Malam
Jum’at Kliwon
Oleh : Muhamad
Fachriansyah
Pukul 19.36 WIB. Di desa Kupen tepat pada ba’da isya suasana seolah-olah mulai menunjukkan bahwa malam ini menunjukkan malam jum’at kliwon, dikarenakan malam ini kabut tebal dan angin malam yang menusuk hingga pori-pori, hal ini menurut orang jawa dulu adalah malam yang memiliki kaitan dengan keberadaan makhluk-makhluk mistis yang bermunculan di dunia manusia.
Malam yang
Mencekam
Malam itu Harto
dan Tono mendapat giliran bertugas ronda
malam, malam itu memang keadaan di desa sangat sepi setelah isya’, biasanya
mereka keliling desa pada pukul 21.00 WIB ke atas. Di saat mereka sedang asik
mengobrol, dari kejauhan terlihat seperti ada seseorang yang berjalan dengan
membawa lampu petromaks di tengah kabut yang agak tebal. Mereka berdua saling
heran satu sama lain karena malam ini juga beretepatan dengan malam jum’at
kliwon.
“ No… kok
perasaanku gak enak ya. Kaya gimana gitu.” ucap
Harto kepada Tono..
“ Halah palingan
itu mbah-mbah pulang dari masjid RT 04 doang.” jawab Tono.
Di saat itu
tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menjatuhkan beberapa daun dari
pohonnya disertai bau melati yang menyengat. Tidak lama kemudian sosok dalam
kabut tersebut mulai terlihat dan muncullah seorang kakek-kakek yang belum pernah mereka berdua temui di desa
tersebut, kakek tersebut terlihat asing ia mengenakan peci dan pakaian yang
lusuh, kakek tersebut tiba-tiba berhenti di depan pos ronda tepat di mana Harto
dan Tono sedang berjaga dengan tatapan yang menyeramkan sambil
menyeringai.
“No… aku
khawatir banget…..jangan jangan dia…..setan …..” bisik Harto
Belum juga Tono
menjawab, kakek asing tersebut tiba-tiba bersuara.
“Le.…ini adalah
malam jum’at kliwon, malam yang mistis, jadi kalian berdua hati-hati ketika
berjaga dan berkeliling di desa ini, ketika kalian mendengar suara yang aneh
biarkan saja tidak usah penasaran, karena malam ini akan ada hal-hal mistis
yang akan kalian temui nanti, INGATTT ITUUUU!!!.” ucap tegas kakek asing itu.
Suasana semakin
mencekam, kabut semakin tebal dan angin pun semakin kencang, membuat bulukuduk
Harto berdiri, beda dengan Tono yang tidak percaya akan hal mistis. Tiba-tiba
kakek-kakek tersebut hilang di dalam kabut tebal tersebut.
“No… apa aku
bilang dia bukan manusia.” ucap harto sambil ketakutan.
“Sudah-sudah har
ayo kita keliling desa udah pukul 21.36 WIB ini” jawab Tono dengan tegas.
“tapi aku takut
no… mmmmm ya sudahlah ayo.”.ujar Harto
Ketakutan yang
Menyelimuti
Mereka berdua
pun berkeliling di tengah kabut yang tebal hanya dengan menggunakan 2 buah
senter dan sebatang kayu yang di bawa oleh Tono untuk berjaga-jaga ketika ada
maling atau apapun itu. Tidak lama kemudian ketika mereka berdua melewati
kuburan yang terdapat di desa tersebut mereka mencium bau melati yang sangat
menyengat, biasanya melati dikaitkan dengan sosok makhluk halus, mereka tetap
terus berjalan walaupun Harto ketakutan dengan bau tersebut , tiba-tiba di
depan pintu gerbang kuburan mereka mendengar suara tangisan yang agak lirih,
langkah mereka terhenti dan Tono penasaran dengan suara itu
“Bentar.....,
siapa yang nangis malam-malam gini ya har.” ucap Tono.
“Perasaanku
tambah nggak enak, ingat kata kakek tadi.” ujar Harto sambil ketakutan.
“Sudahlah, ga
usah percaya sama begituan, dahlah aku mau mencari suara tersebut.” Jawab Tono
dengan nada penasaran.
Akhirnya Tono
masuk ke dalam pintu gerbang kuburan tersebut dan diikuti oleh Harto di
belakangnya, suara tersebut lama-lama semakin jelas dan bau melati tersebut semakin menyengat,
bulukuduk Harto semakin menjadi tetapi Tono tetap mencari sumber suara
tersebut, setelah melewati pintu gerbang kuburan terdapat ruangan untuk menaruh
keranda dan ada sebuah pohon beringin yang amat sangat besar, dan disitulah
suara mulai berhenti
“ Loh.. Har kok
tiba-tiba ilang suaranya.” ujar Tono dengan heran
Harto
secara tiba-tiba melihat ke atas pohon dan ia melihat sosok berambut panjang
dan memakai baju berwarna putih yang lusuh
“ I.iiii ..itu
apa…. No….., iitu kan Kuntilanak no…” ucap Harto sambil gagap dan ketakutan.
“hihihihihiiiiiii…”
(tawa kuntilanak)
Tono yang
awalnya berani dan tidak takut dengan hal mistis dirinya langsung dibuat
mematung dengan penampakan kuntilanak di
atas pohon yang menatap ia dengan menyeringai mengerikan, kuntilanak tersebut
terus besruara, Harto yang amat takut langsung membaca ayat kursi dan bacaan
yang ia hafal sambil menarik tangan Tono sambil berlari membawa keluar mereka
dari kuburan tersebut, akan tetapi kuntilanak tersebut terbang dan mengejar
mereka hingga depan pintu gerbang kuburan, sampailah mereka di luar kuburan, kuntilanak
tersebut tiba-tiba menghilang dan bau melati yang menyengat tersebut hilang
secara perlahan.
“ Har… har itu
tadi bener kuntilanak ?.” tanya Tono.
“ Iya no… aku
kan dah bilang tadi jangan kesana-sana.” jawab Harto.
Mereka
terengah-engah dan berkeringat, pada saat itulah di depan kuburan ada kebun
pisang, terciumlah bau yang menyengat tapi bukan melati melainkan bau anyir dan
busuk yang menyengat.
“ Har… kamu
nyium bau busuk nggak ?.” tanya Tono.
“ Iya no…. bau
busuk dan anyir, hoekk.” jawab Harto.
Dan disitulah
mereka melihat sosok putih berdiri dan tinggi dan menyeramkan di kebun pisang
tersebut, dan tidak salah lagi itu adalah pocong, sosok tersebut menatap mereka
berdua dan lama-lama kemudian mereka berdua saling bertatapan
“ Har…..” ujar
Tono.
“No…..” jawab
Harto.
“ Itukan
POCONGGG!!!!!.” ucap mereka berdua.
Dan mereka berlari dengan amat sangat kencang,
hingga pada akhirnya mereka tiba di dekat pos ronda, dengan terengah-engah mereka langsung pulang menuju ke rumah Tono karena
Harto takut untuk pulang sendiri, dan disaat perjalan menuju rumah Tono mereka
bertemu dengan kakek-kakek tadi, tetapi kakek tersebut hanya menyeringai dan
melirik mereka. Dengan rasa ketakutan yang dahsyat mereka membuang muka dan
berjalan cepat.
“Har berarti
misteri tentang malam jum’at kliwon benar adanya” ujar Tono.
“ Aku bilang apa
tadi, kita seharusnya mendengarkan kata kakek itu no.”jawab Harto
“Tapi dia itu
siapa?, tiba-tiba muncul dan menghilang,
terus muncul lagi tadi kan?.” Tanya Harto dengan heran.
“ Aku juga gak
tau karena muka dia asing, nggak kaya penduduk sini.”
Sejak kejadian
tersebut mereka berdua tidak mau untuk
mendapat giliran ronda pada malam jum’at dan diganti pada hari selain hari itu,
dan mereka belajar dari kejadian tersebut baiknya mendengarkan nasihat dari
orang tua dan menghormati kepercayaan yang ada di daerah tersebut agar selamat
dan terhindar dari gangguan-gangguan makhluk –makhluk halus yang tidak diinginkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar