Selasa, 24 Maret 2026

Obat Di Kamar No. 4

 

Obat Di Kamar No. 4

Oleh: M.A Sabilarrosyad

 


RABU KELABU, begitulah Ahmad memberi label pada hari itu. Gelora jiwa muda memaksa dirinya masuk ke dalam sandiwara, bak novel-novel bertema asmara. Mengharap akhir bahagia, namun tak terlaksana. "Ah sial, dunia ini terlalu bercanda," umpatnya pelan.

Di atas kasur empuk tak beranjang bernamakan spring bed, disaksikan puluhan baju tergantung dari atas. Angin berhembus kencang, menerjang gorden asrama menyapa Ahmad. Seolah membisikkan kata, "kecewamu juga punya batas". Ruangan sempit itu mendadak terasa lebih luas karena kekosongan yang ia rasakan. Setiap sudut tembok seolah memantulkan kembali bayangan-bayangan.

Bagi Ahmad, hiruk-pikuk kampus dan asrama pasti ada sukanya, dan dukanya berada di asmara. Sedih, marah, dan kecewa berlomba-lomba mendominasi isi hati, memprovokasi untuk mengganti rasa menjadi luka. Ia teringat betapa tipisnya batas antara tawa di kantin siang tadi dengan air mata di balik bantal malam ini. Kampus yang dulunya tempat menimba ilmu, kini menjelma menjadi ruang hampa penuh ambigu.

Menurut mbah Google, Ahmad mengidap sakit sosial. Kala emosi merayap membuat kesal, hinggap menetap merasa sial. Jangankan dokter dan psikiater, pemadam kebakaran pun akan kebingungan. Seperti apa cara memadamkan api cemburu yang membakar deretan gedung-gedung kasmaran?

Deretan gedung-gedung yang menjulang perlahan ambruk, menyisakan puing-puing kenangan. Para kontraktor mulai berdatangan, menawari megaproyek baru bertajuk kebencian. Berusaha membangun dinding yang tinggi agar tak lagi bisa dilalui angan.

Tutik, gadis seumuran yang dikenal dari acara ospek di universitas dekat Rawa Pening, pegiat seni, suka bernyanyi, pandai menari, dan termasuk dalam jajaran wanita langka karena mencinta sepak bola. Namun Tutik juga manusia pada umumnya, sering salah, rawan berdosa. Dari sekian banyak kelebihan yang ia punya, benefit yang Ahmad peroleh hanyalah luka. Melihat Tutik tak lagi sama, memunculkan pertanyaan besar baginya. “Lantas selama ini, apa sudah lupa?”

Tak ingin berlarut dalam kesedihannya, Ahmad mencoba meluapkan kekecewaannya dengan bercerita. Ia butuh pendengar yang memaklumi, bukan massa yang menghakimi. Namun waktu sudah tidak berpihak kepadanya. Menunjukkan hampir 22.00 WIB, memang sudah saatnya. Gerbang asrama tak akan mentolerir siapa pun yang berada atau akan keluar dari tempat bak penjara itu.

Tak kehabisan akal, bermodal telepon genggam yang biasa kita menyebutnya HP, Ahmad teringat jika dia mempunyai aplikasi bernama WhatsApp. Dengan tergesa-gesa keyboard diketiknya dengan jemari yang sedikit gemetar. Satu nama mencuat dalam pikiran, "Dhuha". Yaps, dia adalah saksi Rabu kelabu itu. Dhuha adalah satu-satunya orang yang tidak bertanya "kenapa". Tapi Ahmad tahu dia adalah seorang perasa lewat mimik wajahnya.

Gelisah menanti sesuatu yang tak pasti. Toh, Ahmad sudah biasa menjalani hidup yang penuh teka-teki tak terjawab. Perlahan tapi pasti, yang ditunggu mulai menghampiri. Dari jauh terlihat remang lampu sorot motor tua mendekat, membelah kegelapan jalanan asrama yang mulai lengang. Dhuha dengan Honda Grand berplat nomor H menyapa. Ekspresi tegang menjadi salam pembuka.

"Gimana, Mad, ada apa?" Dhuha tanpa basa-basi Menanyakan perihal, tema pembicaraan malam ini. Di barengi sorot mata penuh empati.

"Kamu pasti sudah paham kan?" jawab Ahmad dengan sedikit memaksakan senyum.

"Ya wes, ayo!" ajak Dhuha merasa iba. Seraya mesin motor tuanya, memberi isyarat untuk segera naik dan meninggalkan asrama.

Bunyi motor tak terdengar lagi, pertanda Ahmad menjauh pergi. Tak menghiraukan ada mata yang sedang mengawasi. Bagi mereka, jalan yang Ahmad pilih tidak bisa dibenarkan dan dimaklumi. Dengan sekian banyak kenyataan yang ia dapati, keinginannya hanya satu, “berlari untuk menepi”. Jalanan kembali seperti semula. Sunyi, sepi, hampa layaknya hati yang trauma. Angin malam menusuk jaketnya, namun rasa dingin itu tak ada apanya. Dibandingkan dengan perlakuan Tutik kepadanya.

Menuju barat dengan medan yang tak terlalu berat, dengan jarak yang relatif dekat. Sejenak singgah untuk bercerita kepada Mahmud, sahabat karibku, meluapkan amarah dan kekecewaan diriku. Di sana, di kost bernama ALY. Bangunan sederhana satu lantai, beratap material aluminium yang sedikit bising jika hujan sedang melanda. Agak jauh dari pusat kesibukan kota, menjadi nilai plus untuknya.

Gang yang tak terlalu sempit, setidaknya satu mobil bisa memenuhi badan jalannya. Begitulah gambaran yang dapat Ahmad berikan kepada pembaca. Barangkali ada yang penasaran ingin napak tilas, atau sekadar kepo bagaimana aksesnya?

Gerbang hitam menyambut kedatangan kami, yang tanpa permisi kugeser ke kiri. Andai ini kediaman pribadi, sungguh tak beradab diri ini. Parkiran penuh sesak seperti isi otak di hari itu, berjejer-jejer layaknya antre BBM bersubsidi di SPBU. Hatiku sekali lagi merasa pilu, melihat cat tembok berwarna kuning semu. Simbol duka untukku, sepertinya hari itu benar-benar RABU KELABU.

Kuketuk kamar nomor empat, bermaksud mencari obat. Karena sebenarnya merekalah adalah obat itu sendiri yaitu "sahabat".

Ahmad bernyanyi mengakhiri kisah ini diiringi dengan genjrengan gitar yang Mahmud miliki. Ini asmara, itu asrama In harmonia progressio Ini asmara, itu asrama In harmonia progressio cipt. Pidi Baiq

 

“Tak ada pesan, tak ada kesan, tak ada amanah, hanya berbagi kisah.”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar