Rabu, 04 Maret 2026

Sabar yang Tak Pernah Tunduk

 

Sabar yang Tak Pernah Tunduk

Oleh: Salwa Nur Salbiyah



Di sebuah desa yang sangat terpencil hiduplah sepasang suami istri yang sering dipandang sebelah mata oleh warga di sekitarnya. Meski demikian, mereka tidak pernah membalas dengan kebencian. Justru keduanya saling menguatkan dan menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Kehidupan mereka sangat sederhana, namun dipenuhi kedamaian.

Sang suami dikenal sebagai seorang qari yang memiliki sebuah Taman Qur’an (TQ) bernama Al-Mujaqaroh. Ia adalah orang pertama yang mendirikan TQ di desanya. Murid-muridnya pun sangat banyak, karena masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang sabar dan tekun mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Selain mengajar di TQ, ia juga sering diundang untuk menjadi qari dalam acara maulid, pernikahan, maupun berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Di desa itu, ia dikenal dengan panggilan Haji Dolan.

Setiap hari Haji Dolan dan istrinya menjalani kehidupan dengan tenang. Namun tidak semua orang memandang mereka dengan baik. Ketika bulan Ramadan tiba dan Haji Dolan sering diminta menjadi imam salat tarawih, ada saja warga yang membicarakannya di belakang.

“Dia itu banyak utangnya,” ujar seseorang.

Ucapan seperti itu tidak hanya datang dari satu orang, tetapi juga dari beberapa warga lainnya. Mendengar hal itu, Haji Dolan hanya terdiam. Ia tidak membalas atau membantah. Bagi Haji Dolan, perkataan seperti itu sudah sering ia dengar.

Padahal kenyataannya, orang-orang yang membicarakan dirinya justru memiliki hutang yang lebih banyak darinya. Memang benar Haji Dolan memiliki hutang, tetapi ia tidak pernah merendahkan atau membicarakan orang lain yang juga memiliki masalah yang sama.

Ironisnya, orang yang pernah membicarakannya itu suatu hari datang meminta pertolongan kepadanya. Namun Haji Dolan tetap membantu dengan tulus. Kebaikannya tidak berubah, meskipun ia sering disakiti dengan kata-kata.

Berbeda dengan dirinya, sang istri merasa kesal dan sedih melihat suaminya terus-menerus menjadi bahan pembicaraan warga.

“Kenapa mereka berkata seperti itu padamu?” keluh istrinya.

Namun Haji Dolan selalu menenangkan hati istrinya dan memilih untuk tetap bersabar.

Haji Dolan memang dikenal sebagai orang yang sangat suka menolong. Ia sering membantu siapa saja yang membutuhkan, bahkan pernah tertipu hingga kehilangan uang ratusan juta rupiah. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti berbuat baik kepada orang lain.

Anehnya, walaupun Haji Dolan hidup sederhana dan tidak memiliki banyak harta, tetap saja ada orang yang iri kepada keluarga kecil itu.

Pasangan suami istri tersebut memiliki dua orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan yang saat itu sudah duduk di bangku SMA. Sedangkan anak kedua adalah seorang laki-laki yang masih bersekolah di SD.

Anak perempuan mereka mengetahui semua yang terjadi pada orang tuanya. Ia mendengar bagaimana ayahnya sering dibicarakan dan diremehkan oleh sebagian warga. Dari situlah tumbuh tekad kuat di dalam hatinya.

Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berkuliah dan meraih pendidikan setinggi mungkin, agar suatu hari nanti orang tuanya tidak lagi dipandang rendah oleh orang lain.

Padahal kehidupan keluarganya sangat sederhana. Haji Dolan tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya mengandalkan panggilan sebagai qari. Sementara istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali berjualan kecil-kecilan untuk membantu kebutuhan keluarga.

Namun waktu terus berjalan, dan kehidupan perlahan memperlihatkan keadilannya.

Anak perempuan Haji Dolan akhirnya berhasil melanjutkan kuliah dengan prestasi yang membanggakan. Ia bahkan mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Keberhasilan itu menjadi kebanggaan besar bagi keluarga mereka, sekaligus menjadi bukti bahwa kesabaran dan perjuangan orang tuanya tidak pernah sia-sia.

Pada akhirnya, pasangan suami istri itu memahami satu hal penting dalam hidup. Bahwa kehormatan sejati tidak ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh keteguhan hati dalam menjaga kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.

Dan dari kesabaran itulah, mereka membuktikan bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar kalah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar