Rabu, 04 Maret 2026

Sepatu Baru Anna

 

SEPATU BARU ANNA

Oleh: Fika Fitriyany



Kringgg.....!!!, sial bel telah berbunyi namun Anna masih berada diperempatan samping sekolahnya, seperti biasa Anna yang dari rumah sudah bangun pagi untuk solat subuh, beberes rumah dan membuat sarapan masih saja terlambat untuk sampai digerbang sekolahnya karena ia harus menempuh jalan yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya dengan jalan kaki, tidak pernah naik ojek atau dengan naik angkot sekalipun, bagaimana ia akan menaiki kendaraan tersebut jika saku baju sekolahnya saja tidak pernah mengantongi uang saku dari ibunya.

Anna Sarasmita, murid berprestasi di SD Negeri Kurawa 01, walau masih duduk dibangku kelas 5 Anna sudah mengumpulkan lebih dari 25 piagam prestasinya, ia selalu mendapat juara 1 didalam kelasnya, ia selalu lebih tanggap dari teman teman sebayanya, namun ia kalah tentang kondisi harmonis dirumahnya. Tepat 2 tahun yang lalu ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung yang diderita cukup lama dan tidak memiliki uang untuk berobat dalam jangka waktu panjang, semenjak ayahnya meninggal pekerjaannya pun terhenti, ibu merasa sangat terpukul atas perginya ayah, hingga saat inipun ibu masih sering melamun didepan rumah, saat berada diruang tamu, atau menangis sendirian setiap berada dikamarnya.

Ekonomi keluarga Anna yang tidak stabil membuat ibunya harus banting tulang bekerja menjadi asisten tukang sayur kecil, ibunya selalu berangkat pukul 3 pagi sebelum subuh dan selalu pulang pukul 5 sore, Anna tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara pada ibunya, karena ia merasa ibunya terlalu lelah jika berbincang bincang pada malam hari.

Disuatu malam ketika ibunya sedang termenung sendiri dikursi ruang makan Anna menghampirinya, ia berusaha mengajak berbincang bincang santai pada ibunya, dan yang tidak  Anna sangka adalah bahwa ibunya merespon perbincangan Anna dengan hangat, beberapa kali ibunya juga mengelus elus kepala Anna, air mata ibunya menetes ketika melihat sepatu lusuhku yang sudah rusak dan sobek diberbagi tempat itu tergeletak dipojok ruangan, ibu menggenggam tanganku sembari berkata “ Anna maafkan ibu yang masih tidak bisa memenuhi kebutuhanmu anak” mendengar itu Anna juga ikut meneteskan air matanya sambil berkata “ rasa nyaman dari sepatu bagus akan kalah dengan rasa nyaman berbincang denganmu seperti saat ini bu”, merekapun saling peluk untuk pertama kalinya setelah kepergian ayah.

Keesokan harinya ketika Anna bangun untuk solat subuh, ia mendapati ibunya berada didapur sedang memasak, ia yang terkejut melihat ibunya tidak pergi bekerjapun Anna bertanya “apakah ibu tidak bekerja?” kemudian dengan senyum hangat ibunya menjawab “tidak Anna, ibu meminta libur satu hari untuk membuatkanmu sarapan Anna”, Anna tersenyum lebar kemudian berkata “terimakasih ibu, ibu adalah ibu terbaik dimuka bumi ini” merekapun tertawa bersama.

 Selesainya sarapan Anna berangkat sekolah, dan untuk pertama kalinya juga ia diantar oleh ibunya dengan naik angkot, ketika sampai sekolahpun Anna juga mandapat uang saku dari ibu untuk pertama kalinya.

Ketika kegiatan belajar mengajar dikelas Anna sedang berlangsung ia terkejut saat tiba tiba kepala sekolahnya masuk kelas dan meminta pada ibu guru dikelasnya agar memperbolehkan kepala sekolah tersebut membawaku pulang, tanpa pikir panjang ibu guru pun langsung menyetujuinya. Lalu Anna...???? Anna yang sedang berkemaspun tidak fokus karena dikepalanya terlintas pertanyaan “kenapa mereka ingin mengantarku pulang?”, saat berada diatas motor kepala sekolah yang sedang menuju rumahnya, Anna memberanikan diri untuk bertanya pada kepala sekolah tersebut “kenapa saya diantar pulang ya pak?”, kemudian pak kepala sekolah menjawab "ibumu ingin peluk darimu Anna” walau Anna tidak puas dengan jawaban itu,namun ia tetap terdiam.

Sesampainya dirumah, Anna dibuat terkejut dengan suasana rumahnya yang ramai tidak seperti biasanya dan ia tidak bisa menahan air matanya jatuh ketika ia mendapati seseorang yang telah terbujur kaku diruang tamu. Ya benar..! itu adalah ibunya, Anna langsung bersimpuh disebelah ibunya ia menatap kosong wajah teduh milik ibu terhebatnya, didalam pikirannya berputar satu peranyaan “kenapa kau meninggalkanku bu?”, Anna terisak, dadanya sesak, matanya pun panas hingga mengelurkan bulir air  yang begitu deras. Ia tak pernah sanggup untuk hidup sendirian.

Anna melamun selama proses pemakaman ibunya, air matanya kering, dadanya juga sangat sesak, sesampainya dirumah, Anna yang sedang duduk termenung didalam kamar ibunya tiba tiba dihampiri oleh Ibu RT sambil membawa plastik putih berisikan sebuah kotak, Ibu RT menyerahkan plastik itu pada Anna, Anna menerimanya dan membukanya saat itu juga, begitu terkejutnya Anna ketika mendapati bahwa ternyata itu adalah kotak sepatu, sepatu untuknya dari ibu terhebatnya, Anna meneteskan air matanya dan meminta penjelasan dari Ibu RT, sungguh menyesakkan ketika mendengar apa yang diceritakan oleh Ibu RT padanya, ibu Anna mengalami kecelakaan tertabrak mobil ketika menyebrang dijalan raya kota setelah membelikan sepatu untuk Anna. Anna sangat terisak, dadanya sesak, pikirannya penuh dengan pertanyaan, dan Anna tidak pernah    mengira bahwa malam itu adalah malam terakhir ia berbincang dengan ibu, dan ia juga tidak mengira bahwa pagi itu adalah sarapan terakhir ia dengan ibunya. Anna meneteskan air matanya sambil mendongak dan berkata “terimakasih sepatu barunya bu”.

Dari kisah Anna kita tahu bahwa ekonomi bukanlah penghalang untuk semangat kita mencari ilmu dan dari kisah ini juga kita tahu bahwa komunikasi antara orang tua dan anak begitu penting dan sangat dibutuhkan.

Salatiga, 4 Maret 2026.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar