Awal Sebuah Perjalanan
Oleh: Nurul Laila
fajrina
Dag… dig… dug…
Jantung Rina berdetak seperti gendang perang yang dipukul tanpa jeda. Tepat pukul 10.00 WIB, layar laptop di depannya terasa lebih menegangkan daripada ruang ujian mana pun yang pernah ia hadapi.Hari itu, pengumuman SPAN PTKIN 2025 resmi dibuka.
Jemarinya gemetar saat mengetik nomor pendaftaran.
Satu per satu syarat ia isi. Napasnya tertahan ketika laman pengumuman akhirnya
terbuka.
Lalu…
Dwarr!
Seolah kembang api meledak di dalam dadanya.Tulisan
itu muncul jelas di layar:
“DINYATAKAN LULUS JALUR
SPAN PTKIN 2025 UIN SALATIGA.”
Dunia seperti berhenti berputar beberapa detik. Perasaannya menjelma
lautan yang ombaknya saling bertabrakan. senang, sedih, dan
takut bercampur menjadi satu rasa yang tak mampu ia jelaskan. Senang itu pasti, namun juga sedih dan takut
tidak direstui oleh orang tuannya
Waktu terus berjalan. Jarum jam menunjuk pukul 12.00 WIB
ketika suara gagang pintu berbunyi nyaring bersama suara merdu oranh yang hendak masuk
kerumah itu.
“Assalamualaikum…”
Suara ibu Rina mengalir hangat.
“Waalaikum salam, Bu…” jawab Rina, berusaha tersenyum.
Ia mendekat, masih mengenakan mukena yang belum
dilepas sejak salat Dzuhur. Wajahnya menyimpan ribuan kalimat yang menunggu
keluar.
“Ibu… Rina mau bicara.”
“Ada apa, Nak?” tanya ibunya lembut sambil mengelus
kepala putri satu-satunya itu.
Rina menarik napas panjang, seperti seseorang yang
hendak melompat ke laut dalam.
“Ibu… Rina diterima di Universitas Islam Negeri
Salatiga.”
Ia menunduk, Takut, Gelisah, Khawatir ibunya kecewa karena ia mendaftar diam-diam.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Wajah ibunya berbinar seperti mentari pagi.
“Alhamdulillah kamu lulus, Nak!” ucapnya penuh haru.
“Mungkin ini jalan Allah buat kamu menimba ilmu. Nanti ibu bilang ke ayah,
pasti senang.”
Kalimat itu seperti pelukan tak terlihat yang
meredakan badai di hati Rina.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
Pikiran Rina mulai berlari liar. Ia belum pernah jauh
dari orang tua. Hidup di kota orang terasa seperti berjalan di hutan asing
tanpa peta.
Dimana ia akan tinggal?
Berapa uang yang akan dikeluarkan orangtua nya?
Apakah dia bisa hidup dikota orang sendirian?
Overthinking menyerbu seperti hujan deras tanpa
payung.
Dalam hati, Rina sudah bertekad.
Jika kuliah di Salatiga, ia ingin kos, bukan mondok.
Baginya, pondok pesantren terasa seperti dunia penuh aturan, jadwal padat, dan
kelelahan tanpa jeda.
Lamunannya pecah ketika suara ayah memanggil.
“Kamu benar mau kuliah ke sana?”
Nada ayah tegas, membuat udara ruang tamu mendadak
dingin.
“Iya, Yah…” suara Rina bergetar.
“Meskipun ini bukan pilihan awal Rina, mungkin ini rezeki Rina. Kalau ayah
mengizinkan, Rina ingin mencoba.”
Ayah mengangguk pelan lalu menanyakan biaya dan tempat
tinggal. Rina menjelaskan semuanya, termasuk keinginannya untuk kos.
Ayah hampir setuju. Namun tiba-tiba ibunya berbicara,
“Lho, kok kos? Kalau kos siapa yang menemani? Kenapa
nggak mondok saja?”
Percakapan berubah seperti api kecil yang perlahan
membesar.
Ayah membela Rina.
“Nanti kuliahnya capek. Takutnya nggak fokus.”
Ibu tak kalah yakin.
“Justru di pondok bisa belajar bareng, Ada teman Ada yang menjaga.”
Rina ikut bicara, suaranya meninggi.
“Aku nggak mau mondok, Bu! Aku takut nggak bisa
mengikuti kegiatannya…”
Ibu menatapnya lembut namun tegas.
“Semua orang hebat pernah memulai dari takut, Nak.”
Kalimat itu menggantung di udara.Namun emosi Rina
lebih cepat berbicara.
“Kalau harus mondok Rina nggak mau kuliah!”
Seperti kaca yang jatuh, suasana rumah pecah seketika.
“Ya sudah, nggak usah kuliah!” balas ibunya, tersulut
emosi.
Rina berlari ke kamar, Pintu tertutup,Tangisnya pecah. Air mata jatuh seperti
hujan pertama setelah kemarau panjang. Rasa bersalah, takut, ingin kuliah, dan
penolakan terhadap mondok bercampur menjadi badai di dadanya.
Dreet… dreet…
Ponselnya bergetar, Lima pesan masuk dari
temannya, Wawa. Ternyata mereka diterima di universitas, fakultas, dan program studi yang
sama.
“Rina, kamu mondok atau kos?” tanya Wawa.
Rina mengetik dengan mata masih basah.
“Aku bingung… aku takut mondok.”
Balasan datang cepat.
“Aku juga belum pernah mondok. Tapi kalau nggak mondok
aku nggak boleh kuliah. Ada ma’had kampus, cuma satu tahun. Kita coba bareng
yuk biar ada temannya.”
Kalimat itu seperti cahaya kecil di ujung lorong gelap Malam itu Rina
memberanikan diri keluar kamar. Dengan suara pelan, ia menceritakan tawaran dari Wawa. Ayah dan ibu saling
berpandangan, Akhirnya mereka menemukan jalan tengah, Rina mondok satu tahun
terlebih dahulu. Jika tidak cocok, ia boleh pindah kos, Kesepakatan itu terasa
seperti jembatan yang menghubungkan tiga. hati yang sempat berjauhan.Rina
mengangguk, Mereka berpelukan. Ibunya berbisik lembut,
“Jalani saja apa yang ada di depan mata dengan ikhlas.
Ayah dan ibu hanya ingin melihat kamu bahagia. Tugasmu belajar… dan menjaga
diri.”
Rumah yang tadi dipenuhi petir kini kembali hangat
seperti senja yang damai.
Dan untuk pertama kalinya, Rina sadar
Kadang jalan terbaik bukan yang kita rencanakan,
melainkan yang Allah siapkan diam-diam.
Tidak sekadar menuju kampus, melainkan menuju versi dirinya
yang lebih berani.
Dan perjalanan itu… baru saja dimulai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar