Selasa, 24 Maret 2026

Senja di Ujung Dermaga

 

Senja di Ujung Dermaga

Oleh: Rifqi Auliya’

 


Langit sore di kampung pesisir itu selalu berwarna tembaga. Matahari turun perlahan seperti bola api yang malas tenggelam, menyisakan garis cahaya panjang di permukaan laut. Di ujung dermaga kayu yang sudah tua, Arka duduk sambil menggoyangkan kakinya.

 

Ia datang ke tempat itu hampir setiap hari sejak ibunya meninggal tiga bulan lalu.

 

Dermaga itu seperti tempat yang menyimpan potongan hidupnya.

 

Dulu, ketika ia masih kecil, ibunya sering mengajaknya berjalan ke sana. Mereka duduk berdampingan sambil menunggu nelayan pulang. Ibunya selalu membawa dua roti kecil dari warung dekat pasar.

 

“Kalau hidup terasa berat,” kata ibunya suatu kali, “lihat saja laut. Laut selalu sabar menunggu semua sungai datang padanya.”

 

Arka tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya waktu itu.

 

Sekarang, setelah ibunya tidak ada, kata-kata itu justru sering datang kembali seperti ombak yang tak lelah.

 

Angin laut meniup rambutnya. Bau asin bercampur dengan aroma kayu tua dermaga.

 

Di bawah sana, air bergoyang pelan.

 

Arka menatap cakrawala lama sekali.

 

Sejak kematian ibunya, rumah terasa terlalu sunyi. Ayahnya lebih banyak diam. Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap.

 

Suatu sore, ketika Arka sedang menatap laut seperti biasa, ia melihat seorang lelaki tua berdiri di ujung dermaga.

 

Lelaki itu mengenakan topi jerami lusuh dan membawa ember kecil.

 

Arka tidak tahu sejak kapan lelaki itu ada di sana.

 

“Menunggu sesuatu?” tanya lelaki itu tiba-tiba.

 

Arka sedikit terkejut.

“Tidak juga.”

 

Lelaki tua itu tertawa kecil.

“Orang yang duduk lama di dermaga biasanya menunggu sesuatu. Perahu, orang, atau kenangan.”

 

Arka tidak menjawab.

 

Lelaki itu menaruh embernya dan duduk tidak jauh darinya.

 

“Namaku Bima,” katanya.

 

Arka mengangguk pelan.

“Arka.”

 

Mereka terdiam beberapa saat.

 

Burung camar melintas rendah di atas air.

 

“Dulu aku juga sering duduk di sini,” kata Bima akhirnya. “Tapi waktu itu aku menunggu seseorang.”

 

“Siapa?” tanya Arka tanpa sadar.

 

“Istriku.”

 

Arka menoleh.

 

“Dia seorang penjual ikan,” lanjut Bima. “Setiap sore dia pulang dengan perahu kecil. Aku selalu menunggu di sini.”

 

“Lalu?”

 

“Suatu hari perahunya tidak pernah kembali.”

 

Angin tiba-tiba terasa lebih dingin.

 

Arka tidak tahu harus berkata apa.

 

“Laut memang memberi kehidupan,” kata Bima pelan, “tapi kadang laut juga mengambil sesuatu dari kita.”

 

Arka menunduk.

 

“Aku kehilangan ibuku,” katanya akhirnya.

 

Kata-kata itu terasa berat keluar dari mulutnya.

 

Bima tidak tampak terkejut. Ia hanya memandang laut.

 

“Rasa kehilangan itu seperti ombak,” katanya. “Awalnya besar sekali, menghantam apa saja.”

 

Arka menatap air yang berkilau.

 

“Lalu?”

 

“Lama-lama ombak itu masih ada,” kata Bima, “tapi kita belajar berdiri tanpa jatuh.”

 

Mereka kembali diam.

 

Matahari semakin rendah.

 

Arka memperhatikan tangan lelaki tua itu. Kasar dan penuh bekas luka.

 

“Kakek masih menunggu?” tanya Arka.

 

Bima tersenyum tipis.

 

“Tidak lagi.”

 

“Lalu kenapa masih datang ke sini?”

 

Lelaki tua itu menatap laut yang mulai berubah warna menjadi ungu.

 

“Karena kenangan tidak selalu menyakitkan,” katanya. “Kadang kenangan justru mengingatkan kita bahwa kita pernah sangat mencintai.”

 

Arka merasa sesuatu bergerak di dalam dadanya.

 

Selama ini ia mencoba menghindari kenangan tentang ibunya. Setiap mengingatnya, hatinya terasa seperti diremas.

 

“Tapi rasanya sakit,” kata Arka.

 

“Memang,” jawab Bima. “Cinta yang besar selalu meninggalkan ruang kosong yang besar juga.”

 

Arka menghela napas.

 

Di kejauhan, beberapa perahu nelayan mulai kembali.

 

Lampu-lampu kecil mulai menyala di atas gelombang.

 

“Kamu tahu,” kata Bima, “waktu istriku hilang, aku marah pada laut.”

 

Arka menatapnya.

 

“Aku berhenti datang ke sini bertahun-tahun.”

 

“Lalu kenapa kembali?”

 

Bima tersenyum samar.

 

“Karena suatu hari aku sadar sesuatu.”

 

“Apa?”

 

“Laut tidak pernah mengambil kenanganku tentang dia.”

 

Arka terdiam.

 

Angin berhembus lebih pelan sekarang.

 

Bima berdiri dan mengambil embernya.

 

“Aku harus pulang,” katanya.

 

“Bapak nelayan?” tanya Arka.

 

“Bukan,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Aku hanya memberi makan ikan.”

 

Arka mengernyit.

 

“Ikan?”

 

Bima menunjuk embernya.

 

“Kadang kita datang ke tempat lama bukan untuk mencari sesuatu yang hilang,” katanya, “tapi untuk memberi sesuatu yang masih kita punya.”

 

Ia mulai berjalan menjauh di sepanjang dermaga.

 

Arka memperhatikannya sampai sosoknya semakin kecil.

 

Langit sudah hampir gelap.

 

Lampu-lampu rumah di sepanjang pantai mulai menyala.

 

Arka menatap laut sekali lagi.

 

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

 

Ibunya pernah berkata:

 

“Suatu hari nanti, kamu akan mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari cinta.”

 

Waktu itu ia tidak mengerti.

 

Sekarang ia mulai sedikit paham.

 

Arka berdiri dari ujung dermaga.

 

Angin malam terasa lebih lembut.

 

Ia berjalan pulang dengan langkah pelan.

 

Ketika sampai di halaman rumah, ia melihat ayahnya duduk di kursi kayu di teras.

 

Biasanya mereka hanya saling mengangguk sebelum masuk ke kamar masing-masing.

 

Namun kali ini Arka berhenti.

 

“Ayah,” katanya.

 

Ayahnya menoleh, sedikit terkejut.

 

“Ada apa?”

 

Arka ragu sebentar.

 

“Ayah mau ikut ke dermaga besok sore?”

 

Ayahnya tidak langsung menjawab.

 

Ia menatap Arka lama sekali.

 

Di matanya ada sesuatu yang belum pernah Arka lihat sejak ibunya pergi.

 

Kesedihan yang sama.

 

Akhirnya ayahnya mengangguk pelan.

 

“Baik.”

 

Arka tersenyum kecil.

 

Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir, rumah itu tidak terasa sepenuhnya kosong.

 

Malam turun perlahan di kampung pesisir.

 

Di kejauhan, laut terus berdesir seperti selalu.

 

Seolah-olah ia sedang menyimpan semua cerita manusia yang pernah datang ke tepinya.

 

Dan seperti kata ibunya dulu—

 

laut selalu sabar menunggu semua sungai datang padanya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar