Rabu, 04 Maret 2026

Hujan Mengguyur

 

HUJAN MENGGUYUR

Oleh: Muhammad Fathurrayhan

 


Hujan turun seperti surat yang tak pernah sempat dikirimkan. Di bangku kayu tua dekat rel kereta, Lila menunggu dengan payung biru yang bocor di satu sisi seperti hatinya yang tak lagi utuh.

Ia pernah percaya bahwa cinta adalah rumah. Seperti kisah di novel Laskar Pelangi yang dulu dibacanya di bawah selimut, cinta terasa hangat dan penuh harapan. Namun malam itu, rumahnya runtuh tanpa suara. Hanya ada deru kereta terakhir menuju kota yang menjauh, membawa seseorang yang tak menoleh lagi.

Arga pernah berjanji akan kembali sebelum musim berganti. Tapi musim hujan datang lebih cepat dari kabar. Di antara gemuruh langit, Lila mengingat cara Arga tertawa ringan seperti lagu lama dari Chrisye yang mengalun di radio warung ujung jalan. Kini lagu itu terdengar seperti doa yang kehilangan Tuhan.

Waktu berjalan tanpa permisi. Bangku kayu itu menghafal tubuhnya yang semakin kurus oleh rindu. Orang-orang berlalu, membawa payung dan tujuan, sementara Lila tetap tinggal menjadi bayangan bagi dirinya sendiri.

Ketika kereta terakhir melintas dan malam menutup tirainya, Lila akhirnya berdiri. Ia tak lagi menunggu. Bukan karena Arga kembali, melainkan karena ia sadar: beberapa orang memang ditakdirkan menjadi kenangan, bukan kepulangan.

Hujan masih turun. Tapi kali ini, Lila membiarkannya membasahi wajahnya. Agar tak ada yang tahu, bahwa yang mengalir di pipinya bukan hanya air langit, melainkan sisa-sisa harapan yang perlahan belajar tenggelam.

Ia melangkah meninggalkan rel, menyusuri jalan kecil yang dipenuhi genangan. Lampu-lampu kota berpendar samar, seperti bintang yang lupa caranya bersinar. Setiap langkah terasa berat, namun juga jujur seakan untuk pertama kalinya ia berjalan bukan menuju seseorang, melainkan menuju dirinya sendiri.

Di ujung jalan, warung tua tempat mereka dulu berteduh masih berdiri. Radio kecilnya tetap menyala, memutar lagu yang sama seperti bertahun lalu. Lila berhenti sejenak, membiarkan kenangan menyentuhnya tanpa lagi merobek. Ia

tersenyum tipis. Ada yang berubah dari caranya mengingat: tak lagi menggenggam, hanya mengizinkan.

Ia sadar, menunggu telah mengajarkannya satu hal bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Kadang ia hanya cara hidup menunjukkan bahwa hati pun perlu ruang untuk tumbuh. Seperti tanah yang diguyur hujan, ia harus basah dulu sebelum mampu menumbuhkan yang baru.

Langit masih muram ketika Lila tiba di rumah kecilnya. Ia menutup payung biru yang bocor itu, lalu meletakkannya di sudut pintu. Mungkin besok ia akan membeli yang baru. Atau mungkin tidak. Tidak semua yang retak harus segera diganti; beberapa cukup diterima sebagai bagian dari cerita.

Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri mata yang sembab, tapi juga lebih tenang. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Arga, ia tidak merasa kosong. Ada ruang sunyi di dadanya, namun sunyi itu tak lagi menakutkan.

Hujan perlahan reda. Dan di antara sisa gerimis yang jatuh, Lila mengerti: cinta memang pernah menjadi rumah. Tapi kini, ia belajar membangun rumah itu di dalam dirinya sendiri tempat ia tak perlu lagi menunggu siapa pun untuk merasa utuh.

 

“Terkadang keebisuan adalah hal yang paling baik untuk mengerti diri itu sendiri”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar