SEPATU BARU ANNA
Oleh: Fika Fitriyany
Kringgg.....!!!, sial bel telah berbunyi namun Anna masih berada
diperempatan samping sekolahnya, seperti biasa Anna yang dari rumah sudah
bangun pagi untuk solat subuh, beberes rumah dan membuat sarapan masih saja
terlambat untuk sampai digerbang sekolahnya karena ia harus menempuh jalan yang
jaraknya cukup jauh dari rumahnya dengan jalan kaki, tidak pernah naik ojek
atau dengan naik angkot sekalipun, bagaimana ia akan menaiki kendaraan tersebut
jika saku baju sekolahnya saja tidak pernah mengantongi uang saku dari ibunya.
Anna Sarasmita, murid berprestasi di SD Negeri Kurawa 01, walau
masih duduk dibangku kelas 5 Anna sudah mengumpulkan lebih dari 25 piagam
prestasinya, ia selalu mendapat juara 1 didalam kelasnya, ia selalu lebih
tanggap dari teman teman sebayanya, namun ia kalah tentang kondisi harmonis
dirumahnya. Tepat 2 tahun yang lalu ayahnya meninggal dunia karena penyakit
jantung yang diderita cukup lama dan tidak memiliki uang untuk berobat dalam
jangka waktu panjang, semenjak ayahnya meninggal pekerjaannya pun terhenti, ibu
merasa sangat terpukul atas perginya ayah, hingga saat inipun ibu masih sering
melamun didepan rumah, saat berada diruang tamu, atau menangis sendirian setiap
berada dikamarnya.
Ekonomi keluarga Anna yang tidak stabil membuat ibunya harus
banting tulang bekerja menjadi asisten tukang sayur kecil, ibunya selalu
berangkat pukul 3 pagi sebelum subuh dan selalu pulang pukul 5 sore, Anna tidak
pernah memiliki kesempatan untuk berbicara pada ibunya, karena ia merasa ibunya
terlalu lelah jika berbincang bincang pada malam hari.
Disuatu malam ketika ibunya sedang termenung sendiri dikursi ruang
makan Anna menghampirinya, ia berusaha mengajak berbincang bincang santai pada
ibunya, dan yang tidak Anna sangka
adalah bahwa ibunya merespon perbincangan Anna dengan hangat, beberapa kali
ibunya juga mengelus elus kepala Anna, air mata ibunya menetes ketika melihat
sepatu lusuhku yang sudah rusak dan sobek diberbagi tempat itu tergeletak
dipojok ruangan, ibu menggenggam tanganku sembari berkata “ Anna maafkan ibu
yang masih tidak bisa memenuhi kebutuhanmu anak” mendengar itu Anna juga ikut meneteskan
air matanya sambil berkata “ rasa nyaman dari sepatu bagus akan kalah dengan
rasa nyaman berbincang denganmu seperti saat ini bu”, merekapun saling peluk
untuk pertama kalinya setelah kepergian ayah.
Keesokan harinya ketika Anna bangun untuk solat subuh, ia mendapati
ibunya berada didapur sedang memasak, ia yang terkejut melihat ibunya tidak
pergi bekerjapun Anna bertanya “apakah ibu tidak bekerja?” kemudian dengan
senyum hangat ibunya menjawab “tidak Anna, ibu meminta libur satu hari untuk
membuatkanmu sarapan Anna”, Anna tersenyum lebar kemudian berkata “terimakasih
ibu, ibu adalah ibu terbaik dimuka bumi ini” merekapun tertawa bersama.
Selesainya sarapan Anna
berangkat sekolah, dan untuk pertama kalinya juga ia diantar oleh ibunya dengan
naik angkot, ketika sampai sekolahpun Anna juga mandapat uang saku dari ibu
untuk pertama kalinya.
Ketika kegiatan belajar mengajar dikelas Anna sedang berlangsung ia
terkejut saat tiba tiba kepala sekolahnya masuk kelas dan meminta pada ibu guru
dikelasnya agar memperbolehkan kepala sekolah tersebut membawaku pulang, tanpa
pikir panjang ibu guru pun langsung menyetujuinya. Lalu Anna...???? Anna yang
sedang berkemaspun tidak fokus karena dikepalanya terlintas pertanyaan “kenapa
mereka ingin mengantarku pulang?”, saat berada diatas motor kepala sekolah yang
sedang menuju rumahnya, Anna memberanikan diri untuk bertanya pada kepala
sekolah tersebut “kenapa saya diantar pulang ya pak?”, kemudian pak kepala
sekolah menjawab "ibumu ingin peluk darimu Anna” walau Anna tidak puas
dengan jawaban itu,namun ia tetap terdiam.
Sesampainya dirumah, Anna dibuat terkejut dengan suasana rumahnya
yang ramai tidak seperti biasanya dan ia tidak bisa menahan air matanya jatuh
ketika ia mendapati seseorang yang telah terbujur kaku diruang tamu. Ya
benar..! itu adalah ibunya, Anna langsung bersimpuh disebelah ibunya ia menatap
kosong wajah teduh milik ibu terhebatnya, didalam pikirannya berputar satu
peranyaan “kenapa kau meninggalkanku bu?”, Anna terisak, dadanya sesak, matanya
pun panas hingga mengelurkan bulir air
yang begitu deras. Ia tak pernah sanggup untuk hidup sendirian.
Anna melamun selama proses pemakaman ibunya, air matanya kering,
dadanya juga sangat sesak, sesampainya dirumah, Anna yang sedang duduk
termenung didalam kamar ibunya tiba tiba dihampiri oleh Ibu RT sambil membawa
plastik putih berisikan sebuah kotak, Ibu RT menyerahkan plastik itu pada Anna,
Anna menerimanya dan membukanya saat itu juga, begitu terkejutnya Anna ketika
mendapati bahwa ternyata itu adalah kotak sepatu, sepatu untuknya dari ibu
terhebatnya, Anna meneteskan air matanya dan meminta penjelasan dari Ibu RT,
sungguh menyesakkan ketika mendengar apa yang diceritakan oleh Ibu RT padanya,
ibu Anna mengalami kecelakaan tertabrak mobil ketika menyebrang dijalan raya
kota setelah membelikan sepatu untuk Anna. Anna sangat terisak, dadanya sesak,
pikirannya penuh dengan pertanyaan, dan Anna tidak pernah mengira bahwa malam itu adalah malam
terakhir ia berbincang dengan ibu, dan ia juga tidak mengira bahwa pagi itu
adalah sarapan terakhir ia dengan ibunya. Anna meneteskan air matanya sambil
mendongak dan berkata “terimakasih sepatu barunya bu”.
Dari kisah Anna kita tahu bahwa ekonomi bukanlah penghalang untuk
semangat kita mencari ilmu dan dari kisah ini juga kita tahu bahwa komunikasi
antara orang tua dan anak begitu penting dan sangat dibutuhkan.
Salatiga, 4 Maret 2026.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar