Tampilkan postingan dengan label 2024. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2024. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2024

Sawah

 Judul: Sawah

Penulis: Zulfa Faiqoh

Hamparan luas, hijau permata,

Itulah sawah, tempat padi bercerita.

Batang tegak, daunnya melambai,

Ditiup angin, senyumnya terurai.

 

Petani gagah, bekerja gigih,

Menanam, merawat, sampai padi berisi.

Air bening, mengalir jernih,

Menyehatkan padi, tumbuh subur sekali.

 

Capung terbang, warnanya ceria,

Menemani padi sepanjang usia.

Burung bernyanyi, riang di udara,

Sawah ramai, penuh suka cita.

 

Matahari bersinar, memberi semangat,

Membuat padi semakin kuat.

Hampir panen, bulir menguning,

Janji untuk semua, perut terpenuhi.

 

Senyum petani, lebar dan merekah,

Hasil panen melimpah ruah.

Sawah permai, berkah melimpah,

Makanan untuk kita semua, takkan pernah habis

Jumat, 29 Maret 2024

Al-Quran dan Gadget dalam Genggaman

 

Oleh : Muhammad Rezta Egaputra


Di era digital ini, teknologi sudah berkembang sangat pesat seolah menjadi jantung bagi kehidupan. Dari bangun tidur hingga menjelang malam, interaksi dengan gadget nyaris tidak bisa terhindarkan. Islam turut memberikan pandangan terhadap kemajuan pesat ini. Al-Quran, ternyata menyimpan pesan-pesan yang selaras dengan perkembangan teknologi masa kini. Esai ini mengulas bagaimana Al-Quran membimbing umat islam dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak dan berakhlak.

Teknologi masa kini dengan kecanggihannya membawa segala macam kenikmatan dalam kehidupan umat Islam. Kita bisa belajar Islam menggunakan gadget, misalnya melalui aplikasi digital Al-Quran, tafsir online, dan platform pembelajaran Islam. Berkomunikasi dan berteman dengan saudara jauh menjadi mudah. Alat tersebut juga dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Al-Quran, sebagai pedoman hidup umat Islam, memiliki pesan-pesan yang selaras dengan perkembangan teknologi. Dalam surat Al-An'am ayat 108, Allah SWT berfirman, "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al-Quran, dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (berzikir) adalah lebih besar (keutamaannya) daripada salat. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT mendorong umat Islam untuk membaca Al-Quran dan melaksanakan salat. Di era digital ini, membaca Al-Quran tidak harus selalu dengan mushaf fisik. Gadget dapat menjadi media yang efektif untuk mempelajari dan memahami ayat suci.

Di era digital ini, akses terhadap Al-Quran semakin mudah. Kita bisa membacanya melalui aplikasi di smartphone, tablet, atau laptop. Kemudahan ini tentu membawa banyak manfaat. Namun, di balik manfaatnya, terdapat pula beberapa dampak negatif yang perlu diwaspadai yaitu:

1. Penafsiran yang Salah

Membaca Al-Quran tanpa pemahaman yang memadai dapat berakibat pada penafsiran yang salah. Hal ini bisa terjadi karena setiap ayat Al-Quran memiliki konteks dan maknanya sendiri. Jika tidak dipahami dengan benar, ayat-ayat tersebut bisa diartikan secara keliru dan bahkan menyesatkan.

2. Mengabaikan Makna yang Lebih Dalam

Membaca Al-Quran di layar gadget bisa membuat kita terfokus pada teks dan mengabaikan makna yang lebih dalam. Kita mungkin terburu-buru membaca tanpa merenungkan ayat-ayat yang dibaca. Hal ini tentu mengurangi manfaat dari membaca Al-Quran.

3. Mengganggu Aktivitas Lain

Kecanduan membaca Al-Quran di gadget bisa mengganggu aktivitas lain. Kita mungkin lupa waktu dan mengabaikan pekerjaan, belajar, atau bahkan ibadah lainnya.

4. Memicu Kebiasaan Buruk

Membaca Al-Quran di gadget bisa memicu kebiasaan buruk, seperti membaca sambil tiduran, di tempat yang tidak sopan, atau sambil melakukan aktivitas lain yang dapat mengganggu fokus membaca Al-Qur’an.


Perlu diingat bahwa gadget ibarat pisau bermata dua. Gadget bisa menjadi perantara kebaikan, namun juga bisa menjauhkan kita dari tadarus Al-Quran. Notifikasi media sosial, pesan singkat, dan game bisa mengganggu kekhusyukan. Lalu, bagaimana agar gadget menjadi sahabat, bukan penghalang dalam berinteraksi dengan Al-Quran?

1. Prioritas tetap pada mushaf. Membaca Al-Quran digital boleh, tapi jangan tinggalkan keutamaan memegang mushaf fisik. Rasakan ketenangan sentuhan dengan kitab suci.

2. Pilih aplikasi yang baik. Cari aplikasi yang Qur'annya terverifikasi dan bebas dari hal-hal yang bisa mengganggu fokus.

3. Atur waktu. Alokasikan waktu khusus untuk tadarus Al-Quran di gadget, jauhkan dari distraksi.

Intinya, Al-Quran dan gadget bisa menjadi teman yang baik. Gadget dapat dimanfaatkan untuk semakin mendekatkan diri kita pada Al-Quran. Namun, jangan sampai gadget justru menjauhkan kita dari kekhusyukan dan ketenangan yang didapatkan saat membaca Al-Quran secara fisik. Jadikanlah keduanya sebagai alat untuk semakin memperdalam Islam dan menjalani kehidupan sesuai ajaran Al-Quran.

Senin, 18 Maret 2024

Aku mau

Aku Mau

Oleh: Zidan Nabriz Attaqy

Sumber google 


Aku mau memelukmu seperti awan membungkus langit

Aku mau merayumu laksana hening pagi bernyanyi

Aku mau memilikimu seutuhnya sebagai akar pengikat yang membuatnya hidup 

Bagai payung ketakutan disaat matamu berpaling dari keniscayaan


Karena cinta, ini menjadi nyata

Karena nyata selalu beralih rasa

Menjadi ikrar penyejuk jiwa

Di hari mekarnya bidadari bermata indah


Hanya dengan memilikimulah maka dunia berisik

Berdendang merayu sang pemilik paras indah,

Masihkah hatimu beku dan ragu

Jika masih kan kuhubungi malaikat

Tuk memikat perasaan yang masih melekat


Lihatlah kemataku

Maka dirimu melihat masa depan bersinar

Lihatlah ke tanganku

Maka kau tak perlu takut melangkah

Jangan khawatir

Di setiap tubuhku mampu merayumu 


                                                      Salatiga, 18 Maret 2024

Selasa, 28 September 2021

Simpang Lima Perbatasan Nasib


Simpang Lima Perbatasan Nasib

Ali Hamidi




/1/

Simpang lima perbatasan nasib

Sunyi suntuk membesarkan tiga anak lampu

Mewakili manusia melata, miskin, kaya dan tidak punya apa-apa

Menyapa orang-orang yang sedang melakukan perjalanan


/2/

Merah seraya asmara yang menghentikan waktu

Sementara manusia di tepian jalan masih kesepian:

Tak sempat makan, sebab sibuk menghitung sisa umur

Mengemis kepada hujan dan menadah: menjilat debu dan angin-anginan


/3/

Kuning merayu hening, menggoda arah cuaca

Lekas melarikan diri pada musim, derita pilih kasih

Kepada yang tak sanggup menaiki kakinya sendiri

Kepada yang tak peduli dan pura-pura mati


/4/

Dan hijau adalah akhir puisi ini

Barangkali lampu lalu lintas ialah cerminan nasib

Yang memeluk sepi di keramaian bumi

Sisa-sisa kemanusiaan yang hampir punah

Dan kami mencari-cari bagaimana senyum itu muncul

Di pipi mereka yang melarat



Salatiga, September 2021