Bangkit
dan Mundurnya Sektor Indusrti di Kota Semarang
Kota Semarang merupakan ibu kota dari provinsi Jawa
Tengah, secara geografis batas kota Semarang terletak di antara laut jawa di
utara, kabupaten Demak di timur, kabupaten Kendal di barat, dan kabupaten
Semarang di selatan. Kota Semarang merupakan salah satu kota peisir yang
memiliki pelabuhan penting ke-3 setelah Jakarta dan Surabaya. Pada masa VOC,
Semarang merupakan kota yang penting yaitu sebagai kota Pelabuhan yang
strategis dikarenakan posisinya menghadap di pulau jawa menjadi sangat cocok
untuk mengekspor komoditas dari daerah sekitarnya seperti kopi, gula, nila, dan
rempah-rempah lainnya menuju pasar internasional.
Namun kota Semarang berkembang menjadi kota Industri bermula
pada abad ke-19 pada saat pemerintah Hindia Belanda mulai membangun
Infrastuktur besar-besaran di pulau Jawa. Pembangunan jalur rel kereta api
Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta (1867) berperan besar dalam
industrialisasi di kota Semarang, dengan adanya rel kereta api pengiriman
barang dari wilayah pedalaman Jawa menuju pesisir menjadi lebih cepat, lebih
banyak, dan lebih terjadwal. Pabrik-pabrik gula mulai bertebaran di sekitar
dataran rendah Semarang yang menjadi modal awal Indusrtialisasi. Kawasan
Kaligawe, Genuk, dan Terboyo mulai terlihat aktivitas manufaktur yang terlihat
dari mulai banyaknya pabrik dibangun dikawasan tersebut. Selain gula industri
lainnya juga ikut berkembang seperti tembakau, percetakan, dan galangan kapal
yang di dukung dari sumber daya alam yang melimpah serta tenaga kerja local
yang murah dari jawa tengah.
Memasuki awal abad ke-20, menjelma menjadi kota yang sibuk dan modern. Kawasan kota lama dipenuhi bangunan-bangunan bergaya Art deco milik perusahan dagang dan industri Belanda. Di wilayah Semarang Utara pelabuhan Tanjung Mas menjadi salah satu pelabuhan tersibuk yang menyaingi Batavia dan Surabaya. Industri tekstil juga mulai berkembang di kota Semarang, perusahan-perusahan Belanda mulai mendirikan pabrik-pabrik pengolahan kapas dan batik di Kawasan Semarang Utara dan Timur. Sementara itu, industry logam kecil-kecilan dan bengkel reparasi mulai tumbuh untuk melayani kebutuhan pabrik-pabrik yang semakin banyak.
Komunitas Tionghoa yang sudah menetap lama di Semarang
mengambil peran yang cukup signifikan untuk membangun basis Industri di kota
ini dalam hal Industri perdagangan dan manufaktur sekala menengah terutama di
sektor makanan, minuman, percetakan, serta rokok. Dan juga industri rumahan
kota semarang mulai berkembang dengan cepat di era in, nama-nama seperti Lumpia
Semarang, WIngko Babat, dan produk lainnya mulai lahir pada era ini.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Semarang
memasuki era baru yang penuh gejolak tetapi masih memiliki harapan yang cerah.
Pada sekitar tahun 50an Indonesia mulai melakukan nasionalisasi
perusahan-perusahan Belanda yang sempat menciptakan kekacuan dalam manajemen
industry, tetapi secara bertahap pemerintah Indonesia mulai membangun Kembali
fondasi perekonomian kota Semarang.Pada Era orde baru pemerintah Soeharto
membawa angin segar bagi industry kota Semarang. Dengan kebijakan pembangunan
yang terencana dan masuknya investasi asing secara sistematis membuat Kawasan
Industri Semarang menjadi berkembang pesat. Kawasan Industri Candi, Kawasan
Industri Wijaya Kusuma, dan Kawasan-kawasan Industri di area Genuk dan Kaligawe
menarik investasi di bidang manufaktur.
Pada tahun 1970-1990an Industri tekstil dan garmen
mengalami zaman keemas an di kota Semarang. Perusahaan seperti PT.Primatexco
Indonesia di Batang (wilayah penyangga Semarang) dan berbagai pabrik tekstil di
dalam kota menyerap puluhan ribu pekerja. Semarang juga merupakan pusat
industri rokok, mebel kayu, dan makanan. Aktivitas dari industri ini menarik
banyak pekerja dari wilayah lain seperti Demak, Kendal, Kudus, hingga Wonosobo
berbondong-bondong dating ke Semarang untuk mencari pekerjaan di pabrik-pabrik
tersebut. Hal ini membuat Kawasan permukiman di sekitar pabrik-pabrik seperti Kaligawe,
Genuk, dan Pengapon bertumbuh dengan cepat sampai tidak dapat dikontrol
pertumbuhannya.
Namun kejayaan itu tidak abadi dan di balik gemerlap
industrialisasi kota Semarang mulai muncul retakan-retakan yang apabila tidak
segera diatasi maka dampaknya akan sangat merugikan banyak orang. Berikut
beberapa faktor kemunduran sektor industry kota Semarang :
1. Faktor Alam
Salah
satu penyebab mundurnya sektor Industri kota Semarang itu dang dari alam
sendiri. Tanah di Semarang Utara dan Timur yang merupakan pusat manufaktur
adalah tanah Aluvial atau tanah halus dan merupakan tanah yang tidak cocok
untuk bangunan skala besar dikarenakan menyebabkan bangunan tersebut ambles
kedalam dan juga wilayah Semarang Utara
dan Timur tersebut merupakan Kawasan yang rawan terkena rob yang membuat banjir
dan hal tersebut di perparah dengan penurunan permukaan tanah akibat
pembangunan dan penggunaan air tanah yang massif.
2. Munculnya Kawasan industri baru
Munculnya
Kawasan industri baru seperti di Karawang, Bekasi, Tangerang, dan berbagai kota
di Jawa Barat yang menawarkan infrastruktur yang lebih modern, akses langsung
ke Pelabuhan Tanjung Priok yang lebih besar, serta insentif investasi yang
lebih menarik. Investor yang semula melirik Semarang mulai mengalihkan
perhatian ke kawasan-kawasan tersebut. Di sisi lain, pergeseran industri
manufaktur global juga memberikan tekanan tersendiri. Produk-produk murah dari
China membanjiri pasar Indonesia yang menekan harga produk manufaktur lokal
hingga ke titik yang tidak lagi menguntungkan. Industri tekstil dan garmen
Semarang, yang tidak memiliki skala ekonomi dan teknologi yang memadai untuk
bersaing pun mulai berguguran satu per satu.
3. Kenaikan Upah Minimun Kota (UMK)
Kenaikan
Upah Minimum Kota (UMK) Semarang yang signifikan dari tahun ke tahun membuat
para pengusaha berpikir dua kali untuk membangun pabrik di sini, meski
merupakan hak yang sah bagi para pekerja, hal tersebut memberikan tekanan
tersendiri bagi industri padat karya yang selama ini mengandalkan biaya tenaga
kerja murah sebagai keunggulan kompetitif. Ketika UMK Semarang terus meningkat,
beberapa perusahaan manufaktur mulai merelokasi fasilitas produksinya ke daerah-daerah
dengan upah minimum yang lebih rendah, seperti Demak, Kendal, atau kota-kota
kecil di Jawa Tengah bagian selatan.
Kemunduran industri Semarang tidak hanya
meninggalkan pengangguran dan kemiskinan, tetapi juga warisan fisik yang kini
menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Gedung-gedung pabrik tua berarsitektur
kolonial di Kawasan Kota Lama kini berdiri dalam kondisi yang memprihatinkan
beberapa telah direvitalisasi menjadi ruang kreatif dan kafe, namun banyak yang
masih terbengkalai. Gudang-gudang besar di tepi Kali Semarang, yang dulu
berfungsi sebagai tempat penyimpanan gula, tembakau, dan komoditas ekspor
lainnya, kini menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan waktu. Jalur-jalur
kereta api tua yang dulu mengangkut hasil industri sebagian telah dinonaktifkan
dan tergerus permukiman liar. Di kawasan Genuk dan Kaligawe, bekas-bekas pabrik
tekstil berdiri seperti arkeologi industri yang menunggu untuk diceritakan
kembali.
