Rabu, 04 Maret 2026

Senja Kala itu di Pesantren

 

Senja Kala itu di Pesantren

Oleh: Nur Zahra Zafira



   Suatu hari di sebuah pesantren kedatangan para santri baru yang akan memulai pendidikannya di pesantren tersebut. Banyak santri yang berkerumun bersama keluarganya untuk menikmati masa-masa indah karena sebentar lagi mereka akan berpisah dengan keluarganya masing-masing. Tak terasa waktu begitu cepat, satu per satu santri ditinggalkan oleh keluarganya, tak terkecuali Hanin. Dia adalah Haninda Sabita. Dia tak mau berpisah dengan keluarganya dan terus menangis memeluk ibunya juga memohon agar tidak ditinggalkan di pesantren. Tak lama kemudian datanglah Fatika yang juga merupakan santri baru. Fatika menghampiri Hanin seraya mengelus punggungnya dan berkata, “Hey teman, ayo masuk bersamaku”. Ibu Hanin tersenyum ke arah Fatika, dan kemudian berkata pada Hanin, “Masuklah sayang, belajarlah dengan tekun di sini dan jadilah kebanggaan ibu dan ayah”. Hanin menatap ibunya lamat-lamat dan berkata, “Baiklah ibu, aku masuk dulu yha, ibu hati-hati di jalan”. Hanin pun melepaskan genggaman tangannya dari sang ibu dan kemudian melambaikan tangannya seraya berkata, “Hati-hati yha ibu, doakan aku yha”, sang ibu hanya mengangguk dan mulai meninggalkan pesantren tempat putrinya mengemban ilmu.

Hanin dan Fatika pun saling berkenalan satu sama lain. “Hai, aku Hanin, kamu siapa namanya?”, Fatika pun menjawab, “Aku Fatika, salam kenal yha, eh kamu kamar apa nanti masuknya?”, tanya Fatika. “”Aku kamar Zahrotul Kholij, kalo kamu apa?, ucap Hanin, “Wahh, sama dong, ya idah yuk ke kamar”, Fatika pun mengajak Hanin ke kamar. Sesampainya di kamar mereka langsung membereskan barang masing-masing dan setelah itu beristirahat sambil menunggu adzan ashar.

Suara adzan ashar terdengar berkumandang, Fatika yang mendengarnya langsung terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah kasur milik Hanin tempat ia tertidur. Lalu, ia berjalan mendekati Hanin dan membangunkannya untuk sholat ashar berjamaah, “Hanin, Hanin, bangun yuk kita jamaah dulu”. Hanin yang tak segera bangun pun membuat Fatika terpaksa sedikit menggoyangkan tubuh Hanin agar segera bangun, karena merasa tidurnya terganggu Hanin pun membuka matanya dan melihat Fatika lalu bertanya, “Kenapa Tik?”, Fatika pun menjawab, “Ayo jamaah ashar dulu nanti keburu selesai jamaahnya”. Mendengar jawaban dari Fatika, Hanin pun bangun dari tidurnya yang masih terasa dalam mimpi. Fatika kembali berkata, “Ayok Nin, kita wudhu dulu”, ucapnya sembari menggenggam Hanin. Hanin pun hanya mengangguk dan mulai mengikuti jalan Fatika.

Selesai sholat ashar mereka kembali ke kamar dan kembali berbincang. “Eh, kira-kira kita bakalan betah nggak yha di sini?”, tanya Hanin tiba-tiba. Fatika yang mendengarnya pun menoleh ke arah Hanin dan berkata, “Kalo aku sih mungkin betah-betah aja apalagi aku emang udah sering jauh dari orang tua”. “Oalahhh kok bisa sering jauh, kamu udah sering mondok apa gimana?”, tanya Hanin lagi. Fatika pun kembali menjawab pertanyaan Hanin dengan menganggukan kepalanya sembari memutar memori masa lalu di mana ia pertama kali di masukkan ke pesantren saat ia berumur 7 tahun, saat itu ia juga sama seperti Hanin yang menangis saat akan ditinggal oleh keluarganya, tetapi karena sudah terbiasa jauh dari orang tua saat pindah ke pesantren lain ia sudah merasa biasa saja. “Eh, bentar lagi senja datang deh, kita nontoh senja yuk, aku tu selalu suka melihat keindahannya”, ajak Fatika. “Wahhh, boleh juga tuh, ayok kita lihat senja mumpung pesantren kita juga pemandangannya bagus buat menikmati senja”. Merekapun berjalan bersama menuju suatu tempat di mana mereka bisa melihat keindahan senja yang tak selalu datang itu ketika tertutup oleh awan mendung.

Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, suatu hari, Fatika dipanggil oleh salah satu ustadzah yang mengajar di pesantren tersebut untuk menemuinya. Saat Fatika bertemu dengan beliau, beliau berkata, “Fatika, ustadzah mau menyampaikan pesan dari orang tua kamu, mereka bilang bahwa ingin kamu pindah sekolah dikarenakan ada urusan pekerjaan jangka panjang yang mengharuskan kamu juga ikut pindah bersama mereka”. Fatika yang mendengar hal tersebut pun cukup terkejut, apalagi saat ustadzah melanjutkan pembicaraannya, “Bagaimana Fatika? Dan mereka hanya memberi tau informasi ini kepada ustadzah, dan mereka bilang akan membawamu pergi 2 hari lagi, jadi dalam 2 hari ke depan kamu sudah membereskan barang-barang yha Nak”. Fatika semakin berkaca-kaca mendengar ucapan ustadzah. Ia tak sanggung membayangkan akan berpisah dengan Hanin secepat ini. Ia sudah merasa sangat dekat dengan sahabatnya itu. Setelah mendengar ucapan ustadzah ia hanya termenung dan izin kembali ke kamarnya, di mana ada Hanin di sana.

Sesampainya di depan pintu kamar ia semakin tak sanggup menahan air matanya sampai sesenggukan. Tapi, ia tetap berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi dan mulai masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar ia melihat Hanin yang sedang belajar di atas kasurnya, ia pun menghampirinya dan sesekali menyeka air matanya yang terus turun tanpa henti. “Wihhh, rajin banget sih kamu Nin, habis ini pasti jadi murid berprestasi nihhhh”, ucap Fatika. Hanin yang mendengar Fatika berkata pun menutup bukunya dan melihatnya kemudian bertanya, “Kamu habis dari mana Tik, kok aku nggak lihat kamu tadi pas habis ngaji di masjid?”. Fatika pun menjawab, “Eh, tadi aku buru-buru ke kamar mandi hehe, maaf yha tak tinggal sendiri kamu”. Hanin yang mendengar jawaban Fatika tak menaruh rasa curiga sama sekali, dia berpikir mungkin memang Fatika sudah terburu-buru ingin ke kamar mandi, jadi ia hanya menimpali jawaban Fatika dengan berkata O saja. Hanin pun kemudian melanjutkan belajarnya dan Fatika masih terngiang-ngiang ucapan ustadzah tadi.

Besoknya seperti biasa Hanin dan Fatika kembali melihat senja di tempat biasanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Fatika sendiri bingung memikirkan kata-kata agar bisa memberi tau ke Hanin bahwa besok ia akan pergi meninggalkan Hanin dan pesantren ini untuk selamanya. Setelah berpikir keras akhirnya ia membuka suara dan berkata kepada Hanin, “Em, Hanin... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu”. Hanin yang mendengarnya pun menoleh ke arah Fatika dan mendengarkan ucapan Fatika dengan wajah yang serius. Fatika kembali melanjutkan pembicaraannya, “Emm, jadi gini Nin, sebelumnya aku mau minta maaf banget sama kamu soal yang kemarin itu, sebenarnya aku nggak pergi ke kamar mandi setelah ngaji, tapi aku dipanggil sama ustadzah dan menemui beliau, dan pas aku ketemu beliau, beliau bilang kalo ada salam dari orang tua aku..”. Hanin sedikit terkejut dengan ucapan Fatika, karena selama ini Fatika selalu jujur dengannya, “Emang kenapa kamu kok sampe bohong gitu? Emang orang tua kau nitip salam apa sih?” ucap Hanin. Fatika tak sanggup melanjutkan kata-katanya ia sudah berkaca-kaca terlebih dulu lalu memeluk Hanin dengan erat lalu menguraikan pelukannya dan berkata dengan terbata-bata karena tangisnya, “Hiks, hiks, maafin aku yha Nin udah bohong sama kamu, jadi kemarin orang tuaku nitip salam kalo aku harus pindah dari pesantren karena ada urusan pekerjaan jangka panjang jauh dari sini, dan aku harus ikut sama mereka”, Fatika menyeka air matanya. Hanin yang mendengar hal tersebut pun cukup terkejut dan menatap Fatika dengan tatapan tidak percaya. Ia berhambur memeluk Fatika dan berkata, “Kamu bohong kan pasti nggak mungkin kita harus berpisah secepat ini”. Hanin pun kembali berkata, “Kenapa tiba-tiba sih Tik??? Aku masih butuh kamu di sini, nanti yang bantu aku ngerjain tugas, yang ngingetin aku kalo aku salah arah, yang selalu sabar dengerin cerita aku siapa lagi Tik?, aku nggak sanggup harus berpisah sama kamu, nanti yang ngajak aku lihat senja yang indah di sini siapa Tik kalo bukan kamu?”. Fatika hanya menangis mendengar ucapan Hanin, memang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka adalah sahabat yang sangat dekat dan sudah seperti adik kakak. Hanin kembali berkata, “Tapi, aku kamu nggak mungkin menolak permintaan orang tua kamu, jadi ikutlah bersama mereka dan jaga diri baik-baik di sana”. Setelah mengucapkan itu ia pergi meninggalkan Fatika dan senja yang selalu mereka lihat bersama. Fatika pun hanya meratapi punggung Hanin yang semakin menjauh untuk kembali ke kamar. Ia kembali melihat senja yang indah untuk terakhir kalinya. Setelah merasa cukup tenang ia kembali ke kamar menyusul Hanin. Sampai di kamar ia mendapati Hanin yang masih menangis. Ia menghampiri Hanin dan menenangkannya, lalu berkata, “Maafin aku yha Nin, tapi aku emang harus ikut sama orang tuaku”. Hanin tak menjawab ucapan Fatika. Fatika pun membiarkan Hanin tenang terlebih dahulu, sembari ia menata barang-barangnya ke dalam koper ia kembali meneteskan air mata karena ingat masa-masa indahnya di pesantren ini bersama Hanin dan senja yang tak pernah terlewat sehari pun untuk melihat keindahannya.

Keesokan harinya ia harus berpisah dengan Hanin, ia menuju gerbang pesantren karena namanya terus dipanggil yang menandakan bahwa orang tuanya telah sampai. Hari itu pun datang, hari di mana Fatika dan Hanin harus berpisah. Hanin mengantarkan Fatika sampai di gerbang pesantren, mereka berpelukan dan menangis bersama, tak lama setelah dirasa tenang Fatika berkata pada Hanin, “Jaga diri baik yha di sini. Hanin hanya mengangguk sambil menahan air matanya. Lalu mereka berpisah dan senja kemarin menjadi saksi persahabatan mereka.

Amanat

Senja memang indah tetapi keindahannya tidak selalu dapat dilihat. Jadi, dalam kisah di atas kita bisa tau bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang selalu ada untuk kita, meskipun harus berpisah janganlah lupakan masa-masa indah bersamanya.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar