Tahun Baru di Pusara Ibu
Karya: Siti Arifah
Sumber foto: google
Ibu tiri. Apa yang terlintas di benak kebanyakan orang ketika mendengar kata tersebut. Galak? Jahat? Kejam? Serentetan kata buruk tak jarang disanding-sandingkan dengan kata tersebut. Jika menilik lebih dalam, persepsi masyarakat yang mengatakan ibu tiri itu jahat tercipta setelah adanya salah satu film rakyat berjudul “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Di mana tokoh ibu tiri menjadi tokoh antagonis yang banyak dibenci penontonya. Sampai sekarang pun cap buruk yang melekat pada kata “Ibu tiri” tidak pernah luntur. Meski tidak semua ibu tiri berwatak sama seperti yang tergambar dalam film tersebut, akan tetapi cap yang melekat pada kata itu sudah sangat kuat sehingga susah untuk dihilangkan.
Fatika merupakan salah satu orang yang masih percaya dengan persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa ibu tiri itu jahat. Ketakutan itu tergambar jelas di matanya ketika sang ayah memberitahunya mengenai keputusannya untuk menikah kembali. Ibu fatika sudah meninggal sekitar empat tahun yang lalu, yakni ketika ia masih berada di kelas empat sekolah dasar. Saat itu ia yang masih berusia sembilan tahun dipaksa tegar menyaksikan orang yang sangat ia cintai dimasukkan ke dalam liang lahat. Luka itu masih tergambar jelas dalam ingatannya hingga kini. Jujur ia belum siap menerima kehadiran orang baru yang ingin menggatikan posisi ibunya, akan tetapi ia tak ingin membuat ayahnya sedih dengan menolak keputusannya. Akhirnya dengan berat hati, Fatika menerima keputusan ayahnya.
Setelah pernikahan ayah dengan ibu tirinya itu, Fatika menjadi gadis yang lebih pendiam. Ia hanya akan berbicara dengan ayahnya saja dan sering mengabaikan ibu tirinya. Seperti halnya sekarang saat ibunya berusaha untuk dapat mengakrabkan diri dengannya, ia hanya akan menjawab dengan ketus seakan terkesan tidak peduli.
“Dari mana, Tik?” tanya Nisa melihat Fatika masuk ke dalam rumah.
“Main,” jawab Fatika singkat, tanpa melirik sedikit pun. Langsung melengos masuk ke dalam tanpa memedulikan ibunya.
Nisa hanya menghela nafas. Melihat Fatika yang tampak belum bisa menerimanya. Meski usia pernikahannya dengan sang suami sudah menginjak usia tiga tahun. Meski sudah tiga tahun bersama, akan tetapi mereka masih belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Nisa tak pernah absen mengajak Fatika berbicara, tapi anaknya itu tak pernah sekalipun menanggapi dengan serius kecuali jika ada Reno di sana. Jika hanya berdua saja, maka Fatika akan bersikap acuh dan seenaknya saja. Ia bahkan tak pernah sekali pun memerhatikan dan selalu mengabaikkan semua kalimat yang keluar dari mulut ibunya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu.
Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, akan tetapi sampai sekarang Fatika masih belum bisa menerima ibu tirinya. Meski begitu Nisa tak pernah lelah berusaha menjadi ibu yang baik untuk Fatikah. Sepertinya cap “Ibu tiri” yang buruk tak berlaku untuk Nisa. Fatika sadar, tapi ia menolak fakta itu dan lebih mengedepankan egonya. Ia lebih memilih fokus dengan dunianya sendiri serta mengabaikan ibu tirinya. Meski begitu, Nisa terus bersabar dan tak pernah sekali pun meninggikan suaranya saat berhadapan dengan anak tirinya itu. Hingga tibalah pada suatu hari, terjadi suatu hal yang membuat Nisa meninggikan suaranya untuk pertamakalinya.
“Dari mana kamu jam segini baru pulang?” tanya Nisa. Dengan nada yang sedikit tiggi melihat Fatika memasuki rumah.
“Kerja kelompok,” jawab Fatika singkat. Nisa yang mendengar jawaban tersebut sedikit tenang. Ia sempat berpikir yang tidak-tidak melihat putrinya pulang jam 11 malam tanpa mengabari siapa pun.
“Lain kali, kalau mau keluar kabari ibu dulu, jangan kaya gini ibu khawatir,” lirih Nisa sembari memegang kedua bahu Fatika.
“Lepas ih! Jangan sok perhatian deh!” sentak Fatika, langsung masuk ke dalam kamar.
Tak terasa air mata mengalir membasahi pipi Nisa, akan tetapi ia segera menghapusnya dan berjalan menutup pintu serta mengucinya. Akan tetapi, sebelum itu ia menyempatkan diri untuk melihat siapa yang telah mengantar Fatika pulang. Nisa mendapati seorang laki-laki sebaya dengan anaknya itu, meninggalkan rumahnya mengendarai motor. Hari ini Reno sedang ada pekerjaan di luar kota, mungkin karena itu juga Fatika berani pulang malam tanpa mengabari siapa pun. Karena jika Reno sedang berada di rumah, Fatika tidak akan pernah diizinkan keluar melebihi jam sembilan malam, apalagi pergi dari pulang sekolah dan belum pulang sama sekali.
Keesokan harinya Nisa pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang kebetulan sudah habis. Setelah keluar dari supermarket tanpa sengaja ia melihat seorang laki-laki yang kemarin malam mengantar anakanya tengah memalak laki-laki berkacamata yang memakai seragam yang sama. ia pun mendekati mereka.
“Ada apa ini?” tanya Nisa melihat kejdian di depannya.
“Apa? Orang gak ada apa-apa, ya kan do?” tanya pemuda yang ternyata bernama Farel kepada pemuda bernama Aldo seraya merangkul bahunya dengan tatapan penuh ancaman. Aldo hanya bisa mengangguk kaku dan terkesan terpaksa.
“Sudah-sudah, lebih baik kalian berangkat sekolah sekarang! Kalian pasti telat, sudah jam tujuh lebih ini,”
Farel dan Aldo bergegas pergi meninggalkan Nisa dengan tangan Farel yang masih bertengger kuat di bahu Aldo. Aldo yang tak bisa melawan hanya bisa pasrah. Nisa memutuskan untuk segera pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan rumah yang sempat ia tingal tadi. Ia juga berencana memberitahu Fatika mengenai hal ini saat ia sudah pulang dari sekolah nanti. Bukan apa-apa, Nisa hanya takut anaknya salah pergaulan. Ia takut pemuda seperti Farel membawa dampak buruk untuk putrinya. Kemarin saja Fatika berani pulang malam diantar pemuda itu, mengingatnya membuat Nisa semakin khawatir.
Sorenya, Nisa menunggu Fatika pulang akan tetapi sang anak belum juga terlihat meski jam sudah menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit. Rasa khawatir terus menyerang, akan tetapi ia memilih masuk ke dalam dan berniat menunggu di dalam karena sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib. Beranjak dari kursi teras, terdengar suara motor yang berhenti di depan gerbang rumahnya. Ia melihat sang putri turun dari boncengan seorang pemuda yang tak lain adalah Farel. Saat anaknya hendak melewatinya, ia sudah lebih dulu mencekal tangannya.
“Apaan sih!” sentak Fatika seraya menghempaskan tangan ibunya.
“Kamu kenapa pulang sama dia lagi? Ada hubungan apa kalian bedua?” tanya Nisa tegas.
“Bukan urusan tante!” ketus Fatika. Anak itu memang belum pernah memanggil Nisa dengan sebutan ibu, meski sudah tiga tahun bersama.
“Kamu urusan tante Fatika! Tante itu ibu kamu, tante punya kewijiban buat jagain kamu! Lagian teman kamu itu bukan orang yang baik, bahkan tadi pagi tante pergokin dia lagi malakin uang temannya. Mulai sekarang, kamu harus jaga jarak sama dia nak!” jelas Nisa.
“Tante gak berhak ya ngatur-ngatur aku, tante juga gak berhak melarang aku berteman dengan siapa! Lagian pacar aku gak mungkin melakukan hal yang buruk, apalagi sampai malak orang aku gak percaya!” bentak Fatika.
“Apa! Kamu pacaran sama dia? Tante harap kamu segera mengakhiri hubungan kalian, dia bukan anak yang baik Tika, ingat itu,” ujar Nisa penuh penekanan.
“Dan lagian kamu juga masih terlalu muda untuk pacaran, sebaiknya kamu fokus dengan sekolah kamu dulu sekarang,” perintah Nisa.
“Terserah tante mau ngomong apa!” sentak Fatika lalu beranjak meninggalkan Nisa yang memanggil-manggil namanya.
Nisa tak habis pikir dengan putri tirinya itu, kenapa Fatika tak pernah bisa percaya padanya. Ia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa putrinya itu, tapi sepertinya Fatika tak pernah mengerti itu. Keesokan harinya Reno pulang dan suasana rumah kembali biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Nisa tidak menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan sang putri kepada suaminya. Ia tidak ingin ada pertengkaran antara ayah dengan anak, jadi ia memutuskan untuk tidak memberi tahu Reno.
Setelah kejadian itu, esok harinya Fatika berangkat sekolah seperti biasa, akan tetapi sedari pagi ia tidak melihat Farel. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Farel sepulang sekolah. Semua sudut sekolah sudah ia datangi, tapi tak mendapati Farel di manapun. Merasa lelah ia kemudian memutuskan untuk pulang saja.
Saat di perjalanan pulang tak sengaja ia melihat seorang pemuda yang dikenalnya. Ternyata memang benar pemuda itu adalah Farel, ia melihat Farel tengah memalak adik kelas dengan ditemani wanita cantik di rangkulannya. Seketika air matanya tumpah, ia tak percya dengan apa yang dilihatnya kini.
Ingatannya berputar pada saat ia membela pacarnya mati-matian dan membentak ibu tirinya yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Seketika rasa bersalah memenuhi rogga dadanya, sangat sesak. Saat ia akan mengahmpirinya, ia mendapat telepon dari ayahnya. Ayahnya mengabari bahwa ibunya kecelakan dan meninggal di tempat. Seketika tubuhnya membeku, dunianya serasa hancur. Air matanya mengucur semakin deras. Tubuhnya luruh ke tanah, Fatika berteriak sejadi-jadinya.
“Arghhhhh, ibu kenapa ninggalin aku, Buu!” raungan itu terdengar sangat menyayat hati. Suara tangis yang semakin keras menarik perhatian orang-orang. tak ingin membuang waktu Fatika segera bangit dan berlari pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia melihat tubuh ibunya yang sudah kaku. Langsung saja ia peluk dan dan menangis sejadi-jadinya. Semua yang menyaksikan nampak meneteskan air mata. Mereka semua tahu hubungan antara ibu dan anak itu.
“Arghhh! Jangan tinggalin Tika, Bu. Maafin Tika. Tika janji bakal jadi anak yang baik, Tika janji bakal nurut sama ibu, Tika sayang sama ibu jangan tinggalin Tika buuu!” teriak Fatika.
“Maafin Tika, Bu. Tika selama ini selalu jahat sama ibu, Tika anak yang durhaka, Tika tahu Tika bukan anak yang baik, tapi tolong jangan hukum Tika kaya gini, Bu. Tika gak sanggup, jangan tinggalin Tika, Buu!!!”
Pada akhirnya hanya penyesalan yang tersisa. Di saat semua orang merayakan tahun baru, Tika malah membenci tahun baru. Karena di tahun baru inilah Ia kehilangan sosok yang amat ia cintai, ia kehilangan ibunya. Tahun baru ini ia tak pergi ke manapun sepeti teman-temannya yang lain. Tahun baru Tika di pusara sang ibu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar