Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2026

Krisis Disinformasi dan Polarisasi Sosial Akibat Kecerdasan Buatan (AI) dan Deepfake dalam Demokrasi Global

 

Krisis Disinformasi dan Polarisasi Sosial Akibat Kecerdasan Buatan (AI) dan Deepfake dalam Demokrasi Global

Oleh : Dek Indah Lestari

 


Di era modern sekarang kecerdasan buatan dan teknologi deepfake sudah sangat populer baik di kalangan anak hingga orang tua. Generative AI dan teknologi deepfake membawa perubahan yang sangat besar bagi penggunanya khususnya dalam cara memproduksi dan mengonsumsi informasi. Namun di sisi lain teknologi ini membuka peluang inovasi baik di bidang pendidikan, industri kreatif, maupun inovasi lainnya. Akan tetapi di balik potensi tersebut muncul persoalan baru yang sangat terasa baik di lingkungan sosial maupun politik. Dalam konteks nasional, hal ini menjadi semakin mendesak karena kualitas demokrasi sangat bergantung pada ketersediaan informasi yang akurat serta kemampuan masyarakat dalam menilai kebenaran informasi secara kritis.[1]

Disinformasi yang disebabkan oleh AI saat ini bukan hanya berupa teks, melainkan juga gambar dan video yang terlihat sangat nyata. Masalah ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara informasi yang nyata dan yang manipulatif. Dampaknya bukan hanya kebingungan informasi, tetapi juga menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media, pemerintah, bahkan sesama warga.[2] Tak hanya itu, polarisasi sosial pun semakin tajam ketika kelompok masyarakat hanya mempercayai informasi yang mereka dapat dari media tertentu tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.[3] Akibatnya, ruang diskusi publik menjadi penuh konflik dan dialog konstruktif semakin sulit diwujudkan.

Jika masalah ini digali lebih dalam, persoalan ini bukan hanya bersumber dari teknologinya, tetapi juga dari interaksi berbagai faktor. Kemudahan akses terhadap AI membuat pengguna dapat dengan mudah menciptakan konten manipulatif atau hoaks. Di sisi lain, literasi digital masyarakat masih tergolong rendah sehingga belum banyak yang mampu memverifikasi informasi secara mandiri. Selain itu, algoritma media sosial yang mengutamakan keterlibatan pengguna sering kali mendorong penyebaran konten sensasional tanpa memeriksa keakuratannya.[4] Tidak hanya itu, terdapat pula insentif ekonomi dan politik yang mendorong penyebaran disinformasi demi keuntungan tertentu. Regulasi yang tertinggal dari perkembangan teknologi semakin memperumit permasalahan ini.

Untuk menghadapi persoalan yang kompleks ini, tidak semua aspek masalah dapat ditangani oleh individu. Oleh karena itu diperlukan fokus yang realistis. Bagian yang memungkinkan untuk saya intervensi adalah peningkatan literasi digital di lingkungan pelajar maupun masyarakat. Fokus ini saya pilih karena dapat dilakukan dengan sumber daya terbatas namun memiliki dampak jangka panjang dalam membentuk pola pikir kritis.[5] Sementara itu, aspek seperti reformasi regulasi nasional atau pengembangan teknologi deteksi deepfake tingkat lanjut memerlukan otoritas serta kapasitas yang lebih besar dan saat ini masih berada di luar jangkauan saya.

Solusi yang saya tawarkan adalah program literasi digital kritis bagi pemuda dan masyarakat. Program ini dapat dilakukan melalui lokakarya yang membahas tentang hoaks, cara membedakan gambar dan video manipulatif, serta metode memverifikasi berita secara mandiri. Agar kegiatan ini lebih efektif, pelatihan dapat dilakukan secara partisipatif melalui studi kasus dan diskusi reflektif. Pendekatan ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[6] Kolaborasi dengan organisasi, lembaga pendidikan, dan mahasiswa juga dapat meningkatkan keberhasilan implementasi program ini. Program dapat dimulai dari skala kecil kemudian dievaluasi melalui survei pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan.

Meskipun solusi yang saya tawarkan relatif sederhana, setiap solusi tentu memiliki risiko dan konsekuensi. Pelatihan literasi digital dapat saja memiliki partisipasi yang rendah karena isu ini sering dianggap tidak mendesak. Selain itu, program literasi digital berpotensi disalahartikan sebagai upaya memihak kelompok tertentu apabila tidak dijaga netralitasnya. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang inklusif serta kolaborasi dengan berbagai komunitas. Di sisi lain, terdapat pula dilema etis antara menjaga kebebasan berekspresi dan membatasi penyebaran informasi palsu.[7] Dengan demikian setiap langkah yang diambil harus mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan publik dan hak individu.

Sebagai komitmen pribadi, dalam satu tahun ke depan saya berencana menyusun materi literasi digital berbasis infografik, mengadakan setidaknya dua sesi diskusi dengan sekolah atau komunitas, serta membuat konten edukasi di media sosial tentang verifikasi informasi. Langkah ini dirancang agar tetap dapat dijalankan meskipun dengan sumber daya terbatas, sekaligus memiliki target yang jelas dan terukur. Menurut saya, kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten lebih berarti daripada rencana besar yang sulit diwujudkan.

Bagi saya, proses analisis ini merupakan pembelajaran yang sangat penting. Awalnya saya beranggapan bahwa teknologi merupakan penyebab utama disinformasi, namun setelah dianalisis ternyata terdapat berbagai faktor lain yang memiliki peran besar dalam penyebaran informasi palsu. Saya menyadari bahwa solusi teknologi saja tidak cukup tanpa perubahan budaya serta peningkatan pendidikan masyarakat.

Pada akhirnya, krisis disinformasi yang disebabkan oleh kecerdasan buatan generatif dan teknologi deepfake merupakan tantangan nyata dalam demokrasi modern yang tidak dapat diabaikan. Walaupun persoalan ini kompleks dan melibatkan banyak faktor struktural, kontribusi individu tetap memiliki arti penting melalui peningkatan literasi digital dan kesadaran masyarakat. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi bagi terciptanya ketahanan informasi serta kualitas demokrasi yang lebih sehat di masa depan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, Ajay, Joshua Gans, dan Avi Goldfarb. Prediction Machines: The Simple Economics of Artificial Intelligence. Boston: Harvard Business Review Press, 2018.

Castells, Manuel. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Cambridge: Polity Press, 2015.

Chesney, Paul, dan Danielle K. Citron. “Deepfakes and the New Disinformation War.” Foreign Affairs 98, no.1 (2019).

Jenkins, Henry, Sam Ford, dan Joshua Green. Spreadable Media: Creating Value and Meaning in a Networked Culture. New York: NYU Press, 2013.

Ribble, Mike. Digital Citizenship in Schools. Eugene: ISTE, 2015.

Wardle, Claire dan Hossein Derakhshan. Information Disorder. Strasbourg: Council of Europe, 2017.

Wardle, Claire. “Fake News. It’s Complicated.” First Draft News, 2017.



[1] Claire Wardle dan Hossein Derakhshan, Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policy Making (Strasbourg: Council of Europe, 2017).

[2] Paul Chesney dan Danielle K. Citron, “Deepfakes and the New Disinformation War,” Foreign Affairs 98, no.1 (2019).

[3] Manuel Castells, Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age (Cambridge: Polity Press, 2015).

[4] Henry Jenkins, Sam Ford, dan Joshua Green, Spreadable Media: Creating Value and Meaning in a Networked Culture (New York: NYU Press, 2013).

[5] Mike Ribble, Digital Citizenship in Schools (Eugene: ISTE, 2015).

[6] Claire Wardle, “Fake News. It’s Complicated,” First Draft News, 2017.

[7] Manuel Castells, Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age.

PENGARUH DIGITALISASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM MEMBANTU UMKM

 

PENGARUH DIGITALISASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM MEMBANTU UMKM

Penulis: M. Yusuf Wildan

 


Diera yang serba instan ini membuat segala pekerjaan manusia yang tadinya dikerjakan dengan waktu yang cukup lama, sekarang dengan hadirnya teknologi semuanya bisa dikerjakan dengan cepat dan efisien. Digitalisasi dapat membantu pekerjaan manusia dari segala bidang dari mulai komunikasi, transportasi, pendidikan, perkebunan, dan bahkan dalam bidang jual beli suatu barang. Kali ini kita akan membahas perang digitalisasi dalam bidang ekonomi, apa saja dan bagai mana perang digitalisasi dalam perekonomian bangsa. digitalisasi merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari sistem analog, manual, atau fisik menjadi sistem digital yang terkomputerisasi.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk dan pengguna internet terbanyak di dunia, menjadikan Indonesia sebagai mangsa pasar yang potensial dalam memasarkan sebuah produk. Dilansir dari Kompas.com sampai sekarang pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa pada awal tahun 2021 atau mengalami peningkatan sebesar 15,5 persen jika dibandingkan pada awal tahun lalu. Keadaan ini bisa menjadi keuntungan maupun ancaman bagi Negara Indonesia. (Diffa Kamiilah Afrida, 2021)

Digitalisasi bisa menjadi sebuah strategi bagus buat para UMKM untuk mengembangkan dan mengelola usahanya mulai dari untuk pemasaran, distribusi, produksi, dan proses pembayaran semuanya hampir bisa diproses secara digital. Melalui kementrian koperasi dan UMKM, Indonesia secara kusus memiliki program untuk membangun keberadaan koperasi dan usaha kecil dan menengah. Pada setiap masa pemerintahan, pemerintah memiliki kabinet yang memiliki spesifikasi program-program tertentu untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan visi dan misi pemerintah[1]. Baik untuk UMKM besar ataupun kecil semua bisa memanfaatkannya, dan pemerintah juga harus ikut serta mensosialisasikan kepada para UMKM dengan memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM cara penggunaan dan pengelolaan usaha dengan basis digita. Menurut Don Tapscott, ekonomi digital mempunyai 12 atribut. (1) Knowledge. Di ekonomi digital, power of the knowledge diterjemahkan menjadi inovasi-inovasi unggul lewat kesempatan-kesempatan terbaru untuk menciptakan keunggulan kompetitif. (2) Digitization. Transaksi bisnis menggunakan digital technology dan digital information. Pelanggan-pelanggan sebagai digital customers menggunakan digital devices untuk melakukan transaksi dengan perusahaan-perusahaan penjual barang dan jasa sebagai digital enterprises. (3) Virtualization. Di ekonomi digital dimungkinkan untuk merubah barang fisik menjadi barang virtual. Modal intelektual dikonversikan menjadi modal digital. (4) Molecularization. Di ekonomi digital, heavy organization di organisasi tradisional berubah menjadi light organization yang fleksibel, M-form organization (organisasi multidivisional) bergeser menjadi E-form organization atau ecosystem form organization yang mudah beradaptasi dengan lingkungan. (5) Internetworking. Menggunakan jaringan internet untuk membangun interkoneksi membentuk jaringan ekonomi. (6) Disintermediation. Tidak diperlukan lagi perantara, transaksi dapat dilakukan langsung peer-to-peer. (7) Convergence. Konvergensi komputasi, komunikasi, dan konten bersama-sama membentuk multimedia interaktif yang menjadi platform yang penting. (8) Innovation. Imaginasi dan kreativitas manusia merupakan sumbersumber nilai utama membentuk innovation economy. (9) Prosumption. Di ekonomi lama aspek kunci adalah mass production, sedang di ekonomi digital adalah mass customization. Perbedaan antara produser dan customer menjadi kabur, setiap customer di information highway dapat juga menjadi produser. (10) Immediacy. Perbedaan waktu saat memesan barang dengan saat diproduksi dan dikirim menyusut secara drastis disebabkan kecepatan proses digital technology. (11) Globalization. Menurut Peter Drucker "knowledge knows no boundaries." Tidak ada batas untuk transaksi global. (12) Discordance. Akan muncul jurang pemisah antara yang memahami teknologi dengan yang tidak memahami teknologi. Supaya survive, semua pemain di ekonomi digital harus technologically literate yaitu mampu mengikuti technological shifts menuju interaksi dan integrasi dalam bentuk internetworked economy[2]. Hal ini menjadi penting untuk melakukan pemerataan teknologi di berbagai kalangan masyarakat terutama bagi para pelaku UMKM.

Selain   itu,   pemerintah   daerah   dapat   memfasilitasi   pemberian   lisensi perangkat  lunak  gratis  atau  subsidi  aplikasi  selama  periode  awal  penggunaan, guna  mengatasi  kendala  biaya  yang  selama  ini  menjadi  hambatan.  Dalam  upaya mendampingi  proses  transisi  ini,  diperlukan  juga  pendampingan  teknis  intensif selama  tiga  bulan  yang  dilakukan  secararutin,  baik  secara  tatap  muka  maupun daring. Pendampingan ini penting untuk memberikan solusi atas masalah teknis yang  mungkin  dihadapi  pengguna  baru  dan  sekaligus  mendorong  keberlanjutan penggunaan  teknologi.  Untuk  memperkuat  eksekusi  program,  peran  komunitas lokal dan institusi pendidikan tinggi seperti perguruan tinggi atau politeknik dapat dioptimalkan sebagai mitra strategis. Mahasiswa dari jurusan teknologi informasi, manajemen,  atau  kewirausahaan  dapat  dilibatkan  dalam  program  magang  atau pengabdianmasyarakat untuk memberikan pendampingan teknis secara langsung kepada   UMKM.   Kolaborasi   ini   tidak   hanya   akan   menambah   sumber   daya pelaksana  program,  tetapi  juga  memperkuat  keterlibatan  sosial  dalam  proses digitalisasi ekonomi lokal secara berkelanjutan.[3]

Di tengah era yang serba instan, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi perekonomian bangsa. Indonesia, dengan ratusan juta pengguna internetnya, berdiri di ambang peluang besar sekaligus tantangan nyata. Agar UMKM kita tidak hanya menjadi penonton di pasar yang luas ini, kolaborasi antara inovasi digital dan dukungan pemerintah melalui pelatihan teknologi menjadi kunci. Intinya, masa depan ekonomi kita terletak pada kemampuan para pelakunya untuk melek teknologi dan beradaptasi dengan 12 atribut ekonomi digital demi terciptanya ekosistem usaha yang tangguh dan global.

Digitalisasi telah mengubah paradigma ekonomi Indonesia dari sistem manual ke sistem digital yang lebih cepat dan efisien. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari 202 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar sekaligus tantangan dalam literasi teknologi. Melalui penerapan 12 atribut ekonomi digital menurut Don Tapscott—seperti inovasi, virtualisasi, dan globalisasi—digitalisasi menjadi strategi krusial bagi UMKM untuk berkembang. Namun, keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada peran pemerintah dalam memberikan pelatihan dan sosialisasi agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan menghindari jurang pemisah digital

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Diffa Kamiilah Afrida, E. W. (2021). Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai Pendongkrak UMKM. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Pembangunan, 152-153.

Ismi Islamiati, S. Q. (2025). Peran digitalisasi dalam pemberdayaan ekonomi UMKM melalui aplikasi kasir pintar. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M), 547-549.

Widiyanti., S. M. (2020). STRATEGI PENGEMBANGAN DIGITALISASI USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM). DIGITALISASI UMKM.

Wijoyo, H. (2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia mandiri.

 

 

 

 



[1] Diffa Kamiilah Afrida, E. W. (2021). Peran Digitalisasi Koperasi Sebagai Pendongkrak UMKM.  Prosiding Seminar Nasional Ekonomi Pembangunan, 152-153.

 

 

[2] Wijoyo, H. (2020). digitalisasi umkm. Kapalo: insan cendikia mandiri

[3] Ismi Islamiati*, Shofi Qurrotul ’Aini, Aan Anisah, Nasir Asman. (2025). Peran digitalisasi dalam   pemberdayaan ekonomi UMKM melalui aplikasi kasir pintar. Hal 554

 

Kamis, 05 Maret 2026

Peran Strategis Generasi Muda Dalam Menghadapi Krisis Lingkungan

 

PERAN STRATEGIS GENERASI MUDA DALAM  MENGHADAPI KRISIS LINGKUNGAN

Oleh: M Husni Mubarok



PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri jika pemuda/i merupakan aset yang dimiliki suatu negara, di mana generasi muda merupakan sekolompok individu terdidik berbekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Generasi muda dapat memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, sebagai kaum intelektual yang mampu berperan sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Agent of change sendiri merupakan seseorang atau sekelompok orang yang mampu memberikan dorongan kepada orang lain untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik Sederhananya, maksud dari Agent of change ini ditujukan kepada orang yang memiliki kendali di masa depan dengan memiliki visioner untuk mewujudkan kehidupan layak, baik untuk diri sendiri dan masyarakat lain. Generasi muda sebagai agent of change harus mampu untuk berperan ganda sebagai pelaku dan perintis perubahan. Tanpa aksi nyata yang diberikan oleh generasi muda, tentunya akan sulit untuk mewujudkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Kurang-Nya Kesadaran Terhadap Lingkungan Sekitar

Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan dalam dunia pendidikan, Secara grafis, sebaran isu dengan tingkat prioritasnya dapat dilihat bahwa masalah sampah hampir sama kuatnya dengan masalah pendidikan. Problematika sampah merupakan dampak dari kurang efektifnya sistem pendidikan di Indonesia sehingga menjadi salah satu konplik kotor nya lingkungan karena ketiadaan nya kesadaran kita terhadap lingkungan. Pendidikan juga berperan penting dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah yang kompleks. Penelitian telah menunjukkan bahwa meningkatkan pendidikan lingkungan dapat secara positif mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan perilaku individu terhadap pengurangan sampah, daur ulang, dan pembuangan yang besar akan adanya bencana jika tidak segera di atasi dengan cepat. dampak pendidikan lingkungan terhadap perilaku pengelolaan sampah mahasiswa di Turki. Para peneliti menemukan bahwa siswa yang menerima pendidikan lingkungan yang komprehensif lebih mungkin untuk terlibat dalam pemisahan sampah, daur ulang, dan praktik pembuangan yang tepat dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima pendidikan tersebut. Hal ini menyoroti pentingnya memasukkan topik-topik yang berhubungan dengan sampah ke dalam kurikulum sekolah dan universitas untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dan perilaku pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di kalangan generasi muda sebagai agent of change.

Pentingnya Peningkatan Kualitas Pendidikan dalam Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan

Salah satunya adalah perkembangan teknologi, perkembangan teknologi memiliki dampak baik bagi dunia pendidikan karena dapat memudahkan pembelajaran untuk memahami dampak negatif yang terjadi di kehidupan atau lingkungan sekitar, Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa intervensi pendidikan yang ditargetkan dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam praktik pengelolaan sampah. Sebuah studi yang dilakukan oleh Purcell dan Magette (2010) mengevaluasi dampak dari program edukasi sampah terhadap timbulan sampah rumah tangga dan tingkat daur ulang di Irlandia. Temuannya menunjukkan bahwa program tersebut, yang mencakup lokakarya dan kampanye informasi, menghasilkan peningkatan substansial dalam tingkat daur ulang dan pengurangan timbulan sampah secara keseluruhan. . Pendidikan juga berperan penting dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah yang kompleks dengan mengadakan pembelajaran-pembelajaran akan kesadaran terhadap lingkungan, Studi-studi ini menyoroti peran penting pendidikan dalam membentuk perilaku individu dan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Dengan menumbuhkan kesadaran lingkungan, pengetahuan, dan rasa tanggung jawab, inisiatif pendidikan dapat mengkatalisasi adopsi praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan, yang pada akhirnya berkontribusi pada pengurangan masalah terkait sampah (Varotto & Spagnolli, 2017). kemdikbud berupaya untuk menyiapkan pendidik yang unggul dengan cara memberikan pelatihan ke tiap sekolah se-Indonesia untuk merubah mindset para pendidik agar tidak berpikir bahwa fungsi pendidik hanya sebagai penyampai informasi, tetapi fungsi pendidik juga menciptakan metode pembelajaran menyenangkan dan memberdayakan peserta didik agar dapat mengisi dirinya secara mandiri (Sakarinto, 2021). Jika kesadaran ini sudah tumbuh, maka perubahan akan lebih mudah dilakukan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dalam karya ilmiah ini dapat disimpulkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi krisis lingkungan, khususnya permasalahan sampah yang semakin kompleks. Sebagai agent of change, generasi muda dituntut tidak hanya memiliki wawasan dan pengetahuan, tetapi juga mampu melakukan aksi nyata dalam menumbuhkan kesadaran dan perubahan perilaku di tengah masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif generasi muda, upaya perbaikan lingkungan akan sulit terwujud secara optimal.

Permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini erat kaitannya dengan kurangnya kesadaran dan pendidikan lingkungan yang efektif. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci utama dalam membentuk sikap, pengetahuan, dan perilaku peduli lingkungan. Integrasi pendidikan lingkungan dalam kurikulum, dukungan teknologi pembelajaran, serta peran pendidik yang inovatif dan memberdayakan sangat penting untuk menanamkan tanggung jawab ekologis sejak dini. Dengan pendidikan yang berkualitas dan kesadaran yang kuat, generasi muda dapat menjadi motor penggerak terciptanya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan masa depan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKATop of Form

          Putri Tsania Azzahra, Masduki Asbari, and Devina Evifa Nugroho, “Urgensi Peran Generasi Muda Dalam Meningkatkan Pendidikan Berkualitas” 03, no. 01 (2024): 90–92.

 

          Rizal Ramdani et al., “Discussion on Radio : Peran Generasi Muda Dalam Menjaga Lingkungan” 2, no. 4 (2024): 719–28.

 

          Azzahra, Asbari, and Nugroho, “Urgensi Peran Generasi Muda Dalam Meningkatkan Pendidikan Berkualitas.”

          Indriyani Rachman et al., “PERAN GENERASI MUDA DALAM UPAYA MEMAHAMI DAN MENGANALISIS ISU-ISU PERMASALAHAN LINGKUNGAN” 26 (2024): 103–12, https://doi.org/10.23969/infomatek.v26i1.14307.

 

          D A N Lingkungan, Dalam Mewujudkan, and Indonesia Emas, “1 , 2 3 ,” n.d., 164–72.

 

 

 

Bottom of Form

 

Peran Remaja Dalam Upaya Menjaga Lingkungan

 

PERAN REMAJA DALAM UPAYA MENJAGA LINGKUNGAN

Oleh:Al Guevara Az Zidan Farid


 

Lingkungan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia yang sudah seharusnya dijaga oleh manusia itu sendiri.  Manusia hidup berdampingan dengan alam dan juga dapat memanfaatkan sumber daya yang dihasilkan untuk bertahan hidup ataupun sebagai sumber mata pencaharian. Pemuda memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam hal pelestarian lingkungan hidup.

Salah satu tantangan terbesar dalam melestarikan lingkungan adalah kurangnya kesadaran lingkungan dikalangan para pemuda itu sendiri. Melalui tulisan ini diharapkan pemuda dapat lebih menyadari bahwa perilaku mereka terhadap alam dapat mempengaruhi kondisi alam dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam melestarikan alam. Salah satu langkah awal untuk membentuk karakter pemuda yang lebih peduli terhadap keberlanjutan ekositem dan alam sekitar adalah dengan cara membentuk pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai pancasila.

Penting juga untuk memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil untuk melibatkan pemuda dalam pelestarian lingkungan tidak hanya berbentuk kegiatan simbolis namun juga memberikan dampak bagi lingkungan ekosistem disekitarnya. Oleh karena itu setiap program yang akan dilaksanakan harus terukur dan memiliki indikator keberhasilan yang jelas.

Setelah pelaksanaan kegiatan, dilakukan survei untuk mengukur perubahan pemahaman pemuda terhadap isu-isu lingkungan hidup yang ada. Survei ini berfokus pada tingkat pemahaman pemuda  mengenai kebersihan lingkungan, pengelolaan, dan kesadaran akan pentingnya penghijauan.

Keberhasilan pengabdian ini bergantung pada kemauan dan keterlibatan seluruh pihak yang terkait,, baik pemuda, masyarakat, dan pemerintah, maupun sektor swasta. Kolaborasi dari semua pihak itulah yang akan menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan dalam menjaga lkelestarian lingkungan hidup.

 

 

Daftar pustaka

 

Chandra, F. (2021). Peran Pemuda Sebagai Agen of Change Lingkungan Hidup dalam Rangka Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan. ADIL, 3(1), 1-11

 

Jannah, R. (2018). Menciptakan Kewarganegaraan Ekologis di Era Digital Melalui

Kampoeng Recycle Jember. Journal of Urban Sociology, 1(2), 14-26.

 

Rohman, A., Islamia, S., & Suciati, E. (2024). Peran dan Esensi Karang Taruna dalam Pengembangan Masyarakat di Desa Jangur. Profetik: Jurnal Pengabdian  Masyarakat, 2(2), 23-35.

 

Rahayu, A. S., IP, S., & AP, M. (2024). Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan (PPKn)(Edisi Kedua). Bumi Aksara

 

Sarumaha, M. (2024). Sains Biologi Dalam Tradisi Lokal: Sosialisasi Kepada Masyarakat Teluk Dalam Untuk Pelestarian Alam Berdasarkan Kearifan Budaya. HAGA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 109-124.