Kamis, 06 Mei 2021

Siapa Dia dalam Mimpiku

 Siapa Dia dalam Mimpiku

Cerpen karya: Alan Maulana (Penjaga kebun binatang)




 "Mardi, kamu harus kuat. Mar. Bangun, Mar."

Pak Tejo mengelus keningku. Mendekap tubuhku dengan gemetar. Tubuhnya yang basah kuyup dipenuhi keringat itu membuatku tidak betah berlama-lama berada dalam dekapannya. Bau apek di badannya itu seperti orang yang belum mandi satu tahun. Tapi ada hal yang lain lagi yang harus mampu aku tahan, yaitu luka benjol di kepalaku yang darahnya selalu bercucuran ini. Pening, perih, dan sedih sekali.


"Mar, bapak panggilkan penjaga untuk membuatkanmu teh hangat ya? Bapak cemas melihat keadaanmu."


Aku menggelengkan kepala dan melepaskan dekapannya. Aku meremas jari, membentuk kepalan tinju dan aku pukulkan ke badan tembok. Awalnya hanya pukulan biasa, lalu kukencangkan pukulanku layaknya petinju profesional. Memukul sejadi-jadinya hingga kedua tanganku berdarah.


Pak Tejo mencoba menghalangiku. Ia tegakkan badannya yang sudah tua renta itu tepat di depanku. Menyuruhku untuk tetap tenang dan sabar. Ingin sekali aku mendorongnya untuk menjauh. Akan tetapi saat kulihat wajahnya, aku jadi ingat cerita naas yang menimpanya di negeri orang ini. Seseorang menipunya bekerja di sebuah apartemen. Mereka menjebaknya dengan menjanjikan tempat tinggal yang enak dan gaji yang lumayan besar. Tanpa pikir panjang, karena butuh sekali pekerjaan, Pak Tejo pun masuk ke dalam perangkapnya. Tanpa ia ketahui dan tanpa ia sadari, ia telah dijebak. Ia difitnah melakukan pengeboman sebuah tempat ibadah yang berada di pinggir kota Madinah. Tanpa ia sadari, orang yang menjanjikan pekerjaan kepadanya itu memanfaatkannya hanya untuk cuci tangan.


Pak Tejo sangat terkejut ketika polisi Arab Saudi mendobrak pintu apartemennya. Ia merasa heran, tindak kejahatan apa yang ia perbuat sehingga polisi datang menemuinya? Pak Tejo bertanya-tanya. Karena merasa tidak bersalah, Pak Tejo mempersilahkan para polisi menggeledah kamar apartemennya. Dan, terkejutnya Pak Tejo saat di dalam apartemennya didapati barang bukti sebuah bahan perakit bom. Tanpa ia sadari, ia telah dijebak.  Aku mengetahui cerita itu dari Pak Tejo, ketika pertama kali masuk sel ini.


"Astaga, Mardi. Ada apa dengan kamu? Berhentilah bersikap konyol, Nak. Kita harus yakin terhadap pertolongan Allah. Kau ingat Nabi Yusuf pun pernah difitnah dan masuk penjara seperti kita berdua ini? "


Pak Tejo selalu mampu menguatkanku. Akan tetapi, saat terlintas perlakuan Maheer yang memfitnah dan menuduhku mencuri, kemarahanku kambuh lagi. Selama di dalam sel ini, aku selalu dipukulinya. Entah bagaimana kebijakannya, awalnya aku dihantui oleh hukum negara ini yang katanya jika ada orang yang mempunyai kasus mencuri maka akan dihukum dengan cara tangannya dipotong. Hukum qisas istilahnya. Akan tetapi, malah Maheer yang selalu menghukumku. Ia yang melaporkan, ia juga yang menghukum. Aku rasa ada keanehan di dalam sel ini. Mana mungkin pemerintah Arab Saudi memperbolehkan seperti itu. Aku selalu bertanya-tanya, apakah ini bukan sel milik pemerintah? Apakah sel ini dibuat oleh Maheer dan kelompoknya? Aku tidak tahu karena pada saat aku masuk ke dalam sel ini, wajahku sengaja mereka tutup dengan karung goni.


Selama berada di dalam sel aku selalu bermimpi. Dalam mimpiku, aku selalu didatangi oleh seorang perempuan yang sangat cantik sekali. Wajahnya putih, senyumnya sangat manis. Bila kau tahu Chelsea Olivia, kurang lebih seperti itulah rupanya. Tak jauh berbeda. Anehnya lagi, aku bermimpi bukan saat aku sengaja tidur. Melainkan pada saat aku dipukuli oleh Maheer dan para penjaga lainnya hingga aku pingsan, barulah saat itu, perempuan itu hadir menguatkanku dalam mimpi. Kalau boleh memilih, ingin aku berada di alam mimpi saja bersamanya dibandingkan hidup di dalam sel ini dan disiksa setiap hari.


"Apakah kebebasan bagi kita itu ada, Pak Tejo? Lihatlah para polisi itu, setahuku polisi Arab Saudi seragamnya tidak begitu. Memang, selama dalam sel ini aku selalu bermimpi. Selama berada di dalam penjara ini, aku selalu bermimpi bertemu gadis cantik yang selalu memakai mukena. Melambaikan tangannya kepadaku. Selalu menguatkanku. Perkataannya lah yang selalu aku jadikan sebagai sebuah motivasi untuk tetap kuat. Tetap tegar. Aneh, siapa dia yang ada di dalam mimpiku?"


Aku bertanya kepada Pak Tejo. Barangkali dia bisa menafsirkan mimpiku. Pikirku begitu. Pak Tejo mengelus pundakku. Entah mengapa, aku merasakan kehangatan seorang ayah ketika dia menasihatiku.


"Mar. Kau ini sudah dewasa. Wajahmu tampan, bersih dan putih. Melihatmu, seperti melihat Aldi Taher di masa lalu. Masa-masa dia masih main sinetron. Mirip sekali. Tak jauh beda. Aku tidak yakin kalau kau mencuri. Sangat-sangat tidak percaya. Mungkin, kita berdua ini hanya dijebak Mar. Ada oknum tertentu yang ingin cuci tangan."


"Sudahlah, Pak Tejo. Jangan buat aku jadi mengingat fitnah Maheer itu. Aku kesal kepadanya, Pak. Aku selalu ingin memukulnya jika teringat kejadian itu."


"Kejadian yang mana, Mar? Selama di sini, kau belum pernah cerita bagaimana awalnya kau dituduh sebagai pencuri."


"Awalnya aku bekerja sebagai sopir. Majikanku sangat baik dan mempercayaiku. Sampai tiba saatnya, saat itu Kumar dan Maheer bekerja di sana, mereka berdua itu mencoba terus menyingkirkanku. Jadilah aku begini. Dia memfitnah aku mencuri perhiasan milik majikanku. Alangkah sialnya lagi mereka yang mencuri, aku yang kena getahnya. Mereka sengaja menyimpan perhiasan itu di bawah tempat tidurku."


Di tengah-tengah khusyuknya kami mengobrol, dua orang penjaga menyeretku ke luar ruangan penjara. Mereka menyeretku layaknya barang yang paling hina.  Aku merasa senang ketika melihat keadaan sekitar luar penjara. Aku merasa senang karena aku pikir aku akan bebas hari ini. Akan tetapi, para penjaga sel itu membungkus wajahku dengan karung goni. Mereka menghantam kepalaku dengan entah alat apa aku tak tahu. Yang jelas, aku bisa merasakan kalau itu terbuat dari besi. Mereka semua itu membuatku menjadi terkapar lagi. Tidak sadarkan diri lagi. Bertemu dia lagi. Seseorang yang selalu menguatkanku dalam mimpi.


"Hei, bodoh. Cobaan seperti ini saja kau terus mengeluh. Ingat, Mardi. Allah menyuruhmu untuk ikhlas. Kamu sedang diuji. Apa kau tidak ingat akan sabda Rasulullah bahwa sesungguhnya Allah berfirman, Jika Aku menguji hamba-Ku dengan dua yang dicintainya, kemudian dia bersabar, maka Aku akan mengganti keduanya itu untuknya dengan surga. Bersabarlah, Mardi. Kalaupun kamu gugur hari ini, surga menantimu."


Aku menangis sejadi-jadinya. Lagi-lagi gadis itu mampu menguatkanku.  Aku terperanjat, terbangun dari mimpi. Aku merasakan sakit kepala yang begitu dahsyatnya. Hanya gelap yang bisa aku lihat, karena wajahku tertutup karung goni. Entah kapan aku bisa bebas dari sini. Dari penjara ini.  Setiap detik selalu berpikir, siapakah dia yang selalu ada dalam mimpiku ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar