Selasa, 24 Maret 2026

Detik yang Berharga

 

DETIK YANG BERHARGA

Oleh: Marsha Kalyca Fakhrunnisa

 


   "Bip, bip, bip..." Suara getaran sayup-sayup di samping tempat tidur memaksaku terjaga. Aku meraih benda pipih tersebut dan mengerjapkan mata berkali-kali untuk melihat jam di layarnya. "04.15... Heh!" Sontak mataku membulat sempurna. "Aduh, kurang lima menit lagi sudah imsak!" Alhasil, aku hanya sempat meminum seteguk air putih dan membangunkan teman sekamarku yang juga terlambat sahur.

"Aku dan air putih masih bergelut dengan sisa waktu yang ada, ketika tiba-tiba suara seruan, 'Imsaaaak... Imsaaaak...' membahana membelah kesunyian subuh. Seketika usahaku runtuh; tak ada lagi kesempatan untuk menabung setetes air pun ke dalam lambung."

Terdengar suara lantang, “Mbak... Mbak... Ayo segera ke masjid!’’ seru seorang pengurus menyuruh para santriwati. Aku pun  segera bersiap diri. Tak lupa, aku membawa kitab dan menghampiri temanku yang ada di lantai bawah agar bisa pergi bersama ke masjid.

“Tiga... dua hitungan lagi! Ayo, Mbak... Mbak... segera ke masjid!” seru seorang pengurus sambil menatapku tajam. Di bawah pengawasan seketat itu, aku justru masih mondar-mandir santai di halaman.

“Kamu kenapa?” tanya temanku heran sambil memakai sandal.

“Ini loh, sandalku tidak ada di rak!” keluhku. Ia pun berhenti memakai sandalnya dan beralih membantuku mencari.

"Tak lama kemudian, sebuah ingatan muncul di kepalaku: sandal yang kupakai tadi malam tertinggal di depan aula! Sontak, aku langsung berseru kepada temanku agar berhenti mencari.

'EMPAT! Satu hitungan lagi!' gertak pengurus, suaranya menggelegar mempertegas ancaman.

'Iya, Mbak, sebentar!' jawabku sembari berbalik arah dan berlari kencang. Benar saja, sepasang sandalku masih setia di tempatnya. Namun, ada yang berbeda; ada genangan air di sana yang membuat permukaannya mulai mengkapal karena terlalu lama terendam."

"Sesampainya di Masjid At-Thayyar dengan napas yang terengah-engah, untungnya aku dan rekanku masih mendapatkan rakaat terakhir. Akhirnya, kami segera mengisi barisan saf paling belakang."

Selesainya pelaksanaan sholat disambung dengan pengaosan pagi dengan kitab AdabulAlim wal Muta'allim karangan KH Hasyim Asy'ari yang membahas sebuah adab, terbukalah lembaran kuning yang membahas adab nya waktu, kuperhatikan dan kudengarkan dimana pembahasan tersebut tak jauh dengan waktu yang harus diperhatikan dan dihormati.

"Agenda beralih ke pengaosan pagi. Di depanku, kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya KH Hasyim Asy'ari menanti untuk dikaji. Begitu bab tentang adab terhadap waktu dibacakan, hatiku terasa berdesir. Aku mendengarkan setiap penjelasan dengan sungguh-sungguh, seolah diingatkan kembali bahwa detik-detik yang baru saja kulalui bukan sekadar hitungan waktu, melainkan bentuk penghormatan bagi keberkahan ilmu."

"Mendengar materi tentang adab waktu, hatiku serasa tersentil. Aku teringat drama sandal basah tadi pagi yang hampir saja membuatku kehilangan waktu berharga untuk berjamaah."

"Sinar mentari mulai menyelinap melalui ventilasi masjid, perlahan menyulap taman di depan yang tadinya gelap menjadi benderang. Di dinding, jarum jam seolah tak kenal lelah, terus berdetak setia mengiringi setiap tarikan napas. Aku melirik jam yang terpajang rapi di atas mimbar; waktu sudah menunjukkan detik-detik terakhir pengaosan akan segera usai."

"Pengaosan pagi itu ditutup oleh Ustaz dengan untaian doa, 'Wallahu a'lam bish-shawab, Alhamdulillahirabbil 'alamin. Akhirul kalam, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.'

'Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,' jawab kami, santriwan dan santriwati, dengan nada takzim yang memenuhi ruang masjid.

Begitu sosok Ustaz melangkah keluar dan bayangannya tak lagi terlihat, sebuah seruan berat memecah kesunyian dari balik tirai pembatas satir: 'Shollu 'ala Nabi Muhammad!'

'Allahumma sholli 'ala Muhammad!' sahut kami serempak, menggetarkan dinding masjid. Suara selawat itu seolah menjadi energi baru bagi kami yang mulai beranjak dari tempat duduk. 

Saat kakiku melangkah keluar dan kembali memakai sepasang sandal yang masih terasa lembap dan 'mengkapal' itu, aku tidak lagi merasa kesal. Aku justru tersenyum sendiri.. kini justru tampak seperti saksi bisu yang paling setia. Ia menungguku dalam gelap, menemaniku berlari mengejar ruku' terakhir, dan kini ia akan membawaku pulang dengan membawa beban ilmu yang baru saja kukaji.

Aku bersyukur, Tuhan tidak hanya memberiku rasa lapar untuk menggugurkan dosa, tapi juga memberiku 'drama' kecil pagi ini untuk menyadarkan satu hal: bahwa keberkahan ilmu tidak akan turun pada hati yang terus mengeluh.

Ternyata, detik-detik yang paling berharga di ma`had bukan hanya saat perut kenyang setelah berbuka, atau saat lelapnya tidur setelah lelah mengaji. Detik yang berharga adalah setiap helaan napas yang kita paksakan untuk tetap taat meski tubuh meronta lemas. Syukur alhamdulillah, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk 'kalah' oleh rasa kantuk namun 'menang' dalam menjaga adab terhadap waktu.

Semoga setiap air wudu yang membasahi wajah kita di waktu imsak, dan setiap huruf kitab yang kita maknai di bawah sinar mentari pagi, menjadi saksi bahwa masa muda kita tidaklah sia-sia. Karena dimadrasah, tidak ada lelah yang tidak menjadi berkah, dan tidak ada sabar yang tidak berbuah pahala."

Di bawah sinar mentari yang kian meninggi, aku melangkah pergi dengan syukur yang membuncah, menyadari bahwa setiap lelah di pondok ini adalah investasi untuk akhiratku nanti."

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar