Kamis, 05 Maret 2026

Dalam Diam Yang Dijaga

 

DALAM DIAM YANG DIJAGA

Oleh: Ari Dwi Listiyorini

 


Namanya Aisyah zahra. Ia percaya bahwa jika cinta itu benar, akan membuat seseorang semakin dekat kepada Tuhannya—bukan semakin jauh.

Pertemuan itu sederhana. Tidak ada tabrakan buku di perpustakaan, tidak ada percakapan panjang yang menggetarkan. Hanya sebuah momen singkat di masjid kampus, ketika Aisyah melihat seorang lelaki berdiri paling depan, datang sebelum azan, dan tetap duduk berzikir lama setelah jamaah bubuar.

Namanya Farhan Sauqi—ia tahu dari daftar panitia kajian.

***

Sejak hari itu, Aisyah mulai sering melihatnya. Bukan sengaja mencari, hanya saja langkah mereka kerap berpapasan di tempat yang sama: ruang kajian, lorong fakultas, atau halaman masjid yang dipenuhi pohon ketapang. Farhan bukan tipe lelaki yang banyak bicara. Ia menunduk ketika berjalan, dan senyumnya selalu seperlunya.

Yang membuat hati Aisyah bergetar bukan wajahnya, melainkan caranya menjaga pandangan.

Aisyah paham betul, perasaan adalah fitrah. Ia tidak marah ketika hatinya mulai berdebar setiap kali melihat Farhan menyampaikan presentasi dengan tenang dan cerdas. Ia tidak menyangkal ketika diam-diam ia mendoakan lelaki itu setelah tahajudnya. Namun ia juga tahu, tidak semua rasa harus diumbar.

 Disuatu hari, Sahabatnya, Hana, pernah menggoda, “Suka ya?”

Aisyah hanya tersenyum, dengan nada suaranya yang lembut ia menjawab, “Tidak, hanya Mengagumi saja.”

“Kenapa tidak bilang?”, ujar hana.

Aisyah terdiam sejenak, lalu menjawab  “Aku takut merusak niat. Kalau memang Allah jaga, tak perlu aku tergesa.”

Sejak itu, Aisyah memilih cara yang berbeda. Ia memperbaiki dirinya. Ia memperbaiki salatnya yang kadang masih lalai, memperdalam hafalan yang sering terhenti di tengah jalan, dan belajar menata niat dalam setiap aktivitasnya. Diam-diam, ia ingin jika suatu hari Allah mempertemukan mereka dalam ikatan halal, ia datang sebagai versi terbaik dirinya.

***

Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan yang dirangkai dalam doa.

Suatu sore, pengumuman itu terdengar seperti angin yang merobohkan dinding hatinya. Farhan akan melanjutkan studi ke luar negeri. Beasiswa penuh. Berangkat dalam dua bulan. Ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan. Untuk pertama kalinya, Aisyah menangis lebih lama dalam sujudnya.

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jika dia baik untukku, dekatkanlah dengan cara-Mu. Jika tidak, jauhkanlah dan lapangkan hatiku.”

Hari keberangkatan itu tiba. Aisyah tidak datang ke bandara. Ia hanya mengirim doa terbaik setelah salat Subuh. Tidak ada pesan, tidak ada salam perpisahan. Cukup Allah yang tahu betapa ia pernah menyimpan rasa.

***

Waktu berjalan. Tahun-tahun berlalu membawa Aisyah menjadi pribadi yang lebih matang. Ia kini mengajar di sebuah sekolah Islam, mendampingi anak-anak kecil menghafal doa dan mengenal cinta kepada Rabb-nya. Perasaan yang dulu terasa besar kini menjelma kenangan yang lembut.

Hingga suatu hari, dalam sebuah seminar pendidikan, namanya dipanggil sebagai salah satu pembicara. Di deretan kursi tamu undangan, ia melihat sosok yang tak asing.

Farhan Sauqi, duduk diantara deretan tamu-tamu undangan.

Tatapan mereka bertemu sebentar, sama-sama terkejut. Setelah acara selesai, Farhan mendekat—tetap dengan sikap santun yang sama.

“Aisyah?” sapanya pelan.

“Iya.”

Percakapan mereka singkat, secukupnya. Farhan bercerita tentang studinya, tentang rencananya kembali dan membangun lembaga pendidikan.

Lalu tiba-tiba dengan tenang ia berkata, “Dulu saya sering melihat kamu di masjid. Saya kagum pada ketekunanmu, Aisyah.”

Jantung Aisyah berdegup. Jadi, ia tidak sendirian dalam diam itu.

***

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, keluarga Farhan datang ke rumah Aisyah. Bukan dengan janji-janji manis, melainkan dengan niat yang jelas. Di ruang tamu sederhana itu, Aisyah menunduk haru. Ia teringat doa-doa panjang yang pernah ia panjatkan dalam sunyi.

Ia akhirnya mengerti, mengagumi dalam diam bukan tentang menahan rasa hingga menyakitkan. Ini tentang mempercayakan yang tak terlihat kepada Allah. Tentang menjaga hati agar tetap bersih, hingga waktu yang tepat tiba tanpa harus dikejar.

Dan jika memang bukan berjodoh, setidaknya ia pernah belajar satu hal berharga: cinta yang dijaga dalam ketaatan tak akan pernah sia-sia.

 

 

 

Amanat

Dari cerita yang diatas kita jadi tau, mengagumi dalam diam bukan tentang menahan rasa hingga menyakitkan. Ini tentang mempercayakan yang tak terlihat kepada Allah. Tentang menjaga hati agar tetap bersih, hingga waktu yang tepat tiba, tanpa harus dikejar. Dan cinta yang baik itu yang dapat mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar