Senja
di Ujung Dermaga
Oleh: Rifqi
Auliya’
Langit sore di kampung pesisir itu selalu berwarna tembaga. Matahari turun perlahan seperti bola api yang malas tenggelam, menyisakan garis cahaya panjang di permukaan laut. Di ujung dermaga kayu yang sudah tua, Arka duduk sambil menggoyangkan kakinya.
Ia
datang ke tempat itu hampir setiap hari sejak ibunya meninggal tiga bulan lalu.
Dermaga
itu seperti tempat yang menyimpan potongan hidupnya.
Dulu,
ketika ia masih kecil, ibunya sering mengajaknya berjalan ke sana. Mereka duduk
berdampingan sambil menunggu nelayan pulang. Ibunya selalu membawa dua roti
kecil dari warung dekat pasar.
“Kalau
hidup terasa berat,” kata ibunya suatu kali, “lihat saja laut. Laut selalu
sabar menunggu semua sungai datang padanya.”
Arka
tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya waktu itu.
Sekarang,
setelah ibunya tidak ada, kata-kata itu justru sering datang kembali seperti
ombak yang tak lelah.
Angin
laut meniup rambutnya. Bau asin bercampur dengan aroma kayu tua dermaga.
Di
bawah sana, air bergoyang pelan.
Arka
menatap cakrawala lama sekali.
Sejak
kematian ibunya, rumah terasa terlalu sunyi. Ayahnya lebih banyak diam. Mereka
tinggal dalam satu rumah, tetapi seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi
atap.
Suatu
sore, ketika Arka sedang menatap laut seperti biasa, ia melihat seorang lelaki
tua berdiri di ujung dermaga.
Lelaki
itu mengenakan topi jerami lusuh dan membawa ember kecil.
Arka
tidak tahu sejak kapan lelaki itu ada di sana.
“Menunggu
sesuatu?” tanya lelaki itu tiba-tiba.
Arka
sedikit terkejut.
“Tidak
juga.”
Lelaki
tua itu tertawa kecil.
“Orang
yang duduk lama di dermaga biasanya menunggu sesuatu. Perahu, orang, atau
kenangan.”
Arka
tidak menjawab.
Lelaki
itu menaruh embernya dan duduk tidak jauh darinya.
“Namaku
Bima,” katanya.
Arka
mengangguk pelan.
“Arka.”
Mereka
terdiam beberapa saat.
Burung
camar melintas rendah di atas air.
“Dulu
aku juga sering duduk di sini,” kata Bima akhirnya. “Tapi waktu itu aku
menunggu seseorang.”
“Siapa?”
tanya Arka tanpa sadar.
“Istriku.”
Arka
menoleh.
“Dia
seorang penjual ikan,” lanjut Bima. “Setiap sore dia pulang dengan perahu
kecil. Aku selalu menunggu di sini.”
“Lalu?”
“Suatu
hari perahunya tidak pernah kembali.”
Angin
tiba-tiba terasa lebih dingin.
Arka
tidak tahu harus berkata apa.
“Laut
memang memberi kehidupan,” kata Bima pelan, “tapi kadang laut juga mengambil
sesuatu dari kita.”
Arka
menunduk.
“Aku
kehilangan ibuku,” katanya akhirnya.
Kata-kata
itu terasa berat keluar dari mulutnya.
Bima
tidak tampak terkejut. Ia hanya memandang laut.
“Rasa
kehilangan itu seperti ombak,” katanya. “Awalnya besar sekali, menghantam apa
saja.”
Arka
menatap air yang berkilau.
“Lalu?”
“Lama-lama
ombak itu masih ada,” kata Bima, “tapi kita belajar berdiri tanpa jatuh.”
Mereka
kembali diam.
Matahari
semakin rendah.
Arka
memperhatikan tangan lelaki tua itu. Kasar dan penuh bekas luka.
“Kakek
masih menunggu?” tanya Arka.
Bima
tersenyum tipis.
“Tidak
lagi.”
“Lalu
kenapa masih datang ke sini?”
Lelaki
tua itu menatap laut yang mulai berubah warna menjadi ungu.
“Karena
kenangan tidak selalu menyakitkan,” katanya. “Kadang kenangan justru
mengingatkan kita bahwa kita pernah sangat mencintai.”
Arka
merasa sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Selama
ini ia mencoba menghindari kenangan tentang ibunya. Setiap mengingatnya,
hatinya terasa seperti diremas.
“Tapi
rasanya sakit,” kata Arka.
“Memang,”
jawab Bima. “Cinta yang besar selalu meninggalkan ruang kosong yang besar
juga.”
Arka
menghela napas.
Di
kejauhan, beberapa perahu nelayan mulai kembali.
Lampu-lampu
kecil mulai menyala di atas gelombang.
“Kamu
tahu,” kata Bima, “waktu istriku hilang, aku marah pada laut.”
Arka
menatapnya.
“Aku
berhenti datang ke sini bertahun-tahun.”
“Lalu
kenapa kembali?”
Bima
tersenyum samar.
“Karena
suatu hari aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Laut
tidak pernah mengambil kenanganku tentang dia.”
Arka
terdiam.
Angin
berhembus lebih pelan sekarang.
Bima
berdiri dan mengambil embernya.
“Aku
harus pulang,” katanya.
“Bapak
nelayan?” tanya Arka.
“Bukan,”
jawabnya sambil tertawa kecil. “Aku hanya memberi makan ikan.”
Arka
mengernyit.
“Ikan?”
Bima
menunjuk embernya.
“Kadang
kita datang ke tempat lama bukan untuk mencari sesuatu yang hilang,” katanya,
“tapi untuk memberi sesuatu yang masih kita punya.”
Ia
mulai berjalan menjauh di sepanjang dermaga.
Arka
memperhatikannya sampai sosoknya semakin kecil.
Langit
sudah hampir gelap.
Lampu-lampu
rumah di sepanjang pantai mulai menyala.
Arka
menatap laut sekali lagi.
Tiba-tiba
ia teringat sesuatu.
Ibunya
pernah berkata:
“Suatu
hari nanti, kamu akan mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari cinta.”
Waktu
itu ia tidak mengerti.
Sekarang
ia mulai sedikit paham.
Arka
berdiri dari ujung dermaga.
Angin
malam terasa lebih lembut.
Ia
berjalan pulang dengan langkah pelan.
Ketika
sampai di halaman rumah, ia melihat ayahnya duduk di kursi kayu di teras.
Biasanya
mereka hanya saling mengangguk sebelum masuk ke kamar masing-masing.
Namun
kali ini Arka berhenti.
“Ayah,”
katanya.
Ayahnya
menoleh, sedikit terkejut.
“Ada
apa?”
Arka
ragu sebentar.
“Ayah
mau ikut ke dermaga besok sore?”
Ayahnya
tidak langsung menjawab.
Ia
menatap Arka lama sekali.
Di
matanya ada sesuatu yang belum pernah Arka lihat sejak ibunya pergi.
Kesedihan
yang sama.
Akhirnya
ayahnya mengangguk pelan.
“Baik.”
Arka
tersenyum kecil.
Untuk
pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir, rumah itu tidak terasa sepenuhnya
kosong.
Malam
turun perlahan di kampung pesisir.
Di
kejauhan, laut terus berdesir seperti selalu.
Seolah-olah
ia sedang menyimpan semua cerita manusia yang pernah datang ke tepinya.
Dan
seperti kata ibunya dulu—
laut
selalu sabar menunggu semua sungai datang padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar