Kamis, 28 Mei 2026

 

Bangkit dan Mundurnya Sektor Indusrti di Kota Semarang

Oleh: Ridwan Bandono A.N 



Kota Semarang merupakan ibu kota dari provinsi Jawa Tengah, secara geografis batas kota Semarang terletak di antara laut jawa di utara, kabupaten Demak di timur, kabupaten Kendal di barat, dan kabupaten Semarang di selatan. Kota Semarang merupakan salah satu kota peisir yang memiliki pelabuhan penting ke-3 setelah Jakarta dan Surabaya. Pada masa VOC, Semarang merupakan kota yang penting yaitu sebagai kota Pelabuhan yang strategis dikarenakan posisinya menghadap di pulau jawa menjadi sangat cocok untuk mengekspor komoditas dari daerah sekitarnya seperti kopi, gula, nila, dan rempah-rempah lainnya menuju pasar internasional.

Namun kota Semarang berkembang menjadi kota Industri bermula pada abad ke-19 pada saat pemerintah Hindia Belanda mulai membangun Infrastuktur besar-besaran di pulau Jawa. Pembangunan jalur rel kereta api Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta (1867) berperan besar dalam industrialisasi di kota Semarang, dengan adanya rel kereta api pengiriman barang dari wilayah pedalaman Jawa menuju pesisir menjadi lebih cepat, lebih banyak, dan lebih terjadwal. Pabrik-pabrik gula mulai bertebaran di sekitar dataran rendah Semarang yang menjadi modal awal Indusrtialisasi. Kawasan Kaligawe, Genuk, dan Terboyo mulai terlihat aktivitas manufaktur yang terlihat dari mulai banyaknya pabrik dibangun dikawasan tersebut. Selain gula industri lainnya juga ikut berkembang seperti tembakau, percetakan, dan galangan kapal yang di dukung dari sumber daya alam yang melimpah serta tenaga kerja local yang murah dari jawa tengah.

Memasuki awal abad ke-20, menjelma menjadi kota yang sibuk dan modern. Kawasan kota lama dipenuhi bangunan-bangunan bergaya Art deco milik perusahan dagang dan industri Belanda. Di wilayah Semarang Utara pelabuhan Tanjung Mas menjadi salah satu pelabuhan tersibuk yang menyaingi Batavia dan Surabaya. Industri tekstil juga mulai berkembang di kota Semarang, perusahan-perusahan Belanda mulai mendirikan pabrik-pabrik pengolahan kapas dan batik di Kawasan Semarang Utara dan Timur. Sementara itu, industry logam kecil-kecilan dan bengkel reparasi mulai tumbuh untuk melayani kebutuhan pabrik-pabrik yang semakin banyak.

Komunitas Tionghoa yang sudah menetap lama di Semarang mengambil peran yang cukup signifikan untuk membangun basis Industri di kota ini dalam hal Industri perdagangan dan manufaktur sekala menengah terutama di sektor makanan, minuman, percetakan, serta rokok. Dan juga industri rumahan kota semarang mulai berkembang dengan cepat di era in, nama-nama seperti Lumpia Semarang, WIngko Babat, dan produk lainnya mulai lahir pada era ini.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Semarang memasuki era baru yang penuh gejolak tetapi masih memiliki harapan yang cerah. Pada sekitar tahun 50an Indonesia mulai melakukan nasionalisasi perusahan-perusahan Belanda yang sempat menciptakan kekacuan dalam manajemen industry, tetapi secara bertahap pemerintah Indonesia mulai membangun Kembali fondasi perekonomian kota Semarang.Pada Era orde baru pemerintah Soeharto membawa angin segar bagi industry kota Semarang. Dengan kebijakan pembangunan yang terencana dan masuknya investasi asing secara sistematis membuat Kawasan Industri Semarang menjadi berkembang pesat. Kawasan Industri Candi, Kawasan Industri Wijaya Kusuma, dan Kawasan-kawasan Industri di area Genuk dan Kaligawe menarik investasi di bidang manufaktur.

Pada tahun 1970-1990an Industri tekstil dan garmen mengalami zaman keemas an di kota Semarang. Perusahaan seperti PT.Primatexco Indonesia di Batang (wilayah penyangga Semarang) dan berbagai pabrik tekstil di dalam kota menyerap puluhan ribu pekerja. Semarang juga merupakan pusat industri rokok, mebel kayu, dan makanan. Aktivitas dari industri ini menarik banyak pekerja dari wilayah lain seperti Demak, Kendal, Kudus, hingga Wonosobo berbondong-bondong dating ke Semarang untuk mencari pekerjaan di pabrik-pabrik tersebut. Hal ini membuat Kawasan permukiman di sekitar pabrik-pabrik seperti Kaligawe, Genuk, dan Pengapon bertumbuh dengan cepat sampai tidak dapat dikontrol pertumbuhannya.

Namun kejayaan itu tidak abadi dan di balik gemerlap industrialisasi kota Semarang mulai muncul retakan-retakan yang apabila tidak segera diatasi maka dampaknya akan sangat merugikan banyak orang. Berikut beberapa faktor kemunduran sektor industry kota Semarang :

1.     Faktor Alam

Salah satu penyebab mundurnya sektor Industri kota Semarang itu dang dari alam sendiri. Tanah di Semarang Utara dan Timur yang merupakan pusat manufaktur adalah tanah Aluvial atau tanah halus dan merupakan tanah yang tidak cocok untuk bangunan skala besar dikarenakan menyebabkan bangunan tersebut ambles kedalam dan juga wilayah  Semarang Utara dan Timur tersebut merupakan Kawasan yang rawan terkena rob yang membuat banjir dan hal tersebut di perparah dengan penurunan permukaan tanah akibat pembangunan dan penggunaan air tanah yang massif.

2.     Munculnya Kawasan industri baru

Munculnya Kawasan industri baru seperti di Karawang, Bekasi, Tangerang, dan berbagai kota di Jawa Barat yang menawarkan infrastruktur yang lebih modern, akses langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok yang lebih besar, serta insentif investasi yang lebih menarik. Investor yang semula melirik Semarang mulai mengalihkan perhatian ke kawasan-kawasan tersebut. Di sisi lain, pergeseran industri manufaktur global juga memberikan tekanan tersendiri. Produk-produk murah dari China membanjiri pasar Indonesia yang menekan harga produk manufaktur lokal hingga ke titik yang tidak lagi menguntungkan. Industri tekstil dan garmen Semarang, yang tidak memiliki skala ekonomi dan teknologi yang memadai untuk bersaing pun mulai berguguran satu per satu.

3.     Kenaikan Upah Minimun Kota (UMK)

Kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Semarang yang signifikan dari tahun ke tahun membuat para pengusaha berpikir dua kali untuk membangun pabrik di sini, meski merupakan hak yang sah bagi para pekerja, hal tersebut memberikan tekanan tersendiri bagi industri padat karya yang selama ini mengandalkan biaya tenaga kerja murah sebagai keunggulan kompetitif. Ketika UMK Semarang terus meningkat, beberapa perusahaan manufaktur mulai merelokasi fasilitas produksinya ke daerah-daerah dengan upah minimum yang lebih rendah, seperti Demak, Kendal, atau kota-kota kecil di Jawa Tengah bagian selatan.

Kemunduran industri Semarang tidak hanya meninggalkan pengangguran dan kemiskinan, tetapi juga warisan fisik yang kini menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Gedung-gedung pabrik tua berarsitektur kolonial di Kawasan Kota Lama kini berdiri dalam kondisi yang memprihatinkan beberapa telah direvitalisasi menjadi ruang kreatif dan kafe, namun banyak yang masih terbengkalai. Gudang-gudang besar di tepi Kali Semarang, yang dulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan gula, tembakau, dan komoditas ekspor lainnya, kini menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan waktu. Jalur-jalur kereta api tua yang dulu mengangkut hasil industri sebagian telah dinonaktifkan dan tergerus permukiman liar. Di kawasan Genuk dan Kaligawe, bekas-bekas pabrik tekstil berdiri seperti arkeologi industri yang menunggu untuk diceritakan kembali.

 

 

 

Kamis, 26 Maret 2026

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

 

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

Karya : Fatma Hidayati



Hujan gerimis membasahi pelataran Masjid sore itu. Fatimah, seorang mahasiswi tingkat akhir, duduk bersimpuh di sudut saf belakang yang sepi. Di pangkuannya terbentang kitab Asy-Syama'il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Matanya berkaca-kaca saat jemarinya menyentuh baris demi baris teks yang menjelaskan ciri-ciri fisik Rasulullah SAW.