Satu Titik
yang Bernama Tuntas
Karya:
Febrina NA
Meja kayu itu terlalu
lama menjadi saksi.
Di atasnya, ada laptop yang dibiarkan menyala sejak sore tadi. Tumpukan kertas-kertas skripsi yang diberikan kembali oleh dosen pembimbing yang di dalamnya penuh coretan tinta berwarna merah sampai lupa sudah yang keberapa kalinya. Juga secangkir teh yang entah sudah pergi ke mana panasnya.
Si gadis rantau ini
namanya Kinara Hafiza. Panggil saja Nara.
“Sehat-sehat ya
Dek…kalau capek istirahat dulu. Ibu sama Bapak selalu mendoakanmu…”
Selang beberapa jam
setelah berkabar lewat telepon dengan kedua orang tuaku, menyadarkanku bahwa
saat ini sudah pukul 01.47 WIB lewat dini hari.
Aku adalah “Si
bungsu yang beruntung”, kata orang-orang. Mas Rival, kakak laki-laki
satu-satunya diriku itu sudah lebih dulu lulus kuliah dan merantau. Kini ia tak lagi sendiri. Ia
tinggal di kota orang untuk merintis masa depannya bersama istrinya di rumah
kontrakan kecil yang cicilannya masih mereka hitung pelan-pelan setiap bulan.
Tak pernah mengeluh soal pekerjaanya, ataupun gajinya yang seharusnya ia
gunakan saja untuk membeli keperluan rumah tangganya ia sisihkan sedikit untuk
dimasukkan ke nomor rekeningku atau nomor rekening orang tuaku. Meski mungkin
menurut sebagian orang jumlahnya tak seberapa, tetapi menurutku itu adalah
hasil kerja keras Mas Rival dan lembur
malamnya yang tak selalu dibayar.
“Dek, Mas sama Mbak
habis gajian, ada sedikit rezeki buat kamu. Kalo ada perlu langsung bilang ya!
Semangat kuliah pokoknya!”
Kalimat ajaib Mas Rival
setiap awal bulan yang sudah pasti begitu. Meski sudah berumah tangga, Mas
Rival tak pernah atau bahkan tak akan pernah melepaskan perannya sebagai kakak.
Begitupun dengan Mbak Dina, yang selalu baik kepadaku.
Bukan pewaris usaha
siapa-siapa, bukan juga orang berada. Aku dan Mas Rival hanyalah anak dari
orang tua yang selalu mengusahakan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya
apalagi masalah pendidikan, meski orang tua kami hanyalah seorang petani biasa
yang hanya mengandalkan usaha dan doa.
Beasiswa itulah bagian
penting dari perjuangan yang membawaku dan Mas Rival sampai pada Perguruan
Tinggi.
***
Suatu hari, ketika
jariku sibuk berkutik dengan keyboard di dalam perpustakaan kampus dengan ditemani
dua sahabat baikku, datanglah dua teman kenalanku beda prodi datang mengampiri
kami.
“ Rajin banget Ra!
Sekali-kali main yuk, apa habis ini aja? Kita kan udah lama nggak main bareng.”
Ucap Mia.
“ Ah, Nara mah enak,
kan anak bungsu...iya nggak Ra?” Timpal Windi.
Entah kenapa kedua
teman kenalanku ini membuat diriku agak tidak nyaman.
Entah mereka hanya
bercanda atau tidak, yang pasti aku sedikit kesal dengan mereka ini. Aku hanya
tersenyum tipis. Bukan karena setuju. Dua sahabatku saling memandang. Ah,
mungkin mereka sudah tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiranku.
“Mainnya nanti aja ya,
aku lagi ngejar revisi.” Jawabku.
Mia mengangkat bahu. “Iya,
iya. Si paling rajin.” Mereka tertawa ringan. Tidak mengejekku. Mungkin memang
itu niatnya.
Mereka beranjak dari
sini, meninggalkan kami bertiga. Langkah mereka yang menjauh justru membuat
suasana terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku. Rara sahabatku
menyentuh pundakku pelan. “ Nggak usah dipikirin, Ra.”
Anak bungsu.
Seolah-olah itu berarti
hidupku selalu mudah. Katanya sudah ada kakak yang membukakan jalan. Katanya
tidak perlu terlalu keras untuk berjuang karena tak pernah ada orang tua
memberi tekanan. Seolah beasiswa yang kudapat cuma tambahan, bukan hasil dari
begadang, gagal, daftar ulang, dan cemas kalau-kalau namaku tak terpanggil.
Kalau saja mereka tahu
setiap awal semester aku selalu deg-degan menunggu pengumuman perpanjangan
beasiswa. Kalau saja mereka tahu anak bungsu menurut keluargaku bukan beban
keluarga, tetapi harapan keluarga. Musuh sejati anak
bungsu adalah usia orang tua yang tak lagi muda. Aku artikan bahwa bukan hidup
tanpa masalah apapun, tanpa tuntutan apapun, namun kata ‘harapan keluarga’
serasa memaksa diriku untuk harus mewujudkan satu kalimat singkat, “Aku
nggak boleh gagal.”
Sampai tiba pada hari
sidang skripsi, pagi itu terasa sangat berbeda dari biasanya.
Langkahku terukur saat
hendak memasuki ruangan itu, tapi irama detak jantungku tak bisa dikondisikan.
Map di tanganku terasa lebih berat dari isinya. Pintu yang berdiri di depanku
seperti batas antara ragu, dan selesai.
Pertanyaan datang silih
berganti. Ada jeda-jeda tegang. Ada detik-detik ketika pikiranku terasa kosong.
Ada hening yang tengah menunggu jawaban. Namun, setiap kali hampir goyah, aku
mengingat proses panjang yang telah membawaku sampai pada ruangan ini.
Terngiang suara Mas
Rival dan Mbak Dina, santai tapi yakin, “Tenang, Kamu berjuang nggak untuk
gagal. Yok! Pasti bisa...”
Teringat suara Ibu, “Apapun
hasilnya, Ibu bangga sama kamu.”
Teringat Bapak, “
Bapak tidak pernah salah percaya sama kamu.”
Dan kata diriku, “Selesaikan
apa yang sudah kamu mulai.”
Setelah beberapa menit
menunggu hasil, dosen penguji menghampiriku.
Sederhana. Tenang. Tak
ada tangisan berlebihan.
Hanya senyum yang lahir
dari lelah, dan perjuangan dari perjalanan panjang.
Aku lulus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar