Kamis, 19 Maret 2026

Bangku Belakang Asrama

 

Bangku Belakang Asrama

Oleh: Fadzilah



          Gerbang Asrama itu terasa lebih tinggi dari biasanya. Seorang anak Perempuan menggenggam jemari Ibunya erat-erat, seolah keberaniannya akan ikut runtuh jika ia melepaskannya. Anak itu bernama Naylis Sa’adah yang kerap di panggil Iyis.

“Jaga diri baik-baik ya, nak. Ibu tau, Iyis bisa, Iyis kuat, Iyis hebat.” bisik Ibunya.

Naylis memaksakan tersenyum “Iya Ibu” jawab Naylis.

Naylis menatap mobil yang ditumpangi Ibunya perlahan menjauh dari halaman Asrama. Suara riuh santri lain terdengar samar. Didalam hatinya hanya ada satu kalimat yang berulang ‘aku belum siap’

~~~

Hari itu adalah hari pertama Naylis di Asrama. Malam pertama di Asrama terasa sangat panjang. Naylis memeluk erat bantalnya.

“Kamu belum tidur?” tanya seseorang dari ranjang sebelah.

Naylis tersentak kaget lalu menjawab “Belum”

“Kamu kangen rumah ya?” tanya seseorang itu.

Naylis terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

“Semua juga begitu kok diawal” katanya dengan lembut. “Kenalin namaku Memey”

“Naylis” jawab Naylis pelan.

~~~

          Hari-hari berikutnya, Naylis lebih banyak diam. Di kelas, ia lebih memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Tempat yang aman untuk Naylis, tidak ada yang akan memperhatikannya.

Saat diskusi kelompok berlangsung, ia mencoba menyampaikan pendapatnya. Namun, saat mau bicara temannya lebih dulu memotong ucapannya. Hal itu membuat Naylis kembali terdiam. Ia mulai percaya mungkin memang lebih baik ia tidak terlalu terlihat.

          Suatu hari, ustadzah masuk ke kelas dengan senyum yang lebar dan memberi tahu bahwa akan diadakan lomba menulis.

“Minggu depan sekolah kita akan mengadakan lomba menulis cerpen antar kelas. Temanya bebas, tapi harus mengandung nilai-nilai kehidupan dan tidak boleh mengandung unsur percintaan yang bukan mahram”

Kelas saat itu langsung ramai

“Yang ikut pasti anak-anak yang depan lagi,” kata seseorang yang duduk disamping Naylis.

Naylis menunduk. Menulis adalah satu-satunya cara ia bisa berbicara tanpa dipotong.

Malam itu, ia duduk di meja kecil Asrama. Lampu belajar menyala redup.

“Kamu sedang nulis apa?” tanya Memey yang penasaran.

“Cuma... cerita,” jawab Naylis

“Kalo boleh tau cerita tentang apa nihh..?” tanya Memey lagi

“emm.... tentang seseorang yang merasa kecil dan sedang belajar menjadi kuat” jawab Naylis sambil tersenyum tipis sedangkan tangannya tidak berhenti menulis.

“ouh ya udah. Awalan ya yis, selesai nulis itu langsung tidur ya yis” kata Memey sambil berlalu ke ranjangnya.

~~~

          Hari pengumuman pemenang lomba pun telah tiba. Aula penuh dengan siswa. Naylis duduk dibarisan belakang, seperti biasanya. Dan acara pun dimulai. Tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba cerpen tahun ini.

“Juara pertama lomba menulis cerpen tahun ini jatuh kepada..... Naylis Sa’adah... Selamat untuk mbak Naylis Sa’adah, dimohon maju kedepan untuk menerima hadiah.”

Beberapa siswa menoleh kebelakang bersamaan

“Naylis? Yang suka duduk dibelakang itu?” bisik teman-temannya

Naylis tersentak kaget, bahkan ia nyaris tidak percaya kalo ia bisa menang lomba ini. Memey mendorong pelan lengan Naylis.

“ITU KAMU IYIS! CEPAT MAJU SANA!” ucap Memey dengan penuh semangat.

Langkah Naylis terasa ringan sekaligus gemetar. Ustadzah tersenyum bangga pada Naylis.

“Cerita pendek dari Naylis mengajarkan kita bahwa tidak semua kekuatan terlihat dari luar. Kadang kita merasa duduk dibangku paling belakang kehidupan. Tidak terdengar. Tidak terlihat. Padahal disanalah kita sedang belajar berdiri tanpa sandaran.” Kata ustadzah yang mengambil kutipan dari cerpen Naylis

Aula hening. Beberapa siswa tampak menunduk, seolah tersentuh. Setelah acara selesai, seorang teman yang dulu pernah memotong ucapan Naylis berjalan mendekati Naylis dan Memey yang sedang berbincang-bincang.

“Naylis... maaf ya karna dulu aku pernah memotong ucapanmu. Harusnya aku mendengarkan dulu pendapat darimu, tapi aku malah mengabaikan pendapatmu.” Ucap temannya itu

Naylis tersenyum lembut “Nggk papa kok”

“Mulai sekarang... kalo diskusi, kamu harus ngomong lebih keras lagi” katanya dengan bercanda.

Naylis hanya tertawa kecil mendengar ucapan temannya itu.

“Mari kita rayakan kemenanganmu ini dengan makan di kantin. Sebagai permintaan maafku, gimana kalo aku aja yang traktir kalian berdua”. Ucap temannya itu

“Boleh, Ayokk..” ucap Naylis bersamaan dengan Memey.

~~~

Beberapa tahun kemudian.

Naylis berdiri di halaman asrama, menyambut santri baru. Naylis tak sengaja melihat seorang gadis kecil yang tampaknya sedang menangis. Lalu ia menghampiri gadis kecil itu.

“Kamu kangen rumah ya?” tanyanya dengan lembut.

Gadis itu mengangguk kecil sebagai jawabannya.

“Tak mengapa. Kakak dulu juga begitu kok. Rasanya seperti sendirian. Tapi percayalah, disini kamu akan menemukan dirimu yang lebih kuat,” ucap Naylis menenangkan gadis kecil itu.

“Benarkah kak?” tanya gadis itu.

Naylis menangguk, “Semua orang itu kuat, hanya saja mereka belum terbiasa”

~~~

          Langit sore itu berwarna jingga. Naylis menatap gedung asrama yang dulu terasa asing.

Namun kini tempat itu adalah rumah keduanya. Dan bangku belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi. Ia adalah saksi bagaimana seorang gadis yang merasa tak terlihat akhirnya menemukan suaranya sendiri.

          Jangan meremehkan seseorang hanya karena ia pendiam atau sering berada di belakang. Setiap orang memiliki potensi masing-masing untuk bertumbuh kembang. Ketidaknyamanan dan kesendirian sering kali jadi jalan menuju kedewasaan dan keberanian. So alone or not, you have to keep walking forward.

 

TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar