Sabtu, 28 Februari 2026

Satu Titik yang Bernama Tuntas

 

 

Satu Titik yang Bernama Tuntas

Karya: Febrina NA

 


Meja kayu itu terlalu lama menjadi saksi.

Di atasnya, ada laptop yang dibiarkan menyala sejak sore tadi. Tumpukan kertas-kertas skripsi yang diberikan kembali oleh dosen pembimbing yang di dalamnya penuh coretan tinta berwarna merah sampai lupa sudah yang keberapa kalinya. Juga secangkir teh yang entah sudah pergi ke mana panasnya.

Si gadis rantau ini namanya Kinara Hafiza. Panggil saja Nara.

“Sehat-sehat ya Dek…kalau capek istirahat dulu. Ibu sama Bapak selalu mendoakanmu…”

Selang beberapa jam setelah berkabar lewat telepon dengan kedua orang tuaku, menyadarkanku bahwa saat ini sudah pukul 01.47 WIB lewat dini hari.

Aku adalah “Si bungsu yang beruntung”, kata orang-orang. Mas Rival, kakak laki-laki satu-satunya diriku itu sudah lebih dulu lulus kuliah  dan merantau. Kini ia tak lagi sendiri. Ia tinggal di kota orang untuk merintis masa depannya bersama istrinya di rumah kontrakan kecil yang cicilannya masih mereka hitung pelan-pelan setiap bulan. Tak pernah mengeluh soal pekerjaanya, ataupun gajinya yang seharusnya ia gunakan saja untuk membeli keperluan rumah tangganya ia sisihkan sedikit untuk dimasukkan ke nomor rekeningku atau nomor rekening orang tuaku. Meski mungkin menurut sebagian orang jumlahnya tak seberapa, tetapi menurutku itu adalah hasil  kerja keras Mas Rival dan lembur malamnya yang tak selalu dibayar.

“Dek, Mas sama Mbak habis gajian, ada sedikit rezeki buat kamu. Kalo ada perlu langsung bilang ya! Semangat kuliah pokoknya!”

Kalimat ajaib Mas Rival setiap awal bulan yang sudah pasti begitu. Meski sudah berumah tangga, Mas Rival tak pernah atau bahkan tak akan pernah melepaskan perannya sebagai kakak. Begitupun dengan Mbak Dina, yang selalu baik kepadaku.

Bukan pewaris usaha siapa-siapa, bukan juga orang berada. Aku dan Mas Rival hanyalah anak dari orang tua yang selalu mengusahakan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya apalagi masalah pendidikan, meski orang tua kami hanyalah seorang petani biasa yang hanya mengandalkan usaha dan doa.

Beasiswa itulah bagian penting dari perjuangan yang membawaku dan Mas Rival sampai pada Perguruan Tinggi.

***

Suatu hari, ketika jariku sibuk berkutik dengan keyboard di dalam perpustakaan kampus dengan ditemani dua sahabat baikku, datanglah dua teman kenalanku beda prodi datang mengampiri kami.

“ Rajin banget Ra! Sekali-kali main yuk, apa habis ini aja? Kita kan udah lama nggak main bareng.” Ucap Mia.

“ Ah, Nara mah enak, kan anak bungsu...iya nggak Ra?” Timpal Windi.

Entah kenapa kedua teman kenalanku ini membuat diriku agak tidak nyaman.

Entah mereka hanya bercanda atau tidak, yang pasti aku sedikit kesal dengan mereka ini. Aku hanya tersenyum tipis. Bukan karena setuju. Dua sahabatku saling memandang. Ah, mungkin mereka sudah tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiranku.

“Mainnya nanti aja ya, aku lagi ngejar revisi.” Jawabku.

Mia mengangkat bahu. “Iya, iya. Si paling rajin.” Mereka tertawa ringan. Tidak mengejekku. Mungkin memang itu niatnya.

Mereka beranjak dari sini, meninggalkan kami bertiga. Langkah mereka yang menjauh justru membuat suasana terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku. Rara sahabatku menyentuh pundakku pelan. “ Nggak usah dipikirin, Ra.”

Anak bungsu.

Seolah-olah itu berarti hidupku selalu mudah. Katanya sudah ada kakak yang membukakan jalan. Katanya tidak perlu terlalu keras untuk berjuang karena tak pernah ada orang tua memberi tekanan. Seolah beasiswa yang kudapat cuma tambahan, bukan hasil dari begadang, gagal, daftar ulang, dan cemas kalau-kalau namaku tak terpanggil.

Kalau saja mereka tahu setiap awal semester aku selalu deg-degan menunggu pengumuman perpanjangan beasiswa. Kalau saja mereka tahu anak bungsu menurut keluargaku bukan beban keluarga, tetapi harapan keluarga. Musuh sejati anak bungsu adalah usia orang tua yang tak lagi muda. Aku artikan bahwa bukan hidup tanpa masalah apapun, tanpa tuntutan apapun, namun kata ‘harapan keluarga’ serasa memaksa diriku untuk harus mewujudkan satu kalimat singkat, “Aku nggak boleh gagal.”

Sampai tiba pada hari sidang skripsi, pagi itu terasa sangat berbeda dari biasanya.

Langkahku terukur saat hendak memasuki ruangan itu, tapi irama detak jantungku tak bisa dikondisikan. Map di tanganku terasa lebih berat dari isinya. Pintu yang berdiri di depanku seperti batas antara ragu, dan selesai.

Pertanyaan datang silih berganti. Ada jeda-jeda tegang. Ada detik-detik ketika pikiranku terasa kosong. Ada hening yang tengah menunggu jawaban. Namun, setiap kali hampir goyah, aku mengingat proses panjang yang telah membawaku sampai pada ruangan ini.

Terngiang suara Mas Rival dan Mbak Dina, santai tapi yakin, “Tenang, Kamu berjuang nggak untuk gagal. Yok! Pasti bisa...”

Teringat suara Ibu, “Apapun hasilnya, Ibu bangga sama kamu.”

Teringat Bapak, “ Bapak tidak pernah salah percaya sama kamu.”

Dan kata diriku, “Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.”

Setelah beberapa menit menunggu hasil, dosen penguji menghampiriku.

Sederhana. Tenang. Tak ada tangisan berlebihan.

Hanya senyum yang lahir dari lelah, dan perjuangan dari perjalanan panjang.

Aku lulus.

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar