Kamis, 05 Maret 2026

Kemuliaan Bulan Ramadhan

 

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Oleh: Farkhan Maulana Mubarok

 


     Malam itu, langit Salatiga  dipenuhi awan tipis. Mereka menunggu rinai hujan sebelum adzan Isya ’ berkumandang. Di sebuah rumah kecil di pinggir kampung, Ali menatap sepiring nasi yang hampir tidak tersentuh. Perutnya kenyang, tetapi matanya belum puas melihat makanan yang mulai dingin. “Ali, makan sekali lagi. Nanti kamu tidak kuat puasa besok,” kata Ibu sambil menambahkan sayur ke piring anaknya. Ali menggeleng pelan. “Tidak, Bu, Nanti aku bawa makanan ini ke Masjid At-Toyyar  Tadi Ustadz  bilang, berbagi makanan di bulan Ramadhan akan mendapat pahala besar.” Ibu menatap Ali dengan bangga. “Kamu sudah seperti anak besar, ya. Ibu bangga padamu.”

   Besok pagi, saat adzan Subuh menggema, Ali sudah bangun sebelum azan. Dengan seragam sekolah dan sahur sederhana, ia menyiapkan tas kecil berisi kurma, air mineral, dan sebungkus nasi bungkus yang dibuat ibunya tadi malam. “Ali, kamu mau ke mana?” tanya Ibu yang baru selesai mengelap meja. “Ke masjid Bu, ustadz bilang siapa yang bangun di penghujung malam untuk membantu saudaranya, Allah akan mengangkat derajatnya di bulan Ramadhan.” Ibu tersenyum. “Baik, hati-hati di jalan.”

   Di masjid, suasana tenang. Beberapa anak remaja sudah duduk bersila di halaman, menunggu pelajaran singkat sebelum pelajaran subuh. Ustadz  berdiri di depan, suaranya lembut mengalun.“Anak-anak, tahukah kalian mengapa bulan Ramadhan disebut bulan kemuliaan?” Ustadz menatap mereka satu per satu. “Karena di bulan ini, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Siapa yang menjaga shalat, puasa, dan sedekah, Allah akan menjaganya.” Ali mengangkat tangan. “Ustadz, saya bawa makanan untuk orang yang belum sempat sahur. Boleh saya berikan sekarang?”  Ustadz  mengangguk. “Baik, Ali, tapi ingat jangan sombong. Ini bukan hanya amal tetapi juga cara kamu mengenal kemuliaan Ramadhan untuk saling memberi, bukan hanya menerima.” Ali mengangguk mantap. Ia kemudian berjalan menuju sebuah rumah kecil di ujung kampung. Di sana, seorang kakek tua, kakek Yono, duduk di depan pintu. Kulitnya keriput, tubuhnya kurus, tetapi matanya masih bersinar. “Ali, kamu sudah datang?” Kakek Yono tersenyum lemah. “Saya bawa sahur, Kek,” kata Ali sambil menyodorkan bungkusan nasi. “Ini dari Ibu saya. Kek, saya mau bantu bersihkan rumah setelah subuh.” Kakek Lela mengelus kepala Ali. “Kamu sudah seperti cucu sendiri. Tapi jangan lupa, puasa itu juga berarti menjaga mata, mulut, dan hati dari perbuatan buruk.” Ali mengangguk. “Saya akan usaha, Kek.”

   Setelah subuh, Ali membantu kakek Yono  membersihkan rumah, menyapu halaman, dan menjemur pakaian. Ia merasa lelah, tetapi hatinya jauh dari lapar. Ia merasa hangat, seolah ada cahaya kecil yang menyala di dalam dada. “Ali, kamu sudah lapar?” tanya kakek Yono  ketika matahari mulai naik. “Saya masih kuat, Kek. Tapi kalau Kek mau, saya bisa bantu bawa air minum.” Ali lalu berjalan ke warung dekat masjid, membeli air minum, dan membagikannya kepada beberapa anak yang sedang bermain. “Ali, kamu selalu berbagi ya?” tanya salah satu temannya, Lana. “Di bulan Ramadhan, setiap kebaikan akan mendapat pahala berlipat, Na,” kata Ali tersenyum. “Ustadz bilang, kemuliaan Ramadhan bukan hanya puasa, tetapi juga menyapa, membantu, dan menjaga hati.” Joko tertegun sejenak. “Saya mau ikut kamu besok, Ali.”

   Sore hari, saat matahari mulai tenggelam, Ali duduk di teras masjid bersama Ustadz .“Ustadz, saya merasa hari ini berbeda. Tapi saya belum merasakan sesuatu yang luar biasa, hanya membantu, berbagi, dan bersabar.” Ustadz tersenyum. “Ali, kemuliaan Ramadhan tidak terlihat di langit, tetapi di hati. Saat kamu menahan diri dari makan dan minum, kamu juga menahan diri dari marah, gosip, dan kesombongan. Itu adalah bentuk kemuliaan.” Ali terdiam. “Jadi, Ramadhan bukan hanya tentang lapar, tetapi juga tentang belajar menjadi lebih baik?” “Tepat sekali,” kata Ustadz. “Siapa yang berusaha menjadi baik di bulan ini, Allah akan membantunya menjadi lebih baik di bulan lain.”

    Malam harinya, setelah tarawih, Ali pulang dengan hati yang tenang. Ia menatap rembulan yang lembut di langit, lalu berdoa dalam hati. “Ya Allah, jika Ramadhan adalah bulan kemuliaan, tolong bantu saya menjaga kemuliaan ini bukan hanya di bulan ini, tetapi selamanya.” Dan entah mengapa, di hati Ali, ia merasa seperti melihat cahaya yang lemah, tetapi terus menyala, menuntunnya di jalan kebaikan.

Cerpen ini menggambarkan bahwa kemuliaan bulan Ramadhan bukan hanya tentang puasa secara fisik, tetapi juga tentang menjaga hati, berbagi, dan menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar