Kalah pemilu
berkedok Santet
Oleh : Azril
Al Habsyi
Berawal dari seorang bapak yang bernama pak wildan, beliau bekerja di sebuah kantor desa yang ada di Desa Pamongan Kecamatan Guntur, yang statusnya masih pembantu kepala Desa belum menjadi perangkat Desa. Pak wildan adalah seseorang yang mempunyai sifat etos kerja yang tinggi, dan beliau selalu di banggakan oleh bapak kepala desa yang bernama pak yanto karena kinerja nya yang sangat bagus. Pak Yanto ketika mendapat tugas dari Kecamatan selalu meminta tolong kepada pak wildan untuk membantu menyelesaikan tugasnya.
Suatu ketika ada
pemilihan seleksi perangkat desa yang di ikuti oleh orang banyak, salah satu
nya pak Wildan, yang menjadi pesaing nya yaitu pak Imam beliau adalah adik
kandung dari pak yanto. Seleksi nya yaitu berupa menulis jurnal di word dengan
menggunakan komputer, karena pak Imam kurang paham dengan komputer maka dia
bertanya kepada pak wildan cara menghidupkan komputer “pak wildan ini bagaimana
cara menghidupkan komputer ?”, pak Wildan menjawab dengan seyum tipis sambil
menunjukan tombol power di komputer.
Setelah selesai menunggu
hasil dari seleksi perangkat desa tersebut, dan hasil nya pun mengejutkan pak
Wildan tidak lolos, akan tetapi yang lolos malah pak imam, pak wildan terkejut sampek
heran kenapa dia tidak lolos seleksi, pak Wildan pun mencari tau kenapa dia
tidak lolos seleksi, setelah pak wildan telusuri ternyata pak Yanto/pak Kades
lebih memilih adik kandung nya sendiri ketimbang pak Wildan yang mempunyai pengalaman
jam kerja yang tinggi, karena sifat pak Yanto yang kurang adil karena dalam
menilai seleksi perangkat desa, pak Wildan memutuskan untuk berhenti bekerja
dengan nya, memilih bekerja menjual alat elektronik di rumah.
Waktu selang berlalu
tiba saat pemilihan kepala desa baru di Desa Pamongan, pak Yanto yang sudah
pernah menjadi kepala desa dia mengajukan kembali, yang menjadi lawan politik
nya yaitu pak Supri, beliau adalah seorang pengusaha yang sukses di desa
pamongan, dan beliau berniat mengabdi kepada rakyat desa pamongan. Dan karena
pak wildan merasa tersingkirkan saat pemerintahan pak Yanto, maka dia lebih
memilih pak Supri.
Waktu kampanye pun
tiba, kedua paslon saling debat menunjukan visi misi dan progam kerja nya,
rakyat pun di minta untuk memilih. Setelah selesai pemilihan kepala desa dan
akhir nya di menangkan oleh pak Supri dengan perolehan suara sekitar dua ribu
pemilih, sedangkan pak Yanto hanya sekitar seribu pemilih, dan dia tidak terima
dengan kekalahan nya, dia pun memilih jalan lain dan memuaskan nafsunya dengan menyantet
orang-orang yang bekerjasama dengannya ketika masih menjadi kepala desa dan salah
satu orang yang tidak memilih pak Yanto pada pemilihan kepala desa yaitu pak
wildan.
Hari-hari berlalu
setelah pemilihan kepala desa, keluarga pak Wildan mulai merasakan hal-hal yang
aneh seperti ada yang mengganggu kehidupan nya, istrinya pak Wildan tiba-tiba
merasakan demam tinggi, batuk, dan sampai muntah darah dari dalam perut nya
selama satu minggu hingga di bawa rumah sakit jaya, alat medis yang ada di
rumah sakit pun tidak bias mendeteksi penyakit nya, pak Wildan pun bingung
hingga akhir nya minta tolong kyai di Desa agar istri nya pak wildan dapat
sembuh dari penyakit tersebut. Setelah Istri nya sembuh gantian pak Wildan
merasakan tekanan batin dan mental hingga wajahnya menjadi pucat selama
berbulan bulan hingga akhirnya sembuh dengan selalu membaca ayat-ayat Al-Qur’an
setiap hari, dan selalu meminta perlindungan kepada Allah dari orang-orang
jahat yang menyerang keluarga beliau.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar