Senin, 23 Maret 2026

Residu Kuasa

 

RESIDU KUASA

Oleh: Fitri Durrotun N.



Dinginnya pendingin ruangan di lantai empat gedung kementerian itu biasanya terasa nyaman, namun sore itu, Fizhal merasa seolah ia sedang duduk di dalam peti es. Suara dengung mesin fotokopi di sudut ruangan terdengar seperti detak bom waktu yang siap meledak di telinganya. Di hadapannya, layar monitor menampilkan barisan angka yang selama berbulan-bulan ia susun dengan tangan gemetar. "Proyek Mercusuar." Nama yang agung untuk sebuah skema yang busuk.

Fizhal adalah seorang asisten birokrat yang teliti. Tugasnya adalah merapikan administrasi, namun ketelitiannya justru membawanya ke sebuah lubang kelinci yang gelap. Ia menemukan bahwa dana reboisasi Hutan Rimba Hijau—hutan yang menjadi paru-paru tanah kelahirannya—telah dialirkan ke rekening-rekening siluman untuk membiayai kampanye politik para raksasa.

Tangannya merogoh saku kemeja, memastikan benda kecil berbahan plastik merah itu masih di sana. Flashdisk itu berisi salinan dokumen asli, tanda tangan basah sang Menteri, dan rekaman percakapan yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi.

"Zhal, belum pulang?" suara berat Pak Handoko mengagetkannya.

Fizhal buru-buru menekan tombol Alt+Tab. "Sedikit lagi, Pak. Laporan bulanan untuk Dirjen harus selesai malam ini."

Pak Handoko, pria yang selama ini Fizhal anggap sebagai mentor, hanya mengangguk kecil. Mata pria tua itu tampak menyelidik, seolah ia bisa mencium bau pengkhianatan yang menguar dari keringat dingin di dahi Fizhal. "Jangan terlalu idealis, Zhal. Di gedung ini, keselamatan jauh lebih berharga daripada kebenaran. Pulanglah, istrimu pasti menunggu."

Fizhal hanya tersenyum kaku. Ia tidak punya istri. Ia hanya punya seorang sahabat yang sedang menunggunya di bawah lampu jalanan yang remang, membawa janji masa lalu yang belum lunas.

Begitu Pak Handoko menghilang di balik pintu lift, Fizhal langsung menyambar tasnya. Ia melangkah keluar dengan ritme jantung yang berantakan. Melalui ponselnya, ia mengetikkan pesan singkat yang sudah ia siapkan sejak pagi.

"Barangnya sudah di tangan. Jemput aku di titik biasa. Sekarang."

--- 

Di gang sempit di belakang gedung kementerian, bau sampah dan uap hujan menyambutnya. Sesosok perempuan dengan jaket parka gelap dan helm full-face sedang duduk di atas motor trail yang mesinnya masih menderu halus. Itu Fitri.

"Lama banget," bisik Fitri tajam dari balik kaca helmnya yang gelap.

Fizhal langsung naik ke boncengan tanpa banyak bicara. "Jalan, Fit. Aku rasa mereka sudah curiga."

Motor itu melesat, membelah kemacetan kota yang mulai merayap. Di bawah jembatan layang yang bising, Fitri membelokkan motornya ke sebuah area parkir terbengkalai. Ia mematikan mesin, melepaskan helm, dan membiarkan rambut pendeknya berantakan terkena angin malam.

"Kasih ke aku," kata Fitri datar. "Kalau mereka nangkap kamu di jalan, biarkan aku yang lari."

Fizhal menggeleng, tangannya meremas tali tasnya erat. "Sepuluh tahun, Fit. Ingat nggak waktu kita masih mahasiswa? Kita orasi di depan gerbang kampus sampai suara kita habis, janji bakal jagain hutan itu. Sekarang aku malah jadi orang yang nyiapin materai buat mereka ngerusak semuanya dari dalam. Aku muak jadi residu dari kekuasaan mereka yang kotor."

Fitri menatap Fizhal dalam-dalam. Ada kilat kemarahan, namun juga rasa bangga di matanya. "Kamu bukan residu, Zhal. Kamu itu saringan. Kamu yang memisahkan mana yang harus dibuang dan mana yang harus diselamatkan. Kamu orang paling berani yang pernah aku kenal karena mau masuk ke lubang singa itu sendirian selama bertahun-tahun."

"Tapi mereka bakal hancurin kita, Fit," bisik Fizhal. "Karierku selesai. Hidupku sebagai warga negara normal selesai. Dan aku nggak mau menyeret kamu ke dalam lubang ini."

Fitri meraih tangan Fizhal, meremasnya dengan kekuatan yang tidak sebanding dengan tubuh kecilnya. "Sejak kapan kita peduli soal kenyamanan? Waktu kita bagi satu bungkus mi instan di sekretariat Mapala dulu, kita sudah sepakat: kalau satu jatuh, dua-duanya harus lompat. Politik ini mungkin kotor, tapi persahabatan kita nggak akan pernah jadi residunya."

Tiba-tiba, sorot lampu putih yang sangat terang menghujam mereka dari ujung jalan. Sebuah SUV hitam tanpa pelat nomor meluncur kencang ke arah mereka.

"Zhal, pakai helmmu! Cepat!" teriak Fitri.

Kejar-kejaran itu dimulai. Fitri memacu motornya dengan gila, menembus trotoar, melompati gundukan pasir, dan meliuk di antara gang-gang pemukiman padat.

Fizhal bisa mendengar suara tembakan peringatan yang dilepaskan ke udara. Dunianya terasa berputar, hanya detak jantung Fitri yang ia rasakan di punggungnya yang menjadi sauh kenyataan.

Mereka sampai di sebuah jembatan yang sedang dalam perbaikan. Di depan, barikade polisi dan mobil pemerintah sudah menutup jalan. Di belakang, SUV hitam itu makin mendekat.

"Kita terjebak," desis Fitri, matanya liar mencari jalan keluar.

Fizhal turun dari motor. Ia menatap jembatan kayu sementara yang sempit di samping jalur utama, lalu menatap gedung stasiun radio Suara Rakyat yang berdiri kokoh seratus meter di seberang sungai. Hanya stasiun itu satu-satunya media yang cukup nekat untuk menyiarkan berita tanpa sensor pemerintah.

"Fit, turun," kata Fizhal dengan nada suara yang anehnya menjadi sangat tenang.

"Apa maksudmu? Kita bisa coba lewat tangga darurat itu—"

"Enggak akan sempat. Mereka punya senjata, Fit. Kita cuma punya data ini," Fizhal menarik flashdisk merah itu dan memasukkannya paksa ke dalam kepalan tangan Fitri. "Kamu harus lari lewat tangga besi di bawah jembatan ini. Kamu lincah, kamu pendaki gunung terbaik yang aku tahu. Kamu bisa memanjat ke balkon stasiun itu dari belakang tanpa terlihat."

Fitri tersedak ludahnya sendiri, air mata mulai menggenang. "Terus kamu? Kita janji bareng-bareng, Zhal!"

"Kalau kita berdua lari, kita berdua ketangkap. Dan data ini bakal dihancurkan," Fizhal mencengkeram bahu sahabatnya, memaksa Fitri menatap matanya. "Dengarkan aku. Kamu itu suara buat mereka yang nggak punya suara. Idealisme kamu itu api yang selama ini bikin aku tetap waras di kantor kementerian itu. Jangan biarkan mereka memadamkan api itu cuma karena kamu mau menyelamatkan aku. Pergi. Sekarang!"

Langkah kaki sepatu bot berat terdengar mendekat. Fizhal mendorong Fitri ke arah kegelapan di pinggir jembatan.

"Satu kali ini saja, Fit. Tolong... buat pengkhianatanku pada birokrasi ini jadi sesuatu yang berguna untuk anak cucu kita nanti," bisik Fizhal.

Dengan isak tangis yang tertahan, Fitri mengangguk. Ia memeluk Fizhal sekejap— sebuah pelukan yang membawa aroma keringat, debu, dan kenangan sepuluh tahun—lalu ia melompat ke bawah, menghilang di balik bayangan struktur jembatan.

Fizhal berdiri tegak. Ia merapikan kemejanya yang kusut, menarik napas dalamdalam, dan berjalan ke tengah sorot lampu yang menyilaukan.

"SAYA FIZHAL! SAYA YANG MEMEGANG DATANYA!" teriaknya, suaranya menggelegar mengalahkan suara sirine.

Petugas berseragam hitam merangsek maju. Fizhal dijatuhkan ke aspal dengan kasar. Wajahnya ditekan ke permukaan jalan yang kasar dan dingin. Rasa sakit menjalar di bahunya saat borgol mengunci pergelangan tangannya. Namun, Fizhal justru memejamkan mata. Ia tersenyum.

Lima menit kemudian, melalui pengeras suara kota yang terpasang di tiang listrik dekat jembatan, suara statis terdengar sejenak. Lalu, suara yang sangat ia kenal— suara Fitri yang bergetar namun penuh wibawa—pecah di udara malam.

"Rakyat Indonesia, dengarkan saya... Nama saya Fitri, dan malam ini saya akan membacakan sebuah kebenaran yang coba dikubur di bawah aspal dan beton..."

Di dalam mobil tahanan yang bergerak menjauh, Fizhal mendengarkan setiap kata yang diucapkan Fitri. Ia tahu, mulai malam ini, ia akan dianggap sebagai teroris, pengkhianat, atau pesakitan. Tapi baginya, jeruji besi hanyalah harga kecil untuk sebuah hutan yang kembali bernapas.

--- 

Lima Tahun Kemudian

Pintu besi penjara berderit terbuka dengan suara parau yang menyakitkan telinga. Fizhal melangkah keluar dengan sebuah tas kecil di tangannya. Rambutnya kini mulai beruban di beberapa bagian, dan garis wajahnya tampak lebih dalam. Sinar matahari pagi terasa menyengat setelah bertahun-tahun ia hanya melihatnya dari balik celah sempit.

Di depan gerbang, tidak ada kerumunan wartawan. Hanya ada satu motor trail yang mesinnya menderu jantan. Dan seorang perempuan dengan jaket parka yang sudah pudar warnanya, menyandar di sana sambil melipat tangan.

Fitri tidak banyak bicara. Ia melemparkan sebuah helm ke arah Fizhal. Fizhal menangkapnya dengan refleks yang masih tajam.

"Gimana rasanya jadi pahlawan yang terlupakan?" tanya Fitri dengan seringai tipisnya yang khas.

Fizhal memakai helmnya, lalu melirik ke arah kios koran di seberang jalan. Judul utamanya bukan lagi tentang skandal atau korupsi, melainkan tentang keberhasilan restorasi nasional. Hutan Rimba Hijau telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia yang tidak boleh disentuh oleh alat berat manapun.

"Rasanya lebih baik daripada jadi residu yang cuma diam melihat dunia hancur," jawab Fizhal enteng.

Fitri memutar gas. "Ayo berangkat. Ada kabar kalau di pesisir utara, mereka mulai menjual laut ke perusahaan asing. Dan kayaknya mereka butuh orang dalam yang sedikit nekat kayak kamu buat membocorkan jadwal mereka."

Fizhal tertawa, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak ia lepaskan. Ia naik ke boncengan, memeluk bahu sahabatnya erat, dan mereka pun melesat menembus jalanan kota. Pelarian mereka kali ini bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena sebuah panggilan yang—selama ketidakadilan masih ada—tidak akan pernah benar-benar usai.

--- 

---TAMAT---

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar