Kamis, 05 Maret 2026

Skala Nol Persen

 

SKALA NOL PERSEN

Oleh: Alisa Aprilianty

 


Cerita ini dimulai pada suatu pagi yang hangat. Hari itu, aku menghirup udara dengan tergesa, seolah jika aku tidak cukup cepat, seseorang mungkin menghirupnya hingga habis. Lengkungan pada bibirku juga tidak luntur sejak aku membuka mata.

Pagi ini, aku maafkan kran air yang tiba-tiba mati, aku makan lahap nasi goreng dengan tomat yang aku benci. Pagi ini, seolah-olah tidak ada hal yang bisa membuatku berhenti tersenyum.

Bahkan ucapan ibuku.

 Aku hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapannya yang sudah aku hafal di luar kepala.

"Kamu jangan cuma iya-iya saja, Rain, kamu harus mulai membuka mata, apasih yang kamu dapat dari pameran-pameran itu,!?" Aku tidak menjawab, tidak juga berhenti mengunyah makananku.

"Kamu sudah dewasa, Rain, cari kerja yang bener aja, ibu sama bapak ada waktunya berhenti bekerja, dan kamu yang nanti ambil alih membiayai adikmu."

Aku sudah hafal kalimat itu, berbagai versinya sudah aku dengar dari ibu, karna hanya itu percakapan yang tercipta antara aku dan ibuku akhir-akhir ini. Aku hanya mengangguk lagi dan lagi, cepat-cepat aku habiskan makananku agar aku bisa menemui hal-hal yang menyenangkan hari ini. Namun tetap saja, pada suapan terakhir nasi goreng dengan tomat itu, tenggorokanku sakit saat menelannya.

 

 Dari skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang kamu jalani?,

Untuk semua beban kasar mata yang harus kamu tanggung, untuk dukungan dan senyum hangat dari orang orang tersayang yang sulit kamu dapat.

Dari dulu, aku tidak benar-benar tau jawaban dibalik pertanyaan itu, hidup terlalu tidak adil hingga pertnayaan itu terdengar seperti lelucon di telingaku. Namun pagi ini, mungkin aku sudah punya persentase jawabnya. Karna setelah sekian lama penantian, akhirnya karyaku dapat terpajang di sebuah pameran besar, tidak sabar rasanya untuk menjumpai hal hal baik lainnya setelah ini.

Karna akhirnya, hari ini datang padaku,

Akhirnya, hari ini jadi hariku,

 

 Aku bukan anak tunggal kaya raya yang tinggal meneruskan bisnis orang tua, aku hanya anak sulung yang belum mendapatkan pekerjaan setelah 2 tahun menganggur dengan gelar S. Ds. Aku tidak pintar, tidak juga pandai bersosialisasi, tidak ada alat musik yang mahir aku mainkan, suaraku sumbang, aku tidak punya skill potografi yang mengagumkan, aku hanya senang mencampur warna, memenuhi kanvas dengan suara riuh dikepala.

Hingga hari ini datang, aku tidak merasa kecil lagi, karna ini hariku.

 

 Namun, selalu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, bukan?, sejauh apapun kita menyusun skenario, pada akhirnya kita kembali dibuat sadar, bahwa kita tidak punya kuasa.

Seperti dipagi hari yang bahagia itu, saat tiba-tiba bunyi klakson dari mobil di belakang memekakkan telingaku. Belakangan aku tau, klakson itu berasal dari truk merah yang melaju cepat, terlalu cepat. Sepersekian detik kemudian, truk itu menghantam kendaraan ku, kencang, hingga membuatku melayang. Ntah bagaimana aku sudah tergeletak di aspal yang dingin, tidak sempat aku ingat tentang pameran hari ini, aku terlalu panik saat melihat semut semut pada pandanganku, semakin lama, semut semut itu semakin banyak dan kecil, memenuhi penglihatan ku, seperti sedang melihat televisi yang tidak mendapat sinyal, hingga akhirnya gelap.

Hanya gelap.

Gelap yang seolah menghimpitku sendirian dari segala sisi.

 

 Suara histeris orang-orang kembali memekakkan telingaku, mengantikan suara klakson yang ntah mengapa tidak ku dengar lagi. Setelah itu,aku tidak bisa mengingat apa-apa, mungkin orang-orang itu membawaku ke rumah sakit, menghubungi keluargaku, orang tua ku mengunggu aku terbangun, mencemaskanku. Karna saat aku bangun, aku sudah berada di ranjang rumah sakit, dengan suara isakan pilu ibuku, dan dekapannya yang terasa dingin di tubuhku.

Namun masih gelap, hingga aku merengek pada ibu agar menyalakan lampu ruangan. tapi, yang terjadi selanjutnya bukan ibuku yang beranjak dan menekan saklar, justru dia mendekapku lebih kencang, dan isakannya terdengar semakin pilu.

 

 Jadi, dari skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang kamu jalani?,

Untuk segala mimpi yang hangus dibakar realita,

Untuk terbangun di ranjang rumah sakit dalam keadaan buta,

Saat itu aku kehilangan kembali jawabannya. Ibu memberitahuku bahwa aku didiagnosis menderita "Optic Nerve Atrophy", kabel yang menghubungkan mata dengan otaku sudah putus, saraf optik ku mati, aku buta.

Tidak, bagiku itu bukan sekedar buta.

Namun, mati.

Mati untuk harapan.

Mari untuk cinta.

Mati untuk hidup.

 

Dari sana, hari-hari ku tidak pernah sama lagi, hidup berdampingan dengan gelap adalah hal baru yang harus aku jalani. Aku bukan Esref armagan atau John Bramblitt seniman buta yang legendaris. Kebutaan Hanya membuatku merutuki diri setiap pagi, tanpa ada rencana bangkit.

Namun diam diam, ibuku tidak pernah lagi memasukan tomat pada nasi gorengku.

Diam-diam, dia menyingkirkan benda benda tajam yang mungkin bisa membahayakan ku.

Diam diam, aku sering mendengarnya menangis pada ayah, atau saat menuapaiku makan.

Aku tau, tidak cukup melihat sesuatu hanya dari satu sisi, terkadang, pada sisi-sisinya yang lain justru kita bisa menemukan hal hal yang selama ini kita tolak untuk terima.

 

 Jadi, dari skala 1 sampai 100, berapa persen kamu mensyukuri kehidupan yang sedang kamu jalani?, berapa banyak terima kasih yang terucap untuk hari - hari penuh tawa?, berapa banyak pujian yang kamu berikan untuk setiap indah yang hadir?,

Untuk bangun tepat waktu,

Bantal yang dingin,

Driver grabfood yang ramah,

Dan wifi yang kencang,

 

Sejak saat itu, aku tidak lagi mencoret kanvasku dengan warna-warna, bukan karna aku tidak lagi menyukainya, tapi biarlah, biarlah "melukis" menjadi bagian dari diriku yang dulu. Sekarang, biarkan aku berkelana, menjadi diriku yang baru.

Yang lebih mensyukuri hal-hal kecil,

Yang kembali hidup,

Yang mulai bersahabat dengan gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar