Bangku Belakang Asrama
Oleh: Fadzilah
Gerbang Asrama itu terasa lebih tinggi dari biasanya. Seorang anak Perempuan menggenggam jemari Ibunya erat-erat, seolah keberaniannya akan ikut runtuh jika ia melepaskannya. Anak itu bernama Naylis Sa’adah yang kerap di panggil Iyis.
“Jaga diri baik-baik ya, nak. Ibu tau, Iyis bisa, Iyis kuat, Iyis
hebat.” bisik Ibunya.
Naylis memaksakan tersenyum “Iya Ibu” jawab Naylis.
Naylis menatap mobil yang ditumpangi Ibunya perlahan menjauh dari
halaman Asrama. Suara riuh santri lain terdengar samar. Didalam hatinya hanya
ada satu kalimat yang berulang ‘aku belum siap’
~~~
Hari itu adalah hari pertama Naylis di Asrama. Malam pertama di
Asrama terasa sangat panjang. Naylis memeluk erat bantalnya.
“Kamu belum tidur?” tanya seseorang dari ranjang sebelah.
Naylis tersentak kaget lalu menjawab “Belum”
“Kamu kangen rumah ya?” tanya seseorang itu.
Naylis terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
“Semua juga begitu kok diawal” katanya dengan lembut. “Kenalin
namaku Memey”
“Naylis” jawab Naylis pelan.
~~~
Hari-hari
berikutnya, Naylis lebih banyak diam. Di kelas, ia lebih memilih untuk duduk di
bangku paling belakang. Tempat yang aman untuk Naylis, tidak ada yang akan
memperhatikannya.
Saat diskusi kelompok berlangsung, ia mencoba menyampaikan
pendapatnya. Namun, saat mau bicara temannya lebih dulu memotong ucapannya. Hal
itu membuat Naylis kembali terdiam. Ia mulai percaya mungkin memang lebih baik
ia tidak terlalu terlihat.
Suatu hari, ustadzah
masuk ke kelas dengan senyum yang lebar dan memberi tahu bahwa akan diadakan
lomba menulis.
“Minggu depan sekolah kita akan mengadakan lomba menulis cerpen antar
kelas. Temanya bebas, tapi harus mengandung nilai-nilai kehidupan dan tidak
boleh mengandung unsur percintaan yang bukan mahram”
Kelas saat itu langsung ramai
“Yang ikut pasti anak-anak yang depan lagi,” kata seseorang yang
duduk disamping Naylis.
Naylis menunduk. Menulis adalah satu-satunya cara ia bisa berbicara
tanpa dipotong.
Malam itu, ia duduk di meja kecil Asrama. Lampu belajar menyala
redup.
“Kamu sedang nulis apa?” tanya Memey yang penasaran.
“Cuma... cerita,” jawab Naylis
“Kalo boleh tau cerita tentang apa nihh..?” tanya Memey lagi
“emm.... tentang seseorang yang merasa kecil dan sedang belajar menjadi
kuat” jawab Naylis sambil tersenyum tipis sedangkan tangannya tidak berhenti
menulis.
“ouh ya udah. Awalan ya yis, selesai nulis itu langsung tidur ya
yis” kata Memey sambil berlalu ke ranjangnya.
~~~
Hari pengumuman
pemenang lomba pun telah tiba. Aula penuh dengan siswa. Naylis duduk dibarisan
belakang, seperti biasanya. Dan acara pun dimulai. Tibalah saatnya pengumuman
pemenang lomba cerpen tahun ini.
“Juara pertama lomba menulis cerpen tahun ini jatuh kepada.....
Naylis Sa’adah... Selamat untuk mbak Naylis Sa’adah, dimohon maju kedepan untuk
menerima hadiah.”
Beberapa siswa menoleh kebelakang bersamaan
“Naylis? Yang suka duduk dibelakang itu?” bisik teman-temannya
Naylis tersentak kaget, bahkan ia nyaris tidak percaya kalo ia bisa
menang lomba ini. Memey mendorong pelan lengan Naylis.
“ITU KAMU IYIS! CEPAT MAJU SANA!” ucap Memey dengan penuh semangat.
Langkah Naylis terasa ringan sekaligus gemetar. Ustadzah tersenyum
bangga pada Naylis.
“Cerita pendek dari Naylis mengajarkan kita bahwa tidak semua kekuatan
terlihat dari luar. Kadang kita merasa duduk dibangku paling belakang
kehidupan. Tidak terdengar. Tidak terlihat. Padahal disanalah kita sedang
belajar berdiri tanpa sandaran.” Kata ustadzah yang mengambil kutipan dari
cerpen Naylis
Aula hening. Beberapa siswa tampak menunduk, seolah tersentuh.
Setelah acara selesai, seorang teman yang dulu pernah memotong ucapan Naylis berjalan
mendekati Naylis dan Memey yang sedang berbincang-bincang.
“Naylis... maaf ya karna dulu aku pernah memotong ucapanmu.
Harusnya aku mendengarkan dulu pendapat darimu, tapi aku malah mengabaikan
pendapatmu.” Ucap temannya itu
Naylis tersenyum lembut “Nggk papa kok”
“Mulai sekarang... kalo diskusi, kamu harus ngomong lebih keras
lagi” katanya dengan bercanda.
Naylis hanya tertawa kecil mendengar ucapan temannya itu.
“Mari kita rayakan kemenanganmu ini dengan makan di kantin. Sebagai
permintaan maafku, gimana kalo aku aja yang traktir kalian berdua”. Ucap
temannya itu
“Boleh, Ayokk..” ucap Naylis bersamaan dengan Memey.
~~~
Beberapa tahun kemudian.
Naylis berdiri di halaman asrama, menyambut santri baru. Naylis tak
sengaja melihat seorang gadis kecil yang tampaknya sedang menangis. Lalu ia
menghampiri gadis kecil itu.
“Kamu kangen rumah ya?” tanyanya dengan lembut.
Gadis itu mengangguk kecil sebagai jawabannya.
“Tak mengapa. Kakak dulu juga begitu kok. Rasanya seperti
sendirian. Tapi percayalah, disini kamu akan menemukan dirimu yang lebih kuat,”
ucap Naylis menenangkan gadis kecil itu.
“Benarkah kak?” tanya gadis itu.
Naylis menangguk, “Semua orang itu kuat, hanya saja mereka belum
terbiasa”
~~~
Langit sore itu
berwarna jingga. Naylis menatap gedung asrama yang dulu terasa asing.
Namun kini tempat itu adalah rumah keduanya. Dan bangku belakang
bukan lagi tempat untuk bersembunyi. Ia adalah saksi bagaimana seorang gadis
yang merasa tak terlihat akhirnya menemukan suaranya sendiri.
Jangan meremehkan
seseorang hanya karena ia pendiam atau sering berada di belakang. Setiap orang
memiliki potensi masing-masing untuk bertumbuh kembang. Ketidaknyamanan dan
kesendirian sering kali jadi jalan menuju kedewasaan dan keberanian. So alone
or not, you have to keep walking forward.
TAMAT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar