DETIK YANG BERHARGA
Oleh: Marsha Kalyca
Fakhrunnisa
"Bip, bip, bip..." Suara getaran sayup-sayup di samping tempat tidur memaksaku terjaga. Aku meraih benda pipih tersebut dan mengerjapkan mata berkali-kali untuk melihat jam di layarnya. "04.15... Heh!" Sontak mataku membulat sempurna. "Aduh, kurang lima menit lagi sudah imsak!" Alhasil, aku hanya sempat meminum seteguk air putih dan membangunkan teman sekamarku yang juga terlambat sahur.
"Aku dan air
putih masih bergelut dengan sisa waktu yang ada, ketika tiba-tiba suara
seruan, 'Imsaaaak... Imsaaaak...' membahana membelah kesunyian
subuh. Seketika usahaku runtuh; tak ada lagi kesempatan untuk menabung setetes
air pun ke dalam lambung."
Terdengar suara
lantang, “Mbak... Mbak... Ayo segera ke masjid!’’ seru seorang pengurus
menyuruh para santriwati. Aku pun segera
bersiap diri. Tak lupa, aku membawa kitab dan menghampiri temanku yang ada di
lantai bawah agar bisa pergi bersama ke masjid.
“Tiga... dua
hitungan lagi! Ayo, Mbak... Mbak... segera ke masjid!” seru seorang
pengurus sambil menatapku tajam. Di bawah pengawasan seketat itu, aku justru
masih mondar-mandir santai di halaman.
“Kamu
kenapa?” tanya temanku heran sambil memakai sandal.
“Ini loh,
sandalku tidak ada di rak!” keluhku. Ia pun berhenti memakai sandalnya dan beralih
membantuku mencari.
"Tak lama
kemudian, sebuah ingatan muncul di kepalaku: sandal yang kupakai tadi malam
tertinggal di depan aula! Sontak, aku langsung berseru kepada temanku agar berhenti
mencari.
'EMPAT!
Satu hitungan lagi!' gertak pengurus, suaranya menggelegar mempertegas
ancaman.
'Iya, Mbak,
sebentar!' jawabku sembari berbalik arah dan berlari kencang. Benar
saja, sepasang sandalku masih setia di tempatnya. Namun, ada yang berbeda; ada
genangan air di sana yang membuat permukaannya mulai mengkapal karena terlalu
lama terendam."
"Sesampainya
di Masjid At-Thayyar dengan napas yang terengah-engah, untungnya
aku dan rekanku masih mendapatkan rakaat terakhir. Akhirnya, kami
segera mengisi barisan saf paling belakang."
Selesainya
pelaksanaan sholat disambung dengan pengaosan pagi dengan kitab Adabul ‘Alim
wal Muta'allim karangan KH Hasyim Asy'ari yang membahas sebuah adab,
terbukalah lembaran kuning yang membahas adab nya waktu, kuperhatikan dan
kudengarkan dimana pembahasan tersebut tak jauh dengan waktu yang harus diperhatikan
dan dihormati.
"Agenda beralih ke pengaosan pagi.
Di depanku, kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya KH
Hasyim Asy'ari menanti untuk dikaji. Begitu bab tentang adab terhadap waktu
dibacakan, hatiku terasa berdesir. Aku mendengarkan setiap penjelasan dengan
sungguh-sungguh, seolah diingatkan kembali bahwa detik-detik yang baru saja
kulalui bukan sekadar hitungan waktu, melainkan bentuk penghormatan bagi
keberkahan ilmu."
"Mendengar
materi tentang adab waktu, hatiku serasa tersentil. Aku teringat drama sandal
basah tadi pagi yang hampir saja membuatku kehilangan waktu berharga untuk
berjamaah."
"Sinar mentari
mulai menyelinap melalui ventilasi masjid, perlahan menyulap taman di depan
yang tadinya gelap menjadi benderang. Di dinding, jarum jam seolah tak kenal
lelah, terus berdetak setia mengiringi setiap tarikan napas. Aku melirik jam
yang terpajang rapi di atas mimbar; waktu sudah menunjukkan detik-detik
terakhir pengaosan akan segera usai."
"Pengaosan
pagi itu ditutup oleh Ustaz dengan untaian doa, 'Wallahu a'lam
bish-shawab, Alhamdulillahirabbil 'alamin. Akhirul kalam, wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.'
'Wa'alaikumussalam
warahmatullahi wabarakatuh,' jawab kami, santriwan dan santriwati, dengan nada
takzim yang memenuhi ruang masjid.
Begitu sosok Ustaz
melangkah keluar dan bayangannya tak lagi terlihat, sebuah seruan berat memecah
kesunyian dari balik tirai pembatas satir: 'Shollu 'ala Nabi Muhammad!'
'Allahumma
sholli 'ala Muhammad!' sahut kami serempak, menggetarkan
dinding masjid. Suara selawat itu seolah menjadi energi baru bagi kami yang
mulai beranjak dari tempat duduk.
Saat kakiku
melangkah keluar dan kembali memakai sepasang sandal yang masih terasa lembap
dan 'mengkapal' itu, aku tidak lagi merasa kesal. Aku justru tersenyum sendiri..
kini justru tampak seperti saksi bisu yang paling setia. Ia
menungguku dalam gelap, menemaniku berlari mengejar ruku' terakhir, dan kini ia
akan membawaku pulang dengan membawa beban ilmu yang baru saja kukaji.
Aku
bersyukur, Tuhan tidak hanya memberiku rasa lapar untuk menggugurkan dosa, tapi
juga memberiku 'drama' kecil pagi ini untuk menyadarkan satu hal: bahwa
keberkahan ilmu tidak akan turun pada hati yang terus mengeluh.
Ternyata,
detik-detik yang paling berharga di ma`had bukan hanya saat perut kenyang
setelah berbuka, atau saat lelapnya tidur setelah lelah mengaji. Detik yang
berharga adalah setiap helaan napas yang kita paksakan untuk tetap taat meski
tubuh meronta lemas. Syukur alhamdulillah, Tuhan masih memberiku kesempatan
untuk 'kalah' oleh rasa kantuk namun 'menang' dalam menjaga adab terhadap
waktu.
Semoga
setiap air wudu yang membasahi wajah kita di waktu imsak, dan setiap huruf
kitab yang kita maknai di bawah sinar mentari pagi, menjadi saksi bahwa masa
muda kita tidaklah sia-sia. Karena dimadrasah, tidak ada lelah yang tidak
menjadi berkah, dan tidak ada sabar yang tidak berbuah pahala."
Di bawah
sinar mentari yang kian meninggi, aku melangkah pergi dengan syukur yang
membuncah, menyadari bahwa setiap lelah di pondok ini adalah investasi untuk
akhiratku nanti."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar