Di
Antara Goresan Tinta,Warna dan Restu
Oleh: Adyan Arinal Haq
Di sudut kamar yang jendelanya menghadap senja, Aku sering berbicara dengan cahaya. Bukan dengan suara, melainkan dengan goresan tinta dan warna. Jingga yang hampir tenggelam di ufuk barat aku tangkap dengan kuas yang sudah agak lusuh, biru yang menggantung di langit aku simpan di sudut skatebook seperti rahasia kecil yang tak ingin dibagi oleh dunia.
Sejak
aku masih duduk dibangku SD, aku percaya bahwa warna memiliki arti kebahagiaan.
Setiap goresan adalah napas, setiap gambar adalah perasaan yang tak sempat
diucapkan. Ia hanya ingin berimajinasi lewat gambar dan warna, dan aku juga
ingin menjadi seniman bukan sekadar pelukis, melainkan penerjemah sunyi dan
arsitektur.
Namun
di ruang makan rumahku, percakapan selalu berjalan dalam nada yang berbeda.
“Bapak
pengen awamu dadi imam seng ora mong manfaat neng keluarga, tapi yo neng
masyarakat, lan wong seng berpangkat le, supoyo masadepan mu apek,” ucap bapakku
suatu malam, dengan suara yang tak keras, tetapi cukup tegas untuk mematahkan
mimpi.
“Lek saget nggeh pegawai negri seng berbekal agama yang mantap,” tambah ibuku,
lirih, seolah masa depan harus memiliki jaminan, bukan imajinasi.
Aku
menunduk. Aku tahu orang tuanku tidak memusuhi atau benci seni. Mereka hanya
takut pada hidup yang tak pasti. Bagi mereka, masa depan adalah angka-angka,
bukan warna dan gambar.
Malam
itu, aku kembali ke kamar. Skatebook yang tadi siang aku gambar masih terbuka.
Di sana ada anak laki-laki yang memandang matahari yang akan tenggelam. Aku memandang gambar
ku itu lama sekali, lalu perlahan aku menutupnya dan menyimpannya ke dalam laci almari.
Hari-hari
berikutnya aku isi dengan buku-buku, kuas-kuas ku mengering. Alat-alat
menggambarku juga sudah berdebu. Sementara itu, mimpiku belajar diam.
Tetapi
diam bukan berarti mati.
Di
sela-sela kesibukan, Aku tetap mencuri waktu untuk menggambar di belakang buku
catatanku. Di antara materi politik, materi ilmiah,dan agama tumbuh sketsa hitam
putih, wajah-wajah tanpa nama. Aku seperti menanam taman rahasia di tanah yang
bukan milikku sendiri.
Suatu
sore, ibuku menemukan sketsa itu.
“Le…
ibuk ngerti awakmu onten bakat gambar, tapi sak niki awamu kudu ndadik ke
bakatmu hobi mawon nggeh…, ibuk kepengen awakmu sukses ora mung neng karir,
tapi neng akhirat barang”
Aku
hanya diam. Ada gemetar kecil di dadaku. Aku ingin berkata, “Niki boten sekadar menggambar, Buk. Nikii carane kulo mengimajinasikan
perasaan menjadi sebuah karya”. Namun
aku hanya senyum tipis.
“Nggeh,
Buk.”
Ibuku
menatap sketsa itu lama. Tak ada amarah di matanya, hanya kekhawatiran yang
dalam dan cinta yang tak bisa di ucapkan dengan kata.
“Bismillah
nggeh le, mugi-mugi sukses,” bisik ibuku.
Dan
saat itulah aku mengerti, kadang orang tua tidak melarang mimpi karena benci,
melainkan karena takut kehilangan anaknya pada dunia yang tak ramah.
Malam
itu, Aku mengambil seluruh buku gambarku. Aku tidak membakarnya, tidak pula
merobeknya. Ia membungkusnya rapi, menyimpannya di dalam almari, lalu
menuliskan di atasnya:
“Konco
kentel.”
Aku
memilih jalan yang diinginkan orang tuaku. Aku juga berpikir bahwa juka aku
mengambil jalan yang tidak dapat ridho orang tuaku, sama saja aku durhaka
kepadanya. Aku belajar sambil menyeduh kopi dan merokok, meniti tangga yang ku anggap
paling aman. Setiap keberhasilan aku persembahkan sebagai bentuk bakti. Aku
ingin orang tuanku bangga, aku ingin wajah orangtuaku gembira melihat anaknya
sukses.
Namun
di dalam diriku, warna-warna itu tetap hidup. Mereka tak lagi memberontak,
hanya menunggu. Namun aku lebih memilih hitam dan putih.
Dulu
rencanaku itu, aku ingin sekali masuk ke perguruan tinggi seni dan arsitektur.
Namun
aku tidak menyesali pilihannku yang sekarang. Aku tahu, mencintai dan berbakti
kepada orang tua juga adalah bentuk keberanian dan ridho yang maha kuasa.
Mengalah bukan berarti kalah, kadang itu adalah cara lain untuk menang atas
ego, menang atas keinginan yang terlalu ingin segera.
Suatu
hari nanti, ketika waktunya telah lapang dan restu telah menjadi lebih lembut,
mungkin kotak kayu itu akan kembali dibuka. Mungkin kuas-kuas akan kembali
basah oleh warna.
Sebab
mimpi yang ditunda dengan hormat tidak pernah benar-benar padam. Aku hanya
belajar sabar dan melihat luas masa depan.
“TIDAK
ADA KATA SEMOGA DI TAHUN INI ATAU DI TAHUN” BERIKUTNYA,
APAPUN
YANG TERJADI DIDEPAN, BERTEMPUR LAH HABIS-HABISAN
DI JALUR TAKDI-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar