SATU MENIT
Oleh: Vicila
Vermalia
“Silahkan
dinikmati.”
Ucap salah
seorang pelayan kafe yang mengulurkan satu cangkir hitam. Aku tersenyum, lantas
menganggukkan kepala,”Terima kasih.”
Pelayan itu
menunduk,memberi penghormatan padaku.
Diluar sana kerumunan
orang berlalu Lalang ,hujan tidak menghalangi mereka untuk bekerja dinginnya
malam seolah bukan masalah bagi mereka.
“Kasihan sekali
mereka masih harus bekerja dicuaca yang seperti ini, pasti mereka rindu dengan
keluarganya kan?” gumamku.
Aku menyeruput secangkir
kopi hitam itu,lantas meringis akibat rasa pahit yang langsung menjalar
keseluruh lidah.
Namaku Gin disini aku akan membagi kisahku kepada kalian
tidak banyak tapi cukup untuk mengenang sebuah perjalanan.
***
Gin seorang remaja laki laki dengan tinggi 165 centimeter itu
sedang melangkahkan kakinya menuju kelas . tahun ini usianya genap tujuh belas
tahun Angka yang sangat krusial karena itu Adalah tanda seseorang sudah
dikatakan ‘Dewasa’. Tahun ini pula tahun terakhirnya sekolah SMA.
Sedari awal,ia
tak pandai bercakap dengan orang lain,akibatnya tak jarang Gin dijauhi oleh
teman-teman .berbeda dengan Aou seorang gadis yang begitu popular dikalangan
pria maupun Wanita selama dua tahun ini.
Gin membuka
pintu ,mendapati orang yang ia maksud sedang mengobrol.Aou yang menyadari
keberadaannya,segera menampakkan senyuman.
“Selamat
pagi,Gin.”
Gin mengangguk,
“Selamat pagi” lantas melewatinya begitu saja.Namun , tanpa ada seorang pun
yang sadar matanya mendapati hal yang cukup mencurigakan. Gin tak terlalu
mempedulikan kakinya terus bergerak menuju sebuah meja yang terletak di
belakang satu baris dengan Aou.
Ia meletakkan tas ,duduk dengan kepala bersandar pada telapak
tangan.hari ini tidak ada pekerjaan rumah Gin bisa saja tidur sambil menunggu
guru datang tapi pikirannya terusik pada
apa yang ia lihat barusan.
Sepertinya ia
tidak dapat mengabaikannya begitu saja.pikir Gin. Nafasnya terdengar cukup
berat. Pandangannya tertuju pada orang yang dimaksud.
Aou gadis berambut hitam dengan Panjang sebahu itu Adalah orang
yang sangat pintar ia selalu memdapat peringkat satu bahkan sempat
menjuarai beberapa olimpiade Tingkat
nasional Gin saja heran kenapa ia bisa satu kelas dengannya padahal Gin tidak
sepintar itu karena seperti yang ia tahu bahwa sekolah ini mempunyai system
tersendiri untuk pembagian kelas.
Entah mengapa
dirinya bisa mendapatkan kelas yang sama dengan orang terpintar di sekolah ini.
Sebenarnya memang
ada kesempatan,namun itu sangat kecil mungkin ia salah satu yang beruntung.
Itu sangat
menakjubkan sekali.
“Gin bagaimana
perkembangan tokomu? Apa sudah ada menu baru lagi? Aku tidak sabar untuk
mencicipinya.”
Gin
menghembuskan nafas Panjang,lantas berdiri,melayangkan satu pukulan keras ke
arah orang yang berada di sampingnya.Remaja laki laki itu merintih kesakitan.
“Nggak usah
dipukul juga kali!”
“kau sudah
kubilang berkali kali kan!”
“Iyaa maaf aku
kelepasan, soalnya kue di tokomu selalu enak,aku tidak sabar dengan menu baru.”
Gin tidak menanggapi
apa yang dikatakan oleh Raka,matanya terus tertuju ke arah Aou.
“kau sedang lihat
apa?” Raka mengikuti arah pandang Gin
“Oh Aou,apa kau
menyukainya?” Sekali lagi Gin mendaratkan pukulan ke wajah Raka.
Sembari
memegang pipi,laki laki itu merintih kesakitan,” Kan aku cuma tanya.”
Gin sekali lagi
tak menanggapi.
Entah mengapa
ia seperti menyadari sesuatu yang tak beres dari gadis itu.Sebelum masuk tadi, ia
melihat lebam di bagian kaki kirinya,terlihat Ketika kaus kakinya turun
beberapa centimeter.
***
Dingin pagi menyusup
diam diam ke balik selimut,tidur yang semula nyaman kini mulai terganggu Gin terbangun
menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00 WIB hari ini Adalah hari
minggu yang seharusnya menjadi hari yang santai bagi semua orang tapi tidak
dengan Gin ia harus pergi untuk mengerjakan tugas kelompok. Dengan Langkah
ngontai ia berjalan ke kamar mandi.
“Ibu aku akan
mengerjakan tugas kelompok dengan teman ku di kafe”ucap Gin yang sedang makan.
“Baiklah nanti
jangan pulang kesorean ,nikmati saja makanannya tidak usah terburu-buru.”
Gin hanya
mengangguk melanjutkan sarapannya.
Hari sudah
semakin siang cuacanya cerah tidak terlalu panas di tambah pepohonan yang
rindang di perjalanan membuat Kesan sejuk untuk saat ini.semoga tidak hujan
nanti, pikir Gin.
“Kringg”
Lonceng berbunyi Ketika Gin memasuki Kafe, ia
mengedarkan pandangannya mencari orang yang ia kenal.
“GIN SINI”
teriak orang tersebut melambaikan tangannya agar Gin melihat ,tanpa basa basi Gin menuju orang tersebut.
“Apa kau sudah
lama menunggu?”
“tidak, aku
juga baru saja sampai” Gin mengangguk sembari mengeluarkan laptop dari tas nya.
“Kau ingin
pesan apa biar aku pesankan sekalian?”
“Kopi satu”
“Itu saja?”
Gin mengangguk,Raka
pergi untuk memesan dan tak lama ia Kembali dengan membawa pesanannya.
Mereka mengerjakan
tugas dengan tenang sesekali bercanda untuk menghilangkan rasa jenuh tak terasa
waktu berjalan dengan cepat mereka sudah selesai dengan tugasnya.
“Ah akhirnya
selesai juga tugasnya” Ucap Raka sembari merenggangkan tubuhnya yang terasa
kaku itu.
“Gin apa kau
tahu ada berita tentang Aou yang sangat mengejutkan.”
“katanya ia
hampir bunuh diri, tapi ada seseorang yang menolongnya.”
Mendengar hal
itu Gin teringat akan suatu hal.
***
‘Hanya satu
menit saja, maka rasakanlah sensasi kehidupannya’
“Apa
maksudnya?”
Di Tengah
keheningan yang dipenuhi kebingungan, terdengar suara keras ’Brakk’ yang
berasal dari Gudang sekolah yang ada di belakangnya, tanpa pikir Panjang Gin
berlari ke dalam sesampainya disana, betapa terkejutnya ia mendapati seutas tali
yang sedang menjerat leher seorang gadis. Otaknya membeku,jantungnya seketika
berdegup kencang.Tangan gemetar tak tahu harus berbuat apa.
Ketika angin
menerpa wajah gadis tersebut lalu rambut depannya tersingkap.Gin sadar siapa
yang ada di jeratan tali.
“Aou!” Gin
benar benar histeris.
Nafas Gin tertahan,segera
ia melompat ke atas meja. Mencoba melepaskan tali yang mencekik lehernya.Tubuh
Aou masih hangat,matanya pun masih sedikit terbuka. Ia belum mati. Gin terus
berusaha melepaskan tali itu, tapi mustahil tenaganya tidak sekuat itu ia tidak
bisa melepaskan tali itu sendirian.
Gawat, jika
terus seperti ini,nafas nya akan segera berhenti.pasti ada sesuatu di sekitar
sini.”Aku harus menemukan sesuatu ,ayolah berpikir Gin,apa yang dapat memutus
tali.
Dalam
keheningan mata hazel itu menatap bayangan Gin yang sedang kebingungan .
“Seharusnya kau
tidak usah menolongku Gin .”
“TIDAK AKAN!!!”
Gin melompat
dari meja mencari apapun yang bisa di gunakan untuk memotong tali,dalam keadaan
panik ia terus mencari dilaci,lemari bagian yang sulit dijangkaupun ia
cari. lima menit berlalu Gin tidak dapat menemukan ‘secercah harapan ‘ itu.Ia
menghela nafas Panjang terduduk dipojok
ruangan itu.
Apakah dirinya
tidak dapat menyelamatkan Aou?
Tiba tiba ia
teringan pada pecahan kaca di sudut Gudang itu.
Sementara itu,
kesadaran Aou mulai menipis.Rasa nyeri mulai terasa di kepalanya,seakan ribuan jarum pentul
menghujam kepalanya. Aou menangis,dirinya merasa bersalah kepada Gin.
Sebenarnya aku
ingin sekali bertemu dengan mu Kembali,bercanda dengan teman teman yang lain,melihatmu
Kembali rasanya seperti melihat seseorang
yang selama ini
ku cari.
Pengelihatannya
memudar, kesadarannya mulai menipis, samar samar Aou teringat seorang anak
kecil yang menolongnya dulu,anak laki laki yang telah menyakinkannya untuk
bertahan di dunia ini’
“Maafkan aku…”
***
Musim hujan, musim
yang identik dengan ‘perpisahan’.Airnya membasahi setiap sudut kota.Genangan-genangan
air di jalan menciptakan pantulan Cahaya
yang begitu indah.
Kepala gadis
itu menunduk ,memeluk tubuh mungilnya yang semakin kedingan.,air mata semakin deras,bulir-bulir asin
itu jatuh tanpa ia tahan, menyatu Bersama rintik hujan yang turun dari langit
kelabu seolah awan hitam pun ingin menemaninya dalam sepi.
“Kenapa Tuhan
begitu jahat padaku? Ayahbu kenapa aku dilahirkan?”
Seorang gadis
kecil yang seharusnya tertidur dipangkuan hangat kedua orang tuanya,justru
memilih menjauh.Ia melangkah pergi ,memasuki senyap yang kini memeluk sepenuh
hati. Gadis itu tak beranjak, membiarkan hujan membasahi tubuhnya.
Hujan akhirnya mengetahui mengapa selalu ada hujan di
setiap kesedihan.
Karena hujanlah,
hati kita dapat berbaikan dengan kedaan yang ada.
“Hai kau kenapa
belum pulang.”
Mendengar itu
ia pun melihat anak laki laki yang berdiri di sampingnya dengan payung untuk
menghalangi hujan membasahi mereka.
“Kenapa memberikan
payung ini padaku?”
“Entahlah…
akupun tak tahu.”
“Dunia ini memang
gila”
Ia mendongak “Apa
maksudmu?”
“Tuhan tidaklah
salah menciptakanmu,hanya saja watak manusia saja yang serakah, dunia memang
tidak adil bagi Sebagian orang ,kau diciptakan untuk memperbaiki dunia ini
Bersama orang yang memiliki hati manusiawi. Bertahanlah jadi orang baik, itu
memang sulit tapi siapa lagi kalo bukan kita yang memulai untuk memperbaiki
dunia yang gila ini.
“Kau benar…”
Laki laki itu
benar,kenapa ia dapat memikirkan hal yang buruk tentang semua ini? Pasti ada makna
tersembunyi dari kehidupan yang ia alami.
“Ambillah
payung ini dan cepat pulang “
“lalu kau
bagaimana?”
“kau tidak usah
khawatir, aku tidak selemah itu hanya kerena terkena hujan.”
“Terima kasih aku
akan mengingat ucapanmu barusan.”
“Sebelum kau
pergi,ingatlah kalimat ini,setiap perjalanan tidak pernah dapat terulang Kembali.”
Gadis itu
mengangguk lalu berlari dari taman dengan sebuah tanda tanya besar yang ia bawa.
“Ku harap kita
dapat bertemu Kembali entah di pertemuan manapun itu.
***
“ Hei Gin
kenapa kau melamun halo.” Raka melambaikan tangan didepan wajah Gin “Apa kau
tak apa?”tanya Raka sekali lagi .
“ aahh aku tak
apa hanya memikirkan sesuatu” Gin tersadar dari lamunannya.
“Kau masih mau
disini atau pulang sudah sore nih aku
pulang dulu ya”
“ aku langsung
pulang aja sudah ditunggu Ibu di rumah juga”
“ Ya sudah ayo
kita pulang”
Sore itu seakan
memberi tahu bahwa hidup tak selalu tentang kebahagian namun ada kesedihan yang
mungkin sengaja di sembunyikan agar orang tahu bahwa kita tak selemah itu.
***
Gin menatap jam
tangan ternyata sudah larut malam ia harus segera pulang kafe ini sudah sepi,
di luar pun hujan mulai reda beberapa orang Bersiap untuk pulang .
Sering kali
kita terikat pada harapan dan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Kita
menginginkan segalanya berjalan sesuai apa yang kita mau,namun kehidupan
memberikan cobaan yang tak terduga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar