SKALA NOL PERSEN
Oleh: Alisa Aprilianty
Cerita ini dimulai pada suatu pagi yang hangat.
Hari itu, aku menghirup udara dengan tergesa, seolah jika aku tidak cukup
cepat, seseorang mungkin menghirupnya hingga habis. Lengkungan pada bibirku
juga tidak luntur sejak aku membuka mata.
Pagi ini, aku maafkan kran air yang tiba-tiba
mati, aku makan lahap nasi goreng dengan tomat yang aku benci. Pagi ini,
seolah-olah tidak ada hal yang bisa membuatku berhenti tersenyum.
Bahkan ucapan ibuku.
Aku
hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapannya yang sudah aku hafal di luar
kepala.
"Kamu jangan cuma iya-iya saja, Rain, kamu
harus mulai membuka mata, apasih yang kamu dapat dari pameran-pameran
itu,!?" Aku tidak menjawab, tidak juga berhenti mengunyah makananku.
"Kamu sudah dewasa, Rain, cari kerja yang
bener aja, ibu sama bapak ada waktunya berhenti bekerja, dan kamu yang nanti
ambil alih membiayai adikmu."
Aku sudah hafal kalimat itu, berbagai versinya
sudah aku dengar dari ibu, karna hanya itu percakapan yang tercipta antara aku
dan ibuku akhir-akhir ini. Aku hanya mengangguk lagi dan lagi, cepat-cepat aku
habiskan makananku agar aku bisa menemui hal-hal yang menyenangkan hari ini.
Namun tetap saja, pada suapan terakhir nasi goreng dengan tomat itu,
tenggorokanku sakit saat menelannya.
Dari
skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang kamu
jalani?,
Untuk semua beban kasar mata yang harus kamu
tanggung, untuk dukungan dan senyum hangat dari orang orang tersayang yang
sulit kamu dapat.
Dari dulu, aku tidak benar-benar tau jawaban
dibalik pertanyaan itu, hidup terlalu tidak adil hingga pertnayaan itu
terdengar seperti lelucon di telingaku. Namun pagi ini, mungkin aku sudah punya
persentase jawabnya. Karna setelah sekian lama penantian, akhirnya karyaku
dapat terpajang di sebuah pameran besar, tidak sabar rasanya untuk menjumpai
hal hal baik lainnya setelah ini.
Karna akhirnya, hari ini datang padaku,
Akhirnya, hari ini jadi hariku,
Aku
bukan anak tunggal kaya raya yang tinggal meneruskan bisnis orang tua, aku
hanya anak sulung yang belum mendapatkan pekerjaan setelah 2 tahun menganggur
dengan gelar S. Ds. Aku tidak pintar, tidak juga pandai bersosialisasi, tidak
ada alat musik yang mahir aku mainkan, suaraku sumbang, aku tidak punya skill
potografi yang mengagumkan, aku hanya senang mencampur warna, memenuhi kanvas
dengan suara riuh dikepala.
Hingga hari ini datang, aku tidak merasa kecil
lagi, karna ini hariku.
Namun,
selalu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, bukan?, sejauh apapun kita
menyusun skenario, pada akhirnya kita kembali dibuat sadar, bahwa kita tidak
punya kuasa.
Seperti dipagi hari yang bahagia itu, saat
tiba-tiba bunyi klakson dari mobil di belakang memekakkan telingaku. Belakangan
aku tau, klakson itu berasal dari truk merah yang melaju cepat, terlalu cepat.
Sepersekian detik kemudian, truk itu menghantam kendaraan ku, kencang, hingga
membuatku melayang. Ntah bagaimana aku sudah tergeletak di aspal yang dingin,
tidak sempat aku ingat tentang pameran hari ini, aku terlalu panik saat melihat
semut semut pada pandanganku, semakin lama, semut semut itu semakin banyak dan
kecil, memenuhi penglihatan ku, seperti sedang melihat televisi yang tidak
mendapat sinyal, hingga akhirnya gelap.
Hanya gelap.
Gelap yang seolah menghimpitku sendirian dari
segala sisi.
Suara
histeris orang-orang kembali memekakkan telingaku, mengantikan suara klakson
yang ntah mengapa tidak ku dengar lagi. Setelah itu,aku tidak bisa mengingat
apa-apa, mungkin orang-orang itu membawaku ke rumah sakit, menghubungi
keluargaku, orang tua ku mengunggu aku terbangun, mencemaskanku. Karna saat aku
bangun, aku sudah berada di ranjang rumah sakit, dengan suara isakan pilu
ibuku, dan dekapannya yang terasa dingin di tubuhku.
Namun masih gelap, hingga aku merengek pada ibu
agar menyalakan lampu ruangan. tapi, yang terjadi selanjutnya bukan ibuku yang
beranjak dan menekan saklar, justru dia mendekapku lebih kencang, dan isakannya
terdengar semakin pilu.
Jadi,
dari skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang
kamu jalani?,
Untuk segala mimpi yang hangus dibakar realita,
Untuk terbangun di ranjang rumah sakit dalam
keadaan buta,
Saat itu aku kehilangan kembali jawabannya. Ibu
memberitahuku bahwa aku didiagnosis menderita "Optic Nerve
Atrophy", kabel yang menghubungkan mata dengan otaku sudah putus,
saraf optik ku mati, aku buta.
Tidak, bagiku itu bukan sekedar buta.
Namun, mati.
Mati untuk harapan.
Mari untuk cinta.
Mati untuk hidup.
Dari sana, hari-hari ku tidak pernah sama lagi,
hidup berdampingan dengan gelap adalah hal baru yang harus aku jalani. Aku
bukan Esref armagan atau John Bramblitt seniman buta yang
legendaris. Kebutaan Hanya membuatku merutuki diri setiap pagi, tanpa ada
rencana bangkit.
Namun diam diam, ibuku tidak pernah lagi
memasukan tomat pada nasi gorengku.
Diam-diam, dia menyingkirkan benda benda tajam
yang mungkin bisa membahayakan ku.
Diam diam, aku sering mendengarnya menangis
pada ayah, atau saat menuapaiku makan.
Aku tau, tidak cukup melihat sesuatu hanya dari
satu sisi, terkadang, pada sisi-sisinya yang lain justru kita bisa menemukan
hal hal yang selama ini kita tolak untuk terima.
Jadi,
dari skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang
kamu jalani?, berapa banyak terima kasih yang terucap untuk hari - hari penuh
tawa?, berapa banyak pujian yang kamu berikan untuk setiap indah yang hadir?,
Untuk bangun tepat waktu,
Bantal yang dingin,
Driver grabfood yang ramah,
Dan wifi yang kencang,
Sejak saat itu, aku tidak lagi mencoret
kanvasku dengan warna-warna, bukan karna aku tidak lagi menyukainya, tapi
biarlah, biarlah "melukis" menjadi bagian dari diriku yang dulu.
Sekarang, biarkan aku berkelana, menjadi diriku yang baru.
Yang lebih mensyukuri hal-hal kecil,
Yang kembali hidup,
Yang mulai bersahabat dengan gelap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar