Sabtu, 28 Februari 2026

Di Bawah Lampu Perpustakaan yang Nyaris Padam

 

Di Bawah Lampu Perpustakaan yang Nyaris Padam

Oleh: Ni’mah Mar’atus Sa’diyah

 

 


Listrik di perpustakaan kampus itu sering berkedip menjelang tengah malam. Cahaya lampu yang temaram memantul di rak-rak buku tua, menciptakan bayangan panjang seperti lorong tak berujung. Di sanalah Raka duduk sendirian, menatap layar laptopnya yang kosong.Deadline esai tinggal dua hari. ‘’Kenapa setiap mau nulis, otak rasanya kosong?” gumamnya pelan.

Ia mahasiswa semester lima jurusan sastra. Ironisnya, ia justru kehilangan kata-kata. Sejak awal kuliah, ia selalu percaya bahwa menulis adalah panggilan jiwa. Namun malam itu, panggilan itu terasa seperti suara asing.Tiba-tiba kursi di depannya bergeser. ‘’Kamu masih di sini juga?” suara Naya memecah sunyi.Raka mengangkat wajah. “Iya. Lagi perang sama diri sendiri.”

Naya tertawa kecil. “Topiknya apa?”

“‘Makna Rumah dalam Karya Sastra Modern.’ Kedengarannya sederhana, tapi entah kenapa rasanya berat.”

Naya duduk, membuka buku catatannya. “Berat karena kamu lagi nggak baik-baik saja, ya?”

Raka terdiam.Sejak ayahnya meninggal setahun lalu, rumah tak lagi terasa sama. Ibunya sibuk bekerja. Ia memilih tinggal di kos dekat kampus. Pulang hanya sesekali. Setiap kali melewati gerbang rumah lamanya, ia merasa seperti tamu. ‘’Aku cuma nggak tahu lagi arti rumah itu apa,” jawabnya lirih.Naya menatapnya serius. “Mungkin itu yang harus kamu tulis. Bukan teori dari buku. Tapi dari pengalamanmu. ‘’Raka menghela napas. “Tapi ini tugas akademik, Nay. Harus pakai referensi, teori, kutipan.”

“Teori bisa dicari,” sahut Naya. “Tapi kejujuran nggak bisa dipinjam. ‘’Kata-kata itu menggantung di udara.Malam semakin larut. Perpustakaan hampir kosong. Hanya suara pendingin ruangan dan lembaran buku yang dibalik sesekali.Raka mulai mengetik.Ia menulis tentang rumah sebagai ruang fisik, tentang dinding dan atap. Lalu ia menulis tentang rumah sebagai ingatan—tentang suara ayahnya yang dulu memanggil dari ruang tamu, tentang aroma kopi pagi, tentang tawa yang kini tinggal gema.Air matanya menetes tanpa ia sadari.

“Nulis apa?” tanya Naya pelan. ‘’Rumah yang hilang,” jawab Raka, masih menatap layer. ‘’Rumah nggak pernah benar-benar hilang,” kata Naya. “Kadang cuma pindah tempat. ‘’Raka berhenti mengetik. “Pindah ke mana?”“Ke dalam diri kita. ‘’Sunyi kembali hadir, tapi kali ini terasa hangat.Dua hari kemudian, Raka mempresentasikan esainya di kelas. Suaranya sempat bergetar di awal, namun perlahan ia menemukan ritmenya. ‘’Rumah bukan sekadar bangunan,” ucapnya di depan teman-temannya. “Ia adalah ruang yang memberi kita alasan untuk kembali. Dan ketika ruang itu berubah, kita dipaksa mendefinisikan ulang arti pulang. ‘’Kelas hening. Beberapa mahasiswa terlihat mengangguk.Setelah presentasi selesai, dosennya tersenyum. ‘’Ini bukan hanya analisis sastra,” kata beliau. “Ini refleksi yang matang. Teruslah menulis dengan jujur.”

Di luar kelas, Naya menepuk bahu Raka. “Tuh kan, teori bisa menyusul.”

Raka tersenyum kecil. “Ternyata yang kosong bukan otakku. Cuma hatiku yang belum sempat diajak bicara.”

Angin sore berembus pelan di pelataran kampus. Mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Raka menatap langit yang mulai berubah jingga.

“Makasih, Nay.”

“Untuk apa?”

“Udah ngingetin kalau menulis itu bukan soal terlihat pintar. Tapi soal berani jujur. ‘’Naya tersenyum. “Sastra itu bukan cuma kumpulan kata. Ia cara kita berdamai dengan hidup. ‘’Raka mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ringan. Mungkin rumahnya memang telah berubah bentuk. Bukan lagi sebuah alamat, melainkan keberanian untuk menerima kehilangan.

Epilog:

Beberapa bulan kemudian, tulisan Raka dimuat di buletin kampus. Banyak mahasiswa yang mengirim pesan, mengaku merasakan hal yang sama tentang rumah dan kehilangan.Raka menyadari, ketika seseorang berani membuka luka lewat kata-kata, ia bukan hanya menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain yang diam-diam terluka.Ia pun kembali ke perpustakaan suatu malam, duduk di bawah lampu yang sama. Kali ini bukan untuk mencari kata-kata, melainkan untuk merawatnya.

Amanat:

Sastra bukan sekadar teori dan tugas akademik, melainkan ruang untuk kejujuran dan refleksi diri. Dengan keberanian menulis dari pengalaman, kita dapat memahami hidup sekaligus memberi makna bagi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar