di masjid selama kuliah.

Enam tahun telah berlalu, Aqil pun berhasil menyelesaikan kuliahnya, dan usaha sempolanya berkembang sangat pesat dan mendapat banyak apresiasi oleh warga setempat, karena di setiap hari Jum'at, Aqil menyiapkan beberapa kotak nasi untuk para anak yatim piatu. dan karena usahanya telah berkembang, ia pun sudah tidak berjualan sempolan di dekat masjid lagi, melainkan ia sudah memiliki kios sendiri yang cukup besar dengan dua pegawai,  malam ini ia sujud sangat lama di atas sajadahnya, mensyukuri begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Setelah  acara wisuda selesai Aqil berbincang dengan ibunya di kios sempolanya, mereka berbicara banyak hal, namun wajah Aqil berubah saat sang ibu mengatakan bahwa ustad dari pondok an nuronniyyah.

"Ada urusan apa emang Bu?" tanya Aqil. "katanya pak kyai ingin bertemu dengan mu"

deg.........deg....

Aqil terkejut dengan penuturan ibunya, mengapa kyai ingin bertemu dengan dirinya, kepalanya di penuhi dengan tanda tanya, dan ia hanya bisa menunggu besok saat sowan ke dalem.

keesokan harinya Aqil langsung berangkat ke pondok untuk sowan ke ndalem, namun sebelum ia menanyakan maksudnya datang kesini, sang kyai sudah mendahuluinya.

"Aqil..., kamu sudah melakukan yang terbaik setelah dari keluar dari pesantren ini, kamu juga mengamalkan ilmu yang kamu peroleh, dan dirimu telah membuatku bangga"

Aqil masih menundukkan kepalanya dan mendengarkan dengan baik-baik perkataan sang kyai.

"Kemarin, temanku datang dan memintaku memilihkan imam untuk putrinya, dan aku memilihmu, karena aku yakin kalau kamu telah siap" ada jeda "apakah kamu bersedia".

"InsyaAllah yai" Ahad pagi ibu, Aqil dan pak yai mendatangi rumah temanya pak yai, betapa terkejutnya ketika melihat si pemilik rumah adalah kyai zildan dan umi Aira begitupun dengan Fina yang terkejut atas kehadiran Aqil, muka mereka berdua memerah seketika dan sukses membuat semua orang yang berada di sana kebingungan.

"kenapa Fina?" tanya Aira

namun Fina hanya diam dan menunduk begitu pula dengan Aqil, hati mereka merasa bahagia, ini seperti mimpi yang menjadi nyata ."Afwan, ini kang Aqil kan?, yang tadarusan di bulan puasa kemarin? preertanyaan Fina hampir membuat Aqil jatuh pingsan, tanganya tergenggam kuat, ia tak tau harus berbuat apa kali ini.

"kalian udah saling kenal?" tanya aira. "cuman kenal kok" jawab Aqil dan Fina serempak. seketika mereka menunduk malu, wajahnya pun mulai memerah. sedangkan zildan,Aira,ibu Aqil, dan pak kyai hanya dapat menahan tawanya. suasana hening sejenak sampai pak yai mulai angkat bicara. "jadi kapan akan dimulai" "secepatnya aja pak yai" sahut ibu. "gimana kalau besok" zildan ikut menimpali. seketika semua mengangguk kecuali Aqil dan Fina yang masih gugup akan keadaan "gimana Fina, Aqil?" tanya pak yai. mereka berdua hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. tepat jam sepuluh pagi, semua tamu undangan berkumpul di masjid, dan acara akad nikah pun dimulai, tidak banyak yang diundang hanya tamu-tamu penting saja, acara pun berjalan lancar dari awal hingga akhir.

purnama terlihat terang menyinari teras kamar sepasang pengantin baru tersebut, Aqil dan Fina menikmati indahnya malam tersebut setelah sholat sunah dua raka'at, terlihat mesra di dalam takdir Allah. "mas, Fina kok kayak mimpi ya.." "kamu emang bermimpi sayang, dan mimpi itu jadi kenyataan atas ridhoNya" "mas dulu kalau berdoa pernah menyertakan Fina?"

"sering, karena rasa yang di berikan olehNya aku kembalikan kepadanya, agar di tunjukan ke jalan yang diridhoi Nya" ada jeda "dan jawaban itu telah jelas sekarang, dirimu lah yang di takdirkan untuk ku, Fina qolisatunnisa" "fina sayang mas aqil" ucap fina sedikit lirih namun masih dapat di dengar oleh suaminya.

pa, kamu bilang apa tadi?"

"nggak kok, mungkin perasaan mas aja" elak Fina dengan wajah memerah sempurna. lalu perempuan itu masuk kedalam kamar dengan langkah cepat.

"loh mau kemana?"   Aqil tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya itu."memang lucu banget"     

Tamat.

EMAIL : ikfinhaula@gmail.com

N0 WA : 081904758103


Jumat, 09 Desember 2022

Neraca

Neraca

Oleh : Majda Prawiranegara


ilustrasi diambil dari google


Draf yang ditunda kini telah di sah kan

Bukan membuat bahagia malah meresahkan

Pasal kontroversial yang bertebaran

Namun suara rakyat tetap tidak di 

dengarkan


Si perut besar semakin diberi makan

Rakyat miskin semakin dibuat kelaparan

Kritikan dibilang hinaan 

Rakyat diminta diam mahasiswa dipaksa

bungkam


Kebebasan sipil terancam dikekang

Hukuman koruptor malah diringankan

Nyatanya keadilan tak lahir dari catatan

Namun ada ditangan mereka yang merasa

benar


Kini negri sedang dihujani pertanyaan

Dibuat gaduh oleh keputusan yang ugal-

ugalan

Aspirasi rakyat mana yang dijadikan 

landasan

Keputusan siapa yang kini diperjuangkan



Salatiga, 9 Desember 2022

Minggu, 04 Desember 2022

"Kisah cinta dua keyakinan"

                   

 Kisah Cinta Dua Keyakinan 

Oleh : Syifa Nurfatika Cahyani



                             www.wattpad.com


Mencintai seseorang yang berbeda agama tentu menyakitkan bukan? Selama apapun hubungan beda agama, tentu akhirannya kita tidak bersama. Seperti halnya kisahku, aku dan pacarku berbeda agama, kami sudah bersama sejak SMA, tahun ini merupakan tahun ke-5 kami berpacaran dan kami pun sudah berjanji untuk bersama-sama. 


Hari ini kami sedang berada di taman, menikmati suasana yang sangat indah, kami mengobrol, bercanda dan tertawa bersama hingga pertanyaan darinya yang membuat suasana seketika hening


"Setelah selesai wisuda, bolehkan aku datang melamarmu" ujar rey, laki-laki yang telah bersamaku selama 5 tahun ini


"Tentu saja, jika kau sudah punya pekerjaan tetap, datanglah kerumah, akan ku kenalkan kau dengan orang tuaku"jawab risa sambil tertawa kecil


"Tapi...............Apa orang tuamu menyetujui hubungan kita sedangkan kita berbeda agama kau tahu bukan kita sama-sama punya keyakinan yang kuat"jawab, seketika jawaban itu membuat aku berfikir


"sejujurnya hubungan kita ini salah, bukan cinta yang salah namun keadaan yang memaksa cinta itu menjadi salah, dan aku pun tau bahwa ending dari hubungan ini adalah perpisahan". Jawab ku, kemudian kami sama-sama diam berfikir "apakah hubungan yang dijalani selama 5 tahun harus kandas karena terhalangnya sebuah tembok yang tinggi?"


"Temui aku besok disini, akan ku jawab pertanyaan mu itu"jawabku


Risa pun berpamitan pulang tanpa ada senyuman yang terukir di antara kami, setelah sampai di rumah risa langsung bercerita kepada ibu akan hubungan yang kujalani ini


"Nak, kalau dia mau mengikuti keyakinanmu ibu akan setuju, tetapi jika dia tidak mau mengikuti keyakinan kita, putuskan saja, cari laki-laki yang seiman, orang tuanya pun pasti tidak setuju jika anak mereka meninggalkan keyakinan keluarga mereka begitupun ibu dan bapak yang tidak mau kalau kamu mengikuti keyakinan mereka. Nanti malam, sholat istikharah ya minta petunjuk sama Allah SWT. Semoga besok pagi ada jawaban dari pertanyaanmu itu" jawab ibuku


"Iya bu, kalau gitu aku mau ke kamar dulu"jawabku dan di balas dengan anggukan dari ibuku


Setibanya di kamar risa langsung berfikir akan jawaban yang akan risa jawab untuknya, malam harinya risa pun sholat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT berharap esok hari ada jawaban yang pasti. 

Esoknya ketika selesai  bersih2 rumah bapakku memanggilku dan ingin berbicara serius kepadaku


"Nduk, kemarin ibumu sudah bercerita kalo kamu punya hubungan yang beda agama dengan seorang laki-laki, saran bapak mending kamu putusin laki-laki itu dan kalo kamu mau bapak mau jodohin dengan anak teman bapak, dia takhfiz Qur'an,baik,sabar, dan belum pernah berpacaran katanya juga dia lulusan pondok dan sudah bekerja di perusahaan yang syariah, hubungan kamu sama dia kan nanti bakal gk bisa sama-sama karna keluarga kita sama mereka pasti bertentangan, kalo kamu mau besok kita ketemu orangnya sekalian ta'aruf" jawab bapakku, kemudian bapak pun meninggalkan aku sendiri


Siang ini risa pergi ke taman menepati janjiku untuk bertemu dengan dia dan menjawab pertanyaan kemarin, kulihat dia duduk dengan raut wajah yang sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari mulutku


"Sudah lama kah" Ujarku sembari berjalan ke arahnya


"Tidak, baru 5 menit yang lalu"Jawabnya sambil tersenyum

"Kau sudah tau jawaban yang akan kau sampaikan? " pertanyaan darinya sukses membuat aku terdiam, aku bingung cara menyampaikan jawabanku, kulihat sorot matanya yang sedari tadi menunggu jawabanku


"Kita jalani saja masing-masing kamu sama keyakinanmu begitupun aku, aku sudah membicarakan ini dengan orang tua ku, dan kamu tau apa jawabnya? Mereka memintaku untuk memutuskan hubungan kita ini karna orang tuaku tidak setuju kalo kita bersama dan kalau pun kamu nanti mau pindah keyakinanpun orang tuamu pasti tidak akan menyutujuinya, tidak ada orang tua yang mau anaknya meninggalkan keyakinan keluarganya, dan aku rasa hubungan ini cukup sampai disini seharusnya aku tau akhir dari kisah ini, dan bodohnya aku mempertahankan semua ini, pulanglah cari wanita yang seiman denganmu diluar sana masih banyak yang mau sama kamu lagipun aku sudah di jodohkan dengan teman bapakku, rencananya nanti malam kami akan bertemu" jawabku panjang, kami saling diam tak tau harus apa


"Tapi, apakah tidak ada cara lain, aku mencintaimu sangat mencintaimu, aku sudah berjanji bahwa kita akan bersama hingga tua nanti." ujarnya, 


"Kamu tahu sendiri kan apa yang menghalangi kita dan aku pun siap jika kamu mencari wanita lain karna aku sadar sebesar apapun cinta kita pada akhirnya perpisahan adalah jalannya" jawabku


"Apakah aku perlu meninggalkan keyakinanku agar kita bersama? "


"Jangan, kamu meninggalkan keyakinanmu atas dasar cinta bukan dari hati, dan juga orang tuamu pasti tidak rela jika anaknya meninggalkan keyakinan keluarganya"


"Hufftt........ Baiklah, kita selesai sampai disini semoga kamu bahagia walau bukan bersamaku" jawabnya sukses membuatku ingin menangis


"Kau pun juga" aku hampir tidak bisa menahan air mataku


"Aku pamit semoga waktu mempertemukan kita kembali" jawabnya sembari pergi dari tempat itu


Aku menangis sejadi-jadinya, air mata ini tak bisa ditahan lagi. Kulihat langit yang sangat mendung, sepertinya awan pun tahu akan hari risa yang sedang rapuh itu, risa segera mengelap air matanya itu dan kembali ke rumah ia yakin ibunya pasti mengkhawatirkannya. Setibanya di rumah risa di tanya oleh bapaknya terkait pertanyaan tadi pagi


"Nak, bagaimana dengan jawaban pertanyaan dari bapak tadi pagi? kamu mau atau tidak kalau tidak bapak gk akan maksa kamu, toh ini jalan hidupmu"


"Pak, insyaallah risa siap dan mau menerima tawaran dari bapak"


"Alhamdulillah, kalau begitu nanti bapak kabari teman bapak" bapak pun tersenyum bahagia mendengar pernyataan risa


Malam haripun tiba kini keluarga risa sudah mempersiapkan segala hal guna menyambut tamu penting ini, singkatnya sampailah keluarga teman bapak risa, risa yang masih di kamar merasa deg-degan tak karuan, setelah berbincang-bincang bapak pun memanggil risa untuk menemui keluarga teman bapaknya. Risa yang keluar dengan menggunakan gamis hitam jilbab pink seta sedikit polesan make up itu seketika membuat semua orang kagum


"Ini dia anakku risa, ayo risa kenalan dulu"

Pinta bapak


" Saya risa om "


" Oh ini risa, bapakmu sering cerita tentangkamu nduk, gimana kabarnya sehat" jawab om ikbal yang tak lain adalah teman bapakku


" Alhamdulillah, baik om"


"oh ya kenalkan, ini yusuf anak satu-satunya om, ayo yusuf kenalan dulu"


"Hmm iya abi, ris saya yusuf" sambil menundukkan kepalanya


" salam kenal saya risa " 


Setelah perbincangan yang cukup panjang, om ikbal dan keluarga pun pamit pulang. Seminggu setelah pertemuan itu aku dengan yusuf semakin dekat, hari itu ketika aku sedang duduk di luar rumah, ada pesan masuk yang tak lain adalah rey, pria itu mengirim pesan ingin bertemu dengannya hari itu juga di cafe, risa pun segera bersiap-siap untuk menemui mantan kekasihnya itu, setelah sampai di cafe ia mencari pria itu, ternyata ia sudah duduk disana bersama seorang gadis, kulihat gadis itu tampak asing, wajahnya cantik bermata sipit,putih berambut hitam panjang seketika aku langsung paham alasan pertemuan ini. 


" Permisi, apakah sudah menunggu lama? " tanyaku


" Ah, nggak kok baru saja kami sampai, duduk dulu, oh ya kenalin dia sasha dia calon istriku"


" Oh, hai risa salam kenal" sapaku sambil tersenyum


" Hai juga, sasha salam kenal juga" dia pun membalas dengan senyuman


" Ris, tujuan kami, kami mau ngundang kamu untuk pernikahan kami" ujar rey sembari menyerahkan sebuah undangan. Aku pun menerima undangan itu


" Minggu depan kalian menikah?"


" Iya, aku harap kamu datang"


"pasti, apakah ada yang lain aku mau pamit pulang, tadi aku izin cuma keluar sebentar"


"Iya gpp, silahkan, jangan lupa datang nya"


" Iya, ya sudah aku pamit dulu"


" Silahkan"


Aku pun pamit karena masih syok atas apa yang terjadi ia bingung antara sedih ataupun senang, ia senang rey sudah bisa melupakannya tapi ia sedih karena baru seminggu setelah mereka putus, rey akan menikah. Begitu sampai rumah ia langsung menyerahkan undangan rey itu


" Bu, apa aku boleh datang ke pernikahan dia? " tanya ku


" Ha, rey mau nikah" tanya balik ibuku


"Hmmm ia dia nikah minggu depan"


"kamu kuat ndak kalau datang, kalau kuat boleh tapi sama yusuf ya datangnya"


" Kuat kok bu, ya sudah saya kirim pesan dulu sama mas yusuf kalau dia nggak bisa ya aku pergi sendiri aja"


Aku pun mengirim pesan kepada mas yusuf, kulihat ia membalas pesanku ternyata ia bisa menemaniku menghadiri acara tersebut. Setelah mengirim pesan tersebut ia menunggu cukup lama dan akhirnya ada balasan, isinya yusuf bersedia untuk menemani risa pergi ke pernikahan mantan kekasihnya itu, lalu risa memberitahu ibunya.  Seminggu kemudian ia menghadiri pernikahan rey dan sasha bersama yusuf.


" selamat ya, bahagia selalu semoga sampai maut memisahkan" ucap risa memberi selamat kepada rey dan sasha


" makasih, dan makasih juga sudah mau datang, oh ya dia yang kamu ceritakan itu?"


" iya, kenalin dia yusuf"


"rey" ucap rey sembari menjulurkan tangannya


" yusuf" dan dibalas dengan salaman dari yusuf


" oh ya kami permisi dulu ya, aku tadi pamit sama ibu cuma sebentar" pamitku


" oh ya tidak apa-apa, kalian sudah datangpun aku sangat senang" dibalas dengan sasha


Akupun lalu pulang, ternyata di rumah ayah ibu yusuf dan bapak ibu ku sedang mengobrol membahas pernikahan kami, kami pun terkejut karena mereka merencanakan pernikahan kami sangat cepat yakni 2 minggu lagi. Percepat... 2 minggu kemudian aku dan yusuf pun menikah meski belum sepenuhnya menerima mas yusuf sebagai suamiku namun insyaallah aku yakin ialah jodoh yang telah disiapkan untukku, kami pum hidup bahagia dan dikaruniai seorang putra


( didalam kehidupan masalah mencintai itu bukan sesuatu yang asing apalagi mencintai dengan yang berbeda keyakinan, tugas kita hanya sadar akan hal itu, jika tuhan sudah menghendaki untuk berpisah dan tak mungkim bersatu, maka selama apapun hubungan, perpisahanlah jalan yang memang harus ditempuh)

Senin, 21 November 2022

Perjuangan

 Perjuangan

Anik Muhniyati


"Uhuk,,,uhuk,,,uhuk!!!!" Suara yang selalu ku dengar dari sosok pahlawanku. Kegagahannya, kasih sayangnya dan pengorbanannya tak ada satupun yang bisa mengantikannya.


Jiwa dan ragamu yang selalu membara, keringat menetes menguyur tubuhmu kelelahan yang melanda di setiap waktu tapi engkau!!! Tak pernah merasakan semua itu badan yang ketar ketir terasa panas bagikan kobaran api unggun yang bisa menghangatkan tubuh seseorang, suaramu yang nyaring begitu merdu sudah tergantikan dengan batuk yang tak bisa terhenti, wajahmu yang rupawan selalu memakai topeng penuh canda tawa tergantikan oleh keriput,langkah kakimu yang lebar nan cepat kini terasa berat untuk melangkah.


Diri ini selalu bertanya-tanya dalam hati, apa aku hanya akan berdiam diri dan menerima semua nasib yang menimpaku, selalu berada di zona nyaman  mencari ketenangan dan kenapa sampai saat ini aku masih saja melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali begitu naifnya diri ini, apakah engkau tak kasihan dengan semua perjuangan yang telah ia lakukan, dia rela bekerja  di bawah  panasnya terik matahari yang menyengat sampai hadirnya senja dengan perpaduan angin yang menghantam merasuki tubuhnya.


"Weee sadarlah!!! bangkitlah, larilah dari zona amanmu sejauh mungkin sekuat tenaga hingga engkau  menemukan mahkota yang bisa engkau berikan kepada pahlawanku, kukecup tanganya dan ucapan terimakasih yang terlontar dari perasaan yang paling dalam dan engkau mengenakan mahkotanya, gagahnya pahlawanku" ucapku dalam hati sambil menahan tetesan air mata yang berlinang. Tanpamu aku tak tau arah jalan kehidupan ini dengan hadiranmu yang selalu menuntunku penuh kesabaran bagikan cahaya yang selalu menyinari jalanku, hingga senyuman manis menamparku perpaduan rasa haru yang mengalir didarahku dengan kalimat syukur yang bergetar meronta-ronta di dalam lubuk hatiku ini.


Waktu yang terus berputar kini tugasmu sudah selesai pahlawanku, saat ini engkau telah membebaskan putrimu ini  dari pengawasanmu dan engkau telah menyerahkannya kepada sosok lelaki pilihanmu yang tampan rupawan  begitu juga dengan hati dan akhlaknya yang lembut seperti kain sutra. mulai saat ini kehidupan yang lebih pait akan meraja lela bertarung dengan pikiran,batin dan fisik yang  selalu siyap  mengerogotiku.


"Apakah aku bisa melewati semua ini pahlawanku?" tak terbayangkan apa yang akan terjadi padaku tanpa dirimu.

"Wahai putriku" dengan suara yang lemah lembut disertai uluran tangan mengelus kepalaku penuh kasih sayang. "Engkau memiliki hati yang baik putriku, engkau kuat seperti ultramen, engkau pasti bisa menghadapai semua ini" ucapnya penuh keyakinan. "Terimakasih pahlawanku engkau memang selalu mengerti apa yang ku rasakan dalam suka maupun  duka engkau selalu di sisiku. tapi sekarang waktunya putrimu ini memulai lembaran baru dengan atas ridhamu dan lelaki terbaik pilihanmu".


"Terimakasih pahlawanku engkau begitu berarti dalam hidupku aku tak kan pernah bisa membalas sekecil bakteri atas semua pengorbananmu yang telah engkau berikan pada putrimu ini"



                    _Tamat_

Selasa, 15 November 2022

Tersiksa

Tersiksa

Anik Muhniyati

Gambar ilustrasi dari google

Plak!!! seketika tatapanku mencari sumber suara yang begitu jelas terdengar, berjalan mencari pusat suara dengan langkah kaki yang pelan penuh was-was. terdengar lagi suara histeris yang menjerit jerit ketakutan.

mulut terbungkam badan gemetar pikiran kosong tatapan kunang tak kuasa aku melihat korban pemerkosaan yang begitu tragis dilakukan kepada kembang desa,,,rupamu yang menawan kini bagikan badut yang tak bisa berdandan.

Aku yang hanya sendirian di kelilingi pepohonan yang besar,,, kebingungan mencari pertolongan berteriak sekencang mungkin tak ada seorangpun yang mendengarnya. Tubuh yang sudah di penuhi keterkejutan memaksakan kaki untuk melangkah keluar dari hutan.

Segerombolan bapak-bapak yang sedang makan mendoan sambil menyeduh panasnya kopi hitam dengan nikmat yang melihatku sedang berjalan tak berdaya segera menghampiriku.

Sampailah gerombolan bapak-bapak di tempat kejadian peristiwa merekapun tak kuasa melihat korban yang begitu tragis seperti diterkam binatang buas. Merekapun menguatkan dirinya menahan tetesan air mata yang membasahi semua tubuhnya untuk menolong kembang desa itu.

 _AM_