Misteri Rumah di Samping
Masjid
Oleh: Fadla Maulida Saputri
Setiap sore hari sebelum adzan Magrib
berkumandang, lima anak kampung Watu Ireng selalu berkumpul di ujung gang. Dika,
Fadil, Ilham, Sasa, dan Dini berjalan bersama menuju masjid untuk solat
berjamaan kemudian mengaji bersama. Di samping masjid tua itu berdiri sebuah
rumah kosong. Catnya sudah mengelupas, jendelanya pecah, dan halaman depannya
dipenuhi tumbuhan ilalang yang tinggi.
Rumah itu sudah lama tak berpenghuni.
Orang-orang bilang pemiliknya pindah ke luar kota. Sejak saat itu, suasananya
terasa makin sunyi, apalagi saat langit mulai gelap.
Sore itu langit mendung. Angin bertiup
lebih kencang dari biasanya ketika mereka melewati rumah kosong tersebut.
“Tunggu…” bisik Sasa tiba-tiba.
Mereka semua berhenti.
Dari dalam rumah terdengar suara pelan…
seperti tangisan.
Huuu… huuu…
Dika menelan ludah. “Kalian dengar
juga?”
Belum sempat ada yang menjawab,
terdengar suara lain, seperti sesuatu diseret di lantai kayu.
Krek… krek…
Ilham memeluk tasnya erat. “Itu pasti
ada orang di dalam!”
“Atau…” Fadil tak berani melanjutkan.
Jantung mereka berdegup kencang. Tanpa
berkata apa-apa lagi, mereka berlari terbirit-birit menuju masjid.
Sepanjang mengaji, pikiran mereka tidak
tenang dan tidak bisa fokus. Setelah selasai mengaji, Dika memberanikan diri
untuk bercertia kepada Ustaz Rahman.
“Ustaz, tadi sebelum ke masjid kami
dengar suara tangisan dari rumah kosong sebelah,” katanya pelan. “Seperti ada
yang menangis dan menyeret barang.”
Ustaz Rahman tersenyum tenang. “Kalian
yakin itu tangisan?”
“Iya, Ustaz. Jelas sekali,” jawab Dini.
Ustaz Rahman menggeleng lembut. “Kadang
telinga kita bisa salah menangkap suara, apalagi kalau hati sudah merasa takut
duluan. Bisa jadi itu hanya angin atau hewan.”
“Tapi tadi benar-benar menyeramkan,
Ustaz,” sahut Ilham.
“Besok sore kita cek bersama ya,” ujar
Ustaz. “Jangan langsung berprasangka sebelum tahu kebenarannya.”
Keesokan harinya, mereka datang lebih
awal. Matahari masih tinggi meski langit kembali berawan. Ustaz Rahman berjalan
paling depan menuju rumah kosong itu.
Pintu kayunya tak terkunci. Ia
mendorongnya perlahan.
Kriiiiet…
Bau lembap menusuk hidung. Ruangan itu
gelap, lantai kayunya sudah tua dan beberapa papannya tampak terangkat, angin
masuk melalui jendela pecah yang membuat tirai usang berkibar.
kemudian
Huuu… huuu…
Suara itu terdengar lagi.
Dini spontan bersembunyi di belakang
Sasa. “Itu, Ustaz!”
Ustaz Rahman tetap tenang. Ia
memperhatikan sekeliling dengan saksama. Lalu ia menunjuk ke sudut ruangan.
Di sana ada kaleng bekas yang terikat
tali rafia panjang. Ujung talinya tersangkut di jendela pecah. Setiap angin
bertiup, tali itu tertarik dan kaleng bergesekan dengan lantai kayu.
Krek… krek…
Sementara di dinding terdapat celah
sempit. Angin yang masuk melalui celah itu menimbulkan suara seperti rintihan
panjang.
Huuu… huuu…
Anak-anak terdiam.
“Itu… cuma angin?” tanya Fadil pelan.
“Iya,” jawab Ustaz Rahman sambil
tersenyum. “Suara angin yang melewati celah sempit bisa terdengar seperti
tangisan. Ditambah kaleng yang terseret, jadilah suara menyeramkan.”
Dika menggaruk kepala. “Berarti kami
salah, Ustaz?”
“Kalian tidak salah karena kalian memang
mendengar suara. Tapi rasa takut membuat pikiran kalian menafsirkannya sebagai
sesuatu yang lebih menakutkan dari kenyataannya.”
Mereka saling pandang, merasa lega
sekaligus malu.
Di serambi masjid sebelum mengaji, Ustaz
Rahman kembali berbicara kepada mereka.
“Anak-anak, sering kali yang kita takuti
bukanlah kenyataan, melainkan bayangan dalam pikiran kita sendiri. Jika hati
sudah dipenuhi prasangka, suara angin pun bisa terasa seperti ancaman.”
Mereka mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
“Allah memberi kita akal untuk berpikir
dan mencari kebenaran. Jangan biarkan rasa takut menguasai hati hingga membuat
kita menilai sesuatu tanpa bukti. Keberanian bukan berarti tidak merasa takut,
tetapi berani mencari tahu dan tetap tenang meski hati bergetar.”
Sejak hari itu, setiap melewati rumah
kosong di samping masjid, mereka tak lagi berlari ketakutan. Jika angin bertiup
dan suara “huuu…” terdengar, mereka hanya saling tersenyum.
Rumah kosong itu tak lagi menjadi sumber
cerita menyeramkan, melainkan pengingat bahwa tidak semua hal yang terdengar
misterius adalah sesuatu yang gaib. Kadang, yang perlu diluruskan bukan keadaan
di luar sana, melainkan cara kita memandang dan memahami apa yang kita dengar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar