Sabar yang Tak Pernah Tunduk
Oleh: Salwa Nur Salbiyah
Di sebuah desa yang sangat
terpencil hiduplah sepasang suami istri yang sering dipandang sebelah mata oleh
warga di sekitarnya. Meski demikian, mereka tidak pernah membalas dengan
kebencian. Justru keduanya saling menguatkan dan menjalani hidup dengan penuh
kesabaran. Kehidupan mereka sangat sederhana, namun dipenuhi kedamaian.
Sang suami dikenal sebagai
seorang qari yang memiliki sebuah Taman Qur’an (TQ) bernama Al-Mujaqaroh.
Ia adalah orang pertama yang mendirikan TQ di desanya. Murid-muridnya pun
sangat banyak, karena masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang sabar dan tekun
mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Selain mengajar di TQ, ia juga sering
diundang untuk menjadi qari dalam acara maulid, pernikahan, maupun berbagai
kegiatan keagamaan lainnya.
Di desa itu, ia dikenal dengan
panggilan Haji Dolan.
Setiap hari Haji Dolan dan
istrinya menjalani kehidupan dengan tenang. Namun tidak semua orang memandang
mereka dengan baik. Ketika bulan Ramadan tiba dan Haji Dolan sering diminta
menjadi imam salat tarawih, ada saja warga yang membicarakannya di belakang.
“Dia itu banyak utangnya,” ujar
seseorang.
Ucapan seperti itu tidak hanya
datang dari satu orang, tetapi juga dari beberapa warga lainnya. Mendengar hal
itu, Haji Dolan hanya terdiam. Ia tidak membalas atau membantah. Bagi Haji
Dolan, perkataan seperti itu sudah sering ia dengar.
Padahal kenyataannya, orang-orang
yang membicarakan dirinya justru memiliki hutang yang lebih banyak darinya.
Memang benar Haji Dolan memiliki hutang, tetapi ia tidak pernah merendahkan
atau membicarakan orang lain yang juga memiliki masalah yang sama.
Ironisnya, orang yang pernah
membicarakannya itu suatu hari datang meminta pertolongan kepadanya. Namun Haji
Dolan tetap membantu dengan tulus. Kebaikannya tidak berubah, meskipun ia
sering disakiti dengan kata-kata.
Berbeda dengan dirinya, sang
istri merasa kesal dan sedih melihat suaminya terus-menerus menjadi bahan
pembicaraan warga.
“Kenapa mereka berkata seperti
itu padamu?” keluh istrinya.
Namun Haji Dolan selalu
menenangkan hati istrinya dan memilih untuk tetap bersabar.
Haji Dolan memang dikenal sebagai
orang yang sangat suka menolong. Ia sering membantu siapa saja yang
membutuhkan, bahkan pernah tertipu hingga kehilangan uang ratusan juta rupiah.
Meski begitu, ia tidak pernah berhenti berbuat baik kepada orang lain.
Anehnya, walaupun Haji Dolan
hidup sederhana dan tidak memiliki banyak harta, tetap saja ada orang yang iri
kepada keluarga kecil itu.
Pasangan suami istri tersebut
memiliki dua orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan yang saat itu
sudah duduk di bangku SMA. Sedangkan anak kedua adalah seorang laki-laki yang
masih bersekolah di SD.
Anak perempuan mereka mengetahui
semua yang terjadi pada orang tuanya. Ia mendengar bagaimana ayahnya sering
dibicarakan dan diremehkan oleh sebagian warga. Dari situlah tumbuh tekad kuat
di dalam hatinya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri
untuk berkuliah dan meraih pendidikan setinggi mungkin, agar suatu hari nanti
orang tuanya tidak lagi dipandang rendah oleh orang lain.
Padahal kehidupan keluarganya
sangat sederhana. Haji Dolan tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya mengandalkan
panggilan sebagai qari. Sementara istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga
yang sesekali berjualan kecil-kecilan untuk membantu kebutuhan keluarga.
Namun waktu terus berjalan, dan
kehidupan perlahan memperlihatkan keadilannya.
Anak perempuan Haji Dolan
akhirnya berhasil melanjutkan kuliah dengan prestasi yang membanggakan. Ia
bahkan mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Keberhasilan itu menjadi kebanggaan
besar bagi keluarga mereka, sekaligus menjadi bukti bahwa kesabaran dan perjuangan
orang tuanya tidak pernah sia-sia.
Pada akhirnya, pasangan suami
istri itu memahami satu hal penting dalam hidup. Bahwa kehormatan sejati tidak
ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh keteguhan hati dalam menjaga
kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.
Dan dari kesabaran itulah, mereka
membuktikan bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar kalah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar