Rabu, 04 Maret 2026

Misteri Rumah di Samping Masjid

 

Misteri Rumah di Samping Masjid

Oleh: Fadla Maulida Saputri



Setiap sore hari sebelum adzan Magrib berkumandang, lima anak kampung Watu Ireng selalu berkumpul di ujung gang. Dika, Fadil, Ilham, Sasa, dan Dini berjalan bersama menuju masjid untuk solat berjamaan kemudian mengaji bersama. Di samping masjid tua itu berdiri sebuah rumah kosong. Catnya sudah mengelupas, jendelanya pecah, dan halaman depannya dipenuhi tumbuhan ilalang yang tinggi.

Rumah itu sudah lama tak berpenghuni. Orang-orang bilang pemiliknya pindah ke luar kota. Sejak saat itu, suasananya terasa makin sunyi, apalagi saat langit mulai gelap.

Sore itu langit mendung. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya ketika mereka melewati rumah kosong tersebut.

“Tunggu…” bisik Sasa tiba-tiba.

Mereka semua berhenti.

Dari dalam rumah terdengar suara pelan… seperti tangisan.

Huuu… huuu…

Dika menelan ludah. “Kalian dengar juga?”

Belum sempat ada yang menjawab, terdengar suara lain, seperti sesuatu diseret di lantai kayu.

Krek… krek…

Ilham memeluk tasnya erat. “Itu pasti ada orang di dalam!”

“Atau…” Fadil tak berani melanjutkan.

Jantung mereka berdegup kencang. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berlari terbirit-birit menuju masjid.

 

Sepanjang mengaji, pikiran mereka tidak tenang dan tidak bisa fokus. Setelah selasai mengaji, Dika memberanikan diri untuk bercertia kepada Ustaz Rahman.

“Ustaz, tadi sebelum ke masjid kami dengar suara tangisan dari rumah kosong sebelah,” katanya pelan. “Seperti ada yang menangis dan menyeret barang.”

Ustaz Rahman tersenyum tenang. “Kalian yakin itu tangisan?”

“Iya, Ustaz. Jelas sekali,” jawab Dini.

Ustaz Rahman menggeleng lembut. “Kadang telinga kita bisa salah menangkap suara, apalagi kalau hati sudah merasa takut duluan. Bisa jadi itu hanya angin atau hewan.”

“Tapi tadi benar-benar menyeramkan, Ustaz,” sahut Ilham.

“Besok sore kita cek bersama ya,” ujar Ustaz. “Jangan langsung berprasangka sebelum tahu kebenarannya.”

 

Keesokan harinya, mereka datang lebih awal. Matahari masih tinggi meski langit kembali berawan. Ustaz Rahman berjalan paling depan menuju rumah kosong itu.

Pintu kayunya tak terkunci. Ia mendorongnya perlahan.

Kriiiiet…

Bau lembap menusuk hidung. Ruangan itu gelap, lantai kayunya sudah tua dan beberapa papannya tampak terangkat, angin masuk melalui jendela pecah yang membuat tirai usang berkibar.

kemudian

Huuu… huuu…

Suara itu terdengar lagi.

Dini spontan bersembunyi di belakang Sasa. “Itu, Ustaz!”

Ustaz Rahman tetap tenang. Ia memperhatikan sekeliling dengan saksama. Lalu ia menunjuk ke sudut ruangan.

Di sana ada kaleng bekas yang terikat tali rafia panjang. Ujung talinya tersangkut di jendela pecah. Setiap angin bertiup, tali itu tertarik dan kaleng bergesekan dengan lantai kayu.

Krek… krek…

Sementara di dinding terdapat celah sempit. Angin yang masuk melalui celah itu menimbulkan suara seperti rintihan panjang.

Huuu… huuu…

Anak-anak terdiam.

“Itu… cuma angin?” tanya Fadil pelan.

“Iya,” jawab Ustaz Rahman sambil tersenyum. “Suara angin yang melewati celah sempit bisa terdengar seperti tangisan. Ditambah kaleng yang terseret, jadilah suara menyeramkan.”

Dika menggaruk kepala. “Berarti kami salah, Ustaz?”

“Kalian tidak salah karena kalian memang mendengar suara. Tapi rasa takut membuat pikiran kalian menafsirkannya sebagai sesuatu yang lebih menakutkan dari kenyataannya.”

Mereka saling pandang, merasa lega sekaligus malu.

 

Di serambi masjid sebelum mengaji, Ustaz Rahman kembali berbicara kepada mereka.

“Anak-anak, sering kali yang kita takuti bukanlah kenyataan, melainkan bayangan dalam pikiran kita sendiri. Jika hati sudah dipenuhi prasangka, suara angin pun bisa terasa seperti ancaman.”

Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Allah memberi kita akal untuk berpikir dan mencari kebenaran. Jangan biarkan rasa takut menguasai hati hingga membuat kita menilai sesuatu tanpa bukti. Keberanian bukan berarti tidak merasa takut, tetapi berani mencari tahu dan tetap tenang meski hati bergetar.”

Sejak hari itu, setiap melewati rumah kosong di samping masjid, mereka tak lagi berlari ketakutan. Jika angin bertiup dan suara “huuu…” terdengar, mereka hanya saling tersenyum.

Rumah kosong itu tak lagi menjadi sumber cerita menyeramkan, melainkan pengingat bahwa tidak semua hal yang terdengar misterius adalah sesuatu yang gaib. Kadang, yang perlu diluruskan bukan keadaan di luar sana, melainkan cara kita memandang dan memahami apa yang kita dengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar