Senja di Balik
Jendela
Oleh: Aditya
Fajri P.
Mentari senja merayap turun, mewarnai langit Jakarta dengan gradasi jingga, merah, dan ungu. Di sebuah apartemen sederhana di bilangan Jakarta Pusat, seorang wanita bernama Riana duduk termenung di balik jendela. Usianya awal tiga puluhan, dengan mata yang menyimpan sejuta cerita dan rambut hitam panjang yang tergerai bebas.
Riana bekerja
sebagai seorang editor di sebuah penerbitan kecil. Pekerjaan yang dicintainya,
namun juga seringkali membuatnya merasa lelah dan jenuh. Hari ini, ia merasa
lebih dari sekadar lelah. Ia merasa kosong.
Beberapa bulan
lalu, Riana baru saja mengalami kegagalan dalam hubungan asmaranya. Hubungan
yang sudah ia bangun selama lima tahun, kandas begitu saja karena perbedaan
prinsip dan tujuan hidup. Luka itu masih terasa perih, meskipun ia berusaha
untuk menyembuhkannya.
Setiap senja
tiba, Riana selalu menghabiskan waktunya di depan jendela. Ia menikmati
keindahan langit senja, sambil merenungkan hidupnya. Senja selalu
mengingatkannya bahwa setiap akhir pasti ada awal yang baru. Bahwa setiap
kegelapan pasti ada cahaya yang menanti.
Tiba-tiba,
ponsel Riana berdering. Sebuah nama asing tertera di layar. Dengan ragu, ia
mengangkatnya.
"Halo,
selamat sore. Apa benar ini Riana?" suara seorang pria terdengar dari
seberang.
"Iya,
benar. Ini siapa ya?" jawab Riana dengan nada bingung.
"Saya
Arya, dari komunitas pecinta buku. Saya mendapatkan nomor Anda dari teman saya,
katanya Anda seorang editor dan sangat mencintai buku."
Riana sedikit
terkejut. Ia memang aktif di beberapa komunitas buku, namun ia tidak menyangka
ada yang menghubunginya secara pribadi.
"Oh iya,
benar. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini,
komunitas kami sedang mengadakan acara diskusi buku dan kami membutuhkan
seorang editor untuk memberikan masukan dan saran. Apakah Anda bersedia?"
Riana terdiam
sejenak. Ia merasa ragu, namun ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya
untuk menerima tawaran itu. Mungkin ini adalah kesempatan untuk keluar dari
zona nyamannya, untuk bertemu dengan orang-orang baru, dan untuk menemukan
kembali semangatnya.
"Baiklah,
saya bersedia," jawab Riana akhirnya.
Arya terdengar
senang. Ia menjelaskan detail acara dan berjanji akan mengirimkan informasi
lebih lanjut. Setelah menutup telepon, Riana merasa ada sedikit harapan yang
tumbuh di hatinya.
Beberapa hari
kemudian, Riana menghadiri acara diskusi buku tersebut. Ia bertemu dengan
banyak orang yang memiliki minat yang sama dengannya. Ia berbagi pengalaman,
memberikan masukan, dan belajar banyak hal baru. Ia merasa hidup kembali.
Di akhir acara,
Arya menghampiri Riana. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan
kontribusi Riana.
"Anda
sangat membantu kami, Riana. Saya sangat senang Anda bersedia datang,"
kata Arya dengan senyum tulus.
"Saya juga
senang bisa bergabung dengan acara ini, Arya. Terima kasih sudah mengundang
saya," jawab Riana.
Arya menatap
Riana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Riana, saya tahu Anda sedang
mengalami masa sulit. Tapi saya yakin, Anda adalah wanita yang kuat dan hebat.
Jangan biarkan masa lalu menghalangi Anda untuk meraih kebahagiaan."
Riana terkejut
mendengar ucapan Arya. Ia tidak menyangka Arya tahu tentang masalahnya.
"Bagaimana
Anda bisa tahu?" tanya Riana dengan nada heran.
"Saya
hanya bisa merasakan. Tapi percayalah, Riana. Anda pantas bahagia," jawab
Arya sambil tersenyum.
Senja kembali
menyapa Jakarta. Riana kembali duduk di balik jendela apartemennya. Namun kali
ini, ia tidak lagi merasa kosong. Ia merasa ada harapan, ada semangat, dan ada
cinta yang menanti di depan sana.
Senja di balik
jendela tidak lagi terasa kelabu. Senja itu kini berwarna-warni, seperti
pelangi setelah hujan. Riana tersenyum. Ia siap menyambut hari esok dengan hati
yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar