Minggu, 07 Maret 2021

What Are You Doing Indonesia?

 What are you doing Indonesia?

Oleh: Rizqi Ali Sya'bani

(gambar ilustrasi diambil dari: google)


Di pagi itu, suara lantunan adzan subuh sang muadzin kondang membangunkanku dari tidur nyenyakku. Aku mulai mengucek mata, sambil mencari dimana hapeku, pikirku barangkali ada pesan dari orang yang aku Idolakan. Lagi dan lagi, aku dikecewakan, karena tidak ada pesan masuk darinya. 

"Bukannya pesan dari dia yang aku Idolakan, malahan pesan dari grup yang berisi tugas-tugas kampus" gumamku.


Aku mencoba bangun untuk mengambil air wudhu, lalu mengambil Koko dan songkok hitam kesayanganku untuk dipakai sholat subuh di musholla samping rumahku.


Setelah aku melaksanakan ritual yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam itu, aku duduk termenung di samping rumah. Ibuku datang dengan membawakan secangkir kopi hitam lengkap dengan satu bungkus rokok gudang garam. 

"Ini nak kopi dan rokok kesukaanmu" kata ibu

Aku menjawab "Terimakasih Ma" 

Lalu ibu masuk kembali, untuk menyiapkan sarapan dan pekerjaan rumah lainnya. 


"Sungguh mulia seorang ibu, tak kenal lelah atas apa yang telah dia lakukan" omongku sambil menyalakan rokok itu. Setelah itu aku hisap dalam-dalam untuk menikmatinya. 


Dalam hisapan itu, aku mulai berpikir,

"Ada apa dengan Indonesia ku ini ?" 

Tadi malam aku melihat berita di salah satu stasiun televisi, bahwa ada kudeta terhadap partai besar oleh purnawirawan TNI. 

"Apalagi ini? Mentang-mentang partai ini oposisi? Jadi melakukan kudeta biar tak ada oposisi?". 

"Ah dasar elit-elit politik, ngga ada yang bener".


Setelah berdebat dengan pikiranku sendiri, aku menyeruput kopi hitam buatan ibuku. Rasanya nikmat sekali, seperti diracik spesial oleh barista caffe yang terkenal di Indonesia. 

"Coba ibuku bikin caffe, udah pasti caffe sekelas Starbucks pun kalah dengan racikannya" Gumamku dalam hati sambil nyengir-nyengir sendiri


Sambil menikmati kopi dan rokok dan melihat indahnya persawahan di samping rumahku. Mataku dijajani oleh lahan bawang merah yang sangat luas, angin bersemilir seperti ingin menyapaku di pagi ini. Satu batang rokok sudah aku habiskan. Sambil membuang puntung rokok itu, aku mulai berimajinasi akan jadi apa sawah yang luas 10 tahun ke depan. 

"Apakah tetap menjadi sawah yang hijau, atau malah jadi gedung-gedung tinggi yang kusam?".

Lagi lagi keresahanku timbul kembali. Aku langsung teringat dengan berita selanjutnya yang aku tonton tadi malam, 

"Republik Indonesia Impor 1 juta ton tahun ini". Ah pemerintah ini aneh, katanya 

"saya benci produk luar negeri tapi impor besar-besaran di waktu panen raya". 

Apakah mereka tidak tau perihnya para petani memelihara padi di sawah?. Coba aku bisa menjadi pejabat negara. Pasti bapak Presiden aku ajak untuk mencangkul sawah, memupuk tumbuhan, sampai membuang hama. 

Tiba-tiba aku dikagetkan sama bapakku, 

"Nak udah jangan berandai-andai terus, kamu itu anak seorang petani, yang dianggap kasta paling bawah di negeri ini". 

Singkat padat dan jelas bapak memberikan wejangan kepadaku. Aku menyaut omongan bapak, 

"Pak misal petani mogok kerja selama sebulan bagaimana?".

Bapak mulai berpikir  sambil tersenyum. Sebelum menjawab dia menyeruput kopi ku yang tinggal setengah. 

"Gini Nak, petani seperti bapak itu modalnya ikhlas dan tulus untuk menguatkan pangan di negeri ini, memang harga tidak berpihak terhadap para petani seperti kita, impor besar-besaran pasti mematikan produk dalam negeri, tapi ya kembali lagi, ikhlas dan tulus itu modal petani kita". 

...

Lagi dan lagi aku termenung atas jawaban bapak. Beberapa detik aku termenung, bapak membuka percakapan kembali.

"Nak, sudah lama kamu di sini, ayo ikut bapak ke sawah nyiram bawang merah buat uang saku kamu". 


Aku tertawa dengan statement bapak kali ini. Sambil menjawab, "ayo pak, udah semangat banget pagi ini, semoga bawang kita sehat dan dapet harga yang tinggi". 


Tak terasa matahari sudah mulai naik, kopi dicangkirpun tinggal ampasnya saja. Aku dan bapak berdiri dan masuk kembali ke dalam rumah sambil merenung apa yang tadi aku renungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar