Sabtu, 02 Mei 2020

Sepasang Kaki Risau

Sepasang Kaki Risau
Oleh: Abdul Mukti


(Sumber foto ilustrasi : dokumen pengarang puisi)

Dua tiga deret kaki kukuh berdiri
Yang lainnya patah hati
Atau berdiri lemah tanpa ambisi
Diamnya berkata 'sudah ke berapa?'
Rupanya habis sudah paruh bulannya

Pada serdadu kaki tertegun rapi
Sepasang kaki risau tak menghampiri 'kaki-kaki'
Rupanya lari menyapa dinding temaram
Tak kuasa, lembutnya bisikan jahanam

Satu dua kaki menyelinap
Bisikkan, kepala meraba gelap
Dari pagar berlubang sisi belakang
Ia lupa angin malam menyaksikan
Bagai paruh elang merindukan makan siang
Satu goni penuh dalam cengkeraman

Aduhai indah pagar bergoyang
Menuai gundah ni Wang memandang
Maju menyerbu tiada bimbang
Tak diragukan soal kanuragan
Sebatang dahan cukup melumpuhkan


Korban pandemi bisa saja siapa saja
Kawanan tak punya ada saja fikirnya
Ini bulan mulia
Jangan kotori dengan nafsu dunia
Jernihkan akal fikiran
Bukan haram haram dihalalkan


Tertulis setelah wabah membawa gelisah kaum kelas bawah

Batang, 27 April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar