Kamis, 14 April 2022

Patah untuk Tumbuh

 Patah untuk Tumbuh

Oleh : itsna Bidavin Bya

Gambar ilustrasi dari google


 ‘’Tut tut tut’’ suara telepon sudah berbunyi, pertanda panggilan sudah berakhir..

“kamu pulang kapan to nduk ?” kata ibunya yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran rima saat ini,Rima lalu berpikir, mengapa semendadak itu ibunya menyuruhnya pulang ke rumah.

“ulang tahun adiknya” tepat sekali pikirnya.

Tiba- tiba Rima teringat dengan obrolan ringannya dengan ibunya 16 tahun lalu

“Kalau sudah besar nanti rima mau jadi dokter, pramugari, guru, dan….”

“Impianmu bagus semua nduk, ibu doakan semoga terwujud, yang terpenting manfa’ati untuk orang lain dan jangan lupa do’akan bapak dan ibumu terus ” jawab ibunya.

Namanya adalah Rima Puspita, gadis asal Jawa Timur dan berusia 21 tahun, dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara, saat ini ia sedang menempuh perkuliahan program studi Ilmu Komunikasi di sebuah universitas negeri favorit di Jogja, anak yang cerdas, penurut dan aktif. Ia salah satu mahasiswi berprestasi di kampusnya dan selalu mendapatkan tawaran beasiswa dan mewakili lomba. Dua adiknya adalah anak kembar, dan 3 hari lagi adalah hari ulang tahun mereka. Sebagai kakak, Rima benar-benar memiliki rasa tanggung jawab  untuk menciptakan kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarganya. Rima sudah menabung jauh-jauh hari untuk persiapan ongkos pulang ke rumahnya. Perjalanan malam ditempuhnya, sesampainya di rumah Rima disambut hangat oleh keluarga kecilnya, walau hanya berbalut kesederhanaan, namun suasana itu yang selama ini Rima rindukan sejak hidup dalam perantauan. Rima benar-benar bersyukur dengan suasana  yang tercipta malam itu, sembari makan bersama di meja tua yang salah satu kaki mejanya sudah patah dan diganjal dengan batu untuk menyeimbangkannya,walau cahayanya tak begitu terang namun suasana itulah yang rima rindukan, walau masih saja ada angin yang menusuk pori-pori, namun suasana itu cukup menenangkan dan sungguh menghangatkan. Sembari makan, Rima memandangi kedua wajah orang tuanya yang semakin hari kian tampak tonjolan tulang badannya.tiba-tiba ibunya memanggil dengan suara khas lirihnya “ nduk.., gimana sekolahmu disana ?” “Alhamdulillah lancar buk “ jawab rima .“jangan lupakke hakikate hidup, hubungan baik sama Allah juga dijaga,jangan disampingkan” bapakku menambahi, kata singkat namun sangat membekas di pikiran dan hati. “nggih pak, do’akan Rima ya pak, buk “

Tepat di hari ulang tahun adiknya, Rima mempunyai niat untuk membuatkan kue dan memberi hadiah sederhana kepada adiknya, esok harinya dia pergi ke pasar untuk membeli semua kebutuhannya, di pasar ia bertemu dengan ibu penjual sayur, ibu itu adalah tetangga Rima dan mempunyai seorang anak seumuran dengan Rima, ibu itu kemudian bertanya kepada Rima dengan nada yang agak sinis, karena semasa kecilnya Rima dianggap lebih mengungguli putrinya “ sekolah dimana sekarang kamu Rim ?” Tanya ibu tersebut, “di Jogja bu..” jawabku sambil tersenyum sopan. “percuma kamu kalau pinter tapi karena bejo, kamu bisa masuk ke kampus favorit pasti faktor beruntung kan? Kalo gitu semua orang juga bisa, kamu yang katanya anak rajin anak pintar sebenarnya bisa apa ?” cletuk ibu penjual sayur tersebut .”sudah ya bu, rima buru-buru masih ada tanggungan di rumah “ jawabku sambil tersenyum gugup dan cepat-cepat pergi. 

Sesampainya di rumah, Rima bergegas menuangkan kreasi dan idenya untuk membuatkan roti ulang tahun kedua adiknya, rencananya kue itu akan di berikan kepada adiknya nanti malam setelah makan malam bersama, Rima membungkus kado untuk kedua adiknya hingga sore tiba.

Makan malam telah selesai, Rima kemudian bergegas menyiapkan kue, menancapkan lilin warna-warni yang tak berbentuk angka, dan menghidupkan lilinnya dengan korek api sederhana, roti tersebut dibawa Rima dengan iringan lagu selamat ulang tahun dari bapak dan ibunya, disertai tawa bahagia dari kedua adiknya, lebih-lebih ketika melihat dua bungkusan kado di tangan bapak dan ibunya. Rima semakin yakin bahwa hal ini sebenarnya sungguh sederhana tapi bermakna luar biasa dan sangat istimewa.

Kemudian mereka berdo’a bersama, lalu kedua adiknya meniup lilinnya hingga cahaya di ruangan tersebut kembali memudar, kedua adiknya meyuapkan potongan-potongan roti tersebut kepada seluruh anggota keluarganya, sambil salim dan memperoleh wejangan . Yang benar-benar rima dengar saat itu adalah ketika ibunya memeluk kedua adiknya sambil berkata “ udah tambah dewasa, ndak boleh tambah nakal ya nang,  tambah nurut sama perintah bapak dan juga mbakmu” Rima sekilas mendengar, namun benar-benar ingat dengan kata-kata itu. Kini roti sederhana yang asalnya utuh mulai mengikis dan tanpa disadari sudah hampir habis, diselingi dengan obrolan ringan yang manis. tanpa disadari jam dinding berwarna emas di ujung ruangan sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, mereka sudah mulai mengantuk dan satu persatu meninggalkan meja makan tersebut, kini tinggal Rima dan puing-puing sisa potongan roti dihadapannya, dalam hatinya ia menangis bahagia, malam ini ia dapat masih dapat berkumpul, merayakan ulang tahun adiknya, tertawa, meniup lilin, dan memotong roti bersama. Namun rasa kantuk mulai menyerangnya, ia kemudian bergegas membereskan meja makan dan bergegas tidur, sebelum tidur ia masih membayangkan suasana tadi, dan tiba-tiba ia dikagetkan dengan ucapan ibunya untuk kedua adiknya, dalam hatinya berkata “ kenapa ibu tidak menyebutkan dirinya” kemudian gelap, rima sudah terbawa dalam alam bawah sadarnya.

Hari ini Rima harus kembali ke Jogja, karena besok ia ada jadwal untuk menghadap dosen pembimbingnya, setelah sampai kontrakan ia segera membersihkan diri dan menata tempat kembali, tidak seperti biasanya, entah mengapa hatinya serasa kalut dan ingin menangis, pikirnya mungkin karena ia belum siap meninggalkan zona nyaman bersama keluarganya “apa to aku, kok kaya anak kecil aja” gumamnya.

Malam harinya, ia masih membayangkan kenangan beberapa hari lalu di rumah, tiba-tiba ia terfokus pada foto keluarganya yang berada di atas meja ujung tembok, ia meraih foto itu dan mengusapnya pelan, lalu tersenyum sambil meneteskan air mata. Mendadak hatinya kacau ia merasa belum sepenuhnya menjadi anak dan kakak yang baik, ditambah lagi ia mengingat perkataan ibu pedagang sayur di pasar saat itu, untuk menenangkan hatinya, ia kemudian beranjak mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunnah hajat, ditutup dengan do’a dan dzikir hingga rasa kantuk menyerangnya.

Dalam mimpinya ia melihat cahaya yang sangat menyilaukan, terdapat satu podium yang diatasnya terdapat mahkota yang amat indah dan berkilauan “subhanallah” ucapnya dalam mimpi. Tiba-tiba ia terbangun dan mendengar kumandang adzan Sholat Shubuh, kemudian dia bergegas mengambil air wudhu dan segera melaksanakan ibadah sholat subuh, setelah selesai berdoa ia menggapai mushaf Al-Qur’annya yang berwarna ungu, ia membacanya dan merasa ada ketenangan batin di dalam jiwanya, lalu ia menempelkan Qur'an tersebut di dadanya dan ia merasakan ketenangan yang selama ini ia cari.

Hari ini adalah jadwalnya untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya, ia segera berangkat ke kampus untuk menghadapnya hingga terjalin percakapan dianyara kedianya

“kamu ini tinggal dimana nduk ?” tanya Pak Hasan

“ Di kontrakan belakang kampus pak” jawab Rima sopan

"Rima kamu itu anak yang baik dan berprestasi, dan saya pikir kamu berhak menerima tawaran dari saya, kamu mau ngaji di rumah saya? Nanti biar di bimbing langsung sama istri saya, masalah biaya hidup, sekolah dan tempat tinggal In Syaa Allah kami yang akan menanggungnya, namun saya juga berharap kesanggupan kamu untuk ikut nyantri di rumah saya sekalian ngajar anak-anak yang ada di sana, gimana nduk ? apa kamu bersedia ?” Tanya Pak Hasan

“ini sungguh pak, bapak yakin menawatkannya kepada saya?” Tanya rima tak percaya

“Iya, saya benar-benar menawari kamu, karena yayasan itu baru saja  saya rintis dan masih sedikit pengajar di bidang agama untuk anak-anak kecil yang berada di pondok samping rumah , dan istri berniat ngrumat satu anak supaya bisa di jadikan badal untuk mengisi kekosongan ngaji Al-Qur’an di sana, dikarenakan istri saya tidak bisa sepenuhnya masuk mengajar”

"Ta...tapi pak, latar belakang saya bukan lulusan pesantren pak “ jawab Rima takut. 

“Tidak masalah, asalkan kamu sanggup dan mau, istri saya siap mengawal kamu sepenuhnya , dan In Syaa Allah dia juga siap mengawalmu hingga jenjang hafidzoh “

Hafidhoh, kata singkat namun mampu membuat hatinya berdebar tak karuan. Dalam hatinya berkata “mungkinkah ini rencana baik Allah, aku dipertemukan dengan orang yang amat baik di situasi yang tak terduga” namun dalam hatinya masih dihantui kata “ apakah aku mampu”Wajahku yang semula sumringah kini kembali dihiasi raut muka cemas, nampaknya Pak Hasan Paham dengan perasaan dan fikiranku saat ini, lalu beliau berkata “ saya paham apa yang kamu pikirkan, tapi tidak usah terlalu di buat beban, saya yakin kamu anak yang amanah dan paham dengan tanggung jawab kamu, yasudah kalau kamu belum bisa meyakinkan diri, didiskusikan lagi sama hati dan pikiranmu, kalau kamu bersedia nanti bisa langsung ke rumah saya biar bisa ketemu sama istri saya sekalian aja ya nduk”

In Syaa Allah saya bersedia dibimbing pak “ mendadak Rima mengatakannya, sebelumnya hatinya selalu berdzikir kepada Allah agar diberi petunjuk terbaik, dan Rima juga merasa itu petunjuk dari Allah dan hatinya merasa diyakinkan dengan jawabannya.

“Alhamdulillah, saya salut dan senang dengan jawaban kamu Rima, tenang saja dalam Al-Qur'an sudah dijanjikan وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا, barakallahu fiik, kalau sudah siap kabari saya nanti biar istri saya menjemputmu “

“ terimakasih banyak pak atas kesempatan ini, saya benar-benar merasa menjadi orang yang sangat beruntung, serasa ini adalah jawaban dari do’a-do’a saya, jazakallahu khairan pak “ tutur Rima dengan nada lirih dan terharu.

"Iya rima mungkin ini memang sudah jalan dan rejekimu, dari kemarin saya memilih anak juga ada saja kendalanya, tiba-tiba pikiran saya langsung tertuju dan dimantapkan dengan kamu..”

Kringg..kring… suara telepon dalam ruangan Pak Hasan berbunyi. Sambil menunggu Pak Hasan selesai mengangkat telepon, aku memantapkan hati dan diriku sendiri agar berani mengambil langkah dan perjalanan baru ini.

“Maaf Rima saya ada urusan diluar mendadak” ucap Pak Hasan sambil gugup buru-buru

Rima menjadi sungkan “Baik pak sekali lagi terimakasih banyak bapak, saya pulang dulu Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh “ ucap rima sambil berjalan mundur sedikit menunduk “ wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” ucap Pak Hasan sambil menata mejanya gugup karena dikejar waktu.

... 

“Alhamdulillah nduk, ibu sama bapak senang sekali mendengar kabar ini, yaudah kamu disana ngaji yang  serius ya, yang amanah, syukur-syukur bisa jadi hafidzoh, nanti biar bisa makein ibumu ini mahkota disurga, pokoe kamu disana tak do’ake terus, yang semangat ya nduk, kesehatannya dijaga” ucap ibu Rima terdengar senang sekali, membuat hati Rima semakin tenang.

"Oh udah dulu ya nduk, ibu harus cepet-cepet pergi ke pabrik ini” timpal ibu rima dengan gugup

“Oh nggih buk, hati-hati ya buk, salam buat keluarga di ru…”

Tut tut tut…

Belum selesai Rima bicara telpon sudah berakhir, entah kendala pulsa atau memang sengaja dimatikan ibu karena buru-buru rima pun kurang tau. Tapi intinya kini ia semakin semangat dan tertantang untuk memulai keadaan barunya.

....

Setahun kemudian..

Tak terasa setahun sudah berlalu, hari-hari Rima di habiskan dengan mengabdi di ndalem Pak Hasan dan Ibu Laila, tak lupa dengan kewajiban perkuliahannya yang sudah dihadapkan dengan skripsi, kini Rima juga menanggung amanah yang besar yaitu menjaga hafalan Qur’annya, jadi kesehariannya kini ia habiskan untuk muroja’ah, mengajar, ngabdi dan kuliah, sehingga ia jarang pulang karena terhalang kesibukannya.

... 

Di malam hari sebelum memejamkan matanya, rima mendadak sangat rindu dengan keluarga kecilnya di jawa timur, lalu ia menelpon ibunya namun tidak terjawab, ia telpon lagi 

“Gimana nduk ?” terdengar suara bapakku yang nampak cemas.

“Assalamu’alaikum pak, gimana….” Ucap rima belum selesai namun ia mendengar suara lirih dari telepon “ pak.. pak.. “ dan Rima paham itu suara ibunya. 

“Sudah dulu ya nduk, ibumu ini masih meriyang, doakan biar lekas sembuh ya, telponnya dilanjut nanti lagi ya” seketika telpon di matikan oleh bapak

Perasaan rima semakin larut dalam kesedihan dan kecemasan, ia merasa ini bukan hal biasa dan mendadak hatinya tidak tenang. Seketika rima langsung meminta izin dengan keluarga ndalem untuk pulang kampong dan menyertakan alasannya, saat berpamitan banyak keluarga ndalem yang turut mengkhawatirkan keadaan ibu rima dan menitipkan do’a serta ucapan kesembuhan.

Setelah menghabiskan perjalanan selama 8 jam di dalam bus akhirnya Rima sampai di gang rumahnya, ia berjalan menggendong tas punggung dan berjalan tergesa-gesa, rumah nampak sepi “Assalamu’alaikum “ ucap Rima namun tak ada yang menyauti. 

Lalu ia membuka pintu, nampak dari belakang rumah bapaknya yang sedang menjemur baju, ketika ingin menyusul bapaknya tiba-tiba terdengar suara “pak.. pak..” itu adalah suara lirih ibu ,lalu Rima bergegas masuk ke kamar ibunya, betapa tak berdayanya Rima ketika harus melihat ibu yang terbaring lesu, dengan wajah pucat dan tampak menahan kesakitan di perutnya.

Ibu Rima memang mempunyai penyakit asam lambung, namun jarang sekali kambuh, terakhir menyerang adalah 3 tahun lalu, setelah ibu terlelap tidur aku bercerita dengan bapakku bahwa sebenarnya ibu sudah diperiksakan di puskesmas kecamatan dan kata dokter memang kadar asam lambung ibu naik, ibu hanya diberi obat dan tidak diwajibkan untuk opname, ibu Rima juga lebih nyaman jiga di rawat di rumah saja, hingga seminggu terakhir ini bapak yang telaten merawat ibunya di rumah.

Sudah 3 hari Rima di rumah dan merawat ibunya, karena kedua adiknya harus sekolah dan bapaknya yang harus bekerja, kini keadaan ibu sudah mulai membaik walau masih tampak pucat dan lemas” gimana hidupmu di sana nduk ? Al-Qur’anmu kamu rekso terus kan ?” kata ibu dengan tertatih-tatih.

“Alhamdulillah bu.. do’akan rima terus nggih bu “ jawab Rima sambil tersenyum tulus

“ Semua anak ibu yo pasti tak do’akan, nanti kalau udah sembuh, ibu pengen nyimak hafalanmu nduk ,pengen lihat kamu segera nyandang gelar sarjana“

“Lahiya makanya ibu lekas membaik, biar Rima tambah semangat mengkhatamkan dan mengerjakan skripsinya  bu” jawab Rima dengan tersenyum sambil mengelus tangan ibunya. Dan hanya di balas senyuman singkat oleh ibunya.

“Yasudah bu, ini sudah malam, ibu istirahat ya, tidur biar besok bangun pagi udah seger “ timpal Rima sambil tertawa kecil. Lalu ia menaikkan selimut di badan ibunya dan beranjak ke kamarnya.

Keesokan harinya, ia telah menyiapkan sarapan dan obat untuk ibunya, ia masuk ke kamar ibunya dan melihat ibunya sudah terlelap kembali, lalu Rima membangunkannya pelan “buu.. “ namun tidak ada respon dari ibunya “ buu..” panggil Rima sembari mengelus tangan ibunya, namun ibunya tetap terdiam. Ia memegang tangan ibunya yang ternyata sudah mendingin, seketika tulang-tulang tubuhnya serasa lumpuh layu, tak bisa ucapkan kata apapun selain memanggil kata ibu dengan tetesan air mata. Bapak Rima masuk ke kamar dan menyaksikan raut wajah Rima yang tidak biasa, bapaknya langsung bergegas mengecek keadaan ibu, “innalillahi wainna ilaihi rroji’un” ucap Bapak lirih sambil meneteskan air mata, disusul oleh kedua adiknya yang justru menangis meronta-ronta. Rumah  Rima semakin ramai,didatangi para saudara dan orang-orang yang bertakziah, namun ia tetap menguatkan diri dan ikut dalam prosesi pengurusan jenazah ibunya. Mendengar siaran kematian dari speaker masjid desa dan disebutkan nama ibunya yang telah berpulang menghadap Allah, benteng kekuatannya mulai runtuh kembali, ia tak mampu membendung air mata, rasanya semacam mimpi namun menyakitkannya menusuk hati, dan berharap segera bangun dari tidurnya dan  bisa kembali tertawa bersama.

Rima memandang wajah ibunya dan mencium untuk terakhir kalinya lalu ia bersama keluarganya mengiring ibunya menuju peristirahatan terakhirnya.

Kini hari-hari di rumahnya  di penuhi bacaan yasin dan tahlil, Hingga Rima merasa pada suasana penuh duka kembali. Namun ia benar-benar mengumpulkan kekuatan agar tidak terlihat rapuh, karena masih ada 2 adiknya yang perlu ia kuatkan juga.

... 

Setelah hampir sebulan rima berada di rumah kini saatnya ia mengoptimalkan tanggungannya di perantauan, sebenarnya rima ingin di rumah saja, menggantikan peran ibunya, namun dilarang oleh bapaknya, karena kewajiban utama Rima adalah belajar. Hal ini membuat semangat Rima kian membara, sehingga hari-harinya ia habiskan bersama Al-Qur’an dan skripsinya.

Tak terasa satu tahun terakhir perjuangannya kini telah berbuah manis, tepat pada malam ke 7 Ramadhan ia akan menyetorkan hafalan bil ghoib kepada Ibu Nyai Laila dan di saksikan seluruh santri pondok. Sebelum maju ia teringat ucapan ibunya yang ingin menyimak hafalan Rima sambil melangkah rima berkata dalam hatinya “Ini lho bu, anakmu Rima, Rima yakin ibu menyertai perjalanan dan perjuangan Rima selama ini, maaf Rima belum sempat membahagiakan ibu di dunia, tapi semoga Rima dapat memasangkan mahkota kepada ibu di surga nantinya, Rima yakin ibu melihat rima detik ini, tuntun dan awasi Rima dalam dunia ibu, Rima sayang ibu “

Allahummarhamna bil qu’an.. lantunan itu sudah dikumandangkan, pertanda 30 juz yang Rima perjuangkan sudah tertaklukkan. Ucapan syukur dan hamdalah sellau terucapkan di batin Rima, lebih-lebih kali ini ia benar-benar seperti menghadap ibunya, tangis bahagiapun mengelilinginya

Tepat seminggu kedepan juga jadwal wisuda sarjana rima.walau tak dihadiri ibunya,namun rima yakin ibunya melihatnya dan tersenyum di sana. lagi-lagi kalimat syukur selalu terucap pada batin dan lisan Rima,akhirnya gelar sarjana sudah digapainya, satu persatu amanah yang ditanggungkan ibunya kepadanya sudah mulai terlaksana.

... 

Kini rima sudah berada di rumahnya, ketika membereskan rumah, ia memandangi foto keluarga sederhana yang ada di dalam lemari kayu berkaca. Ia mengambil pigura itu dan memandangi wajah anggota keluarganya satu persatu, membayangkan kenangan hangat dulu. Dan kini Rimalah yang harus menggantikan posisi ibunya, sehingga ia benar-benar menekankan prinsip kepada adik-adiknya “tugas kita sekarang sederhana dek, membuat bapak bahagia dan ibu tersenyum di surga”.

Kepada ibu" Walau ragamu telah tiada, namun semangatmu takkan pernah sirna"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar