Selasa, 24 Maret 2026

Birunya Langit

 

Birunya Langit

Oleh: Imam Khair Assalaam



Pada suatu hari di tahun 2026 , di sebuah negara bernama Malaysia, disana birunya langit sangat istimewa dan berharga, namun bagi Dilla, langit di Malaysia hanyalah langit biasa yang berwarna abu-abu dan membosankan.

Dilla adalah seorang mahasiswi Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) jurusan fiqih dan ushul, sudah 1 tahun Dilla menghabiskan waktunya di negara yang asing dan baru baginya, mengingat Dilla adalah seorang Warga Negara Indonesia, kelahiran di Bekasi, Jawa Barat, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok di Jawa Timur, yaitu Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, ia memutuskan mengikuti program beasiswa kuliah luar negeri yang diadakan oleh kementrian Agama.

Keseharian Dilla, hanyalah menghabiskan hari-harinya di apartemennnya yang hanya ditemani sebuah kitab, laptop, ipad dan secangkir kopi di bawah dinginnya AC, dunianya menjadi abu-abu, menyempit menjadi garis yang kaku dan angka yang presisi, hari demi hari ia habiskan hanya untuk belajar dan jarang bermain, bukan karena Dilla tidak mempunyai teman, ia memiliki seorang teman, tidak cukup banyak hanya bisa dihitung dengan jari, tapi bagi Dilla itu sudah lebih dari cukup, alasan ia jarang bermain adalah karena ia sedikit tertinggal materi di kampusnya karena kendala bahasa.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di meja belajar di depan layar laptop, ipad yang menyala dan Kitab yang sudah penuh berisi catatan makna, Dilla melihat jam yang berada di mejanya, tidak disangka jam sudah menunjukan pukul 21.00 PM, Dilla bersiap untuk mandi dan memakai perawatan muka untuk malam hari sebelum tidur. Keesokan harinya, disaat Dilla terbangun dari tidurnya, ia bangun dari ranjangnya dan memakai jilbab instan karena ia ingin ke balkon apartemennya sambil menikmati roti panggang dan secangkir kopi pada hari ini, disaat Dilla menikmati roti dan kopinya, ia membuang nafas, meratapi kesehariannya yang hanya dihabiskan untuk mengerjakan tugas.

Di Balkon Apartemen lantai 20, ia hanya bisa melihat langit yang berwarna hitam karena cuacanya sedang hujan deras, ia hanya membuang nafas dan seketika mengingat kembali momen di masa lalu dengan sahabatnya yang sudah meninggal, yaitu perempuan yang bernama Maya

Dulu, di desa kecil bernama Sarangan yang berletak di kaki Gunung Lawu, Maya sangat sering mengajak Dilla saat pondoknya liburan ke Sarangan untuk melihat pemandangan Gunung Lawu di Telaga Sarangan, di saat suasanya yang sunyi dan damai, Maya tiba-tiba berkata

“Dilla, sejauh manapun kamu menginjakan kakimu, jangan lupa untuk selalu melihat ke atas untuk melihat langit, langit itu luas,  dengan melihat keindahan langit kamu akan merasa tenang dan disaat kamu ada masalah, langit akan menjadi teman ceritamu. “

“Kenapa langit berwarna biru? “

Tanya Dilla

Maya saat mendengar itu ia tertawa dan berkata

“Karena, biru itu warna ketenangan, agar saat manusia merasa lelah dengan harinya,  langit hadir untuk tempat bersandar dan bercerita. “

Ucap Maya yang sambil tersenyum lebar dan sambil menatap Dilla

Kembali pada masa kini, tidak terasa air mata Dilla jatuh melewati pipinya, sadar bahwa ia menangis Dilla mengambil tissu untuk menyeka air matanya, setelah ia selesai menyeka air matanya, Dilla dikejutkan dengan sinar terik matahari, Dilla melihat keatas ia terkejut melihat sebuah keajaiban kecil terjadi, setelah hujan deras mengguyur Malaysia selama 1 jam,  awan hitam perlahan mulai terbuka, menyisakan pemandangan yang sudah lama hilang dari memori Dilla,  Dilla terpaku dan terpesona untuk pertama kalinya dalam 1 tahun, ia menarik napas panjang tanpa merasa sesak. Warna biru itu seolah menyerap semua stres, tugas yang menumpuk, dan rasa sepi yang diam-diam ia pelihara di negara besar ini.

“Langit itu berwarna biru. Bukan biru pucat, tapi biru pekat yang jernih,”

Ucap Dilla sambil tersenyum

Ia mengambil ipadnya, bukan untuk mengecek grup whatsaap, melainkan untuk memotret sapuan warna indah itu. Ia mengirimkannya ke nomor WhatsApp temannya, yaitu Maya yang sudah tidak aktif lagi, sebuah ritual kecil untuk menenangkan jiwanya sendiri.

“May, langitnya biru banget hari ini loh hari ini, Indah banget. Aku istirahat sebentar, ya.”

Dilla tersenyum sambil menikmati pemandangan langit yang sangat indah pada saat itu dengan secangkir kopi di tangannya.

Dilla kembali ke meja belajarnya untuk menyelesaikan tugasnya, tugasnya masih menumpuk, tetapi beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.

Keindahan birunya langit bukan terletak pada warnanya semata, melainkan pada perspektif yang ditawarkannya. Langit mengingatkannya betapa kecilnya masalah-masalahnya di hadapan semesta yang begitu luas. Bahwa rasa cemasnya hanyalah awan tipis yang akan berlalu, sementara birunya langit simbol kedamaian dan harapan akan selalu ada di sana, menunggu di balik awan yang paling gelap sekalipun.

Terkadang yang kita butuhkan untuk bertahan hidup bukanlah pelarian ke tempat yang jauh, melainkan kemampuan untuk menemukan birunya langit

Sebab, seabu-abu apa pun hari yang kita lalui, langit yang biru akan selalu menunggu di balik awan yang paling gelap sekalipun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar