RESIDU KUASA
Oleh: Fitri Durrotun N.
Dinginnya pendingin ruangan di lantai empat gedung kementerian itu biasanya terasa nyaman, namun sore itu, Fizhal merasa seolah ia sedang duduk di dalam peti es. Suara dengung mesin fotokopi di sudut ruangan terdengar seperti detak bom waktu yang siap meledak di telinganya. Di hadapannya, layar monitor menampilkan barisan angka yang selama berbulan-bulan ia susun dengan tangan gemetar. "Proyek Mercusuar." Nama yang agung untuk sebuah skema yang busuk.
Fizhal adalah
seorang asisten birokrat yang teliti. Tugasnya adalah merapikan administrasi,
namun ketelitiannya justru membawanya ke sebuah lubang kelinci yang gelap. Ia
menemukan bahwa dana reboisasi Hutan Rimba Hijau—hutan yang menjadi paru-paru
tanah kelahirannya—telah dialirkan ke rekening-rekening siluman untuk membiayai
kampanye politik para raksasa.
Tangannya merogoh
saku kemeja, memastikan benda kecil berbahan plastik merah itu masih di sana. Flashdisk itu berisi salinan dokumen
asli, tanda tangan basah sang Menteri, dan rekaman percakapan yang ia ambil
secara sembunyi-sembunyi.
"Zhal, belum
pulang?" suara berat Pak Handoko mengagetkannya.
Fizhal buru-buru
menekan tombol Alt+Tab. "Sedikit
lagi, Pak. Laporan bulanan untuk Dirjen harus selesai malam ini."
Pak Handoko, pria
yang selama ini Fizhal anggap sebagai mentor, hanya mengangguk kecil. Mata pria
tua itu tampak menyelidik, seolah ia bisa mencium bau pengkhianatan yang
menguar dari keringat dingin di dahi Fizhal. "Jangan terlalu idealis,
Zhal. Di gedung ini, keselamatan jauh lebih berharga daripada kebenaran.
Pulanglah, istrimu pasti menunggu."
Fizhal hanya
tersenyum kaku. Ia tidak punya istri. Ia hanya punya seorang sahabat yang
sedang menunggunya di bawah lampu jalanan yang remang, membawa janji masa lalu
yang belum lunas.
Begitu Pak Handoko
menghilang di balik pintu lift, Fizhal langsung menyambar tasnya. Ia melangkah
keluar dengan ritme jantung yang berantakan. Melalui ponselnya, ia mengetikkan
pesan singkat yang sudah ia siapkan sejak pagi.
"Barangnya
sudah di tangan. Jemput aku di titik biasa. Sekarang."
Di gang sempit di
belakang gedung kementerian, bau sampah dan uap hujan menyambutnya. Sesosok
perempuan dengan jaket parka gelap dan helm full-face
sedang duduk di atas motor trail yang mesinnya masih menderu halus. Itu Fitri.
"Lama
banget," bisik Fitri tajam dari balik kaca helmnya yang gelap.
Fizhal langsung naik
ke boncengan tanpa banyak bicara. "Jalan, Fit. Aku rasa mereka sudah
curiga."
Motor itu melesat,
membelah kemacetan kota yang mulai merayap. Di bawah jembatan layang yang
bising, Fitri membelokkan motornya ke sebuah area parkir terbengkalai. Ia
mematikan mesin, melepaskan helm, dan membiarkan rambut pendeknya berantakan
terkena angin malam.
"Kasih ke
aku," kata Fitri datar. "Kalau mereka nangkap kamu di jalan, biarkan
aku yang lari."
Fizhal menggeleng,
tangannya meremas tali tasnya erat. "Sepuluh tahun, Fit. Ingat nggak waktu
kita masih mahasiswa? Kita orasi di depan gerbang kampus sampai suara kita
habis, janji bakal jagain hutan itu. Sekarang aku malah jadi orang yang nyiapin
materai buat mereka ngerusak semuanya dari dalam. Aku muak jadi residu dari
kekuasaan mereka yang kotor."
Fitri menatap Fizhal
dalam-dalam. Ada kilat kemarahan, namun juga rasa bangga di matanya. "Kamu
bukan residu, Zhal. Kamu itu saringan. Kamu yang memisahkan mana yang harus
dibuang dan mana yang harus diselamatkan. Kamu orang paling berani yang pernah
aku kenal karena mau masuk ke lubang singa itu sendirian selama
bertahun-tahun."
"Tapi mereka
bakal hancurin kita, Fit," bisik Fizhal. "Karierku selesai. Hidupku
sebagai warga negara normal selesai. Dan aku nggak mau menyeret kamu ke dalam
lubang ini."
Fitri meraih tangan
Fizhal, meremasnya dengan kekuatan yang tidak sebanding dengan tubuh kecilnya.
"Sejak kapan kita peduli soal kenyamanan? Waktu kita bagi satu bungkus mi
instan di sekretariat Mapala dulu, kita sudah sepakat: kalau satu jatuh, dua-duanya
harus lompat. Politik ini mungkin kotor, tapi persahabatan kita nggak akan
pernah jadi residunya."
Tiba-tiba, sorot
lampu putih yang sangat terang menghujam mereka dari ujung jalan. Sebuah SUV
hitam tanpa pelat nomor meluncur kencang ke arah mereka.
"Zhal, pakai
helmmu! Cepat!" teriak Fitri.
Kejar-kejaran itu
dimulai. Fitri memacu motornya dengan gila, menembus trotoar, melompati
gundukan pasir, dan meliuk di antara gang-gang pemukiman padat.
Fizhal bisa
mendengar suara tembakan peringatan yang dilepaskan ke udara. Dunianya terasa
berputar, hanya detak jantung Fitri yang ia rasakan di punggungnya yang menjadi
sauh kenyataan.
Mereka sampai di
sebuah jembatan yang sedang dalam perbaikan. Di depan, barikade polisi dan
mobil pemerintah sudah menutup jalan. Di belakang, SUV hitam itu makin
mendekat.
"Kita
terjebak," desis Fitri, matanya liar mencari jalan keluar.
Fizhal turun dari
motor. Ia menatap jembatan kayu sementara yang sempit di samping jalur utama,
lalu menatap gedung stasiun radio Suara
Rakyat yang berdiri kokoh seratus meter di seberang sungai. Hanya stasiun
itu satu-satunya media yang cukup nekat untuk menyiarkan berita tanpa sensor
pemerintah.
"Fit,
turun," kata Fizhal dengan nada suara yang anehnya menjadi sangat tenang.
"Apa maksudmu?
Kita bisa coba lewat tangga darurat itu—"
"Enggak akan
sempat. Mereka punya senjata, Fit. Kita cuma punya data ini," Fizhal
menarik flashdisk merah itu dan
memasukkannya paksa ke dalam kepalan tangan Fitri. "Kamu harus lari lewat
tangga besi di bawah jembatan ini. Kamu lincah, kamu pendaki gunung terbaik
yang aku tahu. Kamu bisa memanjat ke balkon stasiun itu dari belakang tanpa
terlihat."
Fitri tersedak
ludahnya sendiri, air mata mulai menggenang. "Terus kamu? Kita janji
bareng-bareng, Zhal!"
"Kalau kita
berdua lari, kita berdua ketangkap. Dan data ini bakal dihancurkan,"
Fizhal mencengkeram bahu sahabatnya, memaksa Fitri menatap matanya.
"Dengarkan aku. Kamu itu suara buat mereka yang nggak punya suara.
Idealisme kamu itu api yang selama ini bikin aku tetap waras di kantor
kementerian itu. Jangan biarkan mereka memadamkan api itu cuma karena kamu mau
menyelamatkan aku. Pergi. Sekarang!"
Langkah kaki sepatu
bot berat terdengar mendekat. Fizhal mendorong Fitri ke arah kegelapan di
pinggir jembatan.
"Satu kali ini
saja, Fit. Tolong... buat pengkhianatanku pada birokrasi ini jadi sesuatu yang
berguna untuk anak cucu kita nanti," bisik Fizhal.
Dengan isak tangis
yang tertahan, Fitri mengangguk. Ia memeluk Fizhal sekejap— sebuah pelukan yang
membawa aroma keringat, debu, dan kenangan sepuluh tahun—lalu ia melompat ke
bawah, menghilang di balik bayangan struktur jembatan.
Fizhal berdiri
tegak. Ia merapikan kemejanya yang kusut, menarik napas dalamdalam, dan
berjalan ke tengah sorot lampu yang menyilaukan.
"SAYA FIZHAL!
SAYA YANG MEMEGANG DATANYA!" teriaknya, suaranya menggelegar mengalahkan
suara sirine.
Petugas berseragam
hitam merangsek maju. Fizhal dijatuhkan ke aspal dengan kasar. Wajahnya ditekan
ke permukaan jalan yang kasar dan dingin. Rasa sakit menjalar di bahunya saat
borgol mengunci pergelangan tangannya. Namun, Fizhal justru memejamkan mata. Ia
tersenyum.
Lima menit kemudian,
melalui pengeras suara kota yang terpasang di tiang listrik dekat jembatan,
suara statis terdengar sejenak. Lalu, suara yang sangat ia kenal— suara Fitri
yang bergetar namun penuh wibawa—pecah di udara malam.
"Rakyat
Indonesia, dengarkan saya... Nama saya Fitri, dan malam ini saya akan
membacakan sebuah kebenaran yang coba dikubur di bawah aspal dan beton..."
Di dalam mobil
tahanan yang bergerak menjauh, Fizhal mendengarkan setiap kata yang diucapkan
Fitri. Ia tahu, mulai malam ini, ia akan dianggap sebagai teroris, pengkhianat,
atau pesakitan. Tapi baginya, jeruji besi hanyalah harga kecil untuk sebuah
hutan yang kembali bernapas.
Lima Tahun Kemudian
Pintu besi penjara
berderit terbuka dengan suara parau yang menyakitkan telinga. Fizhal melangkah
keluar dengan sebuah tas kecil di tangannya. Rambutnya kini mulai beruban di
beberapa bagian, dan garis wajahnya tampak lebih dalam. Sinar matahari pagi terasa
menyengat setelah bertahun-tahun ia hanya melihatnya dari balik celah sempit.
Di depan gerbang,
tidak ada kerumunan wartawan. Hanya ada satu motor trail yang mesinnya menderu
jantan. Dan seorang perempuan dengan jaket parka yang sudah pudar warnanya,
menyandar di sana sambil melipat tangan.
Fitri tidak banyak
bicara. Ia melemparkan sebuah helm ke arah Fizhal. Fizhal menangkapnya dengan
refleks yang masih tajam.
"Gimana rasanya
jadi pahlawan yang terlupakan?" tanya Fitri dengan seringai tipisnya yang
khas.
Fizhal memakai
helmnya, lalu melirik ke arah kios koran di seberang jalan. Judul utamanya
bukan lagi tentang skandal atau korupsi, melainkan tentang keberhasilan
restorasi nasional. Hutan Rimba Hijau telah ditetapkan sebagai situs warisan
dunia yang tidak boleh disentuh oleh alat berat manapun.
"Rasanya lebih
baik daripada jadi residu yang cuma diam melihat dunia hancur," jawab
Fizhal enteng.
Fitri memutar gas.
"Ayo berangkat. Ada kabar kalau di pesisir utara, mereka mulai menjual
laut ke perusahaan asing. Dan kayaknya mereka butuh orang dalam yang sedikit
nekat kayak kamu buat membocorkan jadwal mereka."
Fizhal tertawa,
sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak ia lepaskan. Ia naik ke boncengan,
memeluk bahu sahabatnya erat, dan mereka pun melesat menembus jalanan kota. Pelarian
mereka kali ini bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena sebuah panggilan
yang—selama ketidakadilan masih ada—tidak akan pernah benar-benar usai.
---TAMAT---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar