Kamis, 19 Maret 2026

Malam Jum’at Kliwon

 

Malam Jum’at Kliwon

Oleh : Muhamad Fachriansyah



Pukul 19.36 WIB. Di desa Kupen tepat  pada ba’da isya suasana seolah-olah mulai menunjukkan bahwa  malam ini menunjukkan malam jum’at kliwon, dikarenakan malam ini kabut tebal dan angin malam yang  menusuk hingga pori-pori, hal ini menurut orang jawa  dulu adalah malam yang memiliki kaitan dengan keberadaan makhluk-makhluk mistis yang bermunculan di dunia manusia.

Malam yang Mencekam

Malam itu Harto dan Tono  mendapat giliran bertugas ronda malam, malam itu memang keadaan di desa sangat sepi setelah isya’, biasanya mereka keliling desa pada pukul 21.00 WIB ke atas. Di saat mereka sedang asik mengobrol, dari kejauhan terlihat seperti ada seseorang yang berjalan dengan membawa lampu petromaks di tengah kabut yang agak tebal. Mereka berdua saling heran satu sama lain karena malam ini juga beretepatan dengan malam jum’at kliwon.

“ No… kok perasaanku gak enak ya. Kaya gimana gitu.” ucap  Harto kepada Tono..

“ Halah palingan itu mbah-mbah pulang dari masjid RT 04 doang.” jawab Tono.

Di saat itu tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menjatuhkan beberapa daun dari pohonnya disertai bau melati yang menyengat. Tidak lama kemudian sosok dalam kabut tersebut mulai terlihat dan muncullah seorang kakek-kakek  yang belum pernah mereka berdua temui di desa tersebut, kakek tersebut terlihat asing ia mengenakan peci dan pakaian yang lusuh, kakek tersebut tiba-tiba berhenti di depan pos ronda tepat di mana Harto dan Tono sedang berjaga dengan tatapan yang menyeramkan sambil menyeringai. 

“No… aku khawatir banget…..jangan jangan dia…..setan …..” bisik  Harto

Belum juga Tono menjawab, kakek asing tersebut tiba-tiba bersuara.

“Le.…ini adalah malam jum’at kliwon, malam yang mistis, jadi kalian berdua hati-hati ketika berjaga dan berkeliling di desa ini, ketika kalian mendengar suara yang aneh biarkan saja tidak usah penasaran, karena malam ini akan ada hal-hal mistis yang akan kalian temui nanti, INGATTT ITUUUU!!!.” ucap tegas kakek asing itu.

Suasana semakin mencekam, kabut semakin tebal dan angin pun semakin kencang, membuat bulukuduk Harto berdiri, beda dengan Tono yang tidak percaya akan hal mistis. Tiba-tiba kakek-kakek tersebut hilang di dalam kabut tebal tersebut.

“No… apa aku bilang dia bukan manusia.” ucap harto sambil ketakutan.

“Sudah-sudah har ayo kita keliling desa udah pukul 21.36 WIB ini” jawab Tono dengan tegas.

“tapi aku takut no… mmmmm ya sudahlah ayo.”.ujar Harto

Ketakutan yang Menyelimuti

Mereka berdua pun berkeliling di tengah kabut yang tebal hanya dengan menggunakan 2 buah senter dan sebatang kayu yang di bawa oleh Tono untuk berjaga-jaga ketika ada maling atau apapun itu. Tidak lama kemudian ketika mereka berdua melewati kuburan yang terdapat di desa tersebut mereka mencium bau melati yang sangat menyengat, biasanya melati dikaitkan dengan sosok makhluk halus, mereka tetap terus berjalan walaupun Harto ketakutan dengan bau tersebut , tiba-tiba di depan pintu gerbang kuburan mereka mendengar suara tangisan yang agak lirih, langkah mereka terhenti dan Tono penasaran dengan suara itu

“Bentar....., siapa yang nangis malam-malam gini ya har.” ucap Tono.

“Perasaanku tambah nggak enak, ingat kata kakek tadi.” ujar Harto sambil ketakutan.

“Sudahlah, ga usah percaya sama begituan, dahlah aku mau mencari suara tersebut.” Jawab Tono dengan nada penasaran.

Akhirnya Tono masuk ke dalam pintu gerbang kuburan tersebut dan diikuti oleh Harto di belakangnya, suara tersebut lama-lama semakin jelas  dan bau melati tersebut semakin menyengat, bulukuduk Harto semakin menjadi tetapi Tono tetap mencari sumber suara tersebut, setelah melewati pintu gerbang kuburan terdapat ruangan untuk menaruh keranda dan ada sebuah pohon beringin yang amat sangat besar, dan disitulah suara mulai berhenti

“ Loh.. Har kok tiba-tiba ilang suaranya.” ujar Tono dengan heran

Harto secara  tiba-tiba melihat ke atas  pohon dan ia melihat sosok berambut panjang dan memakai baju berwarna putih yang lusuh

“ I.iiii ..itu apa…. No….., iitu kan Kuntilanak no…” ucap Harto sambil gagap dan ketakutan.

“hihihihihiiiiiii…” (tawa kuntilanak)

Tono yang awalnya berani dan tidak takut dengan hal mistis dirinya langsung dibuat mematung  dengan penampakan kuntilanak di atas pohon yang menatap ia dengan menyeringai mengerikan, kuntilanak tersebut terus besruara, Harto yang amat takut langsung membaca ayat kursi dan bacaan yang ia hafal sambil menarik tangan Tono sambil berlari membawa keluar mereka dari kuburan tersebut, akan tetapi kuntilanak tersebut terbang dan mengejar mereka hingga depan pintu gerbang kuburan, sampailah mereka di luar kuburan, kuntilanak tersebut tiba-tiba menghilang dan bau melati yang menyengat tersebut hilang secara perlahan.

“ Har… har itu tadi bener kuntilanak ?.” tanya Tono.

“ Iya no… aku kan dah bilang tadi jangan kesana-sana.” jawab Harto.

Mereka terengah-engah dan berkeringat, pada saat itulah di depan kuburan ada kebun pisang, terciumlah bau yang menyengat tapi bukan melati melainkan bau anyir dan busuk yang menyengat.

“ Har… kamu nyium bau busuk nggak ?.” tanya Tono.

“ Iya no…. bau busuk dan anyir, hoekk.” jawab Harto.

Dan disitulah mereka melihat sosok putih berdiri dan tinggi dan menyeramkan di kebun pisang tersebut, dan tidak salah lagi itu adalah pocong, sosok tersebut menatap mereka berdua dan lama-lama kemudian mereka berdua saling bertatapan

“ Har…..” ujar Tono.

“No…..” jawab Harto.

“ Itukan POCONGGG!!!!!.” ucap mereka berdua.

 Dan mereka berlari dengan amat sangat kencang, hingga pada akhirnya mereka tiba di dekat pos ronda,  dengan terengah-engah mereka  langsung pulang menuju ke rumah Tono karena Harto takut untuk pulang sendiri, dan disaat perjalan menuju rumah Tono mereka bertemu dengan kakek-kakek tadi, tetapi kakek tersebut hanya menyeringai dan melirik mereka. Dengan rasa ketakutan yang dahsyat mereka membuang muka dan berjalan cepat.

“Har berarti misteri tentang malam jum’at kliwon benar adanya” ujar Tono.

“ Aku bilang apa tadi, kita seharusnya mendengarkan kata kakek itu no.”jawab Harto

“Tapi dia itu siapa?,  tiba-tiba muncul dan menghilang, terus muncul lagi tadi kan?.” Tanya Harto dengan heran.

“ Aku juga gak tau karena muka dia asing, nggak kaya penduduk sini.”

 

Sejak kejadian tersebut mereka berdua tidak mau  untuk mendapat giliran ronda pada malam jum’at dan diganti pada hari selain hari itu, dan mereka belajar dari kejadian tersebut baiknya mendengarkan nasihat dari orang tua dan menghormati kepercayaan yang ada di daerah tersebut agar selamat dan terhindar dari gangguan-gangguan makhluk –makhluk halus  yang tidak diinginkan.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar