HUJAN MENGGUYUR
Oleh: Muhammad
Fathurrayhan
Hujan turun
seperti surat yang tak pernah sempat dikirimkan. Di bangku kayu tua dekat rel
kereta, Lila menunggu dengan payung biru yang bocor di satu sisi seperti
hatinya yang tak lagi utuh.
Ia pernah percaya
bahwa cinta adalah rumah. Seperti kisah di novel Laskar Pelangi yang dulu
dibacanya di bawah selimut, cinta terasa hangat dan penuh harapan. Namun malam
itu, rumahnya runtuh tanpa suara. Hanya ada deru kereta terakhir menuju kota
yang menjauh, membawa seseorang yang tak menoleh lagi.
Arga pernah
berjanji akan kembali sebelum musim berganti. Tapi musim hujan datang lebih
cepat dari kabar. Di antara gemuruh langit, Lila mengingat cara Arga tertawa ringan
seperti lagu lama dari Chrisye yang mengalun di radio warung ujung jalan. Kini
lagu itu terdengar seperti doa yang kehilangan Tuhan.
Waktu berjalan
tanpa permisi. Bangku kayu itu menghafal tubuhnya yang semakin kurus oleh
rindu. Orang-orang berlalu, membawa payung dan tujuan, sementara Lila tetap
tinggal menjadi bayangan bagi dirinya sendiri.
Ketika kereta
terakhir melintas dan malam menutup tirainya, Lila akhirnya berdiri. Ia tak
lagi menunggu. Bukan karena Arga kembali, melainkan karena ia sadar: beberapa
orang memang ditakdirkan menjadi kenangan, bukan kepulangan.
Hujan masih
turun. Tapi kali ini, Lila membiarkannya membasahi wajahnya. Agar tak ada yang
tahu, bahwa yang mengalir di pipinya bukan hanya air langit, melainkan
sisa-sisa harapan yang perlahan belajar tenggelam.
Ia melangkah
meninggalkan rel, menyusuri jalan kecil yang dipenuhi genangan. Lampu-lampu
kota berpendar samar, seperti bintang yang lupa caranya bersinar. Setiap
langkah terasa berat, namun juga jujur seakan untuk pertama kalinya ia berjalan
bukan menuju seseorang, melainkan menuju dirinya sendiri.
Di ujung jalan,
warung tua tempat mereka dulu berteduh masih berdiri. Radio kecilnya tetap
menyala, memutar lagu yang sama seperti bertahun lalu. Lila berhenti sejenak,
membiarkan kenangan menyentuhnya tanpa lagi merobek. Ia
tersenyum
tipis. Ada yang berubah dari caranya mengingat: tak lagi menggenggam, hanya
mengizinkan.
Ia sadar,
menunggu telah mengajarkannya satu hal bahwa kehilangan bukanlah akhir dari
segalanya. Kadang ia hanya cara hidup menunjukkan bahwa hati pun perlu ruang
untuk tumbuh. Seperti tanah yang diguyur hujan, ia harus basah dulu sebelum
mampu menumbuhkan yang baru.
Langit masih
muram ketika Lila tiba di rumah kecilnya. Ia menutup payung biru yang bocor
itu, lalu meletakkannya di sudut pintu. Mungkin besok ia akan membeli yang
baru. Atau mungkin tidak. Tidak semua yang retak harus segera diganti; beberapa
cukup diterima sebagai bagian dari cerita.
Di depan
cermin, ia menatap wajahnya sendiri mata yang sembab, tapi juga lebih tenang.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian Arga, ia tidak merasa kosong. Ada ruang
sunyi di dadanya, namun sunyi itu tak lagi menakutkan.
Hujan perlahan
reda. Dan di antara sisa gerimis yang jatuh, Lila mengerti: cinta memang pernah
menjadi rumah. Tapi kini, ia belajar membangun rumah itu di dalam dirinya
sendiri tempat ia tak perlu lagi menunggu siapa pun untuk merasa utuh.
“Terkadang
keebisuan adalah hal yang paling baik untuk mengerti diri itu sendiri”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar