Sabtu, 28 Februari 2026

Suara yang Tak Terdengar

 

 

Suara yang Tak Terdengar

Oleh : Ahmada Zen Aljinan


 

Aku tidak akan menandatangani laporan ini sebelum datanya diperbaiki!”

Suara Arga memecah keheningan ruang rapat OSIS sore itu. Beberapa pasang mata menatapnya tajam. Di ujung meja, Raka, ketua panitia kegiatan literasi sekolah, menghela napas panjang.

“Arga, acaranya tinggal tiga hari lagi. Kalau kita ubah sekarang, bisa berantakan semuanya,” kata Raka, berusaha menahan emosi.

“Justru karena tinggal tiga hari, kita harus jujur. Anggaran yang tercatat tidak sesuai dengan pengeluaran sebenarnya,” balas Arga tegas.

Suasana menjadi kaku. Di luar jendela, langit senja memerah, seakan mencerminkan panasnya perdebatan di dalam ruangan.

 

Sejak awal, Arga memang dikenal sebagai siswa yang idealis. Ia dipercaya menjadi bendahara panitia Tadarus Literasi, sebuah kegiatan membaca dan diskusi buku yang diadakan untuk meningkatkan minat baca siswa. Baginya, kegiatan itu bukan sekadar program tahunan, tetapi upaya kecil untuk memperbaiki budaya sekolah.

Namun, ketika ia memeriksa ulang nota dan kuitansi, ia menemukan selisih yang cukup besar. Beberapa pengeluaran dicatat lebih tinggi dari yang seharusnya.

Arga mendatangi Raka secara pribadi sebelum rapat.

Rak, ini ada selisih hampir lima ratus ribu. Kita harus perbaiki,” ucap Arga sambil menunjukkan buku catatannya.

Raka terlihat gelisah. “Itu untuk biaya tambahan konsumsi dan dekorasi. Beberapa pembelian tidak sempat dicatat detail.”

“Kalau begitu, kita buat rinciannya. Jangan dilebihkan angkanya,” jawab Arga.

Raka terdiam. “Arga, dengar. Dana sisa itu rencananya untuk kas angkatan. Biar tidak habis begitu saja.”

“Tanpa persetujuan dan tanpa transparansi?” Arga menggeleng. “Itu bukan cara yang benar.”

Percakapan itu berakhir tanpa kesepakatan. Hingga akhirnya, di rapat sore ini, Arga memilih menyuarakan keberatannya di depan semua panitia.

“Jadi maksudmu kita tidak jujur?” tanya Dimas, bagian perlengkapan, dengan nada tersinggung.

“Aku tidak menuduh siapa pun,” jawab Arga, berusaha tenang. “Aku hanya ingin laporan sesuai fakta. Kalau ada sisa dana, kita musyawarahkan bersama.”

Raka menatap meja. “Kita sudah bekerja keras untuk acara ini. Jangan sampai masalah kecil merusak semuanya.”

“Kejujuran bukan masalah kecil,” kata Arga pelan, tetapi jelas terdengar.

Ruangan kembali sunyi. Beberapa panitia mulai berbisik. Ada yang setuju dengan Arga, ada pula yang merasa ia terlalu kaku.

Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka. Bu Ratna, pembina OSIS, masuk dengan wajah heran.

“Kalian belum selesai?” tanyanya.

Raka berdiri. “Maaf, Bu. Ada sedikit perbedaan pendapat soal laporan keuangan.”

Bu Ratna menatap satu per satu wajah siswa di ruangan itu. “Baik. Siapa yang bisa menjelaskan?”

Arga mengangkat tangan. Dengan suara mantap, ia menjelaskan temuan selisih dana dan pentingnya transparansi. Raka juga menyampaikan alasannya menyisihkan dana untuk kas angkatan.

Bu Ratna mendengarkan tanpa menyela. Setelah keduanya selesai, ia tersenyum tipis.

“Kalian tahu,” ujarnya pelan, “kegiatan literasi ini bertujuan menumbuhkan budaya membaca dan berpikir kritis. Tetapi lebih dari itu, kegiatan ini juga melatih karakter. Termasuk karakter jujur dan bertanggung jawab.”

Beliau menatap Raka. “Jika ada sisa dana, seharusnya dibicarakan terbuka. Niat baik harus ditempuh dengan cara yang baik.”

Raka menunduk. “Saya hanya ingin ada dana cadangan untuk kegiatan lain, Bu.”

“Itu bisa dibahas bersama. Tidak perlu mengubah laporan,” jawab Bu Ratna lembut.

Arga merasa dadanya sedikit lega. Ia tidak ingin mempermalukan siapa pun. Ia hanya tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang diberikan.

“Bagaimana kalau kita hitung ulang bersama sekarang?” usul Arga.

Raka mengangguk pelan. “Baik. Aku setuju.”

 

Malam itu, mereka menghitung ulang semua pengeluaran. Nota demi nota diperiksa kembali. Beberapa kesalahan pencatatan ditemukan, tetapi tidak sebesar yang dikhawatirkan. Setelah diperbaiki, ternyata memang ada sisa dana, meski tidak banyak.

“Jadi sisanya kita kembalikan ke kas sekolah?” tanya Dimas.

Raka menoleh pada Arga. “Menurutmu bagaimana?”

Arga tersenyum tipis. “Kita putuskan bersama. Siapa yang setuju sisa dana dimasukkan ke kas angkatan, dengan catatan dicatat resmi dan diketahui pembina?”

Semua tangan terangkat.

Bu Ratna yang sejak tadi mendampingi mereka mengangguk bangga. “Begitu seharusnya. Musyawarah dan transparansi.”

Raka menatap Arga. “Maaf kalau tadi aku sempat kesal.”

“Aku juga minta maaf kalau caraku terlalu keras,” jawab Arga.

Raka tersenyum. “Tidak. Justru kita butuh orang sepertimu.”

Untuk pertama kalinya sore itu, suasana ruang rapat terasa hangat.

 

Hari pelaksanaan Tadarus Literasi pun tiba. Aula sekolah dipenuhi siswa yang duduk berkelompok sambil membaca buku pilihan mereka. Di sudut ruangan, terpampang spanduk bertuliskan, “Membaca adalah Jendela Dunia.”

Arga berdiri di belakang, memperhatikan jalannya acara. Raka menghampirinya.

“Terima kasih sudah mengingatkanku,” kata Raka pelan.

“Kita saling mengingatkan,” jawab Arga.

Di atas panggung, beberapa siswa mempresentasikan hasil bacaan mereka. Diskusi berlangsung hidup. Tawa dan tepuk tangan terdengar bergantian.

Arga merasa bahagia. Bukan hanya karena acara berjalan lancar, tetapi karena mereka berhasil melewati ujian kecil tentang integritas.

Ia menyadari bahwa memperjuangkan kebenaran tidak selalu mudah. Kadang harus berhadapan dengan teman sendiri, bahkan dianggap menghambat. Namun, jika dilakukan dengan niat baik dan cara yang tepat, hasilnya akan membawa kebaikan bagi semua.

Epilog

Beberapa bulan kemudian, laporan kegiatan Tadarus Literasi dipuji oleh kepala sekolah karena rapi dan transparan. Panitia tahun berikutnya menjadikannya contoh.

Arga dan Raka tetap aktif di berbagai kegiatan sekolah. Hubungan mereka justru semakin kuat karena pernah melewati perbedaan dengan dewasa.

Di papan pengumuman OSIS, terpampang tulisan kecil yang dibuat oleh Bu Ratna:

“Kejujuran mungkin terasa berat di awal, tetapi ia akan meringankan langkah kita di akhir.”

Arga tersenyum setiap kali membacanya. Ia tahu, suara yang dulu hampir tak terdengar itu ternyata membawa perubahan.

Amanat

Kejujuran dan transparansi adalah fondasi kepercayaan. Dalam setiap tanggung jawab, sekecil apa pun, kita harus berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang bijak. Musyawarah dan sikap terbuka akan menyelesaikan perbedaan tanpa merusak persaudaraan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar