RAGA TANPA JIWA
By : Dzaki Fahmiddin
Langit sore di desa itu selalu berwarna jingga, seolah-olah matahari enggan benar-benar pergi. Angin berhembus pelan, menyentuh dedaunan dan menyisakan suara lirih yang terdengar seperti bisikan rahasia.
Di beranda rumah kayu yang mulai lapuk,
Arman duduk termenung. Tatapannya kosong, lurus ke hamparan sawah yang
membentang luas. Orang-orang mengenalnya sebagai lelaki yang taat, rajin
bekerja, tak pernah mengeluh. Ia tersenyum saat berpapasan dengan tetangga,
menyapa dengan ramah, bahkan sering membantu tanpa diminta, Namun tak ada yang
tahu, di balik senyum itu, hatinya hampa.Sejak kepergian ibunya setahun lalu,
hidup Arman berubah. Rumah yang dulu hangat kini terasa dingin. Tawa yang dulu
memenuhi ruang tamu kini hanya tinggal gema dalam ingatan. Ia tetap bangun
pagi, tetap bekerja di ladang, tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Tapi
semuanya terasa seperti gerakan tanpa makna—seperti tubuh yang bergerak tanpa
ruh yang menyertainya.
Suatu malam, saat hujan turun deras, Arman
duduk sendirian di dalam rumah. Ia menatap foto ibunya yang tergantung di
dinding. “Aku masih di sini, Bu,” bisiknya pelan. “Tapi rasanya aku tidak
benar-benar hidup.”
Air mata jatuh tanpa suara. Bukan karena
ia lemah, tapi karena ia lelah. Lelah berpura-pura kuat. Lelah terlihat
baik-baik saja.
Hari-hari berikutnya berjalan sama. Hingga
suatu pagi, seorang anak kecil bernama Rafi datang ke ladangnya. Anak itu
adalah yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Dengan polos, Rafi berkata,
“Om Arman, boleh ikut bantu? Kata Nenek, kalau bantu orang baik, nanti jadi
orang baik juga.” Arman tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang terasa hangat di
dadanya, Mereka bekerja Bersama, Rafi
banyak bercerita—tentang mimpinya ingin sekolah tinggi, tentang neneknya yang
sering sakit, tentang harapannya agar bisa membahagiakan satu-satunya keluarga
yang ia punya.
Arman mendengarkan. Tanpa sadar, ia mulai
berbicara juga. Tentang ibunya. Tentang kesepian. Tentang rasa kehilangan yang
tak pernah benar-benar hilang.
Sejak hari itu, Rafi sering datang. Rumah
yang dulu sunyi perlahan terisi suara tawa kecil. Arman mulai memasak bukan
hanya untuk dirinya, tapi juga untuk anak itu. Ia mulai peduli lagi. Mulai
merasa dibutuhkan.
Suatu sore,
saat mereka duduk di beranda, Rafi berkata, “Om, dulu Om sedih ya?”
Arman terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“Sekarang?”
Arman memandang
langit yang kembali jingga. Kali ini, warnanya terasa lebih hidup. “Sekarang…
Om masih rindu. Tapi Om sudah tidak kosong lagi.”
Ia akhirnya mengerti—jiwa yang hilang
bukan benar-benar pergi. Ia hanya tertutup oleh luka dan kesedihan. Dan
terkadang, untuk menghidupkannya kembali, kita hanya perlu satu alasan untuk
peduli.
Sejak saat itu, Arman tak lagi merasa
seperti raga tanpa jiwa. Ia tetap merindukan ibunya, tapi kini ia punya tujuan.
Ia ingin menjadi cahaya kecil bagi Rafi, sebagaimana ibunya dulu menjadi cahaya
baginya, Langit tetap jingga setiap sore. Tapi kali ini, Arman tidak lagi
menatapnya dengan tatapan kosong. Ia menatapnya dengan harapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar