KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Oleh: Munif Akhsan
Gambar ilustrasi dari Google
Mungkin ada salah satu dari pembaca yang merasa enggan, canggung, dan sungkan saat pertama kali bergabung dalam suatu lingkungan baru. Tetapi, ada yang lebih di waspadai yaitu tekanan dari para senior. Bicara soal senioritas, apakah pembaca sudah mengetahui definisi senioritas? Menurut KBBI senioritas berarti keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia.
Sedangkan bagi sebagian mahasiswa ketika mendengar kata "senioritas" pikiran mereka akan tertuju pada kakak tingkat yang berbuat seenaknya pada adik tingkatnya saat PKKMB berlangsung. Sok mengatur dan sok paling berkuasa sudah terpatri pada sebagian mahasiswa mengenai kakak tingkatnya. Ya sebenarnya wajar saja, mereka memang sudah dahulu menjalani kehidupan kampus.
Pertanyaannya, seberapa pentingkah senioritas bagi mahasiswa baru? Penguatan mental dan kedisiplinan katanya. Tetapi urusan mental tidak bisa disamaratakan tiap individu. Malah sering menjadi rasa takut daripada rasa hormat. Sayang, banyak senior yang lupa bahwa yang dihormati bukan hanya mereka saja, melainkan ada jajaran struktural kampus lainnya. Katanya senioritas penting untuk mengingatkan tentang tata krama dalam menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Lantas, dimanakah letak sayang itu saat senioritas menggerakkan tangan bajanya?
Senior mengeksploitasi junior dengan peraturan tak tertulis yang membuat jengkel. Seperti "Poin A: Senior selalu benar. Poin B: Jika junior satu salah, semua kena masalah. Poin C: Junior tak pernah benar". Kekerasan akan melahirkan kekerasan. Senioritas yang buruk akan menjadi tradisi sebagai wujud dari balas dendam. Berulang-ulang terus entah sampai kapan, seakan menjadi wadah bagi para bajingan tanpa teladan.
Senioritas, eksploitasi tanpa batas. Anggapan tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar. Asalkan dilakukan dalam koridor-koridor kemanusiaan. Senioritas bisa meningkatkan hubungan timbal balik yang baik antara senior dan juniornya. Senioritas juga bisa menanamkan paradigma berpikir menjadi lebih kritis. Senioritas juga penting untuk membimbing mahasiswa supaya tidak salah jalan. Memberi pemahaman mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan), penjaga nilai dan moral, dan penerus bangsa. Mencintai tanah air, bukan cinta jurusan atau almamater yang berakibat sombong dan fanatik nantinya.
Senior yang berwawasan luas lebih dibutuhkan junior daripada yang hanya duluan bergabung. Masih terlalu banyak mahasiswa senior yang bermental sok kuasa, merintih jika ditekan tetapi menindas jika berkuasa.
"Maaf para senior, ini hanya sebuah opiniku belaka."
(Salatiga, 02 Desember 2021)
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Mereka Yang Merendahkanmu, Bukan Urusanmu
Arif Dika
ilustrasi dari google
Kita akan dirubah oleh lingkungan jika kita tidak mempunyai pendirian. Sebagai manusia biasa, tentu kita tidak bisa mengontrol lingkungan yang negatif ataupun mengontrol hal-hal buruk yang datang kepada kita. Namun kita dapat mengontrol diri kita sendiri.
Banyak yang berfikir ketika kita tidak punya bakat untuk melakukan sesuatu, maka kita tidak akan bisa maju. Terlebih, jika lingkungan atau bahkan keluarga kita sendiri tak pernah percaya dengan kemampuan kita.
Jangankan mengembangkan bakat, terkadang banyak yang tak tau apakah dirinya berguna atau tidak. Dia tak punya apa-apa, mulai dari visi, materi, hingga relasi tak satupun dimiliki.
Heh, padahal miskin bukan berarti tidak boleh kaya, bodoh bukan berarti tidak bisa pintar. Walau takdir sudah berjalan, tapi doa masih bisa dipanjatkan. Yap karena hanya doa yang merubah takdir.
Saat banyak yang bercuit ketika kita sedang menjalani takdir dan ketika kita sedang bermimpi ya cuekin saja! Tetap berjalan tegakan kepala dan berkata: santai-santai tuhan pasti kan berikan yang mapan. (nada lagu selow)
Menjalani hidup memang tak semudah membalikan telapak tangan tapi juga tak sesulit menggapai rembulan.
Banyak mereka yang merasa sengsara, entah karena dihina, tidak menjadi kaya ataupun punya fisik yg tak sama dengan kita, alhasil karena lingkungan yang demikian membuat orang-orang tersebut merasa tidak berguna dan akhirnya mati dalam kehidupan dunia.
Di sisi lain, banyak juga manusia yang menjalani hidupnya dengan simple, santai, tahan cacian dan tidak perduli perkataan anjing yang kelaparan.
Nyatanya di salah satu sekolah, ada kok pelajar yang sama sekali tidak mengerjakan satu nomor pun saat ulangan, bahkan ia lebih memilih tidur dari pada berpikir rumitnya kehidupan, ya gimana? Kita juga tidak boleh menyalahkan.
Ia berfikir lebih baik tidak mengerjakan daripada kerja dengan hasil contekan, lebih baik bukan ?
“Bagaimana lagi, wong tidak bisa sama sekali kok, dari pada mencontek ya lebih baik saya tidur menikmati hidup, karena selembar nilai dikertas tidak begitu penting bagi saya. Terpenting itu kan nilai kemanusiaan dan bagaimana kita memanfaatkan ilmunya, toh besok saya akan mempelajarinya lagi sampai saya bisa” ujarnya. Wow, ternyata ada yang hidup sesimple itu ya kawan.
Nah, oleh karenanya hidup itu tergantung siapa yang menjalani, bagaimana cara menghadapi, dan seperti apa mensyukuri. Semua manusia itu sama. Tidak ada yang enak dan tidak ada yang susah, yang berbeda adalah bagaimana cara kita menyikapi hidup.
Kalau dalam bahasa jawa itu sawang sinawang, tergantung sudut pandang orang dari mana dan tergantung siapa yang memandangnya.
Yapss pasti akan ada yang mengatakan hidup kita ini baik, tapi juga banyak yang bilang kehidupan kita begitu buruk, bisa juga ada yang memandang bahwa hidup kita biasa saja, bahkan mungkin ada yang bilang kita luar biasa.
Jadi sebenarnya apapun perkataan mereka tidak akan berpengaruh pada kita, terserah kita mau ambil yang mana. Bolehlah sesekali kita ambil pujian untuk memotivasi dan kita ambil hinaan untuk introspeksi. Tetapi, jika banyak cacian yang dilontarkan tanpa ada bantuan, yasudah jangan dengarkan!!!
Hem hem hem memang terkadang kita lupa bahwa dunia itu sementara. He apapun yang kita lewati pasti akan lewat, mungkin kita sekarang sedih, kita galau, kita merasa dikucilkan tapi semua itu akan lewat.
Kita juga boleh bahagia, bersenang-senang, kaya, mendapat hadiah, cantik, pintar tapi ingat, itu semua juga akan lewat. Waktu terus berjalan, akan ada masanya orang-orang baru yang mengungguli kita dan akan ada orang-orang baru yang membantu kita berjaya.
Sekarang kita coba anggap, ada 2 sampah di dunia ini yaitu; hinaan dan pujian. Keduanya hanya sebuah prasangka orang lain dan belum tentu ada pada diri kita karena sejatinya hanya kita sendiri yang tahu bagaimana jiwa kita sebenarnya.
Untuk itu jangan pikirkan pujian apalagi hinaan, ya tapi tadi sesekali kita boleh mengambilnya untuk pelajaran.
Mereka yang merendahkanmu itu bukan urusanmu, seperti judul bacaan ini. Siapapun mereka, setinggi apapun ilmu mereka, sebanyak apapun harta mereka, ketika merendahkanmu tanpa membantumu kamu punya hak untuk tidak mendengarkannya, mereka yang merendahkanmu whatever, bahasa jawanya: sak karepmu.
Untuk membuat hati kita kuat dari berbagai cacian ada beberapa pertanyaan simple, mengapa kamu memikirkan hinaan itu ? apa tidak ada kegiatan lain ? apa kamu tidak melakukan hal-hal bermanfaat untuk manusia lain ? kalau tidak ya jelas saja, bahkan orang yang menghinamu dengan candaan lucu pun kamu akan memikirkannya.
Ayo cari aktivas sebanyak mungkin, berlatih berfikir untuk masa depan setinggi mungkin, beribadah serajin mungkin dan pikirkan ibu bapakmu sebelum mereka tiada.
Kalau kamu sudah melakukan itu semua, yakin masih sempat memikirkan pujian orang? yakin masih ada waktu dengerin hinaan tikus-tikus lucu. Hem, sepertinya tidak akan!
Sekarang coba kita bayangkan, untuk membuat sebuah karya dan berusaha bermanfaat bagi segelintir orang pun membutuhkan tenaga, pikiran, dan materi yang tidak sederhana. Apalagi melakukan banyak hal di berbagai bidang yang disebutkan. Pasti minim sekali waktu, guna memikirkan hinaan.
Selain itu agar kita menjadi orang kuat sejatinya harus diproses terlebih dahulu, memang harus dihina agar kita berfikir, kita harus berlatih sabar dan percaya bahwa hinaan itu tidak akan berlangsung lama.
Tanah saja yang awalnya lembek, bisa dibuat menjadi apapun, disentuh siapapun, dan berada dibawah untuk diinjak saja, bisa menjadi sebuah genteng yang keras, tahan panas, tahan hujan, bahkan berada diatas yang lain.
Itu juga melewati proses panjang kawan, mulai dicampur air, diinjak-injak, dicampuri segala bahan, entah manis atau pahit yang harus diterima, setelah itu dipanaskan dan masih berlanjut dengan dibakar, bisa dibayangkan tuuu gimana sengsaranya.
Jadi entah itu merangkul atau memukul, menghina atau membina, menyayangi atau menyaingi, ramah atau marah semua yang datang kepada hakikatnya untuk mendewasakan kita dan yang terbaik menurut Allah SWT.
Ketika sekarang kita masih gagal, ingat masih ada hari esok. Selama tangan masih bisa untuk makan, kaki masih bisa untuk berlari, kepala masih bisa berkaca , lakukan hal-hal yang bisa kamu lakukan, karena semua tidak ada yang sia-sia. Good luck for you!!!!!
Note: Opini penulis guna mengisi kegabutan dan berharap bisa menjadi teman bagi orang-orang yang merasakan demikian♥️
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Bagi Yang sering Mengirim Spam, Pernah Berpikir Sampai Sini?
Arif Dika
sumber ilustrasi diambil dari google
Di zaman modern dan digital seperti saat ini, tentu semua kalangan sudah tidak asing dengan media sosial.
Sayangnya teman, banyak yang tak mengerti bagaimana adab/etika dalam bermedia sosial. Ya, spam adalah hal yang sering terjadi di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, WhatsApp hingga Instagram.
Hem, mungkin banyak yang belum tau bahwa spam adalah pelanggaran etika di media sosial. Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), spam adalah surat yang dikirim tanpa diminta melalui internet, yang biasanya berisi iklan.
Padahal ni, dilansir dari PakarKomunikasi.com spam merupakan pelanggaran etika berkomunikasi di internet yang berupa membanjiri media sosial korban dengan banyak pesan yang tidak diinginkan secara berulang-ulang.
Na sudah tau kan gimana spam itu. Atau kalian pernah bahkan sering melakukannya? Mungkin bagi para pejuang pacaran atau yang punya pasangan, spam seakan menjadi hal wajib dalam sebuah hubungan.
Tapi sebenarnya, itu juga tak boleh dilakukan lo. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya spam. menyebabkan permusuhan, kebencian, ketidak tentraman hingga perkelahian di media sosial.
Kita ambil dan bahas kasus-kasus kecil saja misalnya. Banyak kan dari kita ketika membutuhkan bantuan kepada seseorang atau ingin mengabarkan hal penting kepada seseorang kita melakukan spam dengan harapan segera mendapat respon.
Bahkan, tak segan-segan banyak yang melakukan pesan hingga ratusan atau ribuan pesan kepada orang yang dituju. Pertanyaaannya, tidakkah kita berpikir jika orang yang dituju juga dalam kesulitan? Apa kita tidak mau tau, jika orang tersebut juga sedang punya kepentingan?
Banyak dari kita yang egois dan tak memikirkan perasaan. Bagaimana jika orang yang kita kirim pesan sedang sakit? Bagaimana jika orang tua mereka sedang sakit? Bagaimana jika mereka sedang mendorong motornya karena kehabisan bahan bakar?
Jika kita paham mengenai hal tersebut, tentu kita tidak akan sembarangan mengirim spam kepada seseorang. Nantinya jika orang tersebut sudah punya waktu luang pasti akan membalas pesan yang kita kirimkan. Kecuali jika sudah lama ia belum membalas, maka boleh sesekali kita ingatkan dengan mengirimkannya peringatan.
Padahal ketika kita sedang mempunyai urusan dan tak menbalas pesan. Kita begitu mudah untuk mencari alasan. Tapi mengapa kita begitu sulit memahami alasan mereka?
Sejatinya, kita harus sadar dan paham sebelum diberikan pengertian. Ketika ia tak kunjung memberi balasan, mungkin ia sedang mengalami kesulitan, menjalani kegiatan, atau bahkan merasa tidak nyaman karena kita mengirim spam pesan.
Itu hanyalah contoh kecil guna kita belajar menghargai seseorang. Banyak kasus spam lain yang lebih besar. Misalnya ketika akun-akun jualan yang membanjiri kolom komentar guna mempromosikan produk mereka.
Bagi beberapa orang itu tidak masalah, namun jika hal itu dilakukan terus-terusan tak mustahil akan membuat seseorang sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak, pesan atau informasi yang sama sekali tidak diharapkan, muncul setiap waktu hingga menghambat aktifitas media sosial kita.
Memang si, itu tergantung kepada orangnya dan itu merupakan hal yang sangat remeh. Tetapi, bukankah pelanggaran etika tetap merupakan pelanggaran bukan? Dari hal kecil kita akan belajar tentang hal besar.
Ada kasus spam yang cukup besar, misalnya yang dibuat oleh Sanford Wallace. Pada tahun 2008 hingga 2009 ia mengaku telah menyebarkan lebih dari 27 Juta pesan spam melalui server Facebook. Ia melakukan spaming terhadap sekitar 500 ribu akun penggunaa Facebook yang dapat ia akses.
Nah bagaimana jika kasusnya demikian? Sangat meresahkan bukan? Oleh karenanya, untuk menghindari hal-hal besar seperti ini. Kita harus terlebih dahulu menghargai hal-hal kecil yang terjadi.
Penulis tidak menyalahkan dan sangat menghargai orang yang melakukan spam. Saya paham bahwa ada yang melakukan demikian karena sebuah alasan. Namun, di sisi lain pengirim spam juga harus mengerti alasan mengapa spam tak kunjung dibalas.
Jadi bukannya mengirimkan lebih banyak spam pesan/iklan. Melainkan berhenti dan belajar menghargai.
Hal itu juga sebenarnya tak maslaah dilakukan jika kedua orang sudah sepaham dan memang ciri khas nya demikian. Namun, kita harus tetap mengetahui bahwa harus ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan.
Hal yang tidak kalah penting adalah, kita tidak bisa menyamakan semua orang. Apalagi dalam bermedia sosial, jangkauanya begitu luas sehingga kita harus hati-hati dalam mengetik menggunakan jari. Sehingga, kita tidak menyakiti hati orang lain dan membuat kegaduhan.
Haruslah kita ingat bahwa Indonesia adalah negara hukum, ada undang-undang yang mengatur segala kehidupan. Dalam bermedia sosial tentu mengacu kepada UU ITE yang diterapkan di negara kita.
Oleh karena itu, bisa jadi hal yang remeh dan kecil bdapat menjadi besar jika kita melakukan sesuatu yang tak tepat sasaran.
Ketika kita yang mendapat spam, tentu kita juga tak boleh langsung marah. Kita harus memahami mengapa orang tersebut melakukan demikian. Jika sudah clear urusannya. Barulah kita bisa memberi pengertian tentang spam kepada orang yang mengirim pesan.
Pada intinya kita harus menghargai orang lain dan berpikir lebih dalam, saat kita akan melakukan spam ataupun saat kita menerima spam. Sehingga kita tidak mudah menyalahkan dan membuat orang tetap merasa nyaman.
Tulisan ini, hanyalah memberi tahu bahwa spam masuk kedalam pelanggaran etika berkomunikasi di internet. Bukan melarang spam, namun mengingatkan agar kita lebih menghargai seseorang.
Namun sudah disampaikan diatas, jika keduanya sama-sama paham maka itu tak menjadi permasalahan. Semoga kita bisa lebih menghargai seseorang dari hal sekecil apapun. Karena hal besar, dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Menjadi orang pertama yang selalu mengulurkan tangan disaat matanya mulai lelah menghadapi kerasnya kehidupan. Selalu ingin ada bahu dan rangkulan hangat untuk membuatnya merasa nyaman dan terlepas semua beban. Menikmati jeda dalam kehidupan yang penuh kekosongan. Begitupun dalam cintanya padamu. Saat kamu jatuh, saat kepedihan menghempasmu, dialah orang yang pertama selalu ada untukmu. Memberikan keyakinan semua akan baik-baik. Saat kamu tenggelam dalam luka, dialah yang memeluknya. Menenangkan tangis yang terlepas begitu saja, pada saat yang sama ada gores yang memedih didadamu. Demi kamu, dia abaikan sakit yang menusuk relung hatinya. Bagi dia,cinta adalah tentang bagaimana membuat orang yang dicintainya bisa merasakan perhatiannya. Meski kamu tau bahwa dia sangat mengharap dan mencintaimu sepenuhnya.
Pedih yang dirasa ketika jauh dengan seseorang yang sangat dicintainya, namun ini hanyalah tentang jarak dan waktu. Begitulah yang dilakukan seorang ibu demi kebahagiaan anak yang dicintainya, sosok ibu hanya ingin melihat anaknya selalu bahagia, dia hanya ingin melindungi anaknya agar selalu terlihat ceria waalaupun harus berkorban luka dan lara. Asal kamu tau sejak kecil dia tidak pernah rela jika kamu tersakiti walaupun itu ulahmu sendiri. Dan kamu mulailah sadar. Bahwa ibu menjagamu bukan hanya sekedar putri maupun putranya namun amanah dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Ingatlah timangan ibumu dulu, perjuangan ketika melahirkan mu. Coba renungi apa yang telah kita berikan pada ibu, apakah perlakuan kita sudah baik terhadap ibu. Doa paling kramat adalah doa seorang ibu, maka berbaiklah kepada dia agar kelak kita selalu berada dalam kebaikan dan pelukan hangat dari doa seorang ibu.
Terima kasih.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Oleh: Gus Adzka
Dalam buku catatan sejarah menyebutkan lahirnya Indonesia tidak terlepas dari yang namanya Nusantara. Konsep Nusantara ini pernah terlupakan selama beratus tahun lamanya. Namun istilah ini kembali digaungkan di abad 20 oleh Ki Hajar Dewantara yang saat itu, mengemukakan nama Nusantara sebagai alternatif nama dari negara Indonesia ketika merdeka menggantikan nama Hindia Belanda. Meski tidak menjadi nama negara, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim atau nama lain dari kepulauan Indonesia.
Uniknya sudah terjadi dari dahulu kala ketika Raja Syailendra yang dikenal dengan nama Garung bergelar Samarattungga yang anti Hindu tetapi ketika hendak membangun candi Samarattungga tidak punya arsitek Buddha sehingga arsiteknya dari Hindu bernama Panukuh yang dikenal dengan Resi Guna Darma, lahirlah candi Hindu-Buddha Sambarabudura atau terkenal dengan nama Borobudur.
Samarattungga mempunyai anak semata wayang bernama Pramudawardani jatuh cinta dengan Panukuh atau Resi Guna Darma sehingga nikahlah keduanya dan pada awalnya anti Hindu menjadi damailah Hindu-Buddha. Dan keunikan itu terjadi beberapa waktu silam ketika politik Indonesia terpecah menjadi kubu 01 dan kubu 02 tetapi pada akhirnya bersatu dalam kabinet maju.
Tidak sampai di situ, Nusantara juga keren dibuktikan dengan salah satu 7 keajaiban dunia berada di Indonesia yakni Candi Borobudur. Rendang asli Indonesia dinobatkan menjadi makanan terenak di dunia. Dan merupakan salah satu penyuplai oksigen terbesar di dunia. Serta menjadi tempat surganya dunia.
Ada pula yang lebih istimewa, hanya di sini di mana motor akur dalam satu nama honda. Hanya di sini BBM rukun dalam satu nama bensin. Hanya di sini pipa air guyub dalam satu nama pralon. Hanya di sini air mineral damai dalam satu botol yang namanya aqua. Hanya di sini mi instan akur dalam satu nama sarimi. Hanya di sini seluruh pompa air rukun dalam nama sanyo. Hanya di sini seluruh pembalut guyub dalam satu nama softex. Suatu keunikan tersendiri yang tidak dimiliki negara lain.
Sehingga dari itu semua muncullah pertanyaan. Kenapa Arab satu bangsa bisa pecah menjadi beberapa negara?. Kenapa Eropa satu bangsa bisa pecah menjadi beberapa negara?. Tetapi kenapa Nusantara yang terdiri dari berbagai bangsa bisa bersatu dalam satu negara?. Jawabannya karena uniknya Nusantara dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Betapa hebatnya negeri ini dan sepatutnya kita berbangga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
Akhir akhir ini banyak kita temui bencana alam di mana-mana, banyak orang yang bangga dengan kemaksiatannnya, sumber sumber ilmu (ulama) dicabut oleh Allah, pemimpin yang zalim terhadap rakyatnya dan masih banyak lagi rentetan kisah yang menyedihkan
Kejadian kejadian seperti inilah yang ditakutkan oleh Nabi Muhammad SAW , dikarenakan itu merupakan tanda-tanda akhir zaman menurut Al Quran. Tempat kita berpijak ini sudah tua dan kita tidak tahu kapan akan terjadi yang pasti kiamat itu ada. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui
Melihat realitas saat ini akan membuat kita takut, namun sebagai hamba-Nya yang semestinya kita lakukan adalah memperbaiki diri menyiapkan amalan untuk bekal di akhirat nanti.
Sebagai Pemuda tentu tidak mudah untuk keluar dari zona yang menyesatkan. Banyak sekali lingkaran yang mengajak untuk meminum minuman keras, judi, narkoba dan yang paling mudah menjerat di anak muda adalah pacaran.
Pacaran menjadi jalan yang mudah untuk syaitan menggoyahkan keimanan kita.Bagaimana tidak, ketika kita memandang lawan jenis dengan penuh gairah itu menjadi zina mata. Ketik melangkah untuk bertemu pacar menjadi zina kaki (langkah) , karena sesungguhnya zina tidak sebatas zina kemaluan.
Maka dari itu kita sebagai pemuda yang tegar dan bijak haruslah berhati hati, karena usia muda adalah yang rawan terjerumus kemaksiatan. Jalan keluar untuk menemukan hidup yang lebih terang adalah memperbaiki sholat kita karena sholat adalah tiang agama.
Kemudian sudah selayaknya kita menjadikan Al Qur’an, selawat dan kajian sebagai charger iman kita setiap hari. Selain itu, bersedekah merupakan hal yang sangat dianjurkan, baik di waktu lapang maupun sempit.
Semoga dengan ini kita mampu menjadi pemuda “baper” dengan sedikit amalan yang mampu kita jadikan bekal di kehidupan akhirat nanti. Ammiin
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.
KATABA : Komunitas Pegiat Literasi Santri Ma'had Al-Jami'ah
KATABA adalah komunitas pegiat literasi di lingkungan Ma'had Al-Jami'ah IAIN Salatiga yang lahir pada 16 Maret 2017. Komunitas ini terbentuk dari inisiatif seorang mahasiswa kelas khusus Internasional (KKI) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yaitu Muhammat Sabar Prihatin. Pengalaman dan prestasinya di dunia literasi yang membludak, mulai dari prestasi lokal hingga internasional, membuatnya tergugah untuk menyalurkan bakatnya. Setelah sekian kali mengikuti berbagai event literasi, akhirnya ia merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah wadah yang menaungi kompetensi orang lain. Pada suatu event bernama Pelatihan Jurnalistik Santri Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2017, ia merasa terinspirasi untuk menyalurkan bakatnya dengan cara memberi jalan terang bagi mereka yang ingin menemukan potensi diri. Diciptakanlah sebuah komunitas literasi bernama KATABA.