Obat Di Kamar No. 4
Oleh: M.A
Sabilarrosyad
RABU KELABU, begitulah Ahmad memberi label pada hari itu. Gelora jiwa muda memaksa dirinya masuk ke dalam sandiwara, bak novel-novel bertema asmara. Mengharap akhir bahagia, namun tak terlaksana. "Ah sial, dunia ini terlalu bercanda," umpatnya pelan.
Di atas kasur empuk tak beranjang bernamakan spring bed, disaksikan
puluhan baju tergantung dari atas. Angin berhembus kencang, menerjang gorden
asrama menyapa Ahmad. Seolah membisikkan kata, "kecewamu juga punya
batas". Ruangan sempit itu mendadak terasa lebih luas karena kekosongan
yang ia rasakan. Setiap sudut tembok seolah memantulkan kembali
bayangan-bayangan.
Bagi Ahmad, hiruk-pikuk kampus dan asrama pasti ada sukanya, dan
dukanya berada di asmara. Sedih, marah, dan kecewa berlomba-lomba mendominasi
isi hati, memprovokasi untuk mengganti rasa menjadi luka. Ia teringat betapa
tipisnya batas antara tawa di kantin siang tadi dengan air mata di balik bantal
malam ini. Kampus yang dulunya tempat menimba ilmu, kini menjelma menjadi ruang
hampa penuh ambigu.
Menurut mbah Google, Ahmad mengidap sakit sosial. Kala emosi
merayap membuat kesal, hinggap menetap merasa sial. Jangankan dokter dan
psikiater, pemadam kebakaran pun akan kebingungan. Seperti apa cara memadamkan
api cemburu yang membakar deretan gedung-gedung kasmaran?
Deretan gedung-gedung yang menjulang perlahan ambruk, menyisakan
puing-puing kenangan. Para kontraktor mulai berdatangan, menawari megaproyek
baru bertajuk kebencian. Berusaha membangun dinding yang tinggi agar tak lagi
bisa dilalui angan.
Tutik, gadis seumuran yang dikenal dari acara ospek di universitas
dekat Rawa Pening, pegiat seni, suka bernyanyi, pandai menari, dan termasuk
dalam jajaran wanita langka karena mencinta sepak bola. Namun Tutik juga
manusia pada umumnya, sering salah, rawan berdosa. Dari sekian banyak kelebihan
yang ia punya, benefit yang Ahmad peroleh hanyalah luka. Melihat Tutik tak lagi
sama, memunculkan pertanyaan besar baginya. “Lantas selama ini, apa sudah
lupa?”
Tak ingin berlarut dalam kesedihannya, Ahmad mencoba meluapkan
kekecewaannya dengan bercerita. Ia butuh pendengar yang memaklumi, bukan massa
yang menghakimi. Namun waktu sudah tidak berpihak kepadanya. Menunjukkan hampir
22.00 WIB, memang sudah saatnya. Gerbang asrama tak akan mentolerir siapa pun
yang berada atau akan keluar dari tempat bak penjara itu.
Tak kehabisan akal, bermodal telepon genggam yang biasa kita
menyebutnya HP, Ahmad teringat jika dia mempunyai aplikasi bernama WhatsApp.
Dengan tergesa-gesa keyboard diketiknya dengan jemari yang sedikit gemetar.
Satu nama mencuat dalam pikiran, "Dhuha". Yaps, dia adalah saksi Rabu
kelabu itu. Dhuha adalah satu-satunya orang yang tidak bertanya
"kenapa". Tapi Ahmad tahu dia adalah seorang perasa lewat mimik
wajahnya.
Gelisah menanti sesuatu yang tak pasti. Toh, Ahmad sudah biasa
menjalani hidup yang penuh teka-teki tak terjawab. Perlahan tapi pasti, yang
ditunggu mulai menghampiri. Dari jauh terlihat remang lampu sorot motor tua
mendekat, membelah kegelapan jalanan asrama yang mulai lengang. Dhuha dengan
Honda Grand berplat nomor H menyapa. Ekspresi tegang menjadi salam pembuka.
"Gimana, Mad, ada apa?" Dhuha tanpa basa-basi Menanyakan
perihal, tema pembicaraan malam ini. Di barengi sorot mata penuh empati.
"Kamu pasti sudah paham kan?" jawab Ahmad dengan sedikit
memaksakan senyum.
"Ya wes, ayo!" ajak Dhuha merasa iba. Seraya mesin motor
tuanya, memberi isyarat untuk segera naik dan meninggalkan asrama.
Bunyi motor tak terdengar lagi, pertanda Ahmad menjauh pergi. Tak
menghiraukan ada mata yang sedang mengawasi. Bagi mereka, jalan yang Ahmad
pilih tidak bisa dibenarkan dan dimaklumi. Dengan sekian banyak kenyataan yang
ia dapati, keinginannya hanya satu, “berlari untuk menepi”. Jalanan kembali
seperti semula. Sunyi, sepi, hampa layaknya hati yang trauma. Angin malam
menusuk jaketnya, namun rasa dingin itu tak ada apanya. Dibandingkan dengan
perlakuan Tutik kepadanya.
Menuju barat dengan medan yang tak terlalu berat, dengan jarak yang
relatif dekat. Sejenak singgah untuk bercerita kepada Mahmud, sahabat karibku,
meluapkan amarah dan kekecewaan diriku. Di sana, di kost bernama ALY. Bangunan
sederhana satu lantai, beratap material aluminium yang sedikit bising jika
hujan sedang melanda. Agak jauh dari pusat kesibukan kota, menjadi nilai plus
untuknya.
Gang yang tak terlalu sempit, setidaknya satu mobil bisa memenuhi
badan jalannya. Begitulah gambaran yang dapat Ahmad berikan kepada pembaca.
Barangkali ada yang penasaran ingin napak tilas, atau sekadar kepo bagaimana
aksesnya?
Gerbang hitam menyambut kedatangan kami, yang tanpa permisi kugeser
ke kiri. Andai ini kediaman pribadi, sungguh tak beradab diri ini. Parkiran
penuh sesak seperti isi otak di hari itu, berjejer-jejer layaknya antre BBM
bersubsidi di SPBU. Hatiku sekali lagi merasa pilu, melihat cat tembok berwarna
kuning semu. Simbol duka untukku, sepertinya hari itu benar-benar RABU KELABU.
Kuketuk kamar nomor empat, bermaksud mencari obat. Karena
sebenarnya merekalah adalah obat itu sendiri yaitu "sahabat".
Ahmad bernyanyi mengakhiri kisah ini diiringi dengan genjrengan
gitar yang Mahmud miliki. Ini asmara, itu asrama In harmonia progressio Ini
asmara, itu asrama In harmonia progressio cipt. Pidi Baiq
“Tak ada pesan, tak ada kesan, tak ada amanah, hanya berbagi
kisah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar