Kamu, Ujian Terbesarku
Oleh: Vanesa Aulia
Namaku M. Yusuf Adjidan.
Dan aku tidak pernah menyangka bahwa ujian
terberat dalam hidupku bukanlah kegagalan, bukan pula kehilangan harta
melainkan berasal dari seorang perempuan bernama Liya Azzahra Naufalina.
Semua bermula tanpa rencana. Tak ada
scenario dramatis, tak ada pertemuan seperti di film. Hanya dua manusia yang dipetemukan
oleh waktu dan keadaan.
Yusuf dan Liya sering berada di ruang yang
sama, di sebuah majelis kecil yang tidak pernah benar-benar penuh, namun selalu
cukup untuk membuat hati merasa tenang. Tidak ada perkenalan dramatis. Tidak
ada momen istimewa yang bisa diceritakan dengan bangga.
Hanya dua manusia yang tanpa sadar mulai
saling menyadari kehadiran.
Awalnya Yusuf hanya mengenal Liya sebagai
perempuan yang tenang. Ia datang lebih awal, duduk rapi, mencatat seperlunya,
lalu pulang tanpa banyak berbincang. Tidak pernah mencari perhatian.
Justru dari sikap dan kebiasaan itulah yang
membuat Yusuf mulai mengaguminya.
Rasa itu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh
pelan-pelan, seperti hujan yang awalnya hanya gerimis, lalu tanpa disadari
membasahi seluruh halaman hati.
Hari demi hari telah berlalu, hingga Yusuf
mulai menyadari bahwa setiap ia datang ke majlis, ia selalu memperhatikan
tempat dimana perempuan itu biasa duduk. Bahwa senyum kecil dari perempuan itu
bisa tinggal lebih lama di pikirannya daripada isi materi yang baru saja
disampaikan.
Dan disitulah konflik itu mulai tumbuh.
Bukan antara Yusuf dan Liya.
Tetapi antara Yusuf dan dirinya sendiri.
Ia tahu satu hal sejak awal : jika ia tidak
siap membawa hubungan itu ke arah yang halal, maka ia tidak berhak menumbuhkan
harapan.
Namun rasa tidak selalu patuh pada logika.
Ada hari-hari ketika senyum Liya lebih lama
tinggal di benaknya daripada pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan. Ada
malam-malam ketika nama perempuan itu lebih sering terlintas daripada target
hidup yang sedang ia susu n.
“Bagaimana caramu bertahan untuk menghadapi
rasa cinta?,” Tanya temanku suatu hari.
Pertanyaan itu terdengar ringan. Tapi bagi
Yusuf, kalimat itu seperti mengetuk pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Ia tersenyum tipis, kemudian menjawab
“bertahan? Aku bahkan sudah karam di dalam indah matanya, namun aku selalu
berusaha agar rasa ini tidak lebih besar dari rasa takutku kepada Rabbku.”
Dan yusuf tahu, kalimat itu bukan sekedar
jawaban. Itu pengakuan. Itu juga peringatan bagi dirinya sendiri.
Sejaik saat, Yusuf semakin sadar bahwa Liya
adalah ujiannya yang paling berat.
Bukan karena Liya buruk. Justru karena ia
begitu baik.
Yusuf hampir menyerah pada rasa.
Hampir ingin berkata bahwa ia siap
memperjuangkan.
Namun setiap kali keinginan itu muncul, ada
suara lain yang lebih halus namun tegas di dalam dadanya : “Apakah ini jalan
yang diridhai, atau hanya jalan yang kamu inginkan, Yusuf?.”
Dan ia tahu jawabannya.
Ia belum siap.
Belum cukup mapan
Belum cukup dewasa
Belum cukup mampu memikul tanggung jawab
besar yang bernama pernikahan.
Jika ia memaksakan yang terluka justru
Liya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Yusuf tetap datang ke majelis, duduk si saf yang sama, membuka kitab yang sama.
Tetapi kini ada jarak yang ia ciptakan perlahan. Ia tidak lagi mencari-cari
sosok Liya di antara barisan perempuan. Tidak lagi membiarkan pandangannya
terlalu lama singgah.
Sejak hari itu, doa Yusuf berubah.
Ia tidak lagi memaksa menyebut nama Liya
dalam setiap permintaan. Kini doanya lebih sederhana.
“Ya Allah, jika dia baik untuk agamaku dan
masa depanku, dekatkanlah dengan cara-Mu. Jika tidak, cukupkan hatiku
dengan-Mu.
Dan perlahan, ia merasakan sesuatu yang
berbeda.
Bukan hilangnya rasa.
Bukan juga kebal terhadap rindu.
Tetapi ketenangan.
Ketenangan karena memilih taat meski berat.
Ketenangan karena menahan meski mampu.
Ketenangan karena melepaskan meski ingin
menggenggam.
Rasa itu tidak serta merta pergi. Nama Liya
masih terlintas ketika malam datang. Tapi di balik itu, ada ketenangan yang
perlahan tumbuh.
Yusuf akhirnya memahami satu hal: tidak
semua pertemuan ditakdirkan untuk berakhir dengan kebersamaan. Beberapa hanya
hadir untuk mengajarkan tentang batas dan kedewasaan.
Mencintai Liya itu mudah.
Yang sulit adalah memastikan cintanya
kepada Allah tetap lebih besar dari segalanya.
Dan jika suatu hari mereka benar-benar dipertemukan
kembali, semoga bukan lagi sebagai dua hati yang ragu, melainkan dua jiwa yang
telah siap memikul tanggung jawab.
Dan jika tidak?
Yusuf tetap bersyukur.
Karena ia pernah belajar bahwa cinta paling
dewasa bukanlah yang memaksa untuk bersama, melainkan yang rela melepaskan demi
menjaga Ridha-Nya.
Perasaan memang anugerah. Namun arah dari
perasaan selalu menjadi pilihan.
Yusuf menyadari, ketika rasa itu tumbuh,
yang diuji bukan hanya keberanian untuk mengungkapkan, melainkan juga keteguhan
untuk menahan dan menempatkannya dalam batas yang diridhai.
Mencintai Liya adalah fitrah.
Tetapi menjadikan cinta kepada Allah lebih
tinggi dari segalanya, itulah bentuk iman yang sedang ia perjuangkan.
Sebab cinta yang dijaga karena-Nya, menghadirkan
ketenangan. Dan apa pun yang dilepaskan demi Allah, tidak pernah benar-benar
hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar