Senja Kala itu
di Pesantren
Oleh: Nur Zahra
Zafira
Suatu hari di sebuah pesantren kedatangan
para santri baru yang akan memulai pendidikannya di pesantren tersebut. Banyak
santri yang berkerumun bersama keluarganya untuk menikmati masa-masa indah
karena sebentar lagi mereka akan berpisah dengan keluarganya masing-masing. Tak
terasa waktu begitu cepat, satu per satu santri ditinggalkan oleh keluarganya,
tak terkecuali Hanin. Dia adalah Haninda Sabita. Dia tak mau berpisah dengan
keluarganya dan terus menangis memeluk ibunya juga memohon agar tidak
ditinggalkan di pesantren. Tak lama kemudian datanglah Fatika yang juga
merupakan santri baru. Fatika menghampiri Hanin seraya mengelus punggungnya dan
berkata, “Hey teman, ayo masuk bersamaku”. Ibu Hanin tersenyum ke arah Fatika,
dan kemudian berkata pada Hanin, “Masuklah sayang, belajarlah dengan tekun di
sini dan jadilah kebanggaan ibu dan ayah”. Hanin menatap ibunya lamat-lamat dan
berkata, “Baiklah ibu, aku masuk dulu yha, ibu hati-hati di jalan”. Hanin pun melepaskan
genggaman tangannya dari sang ibu dan kemudian melambaikan tangannya seraya
berkata, “Hati-hati yha ibu, doakan aku yha”, sang ibu hanya mengangguk dan
mulai meninggalkan pesantren tempat putrinya mengemban ilmu.
Hanin dan
Fatika pun saling berkenalan satu sama lain. “Hai, aku Hanin, kamu siapa
namanya?”, Fatika pun menjawab, “Aku Fatika, salam kenal yha, eh kamu kamar apa
nanti masuknya?”, tanya Fatika. “”Aku kamar Zahrotul Kholij, kalo kamu apa?, ucap
Hanin, “Wahh, sama dong, ya idah yuk ke kamar”, Fatika pun mengajak Hanin ke
kamar. Sesampainya di kamar mereka langsung membereskan barang masing-masing
dan setelah itu beristirahat sambil menunggu adzan ashar.
Suara adzan
ashar terdengar berkumandang, Fatika yang mendengarnya langsung terbangun dari
tidurnya dan melihat ke arah kasur milik Hanin tempat ia tertidur. Lalu, ia
berjalan mendekati Hanin dan membangunkannya untuk sholat ashar berjamaah,
“Hanin, Hanin, bangun yuk kita jamaah dulu”. Hanin yang tak segera bangun pun
membuat Fatika terpaksa sedikit menggoyangkan tubuh Hanin agar segera bangun,
karena merasa tidurnya terganggu Hanin pun membuka matanya dan melihat Fatika
lalu bertanya, “Kenapa Tik?”, Fatika pun menjawab, “Ayo jamaah ashar dulu nanti
keburu selesai jamaahnya”. Mendengar jawaban dari Fatika, Hanin pun bangun dari
tidurnya yang masih terasa dalam mimpi. Fatika kembali berkata, “Ayok Nin, kita
wudhu dulu”, ucapnya sembari menggenggam Hanin. Hanin pun hanya mengangguk dan
mulai mengikuti jalan Fatika.
Selesai sholat
ashar mereka kembali ke kamar dan kembali berbincang. “Eh, kira-kira kita
bakalan betah nggak yha di sini?”, tanya Hanin tiba-tiba. Fatika yang
mendengarnya pun menoleh ke arah Hanin dan berkata, “Kalo aku sih mungkin
betah-betah aja apalagi aku emang udah sering jauh dari orang tua”. “Oalahhh
kok bisa sering jauh, kamu udah sering mondok apa gimana?”, tanya Hanin lagi.
Fatika pun kembali menjawab pertanyaan Hanin dengan menganggukan kepalanya
sembari memutar memori masa lalu di mana ia pertama kali di masukkan ke
pesantren saat ia berumur 7 tahun, saat itu ia juga sama seperti Hanin yang
menangis saat akan ditinggal oleh keluarganya, tetapi karena sudah terbiasa
jauh dari orang tua saat pindah ke pesantren lain ia sudah merasa biasa saja. “Eh,
bentar lagi senja datang deh, kita nontoh senja yuk, aku tu selalu suka melihat
keindahannya”, ajak Fatika. “Wahhh, boleh juga tuh, ayok kita lihat senja
mumpung pesantren kita juga pemandangannya bagus buat menikmati senja”.
Merekapun berjalan bersama menuju suatu tempat di mana mereka bisa melihat
keindahan senja yang tak selalu datang itu ketika tertutup oleh awan mendung.
Tak terasa
waktu berjalan dengan sangat cepat, suatu hari, Fatika dipanggil oleh salah
satu ustadzah yang mengajar di pesantren tersebut untuk menemuinya. Saat Fatika
bertemu dengan beliau, beliau berkata, “Fatika, ustadzah mau menyampaikan pesan
dari orang tua kamu, mereka bilang bahwa ingin kamu pindah sekolah dikarenakan
ada urusan pekerjaan jangka panjang yang mengharuskan kamu juga ikut pindah
bersama mereka”. Fatika yang mendengar hal tersebut pun cukup terkejut, apalagi
saat ustadzah melanjutkan pembicaraannya, “Bagaimana Fatika? Dan mereka hanya
memberi tau informasi ini kepada ustadzah, dan mereka bilang akan membawamu
pergi 2 hari lagi, jadi dalam 2 hari ke depan kamu sudah membereskan
barang-barang yha Nak”. Fatika semakin berkaca-kaca mendengar ucapan ustadzah.
Ia tak sanggung membayangkan akan berpisah dengan Hanin secepat ini. Ia sudah
merasa sangat dekat dengan sahabatnya itu. Setelah mendengar ucapan ustadzah ia
hanya termenung dan izin kembali ke kamarnya, di mana ada Hanin di sana.
Sesampainya di
depan pintu kamar ia semakin tak sanggup menahan air matanya sampai
sesenggukan. Tapi, ia tetap berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi
dan mulai masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar ia melihat Hanin yang sedang
belajar di atas kasurnya, ia pun menghampirinya dan sesekali menyeka air
matanya yang terus turun tanpa henti. “Wihhh, rajin banget sih kamu Nin, habis
ini pasti jadi murid berprestasi nihhhh”, ucap Fatika. Hanin yang mendengar
Fatika berkata pun menutup bukunya dan melihatnya kemudian bertanya, “Kamu
habis dari mana Tik, kok aku nggak lihat kamu tadi pas habis ngaji di masjid?”.
Fatika pun menjawab, “Eh, tadi aku buru-buru ke kamar mandi hehe, maaf yha tak
tinggal sendiri kamu”. Hanin yang mendengar jawaban Fatika tak menaruh rasa
curiga sama sekali, dia berpikir mungkin memang Fatika sudah terburu-buru ingin
ke kamar mandi, jadi ia hanya menimpali jawaban Fatika dengan berkata O saja.
Hanin pun kemudian melanjutkan belajarnya dan Fatika masih terngiang-ngiang
ucapan ustadzah tadi.
Besoknya
seperti biasa Hanin dan Fatika kembali melihat senja di tempat biasanya. Mereka
sibuk dengan pikiran masing-masing. Fatika sendiri bingung memikirkan kata-kata
agar bisa memberi tau ke Hanin bahwa besok ia akan pergi meninggalkan Hanin dan
pesantren ini untuk selamanya. Setelah berpikir keras akhirnya ia membuka suara
dan berkata kepada Hanin, “Em, Hanin... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu”.
Hanin yang mendengarnya pun menoleh ke arah Fatika dan mendengarkan ucapan
Fatika dengan wajah yang serius. Fatika kembali melanjutkan pembicaraannya,
“Emm, jadi gini Nin, sebelumnya aku mau minta maaf banget sama kamu soal yang
kemarin itu, sebenarnya aku nggak pergi ke kamar mandi setelah ngaji, tapi aku
dipanggil sama ustadzah dan menemui beliau, dan pas aku ketemu beliau, beliau
bilang kalo ada salam dari orang tua aku..”. Hanin sedikit terkejut dengan
ucapan Fatika, karena selama ini Fatika selalu jujur dengannya, “Emang kenapa
kamu kok sampe bohong gitu? Emang orang tua kau nitip salam apa sih?” ucap
Hanin. Fatika tak sanggup melanjutkan kata-katanya ia sudah berkaca-kaca
terlebih dulu lalu memeluk Hanin dengan erat lalu menguraikan pelukannya dan
berkata dengan terbata-bata karena tangisnya, “Hiks, hiks, maafin aku yha Nin
udah bohong sama kamu, jadi kemarin orang tuaku nitip salam kalo aku harus
pindah dari pesantren karena ada urusan pekerjaan jangka panjang jauh dari
sini, dan aku harus ikut sama mereka”, Fatika menyeka air matanya. Hanin yang
mendengar hal tersebut pun cukup terkejut dan menatap Fatika dengan tatapan
tidak percaya. Ia berhambur memeluk Fatika dan berkata, “Kamu bohong kan pasti
nggak mungkin kita harus berpisah secepat ini”. Hanin pun kembali berkata, “Kenapa
tiba-tiba sih Tik??? Aku masih butuh kamu di sini, nanti yang bantu aku
ngerjain tugas, yang ngingetin aku kalo aku salah arah, yang selalu sabar
dengerin cerita aku siapa lagi Tik?, aku nggak sanggup harus berpisah sama
kamu, nanti yang ngajak aku lihat senja yang indah di sini siapa Tik kalo bukan
kamu?”. Fatika hanya menangis mendengar ucapan Hanin, memang tidak bisa
dipungkiri bahwa mereka adalah sahabat yang sangat dekat dan sudah seperti adik
kakak. Hanin kembali berkata, “Tapi, aku kamu nggak mungkin menolak permintaan
orang tua kamu, jadi ikutlah bersama mereka dan jaga diri baik-baik di sana”.
Setelah mengucapkan itu ia pergi meninggalkan Fatika dan senja yang selalu
mereka lihat bersama. Fatika pun hanya meratapi punggung Hanin yang semakin
menjauh untuk kembali ke kamar. Ia kembali melihat senja yang indah untuk terakhir
kalinya. Setelah merasa cukup tenang ia kembali ke kamar menyusul Hanin. Sampai
di kamar ia mendapati Hanin yang masih menangis. Ia menghampiri Hanin dan
menenangkannya, lalu berkata, “Maafin aku yha Nin, tapi aku emang harus ikut
sama orang tuaku”. Hanin tak menjawab ucapan Fatika. Fatika pun membiarkan
Hanin tenang terlebih dahulu, sembari ia menata barang-barangnya ke dalam koper
ia kembali meneteskan air mata karena ingat masa-masa indahnya di pesantren ini
bersama Hanin dan senja yang tak pernah terlewat sehari pun untuk melihat
keindahannya.
Keesokan
harinya ia harus berpisah dengan Hanin, ia menuju gerbang pesantren karena
namanya terus dipanggil yang menandakan bahwa orang tuanya telah sampai. Hari
itu pun datang, hari di mana Fatika dan Hanin harus berpisah. Hanin
mengantarkan Fatika sampai di gerbang pesantren, mereka berpelukan dan menangis
bersama, tak lama setelah dirasa tenang Fatika berkata pada Hanin, “Jaga diri
baik yha di sini. Hanin hanya mengangguk sambil menahan air matanya. Lalu
mereka berpisah dan senja kemarin menjadi saksi persahabatan mereka.
Amanat
Senja memang indah
tetapi keindahannya tidak selalu dapat dilihat. Jadi, dalam kisah di atas kita
bisa tau bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang selalu ada untuk kita,
meskipun harus berpisah janganlah lupakan masa-masa indah bersamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar