Kemuliaan Bulan Ramadhan
Oleh: Farkhan Maulana Mubarok
Malam itu, langit Salatiga dipenuhi awan tipis. Mereka menunggu rinai
hujan sebelum adzan Isya ’ berkumandang. Di sebuah rumah kecil di pinggir
kampung, Ali menatap sepiring nasi yang hampir tidak tersentuh. Perutnya
kenyang, tetapi matanya belum puas melihat makanan yang mulai dingin. “Ali,
makan sekali lagi. Nanti kamu tidak kuat puasa besok,” kata Ibu sambil
menambahkan sayur ke piring anaknya. Ali menggeleng pelan. “Tidak, Bu, Nanti
aku bawa makanan ini ke Masjid At-Toyyar
Tadi Ustadz bilang, berbagi
makanan di bulan Ramadhan akan mendapat pahala besar.” Ibu menatap Ali dengan
bangga. “Kamu sudah seperti anak besar, ya. Ibu bangga padamu.”
Besok pagi, saat adzan
Subuh menggema, Ali sudah bangun sebelum azan. Dengan seragam sekolah dan sahur
sederhana, ia menyiapkan tas kecil berisi kurma, air mineral, dan sebungkus
nasi bungkus yang dibuat ibunya tadi malam. “Ali, kamu mau ke mana?” tanya Ibu
yang baru selesai mengelap meja. “Ke masjid Bu, ustadz bilang siapa yang bangun
di penghujung malam untuk membantu saudaranya, Allah akan mengangkat derajatnya
di bulan Ramadhan.” Ibu tersenyum. “Baik, hati-hati di jalan.”
Di masjid, suasana tenang.
Beberapa anak remaja sudah duduk bersila di halaman, menunggu pelajaran singkat
sebelum pelajaran subuh. Ustadz berdiri
di depan, suaranya lembut mengalun.“Anak-anak, tahukah kalian mengapa bulan
Ramadhan disebut bulan kemuliaan?” Ustadz menatap mereka satu per satu. “Karena
di bulan ini, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan
dibelenggu. Siapa yang menjaga shalat, puasa, dan sedekah, Allah akan
menjaganya.” Ali mengangkat tangan. “Ustadz, saya bawa makanan untuk orang yang
belum sempat sahur. Boleh saya berikan sekarang?” Ustadz
mengangguk. “Baik, Ali, tapi ingat jangan sombong. Ini bukan hanya amal
tetapi juga cara kamu mengenal kemuliaan Ramadhan untuk saling memberi, bukan
hanya menerima.” Ali mengangguk mantap. Ia kemudian berjalan menuju sebuah
rumah kecil di ujung kampung. Di sana, seorang kakek tua, kakek Yono, duduk di
depan pintu. Kulitnya keriput, tubuhnya kurus, tetapi matanya masih bersinar.
“Ali, kamu sudah datang?” Kakek Yono tersenyum lemah. “Saya bawa sahur, Kek,”
kata Ali sambil menyodorkan bungkusan nasi. “Ini dari Ibu saya. Kek, saya mau
bantu bersihkan rumah setelah subuh.” Kakek Lela mengelus kepala Ali. “Kamu
sudah seperti cucu sendiri. Tapi jangan lupa, puasa itu juga berarti menjaga
mata, mulut, dan hati dari perbuatan buruk.” Ali mengangguk. “Saya akan usaha,
Kek.”
Setelah subuh, Ali
membantu kakek Yono membersihkan rumah,
menyapu halaman, dan menjemur pakaian. Ia merasa lelah, tetapi hatinya jauh
dari lapar. Ia merasa hangat, seolah ada cahaya kecil yang menyala di dalam
dada. “Ali, kamu sudah lapar?” tanya kakek Yono
ketika matahari mulai naik. “Saya masih kuat, Kek. Tapi kalau Kek mau,
saya bisa bantu bawa air minum.” Ali lalu berjalan ke warung dekat masjid,
membeli air minum, dan membagikannya kepada beberapa anak yang sedang bermain.
“Ali, kamu selalu berbagi ya?” tanya salah satu temannya, Lana. “Di bulan
Ramadhan, setiap kebaikan akan mendapat pahala berlipat, Na,” kata Ali
tersenyum. “Ustadz bilang, kemuliaan Ramadhan bukan hanya puasa, tetapi juga
menyapa, membantu, dan menjaga hati.” Joko tertegun sejenak. “Saya mau ikut
kamu besok, Ali.”
Sore hari, saat matahari
mulai tenggelam, Ali duduk di teras masjid bersama Ustadz .“Ustadz, saya merasa
hari ini berbeda. Tapi saya belum merasakan sesuatu yang luar biasa, hanya
membantu, berbagi, dan bersabar.” Ustadz tersenyum. “Ali, kemuliaan Ramadhan
tidak terlihat di langit, tetapi di hati. Saat kamu menahan diri dari makan dan
minum, kamu juga menahan diri dari marah, gosip, dan kesombongan. Itu adalah
bentuk kemuliaan.” Ali terdiam. “Jadi, Ramadhan bukan hanya tentang lapar,
tetapi juga tentang belajar menjadi lebih baik?” “Tepat sekali,” kata Ustadz.
“Siapa yang berusaha menjadi baik di bulan ini, Allah akan membantunya menjadi
lebih baik di bulan lain.”
Malam harinya, setelah
tarawih, Ali pulang dengan hati yang tenang. Ia menatap rembulan yang lembut di
langit, lalu berdoa dalam hati. “Ya Allah, jika Ramadhan adalah bulan
kemuliaan, tolong bantu saya menjaga kemuliaan ini bukan hanya di bulan ini,
tetapi selamanya.” Dan entah mengapa, di hati Ali, ia merasa seperti melihat
cahaya yang lemah, tetapi terus menyala, menuntunnya di jalan kebaikan.
Cerpen ini menggambarkan bahwa kemuliaan bulan Ramadhan bukan hanya
tentang puasa secara fisik, tetapi juga tentang menjaga hati, berbagi, dan menjadi
manusia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar