Sahabat yang Menjadi Rumah Pulang
Oleh: Nadia Rosyada
Hujan turun
perlahan di sore itu, membasahi seluruh jalanan dan menyamarkan langkah-langkah
orang yang berjalan untuk pulang. Akan tetapi tidak semua orang benar-benar
mempunyai tempat untuk pulang. Begitulah yang dirasakan oleh Nana.
Bagi Nana, rumah
hanya sebatas bangunan, Dinding yang kokoh, atap yang tidak bocor, tetapi
suasananya sering terasa sangat dingin. Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan
pekerjaan dan fokus dengan urusan masing-masing.
Di sekolah, Nana
dikenal sebagai anak yang pendiam. Ia jarang mengeluh, jarang untuk menangis,
dan hampir tidak pernah bercerita. Sampai pada suatu hari, Cahya duduk
disampingnya.
Cahya sangat
berbeda dengan dirinya. Ia cerewet, suka bercanda, dan sering membuat suasana
kelas menjadi hidup. Awalnya, Nana merasa terganggu. Namun tak tau bagaimana,
obrolan-obrolan ringan Cahya perlahan menjadi hal yang ia tunggu.
"Kenapa
kamu selalu sendirian?" tanya Cahya di sela-sela obrolan mereka.
Nana mengangkat
bahu, "biasa saja."
Cahya tidak
memaksa Nana untuk bercerita. Ia hanya tersenyum. "Kalau begitu, mulai
sekarang kamu nggak sendirian lagi."
Sejak hari itu,
Cahya menjadi seperti bayangan gang setia. Ia menunggu Nana saat jam istirahat,
menemaninya ke perpustakaan, bahkan Cahya rela pulang lebih sore hanya untuk
mendengar Nana bercerita, meski cerita itu sering kali sederhana.
Suatu sore, Nana
akhirnya menangis. Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu menahan semuanya
sendiri.
"Aku capek,
Cah" ucapnya lirih. "Aku merasa ga pernah di dengar saat
dirumah."
Cahya tak
memberi nasihat panjang. Ia hanya duduk di samping Nana, membiarkannya menangis
dan sesekali ia berkata, "Aku disini."
Kalimat itu
sangat sederhana. Tetapi bagi Nana, rasanya seperti pelukan yang hangat di
tengah badai.
Hari-hari telah
berlalu. Persahabatan mereka semakin erat tanpa terasa. Mereka saling
menyemangati satu sama lain, saat nilai ujian jelek, saling menguatkan ketika
salah satu merasa gagal. Cahya pernah berkata, " Rumah itu bukan cuman
hanya tempat tinggal. Rumah itu tempat kamu bisa jadi diri sendiri tanpa merasa
dihakimi."
Nana mengingat
kalimat itu dengan baik-baik.
Dan ia sadar,
selama ini Cahya telah menjadi rumah pulangnya.
Bukan karena
Cahya sempurna. Ia juga punya masalah, punya luka yang tidak selalu ia
ceritakan. Tapi di antara mereka ada rasa saling percaya. Ada ruang aman untuk
rapuh, untuk tertawa, untuk diam bersama tanpa merasa canggung.
Suatu malam,
setelah pertengkaran hebat di rumah, Nana berjalan tanpa tujuan. Tangannya
gemetar saat mengetik pesan.
"Aku boleh ke
tempat biasa?"
Balasan Cahya
datang dengan cepat. "Selalu boleh."
Mereka datang ke
bangku taman deket sekolah. Tak banyak kata yang terucap. Namun kehadiran Cahya
cukup untuk membuat dada Nana terasa lebih lega.
"aku ga
tahu harus bagaimana," bisik Nana.
"Kira
hadapi pelan-pelan," jawab Cahya. "Kamu nggak sendirian Na."
Di bawah lampu
taman yang redup, Nana tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia mengerti arti
pulang yang sesungguhnya. Pulang bukan sekedar soal alamat. Pulang adalah
perasaan yang diterima.
Sejak saat itu,
Nana belajar bahwa rumah bisa berupa seseorang yang mendengar tanpa menghakimi,
menguatkan tanpa meremehkan, dan bertahan tanpa diminta.
Dan setiap
langkah hidupnya, Nana tahu, sejauh apa pun ia pergi, akan selalu ada satu
tempat yang bisa ia tuju tanpa dengan rasa ragu.
Seorang sahabat
yang menjadi rumah pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar