Kamis, 05 Maret 2026

Satu Menit

 

SATU MENIT

Oleh: Vicila Vermalia

 


“Silahkan dinikmati.”

Ucap salah seorang pelayan kafe yang mengulurkan satu cangkir hitam. Aku tersenyum, lantas menganggukkan kepala,”Terima kasih.”

Pelayan itu menunduk,memberi penghormatan padaku.

Diluar sana kerumunan orang berlalu Lalang ,hujan tidak menghalangi mereka untuk bekerja dinginnya malam seolah bukan masalah bagi mereka.

“Kasihan sekali mereka masih harus bekerja dicuaca yang seperti ini, pasti mereka rindu dengan keluarganya kan?” gumamku.

Aku menyeruput secangkir kopi hitam itu,lantas meringis akibat rasa pahit yang langsung menjalar keseluruh lidah.

Namaku Gin  disini aku akan membagi kisahku kepada kalian tidak banyak tapi cukup untuk mengenang sebuah perjalanan.

***

Gin seorang remaja laki laki dengan tinggi 165 centimeter itu sedang melangkahkan kakinya menuju kelas . tahun ini usianya genap tujuh belas tahun Angka yang sangat krusial karena itu Adalah tanda seseorang sudah dikatakan ‘Dewasa’. Tahun ini pula tahun terakhirnya sekolah SMA.

Sedari awal,ia tak pandai bercakap dengan orang lain,akibatnya tak jarang Gin dijauhi oleh teman-teman .berbeda dengan Aou seorang gadis yang begitu popular dikalangan pria maupun Wanita selama dua tahun ini.

Gin membuka pintu ,mendapati orang yang ia maksud sedang mengobrol.Aou yang menyadari keberadaannya,segera menampakkan senyuman.

“Selamat pagi,Gin.”

Gin mengangguk, “Selamat pagi” lantas melewatinya begitu saja.Namun , tanpa ada seorang pun yang sadar matanya mendapati hal yang cukup mencurigakan. Gin tak terlalu mempedulikan kakinya terus bergerak menuju sebuah meja yang terletak di belakang satu baris dengan Aou.

Ia meletakkan tas ,duduk dengan kepala bersandar pada telapak tangan.hari ini tidak ada pekerjaan rumah Gin bisa saja tidur sambil menunggu guru datang tapi pikirannya  terusik pada apa yang ia lihat barusan.

Sepertinya ia tidak dapat mengabaikannya begitu saja.pikir Gin. Nafasnya terdengar cukup berat. Pandangannya tertuju pada orang yang dimaksud.

Aou gadis berambut hitam dengan Panjang sebahu itu Adalah orang yang sangat pintar ia selalu memdapat peringkat satu bahkan sempat menjuarai  beberapa olimpiade Tingkat nasional Gin saja heran kenapa ia bisa satu kelas dengannya padahal Gin tidak sepintar itu karena seperti yang ia tahu bahwa sekolah ini mempunyai system tersendiri untuk pembagian kelas.

Entah mengapa dirinya bisa mendapatkan kelas yang sama dengan orang terpintar di sekolah ini.

Sebenarnya memang ada kesempatan,namun itu sangat kecil mungkin ia salah satu yang beruntung.

Itu sangat menakjubkan sekali.

“Gin bagaimana perkembangan tokomu? Apa sudah ada menu baru lagi? Aku tidak sabar untuk mencicipinya.”

Gin menghembuskan nafas Panjang,lantas berdiri,melayangkan satu pukulan keras ke arah orang yang berada di sampingnya.Remaja laki laki itu merintih kesakitan.

“Nggak usah dipukul juga kali!”

“kau sudah kubilang berkali kali kan!”

“Iyaa maaf aku kelepasan, soalnya kue di tokomu selalu enak,aku tidak sabar dengan menu baru.”

Gin tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Raka,matanya terus tertuju ke arah Aou.

“kau sedang lihat apa?” Raka mengikuti arah pandang Gin

“Oh Aou,apa kau menyukainya?” Sekali lagi Gin mendaratkan pukulan ke wajah Raka.

Sembari memegang pipi,laki laki itu merintih kesakitan,” Kan aku cuma tanya.”

Gin sekali lagi tak menanggapi.

Entah mengapa ia seperti menyadari sesuatu yang tak beres dari gadis itu.Sebelum masuk tadi, ia melihat lebam di bagian kaki kirinya,terlihat Ketika kaus kakinya turun beberapa centimeter.

***

Dingin pagi menyusup diam diam ke balik selimut,tidur yang semula nyaman kini mulai terganggu Gin terbangun menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00 WIB hari ini Adalah hari minggu yang seharusnya menjadi hari yang santai bagi semua orang tapi tidak dengan Gin ia harus pergi untuk mengerjakan tugas kelompok. Dengan Langkah ngontai ia berjalan ke kamar mandi.

“Ibu aku akan mengerjakan tugas kelompok dengan teman ku di kafe”ucap Gin yang sedang makan.

“Baiklah nanti jangan pulang kesorean ,nikmati saja makanannya tidak usah terburu-buru.”

Gin hanya mengangguk melanjutkan sarapannya.

Hari sudah semakin siang cuacanya cerah tidak terlalu panas di tambah pepohonan yang rindang di perjalanan membuat Kesan sejuk untuk saat ini.semoga tidak hujan nanti, pikir Gin.

“Kringg”

 Lonceng berbunyi Ketika Gin memasuki Kafe, ia mengedarkan pandangannya mencari orang yang ia kenal.

“GIN SINI” teriak orang tersebut melambaikan tangannya agar Gin melihat ,tanpa  basa basi Gin menuju orang tersebut.

“Apa kau sudah lama menunggu?”

“tidak, aku juga baru saja sampai” Gin mengangguk sembari mengeluarkan laptop dari tas nya.

“Kau ingin pesan apa biar aku pesankan sekalian?”

“Kopi satu”

“Itu saja?”

Gin mengangguk,Raka pergi untuk memesan dan tak lama ia Kembali dengan membawa pesanannya.

Mereka mengerjakan tugas dengan tenang sesekali bercanda untuk menghilangkan rasa jenuh tak terasa waktu berjalan dengan cepat mereka sudah selesai dengan tugasnya.

“Ah akhirnya selesai juga tugasnya” Ucap Raka sembari merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku itu.

“Gin apa kau tahu ada berita tentang Aou yang sangat mengejutkan.”

“katanya ia hampir bunuh diri, tapi ada seseorang yang menolongnya.”

Mendengar hal itu Gin teringat akan suatu hal.

***

‘Hanya satu menit saja, maka rasakanlah sensasi kehidupannya’

“Apa maksudnya?”

Di Tengah keheningan yang dipenuhi kebingungan, terdengar suara keras ’Brakk’ yang berasal dari Gudang sekolah yang ada di belakangnya, tanpa pikir Panjang Gin berlari ke dalam sesampainya disana, betapa terkejutnya ia mendapati seutas tali yang sedang menjerat leher seorang gadis. Otaknya membeku,jantungnya seketika berdegup kencang.Tangan gemetar tak tahu harus berbuat apa.

Ketika angin menerpa wajah gadis tersebut lalu rambut depannya tersingkap.Gin sadar siapa yang ada di jeratan tali.

“Aou!” Gin benar benar histeris.

Nafas Gin tertahan,segera ia melompat ke atas meja. Mencoba melepaskan tali yang mencekik lehernya.Tubuh Aou masih hangat,matanya pun masih sedikit terbuka. Ia belum mati. Gin terus berusaha melepaskan tali itu, tapi mustahil tenaganya tidak sekuat itu ia tidak bisa melepaskan tali itu sendirian.

Gawat, jika terus seperti ini,nafas nya akan segera berhenti.pasti ada sesuatu di sekitar sini.”Aku harus menemukan sesuatu ,ayolah berpikir Gin,apa yang dapat memutus tali.

Dalam keheningan mata hazel itu menatap bayangan Gin yang sedang kebingungan .

“Seharusnya kau tidak usah menolongku Gin .”

“TIDAK AKAN!!!”

Gin melompat dari meja mencari apapun yang bisa di gunakan untuk memotong tali,dalam keadaan panik  ia terus mencari  dilaci,lemari bagian yang sulit dijangkaupun ia cari. lima menit berlalu Gin tidak dapat menemukan ‘secercah harapan ‘ itu.Ia menghela nafas  Panjang terduduk dipojok ruangan itu.

Apakah dirinya tidak dapat menyelamatkan Aou?

Tiba tiba ia teringan pada pecahan kaca di sudut Gudang itu.

Sementara itu, kesadaran Aou mulai menipis.Rasa nyeri mulai terasa  di kepalanya,seakan ribuan jarum pentul menghujam kepalanya. Aou menangis,dirinya merasa bersalah kepada Gin.

Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan mu Kembali,bercanda dengan teman teman yang lain,melihatmu Kembali  rasanya seperti melihat seseorang

yang selama ini ku cari.

Pengelihatannya memudar, kesadarannya mulai menipis, samar samar Aou teringat seorang anak kecil yang menolongnya dulu,anak laki laki yang telah menyakinkannya untuk bertahan di dunia ini’

“Maafkan aku…”

***

Musim hujan, musim yang identik dengan ‘perpisahan’.Airnya membasahi setiap sudut kota.Genangan-genangan air di jalan menciptakan pantulan  Cahaya yang begitu indah.

Kepala gadis itu menunduk ,memeluk tubuh mungilnya yang semakin  kedingan.,air mata semakin deras,bulir-bulir asin itu jatuh tanpa ia tahan, menyatu Bersama rintik hujan yang turun dari langit kelabu seolah awan hitam pun ingin menemaninya dalam sepi.

“Kenapa Tuhan begitu jahat padaku? Ayahbu kenapa aku dilahirkan?”

Seorang gadis kecil yang seharusnya tertidur dipangkuan hangat kedua orang tuanya,justru memilih menjauh.Ia melangkah pergi ,memasuki senyap yang kini memeluk sepenuh hati. Gadis itu tak beranjak, membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Hujan  akhirnya mengetahui mengapa selalu ada hujan di setiap kesedihan.

Karena hujanlah, hati kita dapat berbaikan dengan kedaan yang ada.

“Hai kau kenapa belum pulang.”

Mendengar itu ia pun melihat anak laki laki yang berdiri di sampingnya dengan payung untuk menghalangi  hujan membasahi mereka.

“Kenapa memberikan payung ini padaku?”

“Entahlah… akupun tak tahu.”

“Dunia ini memang gila”

Ia mendongak “Apa maksudmu?”

“Tuhan tidaklah salah menciptakanmu,hanya saja watak manusia saja yang serakah, dunia memang tidak adil bagi Sebagian orang ,kau diciptakan untuk memperbaiki dunia ini Bersama orang yang memiliki hati manusiawi. Bertahanlah jadi orang baik, itu memang sulit tapi siapa lagi kalo bukan kita yang memulai untuk memperbaiki dunia yang gila ini.

“Kau benar…”

Laki laki itu benar,kenapa ia dapat memikirkan hal yang buruk tentang semua ini? Pasti ada makna tersembunyi dari kehidupan yang ia alami.

“Ambillah payung ini dan cepat pulang “

“lalu kau bagaimana?”

“kau tidak usah khawatir, aku tidak selemah itu hanya kerena terkena hujan.”

“Terima kasih aku akan mengingat ucapanmu barusan.”

“Sebelum kau pergi,ingatlah kalimat ini,setiap perjalanan tidak pernah  dapat terulang Kembali.”

Gadis itu mengangguk lalu berlari dari taman  dengan sebuah tanda tanya besar yang ia bawa.

“Ku harap kita dapat bertemu Kembali entah di pertemuan manapun itu.

***

“ Hei Gin kenapa kau melamun halo.” Raka melambaikan tangan didepan wajah Gin “Apa kau tak apa?”tanya Raka sekali lagi .

“ aahh aku tak apa hanya memikirkan sesuatu” Gin tersadar dari lamunannya.

“Kau masih mau disini atau pulang  sudah sore nih aku pulang dulu ya”

“ aku langsung pulang aja sudah ditunggu Ibu di rumah juga”

“ Ya sudah ayo kita pulang”

Sore itu seakan memberi tahu bahwa hidup tak selalu tentang kebahagian namun ada kesedihan yang mungkin sengaja di sembunyikan agar orang tahu bahwa kita tak selemah itu.

***

Gin menatap jam tangan ternyata sudah larut malam ia harus segera pulang kafe ini sudah sepi, di luar pun hujan mulai reda beberapa orang Bersiap untuk pulang .  

Sering kali kita terikat pada harapan dan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Kita menginginkan segalanya berjalan sesuai apa yang kita mau,namun kehidupan memberikan cobaan yang tak terduga.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar