Suara yang Tak Terdengar
Oleh : Ahmada Zen Aljinan
“Aku
tidak akan menandatangani laporan ini sebelum datanya diperbaiki!”
Suara Arga memecah keheningan ruang rapat OSIS sore itu. Beberapa pasang mata menatapnya tajam. Di ujung meja, Raka, ketua panitia kegiatan literasi sekolah, menghela napas panjang.
“Arga,
acaranya tinggal tiga hari lagi. Kalau kita ubah sekarang, bisa berantakan
semuanya,” kata Raka, berusaha menahan emosi.
“Justru
karena tinggal tiga hari, kita harus jujur. Anggaran yang tercatat tidak sesuai
dengan pengeluaran sebenarnya,” balas Arga tegas.
Suasana
menjadi kaku. Di luar jendela, langit senja memerah, seakan mencerminkan
panasnya perdebatan di dalam ruangan.
Sejak
awal, Arga memang dikenal sebagai siswa yang idealis. Ia dipercaya menjadi
bendahara panitia Tadarus Literasi, sebuah kegiatan membaca dan diskusi buku
yang diadakan untuk meningkatkan minat baca siswa. Baginya, kegiatan itu bukan
sekadar program tahunan, tetapi upaya kecil untuk memperbaiki budaya sekolah.
Namun, ketika ia memeriksa ulang nota
dan kuitansi, ia menemukan selisih yang cukup besar. Beberapa pengeluaran
dicatat lebih tinggi dari yang seharusnya.
Arga mendatangi Raka secara pribadi
sebelum rapat.
“Rak,
ini ada selisih hampir lima ratus ribu. Kita harus perbaiki,” ucap Arga sambil
menunjukkan buku catatannya.
Raka
terlihat gelisah. “Itu untuk biaya tambahan konsumsi dan dekorasi. Beberapa
pembelian tidak sempat dicatat detail.”
“Kalau
begitu, kita buat rinciannya. Jangan dilebihkan angkanya,” jawab Arga.
Raka
terdiam. “Arga, dengar. Dana sisa itu rencananya untuk kas angkatan. Biar tidak
habis begitu saja.”
“Tanpa
persetujuan dan tanpa transparansi?” Arga menggeleng. “Itu bukan cara yang
benar.”
Percakapan
itu berakhir tanpa kesepakatan. Hingga akhirnya, di rapat sore ini, Arga
memilih menyuarakan keberatannya di depan semua panitia.
“Jadi
maksudmu kita tidak jujur?” tanya Dimas, bagian perlengkapan, dengan nada
tersinggung.
“Aku
tidak menuduh siapa pun,” jawab Arga, berusaha tenang. “Aku hanya ingin laporan
sesuai fakta. Kalau ada sisa dana, kita musyawarahkan bersama.”
Raka
menatap meja. “Kita sudah bekerja keras untuk acara ini. Jangan sampai masalah
kecil merusak semuanya.”
“Kejujuran
bukan masalah kecil,” kata Arga pelan, tetapi jelas terdengar.
Ruangan
kembali sunyi. Beberapa panitia mulai berbisik. Ada yang setuju dengan Arga,
ada pula yang merasa ia terlalu kaku.
Tiba-tiba,
pintu ruang rapat terbuka. Bu Ratna, pembina OSIS, masuk dengan wajah heran.
“Kalian
belum selesai?” tanyanya.
Raka
berdiri. “Maaf, Bu. Ada sedikit perbedaan pendapat soal laporan keuangan.”
Bu
Ratna menatap satu per satu wajah siswa di ruangan itu. “Baik. Siapa yang bisa
menjelaskan?”
Arga
mengangkat tangan. Dengan suara mantap, ia menjelaskan temuan selisih dana dan
pentingnya transparansi. Raka juga menyampaikan alasannya menyisihkan dana
untuk kas angkatan.
Bu
Ratna mendengarkan tanpa menyela. Setelah keduanya selesai, ia tersenyum tipis.
“Kalian
tahu,” ujarnya pelan, “kegiatan literasi ini bertujuan menumbuhkan budaya
membaca dan berpikir kritis. Tetapi lebih dari itu, kegiatan ini juga melatih
karakter. Termasuk karakter jujur dan bertanggung jawab.”
Beliau
menatap Raka. “Jika ada sisa dana, seharusnya dibicarakan terbuka. Niat baik
harus ditempuh dengan cara yang baik.”
Raka
menunduk. “Saya hanya ingin ada dana cadangan untuk kegiatan lain, Bu.”
“Itu
bisa dibahas bersama. Tidak perlu mengubah laporan,” jawab Bu Ratna lembut.
Arga
merasa dadanya sedikit lega. Ia tidak ingin mempermalukan siapa pun. Ia hanya
tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang diberikan.
“Bagaimana
kalau kita hitung ulang bersama sekarang?” usul Arga.
Raka
mengangguk pelan. “Baik. Aku setuju.”
Malam
itu, mereka menghitung ulang semua pengeluaran. Nota demi nota diperiksa
kembali. Beberapa kesalahan pencatatan ditemukan, tetapi tidak sebesar yang
dikhawatirkan. Setelah diperbaiki, ternyata memang ada sisa dana, meski tidak
banyak.
“Jadi
sisanya kita kembalikan ke kas sekolah?” tanya Dimas.
Raka
menoleh pada Arga. “Menurutmu bagaimana?”
Arga
tersenyum tipis. “Kita putuskan bersama. Siapa yang setuju sisa dana dimasukkan
ke kas angkatan, dengan catatan dicatat resmi dan diketahui pembina?”
Semua
tangan terangkat.
Bu
Ratna yang sejak tadi mendampingi mereka mengangguk bangga. “Begitu seharusnya.
Musyawarah dan transparansi.”
Raka
menatap Arga. “Maaf kalau tadi aku sempat kesal.”
“Aku
juga minta maaf kalau caraku terlalu keras,” jawab Arga.
Raka
tersenyum. “Tidak. Justru kita butuh orang sepertimu.”
Untuk
pertama kalinya sore itu, suasana ruang rapat terasa hangat.
Hari
pelaksanaan Tadarus Literasi pun tiba. Aula sekolah dipenuhi siswa yang duduk
berkelompok sambil membaca buku pilihan mereka. Di sudut ruangan, terpampang
spanduk bertuliskan, “Membaca adalah Jendela Dunia.”
Arga
berdiri di belakang, memperhatikan jalannya acara. Raka menghampirinya.
“Terima
kasih sudah mengingatkanku,” kata Raka pelan.
“Kita
saling mengingatkan,” jawab Arga.
Di
atas panggung, beberapa siswa mempresentasikan hasil bacaan mereka. Diskusi
berlangsung hidup. Tawa dan tepuk tangan terdengar bergantian.
Arga
merasa bahagia. Bukan hanya karena acara berjalan lancar, tetapi karena mereka
berhasil melewati ujian kecil tentang integritas.
Ia
menyadari bahwa memperjuangkan kebenaran tidak selalu mudah. Kadang harus
berhadapan dengan teman sendiri, bahkan dianggap menghambat. Namun, jika
dilakukan dengan niat baik dan cara yang tepat, hasilnya akan membawa kebaikan
bagi semua.
Epilog
Beberapa
bulan kemudian, laporan kegiatan Tadarus Literasi dipuji oleh kepala sekolah
karena rapi dan transparan. Panitia tahun berikutnya menjadikannya contoh.
Arga
dan Raka tetap aktif di berbagai kegiatan sekolah. Hubungan mereka justru
semakin kuat karena pernah melewati perbedaan dengan dewasa.
Di
papan pengumuman OSIS, terpampang tulisan kecil yang dibuat oleh Bu Ratna:
“Kejujuran
mungkin terasa berat di awal, tetapi ia akan meringankan langkah kita di
akhir.”
Arga
tersenyum setiap kali membacanya. Ia tahu, suara yang dulu hampir tak terdengar
itu ternyata membawa perubahan.
Amanat
Kejujuran
dan transparansi adalah fondasi kepercayaan. Dalam setiap tanggung jawab,
sekecil apa pun, kita harus berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang
bijak. Musyawarah dan sikap terbuka akan menyelesaikan perbedaan tanpa merusak
persaudaraan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar