“Kak…adek…..sini makan dulu” Ibu keluar dari pintu rumah, berseru menyuruh aku dan adekku untuk makan siang. Aku berniat berhenti dan menghampiri ibu. Namun, adekku berseru keras “gamauu!! ayo kakk jalan lagii” adekku berontak, kakinya menghentak keras, tanda dia tidak mau berhenti. Di ujung sana, aku melihat ibu menghela nafas pelan.Setelah itu, ibu Kembali masuk kedalam rumah, membuat aku terdiam sejenak “kakakk, ayoo jalan lagii, aku gamau makann” seruan kesal dari adekku membuatku Kembali tersadar dan mulai mengayuh pelan sepeda yang sedang ku kendarai. Siang itu, aku bersepeda bersama adekku di halaman rumah. Kami tertawa bersama. Cuaca panas siang itu tak membuat kami berhenti begitu saja. Ditengah tawaku dan adekku siang itu, ibu Kembali keluar rumah. Kali ini, di tangan ibu, terdapat satu piring nasi dan lauk pauk. “kak, sini kak isi bensin dulu” aku tersenyum, ternyata, ibu mempunyai cara agar kita tetep bisa makan walaupun Tengah bermain.
Aku
mengayuh pelan sepedaku mendekati ibu. Aku menghentikan sepedaku tepat di depan
ibu, membuat ibu tersenyum dan langsung menyuapi ku sesuap nasi. Adek ku
mengerut, mengintip dari balik tubuhku “kakakk ayoo jalan lagii” mendengar
penuturan adek, ibu tersenyum lembut dan langsung menghampiri adek yang duduk
di boncengan belakangku. “adek sini isi bensin dulu, sepeda nya gabisa jalan
kalau nggak diisi bensin” ibu tersenyum lembut, menyodorkan sesuap nasi ke
depan mulut adek. “kalau nggak isi bensin nggak bisa jalan ya bu?” ibu tertawa
kecil, membuatku ikut tertawa kecil juga “iya, gabisa jalan dong kalau belum
diisi bensin, sini isi bensin dulu” akhirnya, adek pun membuka mulutnya,
menerima suapan nasi dari ibu. Ibu tersenyum menatapku, seakan memberi kode
untuk Kembali mengayuh sepeda. “yeyy sudah diisi bensin, bruumm bruumm, kita
jalann….” Aku Kembali mengayuh sepedah ku, membuat adek ku bersorak senang.
Kami
Kembali mengelilingi halaman rumah seperti sebelumnya. Namun, sesekali kami
berhenti di depan ibu untuk mengisi bensin seperti sebelumnya. Adekku tertawa
senang, aku tersenyum riang, dan ibu tertawa kecil. Siang itu, kebahagiaan kami
terasa penuh. Di bawah teriknya matahari siang, kami tertawa bersama. Menikmati
waktu yang kami lalui. Ditengah tawa riang kami bertiga, tiba-tiba ayah datang
dengan jaring ikan yang diseret di belakangnya. “wooww, lagi apa nih, seneng
banget kayaknya?” Suara ayah membuatku seketika menghentikan sepeda. Aku dan
adek turun dari sepeda. Kami berlarian menyambut ayah pulang dan langsung
memeluknya. “ayahhh, ayoo ikut main, pasti akan tambah seru kalau ayah ikut
main” celetukan adek membuat ayah tersenyum dan adek langsung menghampiri kita.
“adekk, kan ayah baru pulang, kita mainnya bertiga saja ya? Biar ayah
istirahat” perkataan ibu membuat adek seketika merengut. “gapapa bu, ayah ikut
main yaa, tapi ayah mau cuci tangan dulu” ucapan ayah Bagai angin segar yang
menerpa senyum adek hingga merekah sempurna. “Yeyyyy, ayah ikut main”.
Siang
itu, rasanya kebahagiaanku terasa penuh. Sesederhana bermain sepeda di halaman
rumah mampu menciptakan memory indah di ingatan kita. Tawa kami menggantung di
cakrawala, menyisakan kebahagiaan yang tiada tara. Dadaku rasanya penuh, sangat
penuh. Ternyata, Bahagia memang sesederhana itu. Tak peduli dengan letar
ekonomi yang rendah, tak peduli dengan pandangan social yang buruk. Terlepas
dari itu semua, aku Bahagia. Sungguh Bahagia. Karena, mau seburuk apapun orang
menilai kami diluar sana, kami selalu berdiri bersama, saling melindungi satu
sama lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar