Birunya Langit
Oleh: Imam
Khair Assalaam
Pada suatu hari di tahun 2026 , di sebuah negara bernama Malaysia, disana birunya langit sangat istimewa dan berharga, namun bagi Dilla, langit di Malaysia hanyalah langit biasa yang berwarna abu-abu dan membosankan.
Dilla adalah
seorang mahasiswi Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) jurusan
fiqih dan ushul, sudah 1 tahun Dilla menghabiskan waktunya di negara yang asing
dan baru baginya, mengingat Dilla adalah seorang Warga Negara Indonesia,
kelahiran di Bekasi, Jawa Barat, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok di
Jawa Timur, yaitu Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, ia memutuskan mengikuti
program beasiswa kuliah luar negeri yang diadakan oleh kementrian Agama.
Keseharian
Dilla, hanyalah menghabiskan hari-harinya di apartemennnya yang hanya ditemani
sebuah kitab, laptop, ipad dan secangkir kopi di bawah dinginnya AC, dunianya
menjadi abu-abu, menyempit menjadi garis yang kaku dan angka yang presisi, hari
demi hari ia habiskan hanya untuk belajar dan jarang bermain, bukan karena
Dilla tidak mempunyai teman, ia memiliki seorang teman, tidak cukup banyak
hanya bisa dihitung dengan jari, tapi bagi Dilla itu sudah lebih dari cukup, alasan
ia jarang bermain adalah karena ia sedikit tertinggal materi di kampusnya
karena kendala bahasa.
Setelah menghabiskan
waktu berjam-jam di meja belajar di depan layar laptop, ipad yang menyala dan
Kitab yang sudah penuh berisi catatan makna, Dilla melihat jam yang berada di
mejanya, tidak disangka jam sudah menunjukan pukul 21.00 PM, Dilla bersiap
untuk mandi dan memakai perawatan muka untuk malam hari sebelum tidur. Keesokan
harinya, disaat Dilla terbangun dari tidurnya, ia bangun dari ranjangnya dan
memakai jilbab instan karena ia ingin ke balkon apartemennya sambil menikmati
roti panggang dan secangkir kopi pada hari ini, disaat Dilla menikmati roti dan
kopinya, ia membuang nafas, meratapi kesehariannya yang hanya dihabiskan untuk
mengerjakan tugas.
Di Balkon
Apartemen lantai 20, ia hanya bisa melihat langit yang berwarna hitam karena
cuacanya sedang hujan deras, ia hanya membuang nafas dan seketika mengingat
kembali momen di masa lalu dengan sahabatnya yang sudah meninggal, yaitu
perempuan yang bernama Maya
Dulu, di desa
kecil bernama Sarangan yang berletak di kaki Gunung Lawu, Maya sangat sering
mengajak Dilla saat pondoknya liburan ke Sarangan untuk melihat pemandangan
Gunung Lawu di Telaga Sarangan, di saat suasanya yang sunyi dan damai, Maya tiba-tiba
berkata
“Dilla, sejauh
manapun kamu menginjakan kakimu, jangan lupa untuk selalu melihat ke atas untuk
melihat langit, langit itu luas, dengan
melihat keindahan langit kamu akan merasa tenang dan disaat kamu ada masalah,
langit akan menjadi teman ceritamu. “
“Kenapa langit
berwarna biru? “
Tanya Dilla
Maya saat
mendengar itu ia tertawa dan berkata
“Karena, biru
itu warna ketenangan, agar saat manusia merasa lelah dengan harinya, langit hadir untuk tempat bersandar dan
bercerita. “
Ucap Maya yang
sambil tersenyum lebar dan sambil menatap Dilla
Kembali pada
masa kini, tidak terasa air mata Dilla jatuh melewati pipinya, sadar bahwa ia
menangis Dilla mengambil tissu untuk menyeka air matanya, setelah ia selesai
menyeka air matanya, Dilla dikejutkan dengan sinar terik matahari, Dilla
melihat keatas ia terkejut melihat sebuah keajaiban kecil terjadi, setelah
hujan deras mengguyur Malaysia selama 1 jam,
awan hitam perlahan mulai terbuka, menyisakan pemandangan yang sudah
lama hilang dari memori Dilla, Dilla
terpaku dan terpesona untuk pertama kalinya dalam 1 tahun, ia menarik napas
panjang tanpa merasa sesak. Warna biru itu seolah menyerap semua stres, tugas yang
menumpuk, dan rasa sepi yang diam-diam ia pelihara di negara besar ini.
“Langit itu
berwarna biru. Bukan biru pucat, tapi biru pekat yang jernih,”
Ucap Dilla
sambil tersenyum
Ia mengambil
ipadnya, bukan untuk mengecek grup whatsaap, melainkan untuk memotret sapuan
warna indah itu. Ia mengirimkannya ke nomor WhatsApp temannya, yaitu Maya yang
sudah tidak aktif lagi, sebuah ritual kecil untuk menenangkan jiwanya sendiri.
“May, langitnya
biru banget hari ini loh hari ini, Indah banget. Aku istirahat sebentar, ya.”
Dilla tersenyum
sambil menikmati pemandangan langit yang sangat indah pada saat itu dengan
secangkir kopi di tangannya.
Dilla kembali
ke meja belajarnya untuk menyelesaikan tugasnya, tugasnya masih menumpuk,
tetapi beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.
Keindahan
birunya langit bukan terletak pada warnanya semata, melainkan pada perspektif
yang ditawarkannya. Langit mengingatkannya betapa kecilnya masalah-masalahnya
di hadapan semesta yang begitu luas. Bahwa rasa cemasnya hanyalah awan tipis
yang akan berlalu, sementara birunya langit simbol kedamaian dan harapan akan
selalu ada di sana, menunggu di balik awan yang paling gelap sekalipun.
Terkadang yang
kita butuhkan untuk bertahan hidup bukanlah pelarian ke tempat yang jauh,
melainkan kemampuan untuk menemukan birunya langit
Sebab,
seabu-abu apa pun hari yang kita lalui, langit yang biru akan selalu menunggu
di balik awan yang paling gelap sekalipun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar