DALAM DIAM
YANG DIJAGA
Oleh: Ari
Dwi Listiyorini
Namanya Aisyah zahra. Ia percaya bahwa jika
cinta itu benar, akan membuat seseorang semakin dekat kepada Tuhannya—bukan
semakin jauh.
Pertemuan itu sederhana. Tidak ada tabrakan
buku di perpustakaan, tidak ada percakapan panjang yang menggetarkan. Hanya
sebuah momen singkat di masjid kampus, ketika Aisyah melihat seorang lelaki
berdiri paling depan, datang sebelum azan, dan tetap duduk berzikir lama
setelah jamaah bubuar.
Namanya Farhan Sauqi—ia tahu dari daftar panitia
kajian.
***
Sejak hari itu, Aisyah mulai sering
melihatnya. Bukan sengaja mencari, hanya saja langkah mereka kerap berpapasan
di tempat yang sama: ruang kajian, lorong fakultas, atau halaman masjid yang
dipenuhi pohon ketapang. Farhan bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Ia
menunduk ketika berjalan, dan senyumnya selalu seperlunya.
Yang membuat hati Aisyah bergetar bukan
wajahnya, melainkan caranya menjaga pandangan.
Aisyah paham betul, perasaan adalah fitrah.
Ia tidak marah ketika hatinya mulai berdebar setiap kali melihat Farhan
menyampaikan presentasi dengan tenang dan cerdas. Ia tidak menyangkal ketika
diam-diam ia mendoakan lelaki itu setelah tahajudnya. Namun ia juga tahu, tidak
semua rasa harus diumbar.
Disuatu hari, Sahabatnya, Hana, pernah
menggoda, “Suka ya?”
Aisyah hanya tersenyum, dengan nada
suaranya yang lembut ia menjawab, “Tidak, hanya Mengagumi saja.”
“Kenapa tidak bilang?”, ujar hana.
Aisyah terdiam sejenak, lalu menjawab “Aku takut merusak niat. Kalau memang Allah
jaga, tak perlu aku tergesa.”
Sejak itu, Aisyah memilih cara yang
berbeda. Ia memperbaiki dirinya. Ia memperbaiki salatnya yang kadang masih
lalai, memperdalam hafalan yang sering terhenti di tengah jalan, dan belajar
menata niat dalam setiap aktivitasnya. Diam-diam, ia ingin jika suatu hari
Allah mempertemukan mereka dalam ikatan halal, ia datang sebagai versi terbaik
dirinya.
***
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai
harapan yang dirangkai dalam doa.
Suatu sore, pengumuman itu terdengar
seperti angin yang merobohkan dinding hatinya. Farhan akan melanjutkan studi ke
luar negeri. Beasiswa penuh. Berangkat dalam dua bulan. Ada rasa sesak yang tak
bisa ia jelaskan. Untuk pertama kalinya, Aisyah menangis lebih lama dalam
sujudnya.
“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jika dia baik
untukku, dekatkanlah dengan cara-Mu. Jika tidak, jauhkanlah dan lapangkan
hatiku.”
Hari keberangkatan itu tiba. Aisyah tidak
datang ke bandara. Ia hanya mengirim doa terbaik setelah salat Subuh. Tidak ada
pesan, tidak ada salam perpisahan. Cukup Allah yang tahu betapa ia pernah
menyimpan rasa.
***
Waktu berjalan. Tahun-tahun berlalu membawa
Aisyah menjadi pribadi yang lebih matang. Ia kini mengajar di sebuah sekolah
Islam, mendampingi anak-anak kecil menghafal doa dan mengenal cinta kepada
Rabb-nya. Perasaan yang dulu terasa besar kini menjelma kenangan yang lembut.
Hingga suatu hari, dalam sebuah seminar
pendidikan, namanya dipanggil sebagai salah satu pembicara. Di deretan kursi
tamu undangan, ia melihat sosok yang tak asing.
Farhan Sauqi, duduk diantara deretan
tamu-tamu undangan.
Tatapan mereka bertemu sebentar, sama-sama
terkejut. Setelah acara selesai, Farhan mendekat—tetap dengan sikap santun yang
sama.
“Aisyah?” sapanya pelan.
“Iya.”
Percakapan mereka singkat, secukupnya.
Farhan bercerita tentang studinya, tentang rencananya kembali dan membangun
lembaga pendidikan.
Lalu tiba-tiba dengan tenang ia berkata,
“Dulu saya sering melihat kamu di masjid. Saya kagum pada ketekunanmu, Aisyah.”
Jantung Aisyah berdegup. Jadi, ia tidak
sendirian dalam diam itu.
***
Beberapa bulan setelah pertemuan itu,
keluarga Farhan datang ke rumah Aisyah. Bukan dengan janji-janji manis,
melainkan dengan niat yang jelas. Di ruang tamu sederhana itu, Aisyah menunduk
haru. Ia teringat doa-doa panjang yang pernah ia panjatkan dalam sunyi.
Ia akhirnya mengerti, mengagumi dalam diam
bukan tentang menahan rasa hingga menyakitkan. Ini tentang mempercayakan yang
tak terlihat kepada Allah. Tentang menjaga hati agar tetap bersih, hingga waktu
yang tepat tiba tanpa harus dikejar.
Dan jika memang bukan berjodoh, setidaknya
ia pernah belajar satu hal berharga: cinta yang dijaga dalam ketaatan tak akan
pernah sia-sia.
Amanat
Dari cerita yang diatas kita jadi tau, mengagumi
dalam diam bukan tentang menahan rasa hingga menyakitkan. Ini tentang
mempercayakan yang tak terlihat kepada Allah. Tentang menjaga hati agar tetap
bersih, hingga waktu yang tepat tiba, tanpa harus dikejar. Dan cinta yang baik
itu yang dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar