Sabtu, 28 Februari 2026

Siang yang Penuh

 


Siang yang Penuh
Oleh: Risma Amelia

 

“Kak…adek…..sini makan dulu” Ibu keluar dari pintu rumah, berseru menyuruh aku dan adekku untuk makan siang. Aku berniat berhenti dan menghampiri ibu. Namun, adekku berseru keras “gamauu!! ayo kakk jalan lagii” adekku berontak, kakinya menghentak keras, tanda dia tidak mau berhenti. Di ujung sana, aku melihat ibu menghela nafas pelan.
Setelah itu, ibu Kembali masuk kedalam rumah, membuat aku terdiam sejenak “kakakk, ayoo jalan lagii, aku gamau makann” seruan kesal dari adekku membuatku Kembali tersadar dan mulai mengayuh pelan sepeda yang sedang ku kendarai. Siang itu, aku bersepeda bersama adekku di halaman rumah. Kami tertawa bersama. Cuaca panas siang itu tak membuat kami berhenti begitu saja. Ditengah tawaku dan adekku siang itu, ibu Kembali keluar rumah. Kali ini, di tangan ibu, terdapat satu piring nasi dan lauk pauk. “kak, sini kak isi bensin dulu” aku tersenyum, ternyata, ibu mempunyai cara agar kita tetep bisa makan walaupun Tengah bermain.

Aku mengayuh pelan sepedaku mendekati ibu. Aku menghentikan sepedaku tepat di depan ibu, membuat ibu tersenyum dan langsung menyuapi ku sesuap nasi. Adek ku mengerut, mengintip dari balik tubuhku “kakakk ayoo jalan lagii” mendengar penuturan adek, ibu tersenyum lembut dan langsung menghampiri adek yang duduk di boncengan belakangku. “adek sini isi bensin dulu, sepeda nya gabisa jalan kalau nggak diisi bensin” ibu tersenyum lembut, menyodorkan sesuap nasi ke depan mulut adek. “kalau nggak isi bensin nggak bisa jalan ya bu?” ibu tertawa kecil, membuatku ikut tertawa kecil juga “iya, gabisa jalan dong kalau belum diisi bensin, sini isi bensin dulu” akhirnya, adek pun membuka mulutnya, menerima suapan nasi dari ibu. Ibu tersenyum menatapku, seakan memberi kode untuk Kembali mengayuh sepeda. “yeyy sudah diisi bensin, bruumm bruumm, kita jalann….” Aku Kembali mengayuh sepedah ku, membuat adek ku bersorak senang.

Kami Kembali mengelilingi halaman rumah seperti sebelumnya. Namun, sesekali kami berhenti di depan ibu untuk mengisi bensin seperti sebelumnya. Adekku tertawa senang, aku tersenyum riang, dan ibu tertawa kecil. Siang itu, kebahagiaan kami terasa penuh. Di bawah teriknya matahari siang, kami tertawa bersama. Menikmati waktu yang kami lalui. Ditengah tawa riang kami bertiga, tiba-tiba ayah datang dengan jaring ikan yang diseret di belakangnya. “wooww, lagi apa nih, seneng banget kayaknya?” Suara ayah membuatku seketika menghentikan sepeda. Aku dan adek turun dari sepeda. Kami berlarian menyambut ayah pulang dan langsung memeluknya. “ayahhh, ayoo ikut main, pasti akan tambah seru kalau ayah ikut main” celetukan adek membuat ayah tersenyum dan adek langsung menghampiri kita. “adekk, kan ayah baru pulang, kita mainnya bertiga saja ya? Biar ayah istirahat” perkataan ibu membuat adek seketika merengut. “gapapa bu, ayah ikut main yaa, tapi ayah mau cuci tangan dulu” ucapan ayah Bagai angin segar yang menerpa senyum adek hingga merekah sempurna. “Yeyyyy, ayah ikut main”.

Siang itu, rasanya kebahagiaanku terasa penuh. Sesederhana bermain sepeda di halaman rumah mampu menciptakan memory indah di ingatan kita. Tawa kami menggantung di cakrawala, menyisakan kebahagiaan yang tiada tara. Dadaku rasanya penuh, sangat penuh. Ternyata, Bahagia memang sesederhana itu. Tak peduli dengan letar ekonomi yang rendah, tak peduli dengan pandangan social yang buruk. Terlepas dari itu semua, aku Bahagia. Sungguh Bahagia. Karena, mau seburuk apapun orang menilai kami diluar sana, kami selalu berdiri bersama, saling melindungi satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar