Selasa, 14 Desember 2021

Padi yang Mulai Menguning

 Padi Yang Mulai Menguning

Oleh : M.K. Abid

Gambar ilustrasi: Google


“Istirahat dulu Pak!” Seru Bu Seruni dari kejauhan yang berjalan melewati pematang sawah. Mendengar seruan dari istrinya Pak Jalil bergegas menghentikan pekerjaannya menyemprot obat anti hama pada tanaman padinya. “Alhamdulillah Buk, akhirnya datang juga. Perut Bapak sudah lapar.” “Ini Pak, sayur asem, pepes ikan pindang dan lalapannya, silahkan dimakan.” Sambil menyiapkan makanan Bu Seruni mempersilahkan suaminya makan siang. “Alhamdulillah, ayo Bu makan bareng!” Dengan penuh kegembiraan pasangan yang sudah memasuki kepala enam ini menikmati makan siangnya di atas saung. Sambil menikmati udara semilir mereka bercanda bak pasangan muda mudi yang jatuh cinta. “Mau Bapak suapin Bu?” Goda Pak Jalil pada istrinya. “Ish Bapak ini sudah tua malah aneh-aneh.” Sambil tersenyum malu Bu Rosma mengunyah makanannya. Usai menyantap makan siang mereka kemudian membersihkan diri dan salat dhuhur berjamaah di saung. Usai salat Pak Jalil melanjutkan pekerjaannya sementara istrinya membantu mengambil rumput untuk pakan sapi mereka. 

“Sudah sore Bu, ayo kita pulang!” Mereka kemudian pulang bersama. Pak Jalil membawa pakan ternaknya sedangkan Bu Seruni membawa rantang makan siang mereka. Setibanya di rumah Pak Jalil langsung memberikan pakan pada sapinya. Bu Seruni yang tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam tiba-tiba hp jadulnya berdering. “Assalamualaikum Bu, ma’af Bu liburan kali ini Surya dan keluarga nggak bisa pulang kampung dulu karena masih ada urusan pekerjaan di sini. Nanti uang bulanan Ibu dan Bapak Surya transfer. Maaf Bu sudah dulu ya. Assalamualaikum.” “Iya nak, waalaikum salam.” Sambil meneteskan air mata Bu Rosma meletakkan hp jadulnya. Ternyata itu telpon dari Surya, anak tunggal Pak Jalil dan Bu Seruni yang bekerja sebagai menejer sebuah perusahaan di kota. Awalnya Surya dan istrinya mengajak orang tuanya tinggal bersama di kota. Tetapi Pak Jalil dan Bu Seruni menolaknya dan memilih tinggal di kampung halaman mereka. Mereka tidak ingin merepotkan anaknya jika tinggal bersama di kota. Masa-masa di mana mereka mulai menua, mereka lalui bersama tanpa kehadiran sosok anak semata wayang mereka. 

Azan maghrib mulai terdengar nyaring di pelosok kampung. Pak Jalil dan istrinya kini salat berjamaah. Suara yang sudah tak semerdu waktu muda dulu membaca ayat demi ayat surat surat Al-ikhlas. Tampak khusuk mereka salat walaupun hanya berdua. Usai salat mereka makan malam di teras rumah. Di tengah makan malam, Bu Seruni memberi tahu soal telpon tadi sore. “Pak, Surya katanya nggak bisa pulang liburan minggu depan. Padahal Ibu kangen banget Pak.” “Mau bagaimana lagi Bu, anak kita sibuk. Kita doakan saja mereka diberikan kesehatan dan kelancaran di kota sana.” Jawab Pak Jalil berusaha tabah dan menenangkan istrinya. Seusai makan malam dan salat isya mereka kembali bersantai di teras rumah. Sambil ditemani teh hangat dan singkong goreng mereka mengobrol dan bercanda. Sejenak meringankan beban rindu pada anak mereka. Mereka bercanda mengingat masa mudanya dan masa pacarannya. “Pak, masih ingatkah kita dulu pernah boncengan sepedah ontel lalu jatuh ke sawah.” “Ya ingatlah Bu, itu waktu bapak Ibu manggil Ibu kan terus Bapak reflek banting setir ke sawah.” Sambil tertawa bahagia mereka terus saja mengingat masa mudanya dulu. 

Keesokan harinya seperti biasa mereka beraktivitas di sawah. Jam makan siang mereka kembali beristirahat di saung. Sambil menikmati makan siang ditemani udara yang sejuk mereka mengobrol. “Pak, apa kita jual saja ya sawah kita ini buat tambah-tambah tabungan buat daftar haji?” “Jangan Bu, sawah ini harta satu-satunya untuk kita makan sehari-hari. Jangan kita jual sawah ini apalagi minta Surya untuk mendaftarkan kita haji. Ibu sabar dulu tiga bulan lagi kita jual sapi kita buat tambahan daftar haji.” “Baiklah Pak, Ibu akan sabar nunggu.” Memang setiap bulan mereka dikirimi uang anaknya untuk kebutuhan sehari-hari dan sisanya ditabung. Sedangkan hasil sawah tidak pernah dijual kecuali jika ada sisa saat panen selanjutnya telah tiba. 

Hari-hari berlalu dengan cepat. Para tetangga terlihat bahagia karena anak-anak mereka pulang dari perantauan. Bu Imas tetangga Bu Seruni tampak riang gembira melihat anak-anaknya pulang kampung. Bu Imas pagi-pagi sudah tampak berjalan menuju pasar. Beliau ingin memasak spesial kali ini untuk acara syukuran. Oleh karena itu, beliau pagi-pagi sudah pergi ke pasar. Berbeda dengan Pak Jalil dan Bu Seruni. Mereka pagi-pagi sudah berangkat ke sawah. Dengan berbekal rantang yang berisi makanan untuk sarapan, Pak Jalil mengayuh sepeda tuanya sambil membonceng Bu Seruni. Di sepanjang jalan mereka sesekali disapa oleh orang-orang yang tengah lewat. Mereka pagi-pagi sudah ke sawah karena siang nanti mereka diundang syukuran di rumah Bu Imas. “Kok pagi-pagi udah ke sawah Bu?” Sapa Bu Inah yang sedang lewat menjajakan dagangannya. “Iya Bu, siang nanti mau pergi kondangan.” Jawab Bu Seruni singkat. 

Setibanya mereka di sawah, mereka langsung bersiap untuk sarapan pagi. “Anak kita kok tega ya Pak sama kita. Apa mereka tidak kangen sama kita?” Tanya Bu Seruni memelas sambil menikmati sarapan paginya. “Sudahlah Bu, mereka kan sibuk. Pastinya mereka juga kangen tapi mau bagaimana lagi pekerjaan mereka belum tuntas di sana.” Jawab Pak Jalil berusaha menghibur istrinya. “Tapi kan Pak…” “Sudah-sudah Bu, malah ngobrol. Ayo sarapan dulu.” Usai sarapan mereka tampak kompak mengerjakan pekerjaan mereka. Sesekali mereka beristirahat sambil bercanda ria melepas rasa penat yang menimpa. Usia yang mulai menua membuat tenaga mereka tak se kuat dulu lagi. 

Siang hari mereka pulang dari sawah. Mereka tampak kompak memakai baju batik. Bak pengantin baru mereka berjalan berdampingan menuju rumah Bu Imas. “Silahkan Pak, Bu. Silahkan masuk.” Sambut Pak Jamal dengan ramah dan mempersilahkan pasangan bak pengantin baru itu. Di acara tersebut lelaki dan perempuan di pisah. Bu Seruni duduk di teras sedangkan Pak Jalil duduk di dalam rumah. “Bu di mana anaknya kok tidak kelihatan. Apa belum pulang kampung?” Tanya Bu Romlah. “Belum Bu, mereka masih sibuk dengan pekerjaannya di kota.” Jawab Bu Seruni dengan menahan kesedihannya. 

Pak Ustad Subki memulai acara dengan membaca surat Alfatihah. Setelah itu, beliau menyampaikan maksud dari tuan rumah dan sedikit menyampaikan ceramah. Para tamu menyimak apa yang di sampaikan ustad dengan serius. Kata-kata Ustad Subki mampu membius para tamu hingga mereka terpana dengan kalam mulia yang beliau sampaikan. Sekitar setengah jam Ustad Subki menyampaikan ceramah dan ditutup dengan do’a bersama. Para tamu sangat khusuk mengaminkan do’a yang dibacakan oleh beliau. Usai berdo’a tuan rumah menghidangkan suguhan “Silahkan dimakan Bu, jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri.” Kata Bu Imas sambil menyuguhkan makanan pada tamu mereka. Sambil menyalami tamunya, Bu Imas mempersilahkan tamunya untuk memakan suguhan yang telah dihidangkan. Kue-kue, buah-buahan dan minuman sudah terjajar rapi. Para tamu mulai memakan hidangan yang telah dihidangkan. Tampak raut kegembiraan di wajah mereka. 

Hari-demi hari berlalu. Tak terasa masa liburan telah usai. Warga kampung mulai melepas kepergian anak-anak mereka kembali ke perantauan. Sementara Bu Seruni hanya dapat melihat pemandangan indah ini dari teras rumahnya. Sambil meneteskan air mata beliau membayangkan anaknya pamit pada beliau sambil mencium tangan beliau. Tapi kenyataannya Surya dan keluarganya tidak pulang kampung karena sibuk dengan pekerjaannya. Di masa senjanya beliau ingin sekali seperti tetangganya. Bisa berkumpul anak walaupun saat liburan. Apalagi liburan kemaren Surya hanya sebentar pulang kampung. Menambah rasa sakit menahan kerinduan yang amat mendalam. “Bu ayo berangkat ke sawah!” Ajak Pak Jalil yang sudah siap dengan sepeda ontelnya. “Ehh iya Pak.” Sambil mengusap air mata Bu Seruni menghampiri sang suami tercintanya. 

Dikayuhnya sepeda ontel tua menyusuri jalanan kampung. Udara pagi yang segar ditambah suara kicauan burung menemani perjalanan mereka. Setibanya di sawah, mereka beristirahat sebentar sambil menikmati pisang goreng dan teh hangat yang mereka bawa dari rumah. “Padi kita sudah mulai menguning ya Bu.” Ucap Pak Jalil dengan bahagia sembari melihat tanaman padinya dari saung. “Iya ya Pak. Tidak terasa padi kita sudah menguning. Berarti sisa padi di rumah bisa kita jual untuk menambah tabungan kita Pak.” Kata Bu seruni dengan semangat. “Iya Bu, Alhamdulillah.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar