Selasa, 24 Maret 2026

Di Antara Goresan Tinta,Warna dan Restu

 

Di Antara Goresan Tinta,Warna dan Restu

Oleh: Adyan Arinal Haq



Di sudut kamar yang jendelanya menghadap senja, Aku sering berbicara dengan cahaya. Bukan dengan suara, melainkan dengan goresan tinta dan  warna. Jingga yang hampir tenggelam di ufuk barat aku tangkap dengan kuas yang sudah agak lusuh, biru yang menggantung di langit aku simpan di sudut skatebook seperti rahasia kecil yang tak ingin dibagi oleh dunia.

Sejak aku masih duduk dibangku SD, aku percaya bahwa warna memiliki arti kebahagiaan. Setiap goresan adalah napas, setiap gambar adalah perasaan yang tak sempat diucapkan. Ia hanya ingin berimajinasi lewat gambar dan warna, dan aku juga ingin menjadi seniman bukan sekadar pelukis, melainkan penerjemah sunyi dan arsitektur.

Namun di ruang makan rumahku, percakapan selalu berjalan dalam nada yang berbeda.

“Bapak pengen awamu dadi imam seng ora mong manfaat neng keluarga, tapi yo neng masyarakat, lan wong seng berpangkat le, supoyo masadepan mu apek,” ucap bapakku suatu malam, dengan suara yang tak keras, tetapi cukup tegas untuk mematahkan mimpi.
“Lek saget nggeh pegawai negri seng berbekal agama yang mantap,” tambah ibuku, lirih, seolah masa depan harus memiliki jaminan, bukan imajinasi.

Aku menunduk. Aku tahu orang tuanku tidak memusuhi atau benci seni. Mereka hanya takut pada hidup yang tak pasti. Bagi mereka, masa depan adalah angka-angka, bukan warna dan gambar.

Malam itu, aku kembali ke kamar. Skatebook yang tadi siang aku gambar masih terbuka. Di sana ada anak laki-laki yang memandang  matahari yang akan tenggelam. Aku memandang gambar ku itu lama sekali, lalu perlahan aku menutupnya dan  menyimpannya ke dalam laci almari.

Hari-hari berikutnya aku isi dengan buku-buku, kuas-kuas ku mengering. Alat-alat menggambarku juga sudah berdebu. Sementara itu, mimpiku  belajar diam.

Tetapi diam bukan berarti mati.

Di sela-sela kesibukan, Aku tetap mencuri waktu untuk menggambar di belakang buku catatanku. Di antara materi politik, materi ilmiah,dan agama tumbuh sketsa hitam putih, wajah-wajah tanpa nama. Aku seperti menanam taman rahasia di tanah yang bukan milikku sendiri.

Suatu sore, ibuku menemukan sketsa itu.

“Le… ibuk ngerti awakmu onten bakat gambar, tapi sak niki awamu kudu ndadik ke bakatmu hobi mawon nggeh…, ibuk kepengen awakmu sukses ora mung neng karir, tapi neng akhirat barang”

Aku hanya diam. Ada gemetar kecil di dadaku. Aku ingin berkata, “Niki boten sekadar menggambar, Buk. Nikii carane kulo mengimajinasikan perasaan menjadi sebuah karya”. Namun aku hanya senyum tipis.

“Nggeh, Buk.”

Ibuku menatap sketsa itu lama. Tak ada amarah di matanya, hanya kekhawatiran yang dalam dan cinta yang tak bisa di ucapkan dengan kata.

“Bismillah nggeh le, mugi-mugi sukses,” bisik ibuku.

Dan saat itulah aku mengerti, kadang orang tua tidak melarang mimpi karena benci, melainkan karena takut kehilangan anaknya pada dunia yang tak ramah.

Malam itu, Aku mengambil seluruh buku gambarku. Aku tidak membakarnya, tidak pula merobeknya. Ia membungkusnya rapi, menyimpannya di dalam almari, lalu menuliskan di atasnya:

“Konco kentel.”

Aku memilih jalan yang diinginkan orang tuaku. Aku juga berpikir bahwa juka aku mengambil jalan yang tidak dapat ridho orang tuaku, sama saja aku durhaka kepadanya. Aku belajar sambil menyeduh kopi dan merokok, meniti tangga yang ku anggap paling aman. Setiap keberhasilan aku persembahkan sebagai bentuk bakti. Aku ingin orang tuanku bangga, aku ingin wajah orangtuaku gembira melihat anaknya sukses.

Namun di dalam diriku, warna-warna itu tetap hidup. Mereka tak lagi memberontak, hanya menunggu. Namun aku lebih memilih hitam dan putih.

Dulu rencanaku itu, aku ingin sekali masuk ke perguruan tinggi seni dan arsitektur.

Namun aku tidak menyesali pilihannku yang sekarang. Aku tahu, mencintai dan berbakti kepada orang tua juga adalah bentuk keberanian dan ridho yang maha kuasa. Mengalah bukan berarti kalah, kadang itu adalah cara lain untuk menang atas ego, menang atas keinginan yang terlalu ingin segera.

Suatu hari nanti, ketika waktunya telah lapang dan restu telah menjadi lebih lembut, mungkin kotak kayu itu akan kembali dibuka. Mungkin kuas-kuas akan kembali basah oleh warna.

Sebab mimpi yang ditunda dengan hormat tidak pernah benar-benar padam. Aku hanya belajar sabar dan melihat luas masa depan.

“TIDAK ADA KATA SEMOGA DI TAHUN INI ATAU DI TAHUN” BERIKUTNYA,

APAPUN YANG TERJADI DIDEPAN, BERTEMPUR LAH HABIS-HABISAN

 DI JALUR TAKDI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar