Minggu, 01 Maret 2026

Ketika Pulang tak lagi Rumah

 

Ketika Pulang tak lagi Rumah

Oleh: Alifia Nur Izzah

 


















Langit menyulam warna jingga di balik gugusan sang mega .seorang pria paruh baya terduduk diam memandang gundukan tanah yang masih basah . tatapan matanya kosong seolah tak percaya. Badannya bergetar hebat. Ia menangis. Tak bersuara . namun lama kelamaan isak suaranya kian terdengar jelas. Badannya membungkuk. Mengusap dan mencium batu nisan itu.

 

“Maafkan papa ya,nak ,”Sesalnya. Tangannya meremas tanah.

 

Benar kata orang, penyesalan akan datang di akhir.

Entah perbuatan apa yang telah ia lakukan hingga ia bisa menangis seperti itu.

 

Langit berubah menjadi gelap namun bukan karna jam malam. Ya. Awan hitam menyelimuti pemakaman. Angin berhembus tenang menyapu dedaunan yang telah gugur. Rintik hujan mulai menyapa. Pria itu menyadari bahwa cuaca tak lagi mendukungnya untuk duduk berlama lama di sana. Ia segera bangkit membasuh air matanya yang masih tertinggal . merapihkan bajunya lalu meninggalkan pemakaman yang sepi .

 

 

Aluna Atmaja Room

 

Nama yang tertera dalam sebuah papan pintu. Pria itu berdiri mematung. Tangan kanannya meraih knop pintu lalu memutarnya. Aroma vanilla begitu menguar ketika pintu terbuka lebar. Matanya mengamati setiap sudut ruangan. Langkahnya selalu teringat bagaimana ketika ia disambut senang oleh seseorang. Dadanya sesak.

 

Ia duduk menyandarkan badannya di dinding. Tangannya meraih bingkai foto yang lama terpajang. Seulas senyuman hadir meskipun matanya sudah membengkak karena menangis

 

 

Pukul dua siang lebih tiga puluh menit, bel sekolah berbunyi. Menandakan para siswa dan siswi telah menyelesaikan pelajaran terakhir. Di Lorong berdesak desakan dengan anak kelas 12 yang baru saja keluar dari Lab computer .Ramai ramai mereka menyerbu parkiran sekolah atau berlari ke kantin. Entah untuk membeli jajan atau hanya ingin mengutang saja.

 

Namun lain halnya dengan dua insan tersebut yang masih di dalam kelas. Sepertinya mereka akan membicarakan hal penting atau membahas hal hal bodoh selama pelajaran berlangsung tadi.

 

"lun, lo beneran jadi ambil jurusan itu?,"

Tanya Caca. Teman sebangku sekaligus menjadi tempat curhatan Aluna selama 5 tahun Bersama.

 

“iya,ca. lo tau sendiri papa gue,”

Aluna meringis menghela napas Panjang. Sedangkan Caca,sadar sebagai teman yang baik hanya bisa men support aluna agar lebih bersemangat Kembali .

 

“tapi kenapa ya,ca? papa gue …,”

Caca membekap mulut aluna dengan cepat. Ia tau, setiap aluna akan bercerita seperti ini pasti akan berakhir tangisan. Dan Caca tak mau itu terjadi disini. Dan bukan waktunya yang tepat untuk membicarakan hal hal yang membuat Aluna sedih.

 

“tenangin diri lo,lun. Masih ada gue,”

Gadis berambut ikal itu tersenyum lebar dan dibalas senyuman tipis Aluna.

 

“ lun, lo denger ga? Jemputan lo udah nunggu dari tadi tuh,”

Caca memang pintar mencairkan suasana.kemudian mereka keluar kelas melewati Lorong Lorong yang sudah sepi.

 

Mobil hitam itu sudah terparkir tepat di depan gerbang sekolah. sopir keluarga Aluna berdiri sambal melambaikan tangan ketika melihat gadis itu keluar bersama Caca. 

 

“gue duluan ya,ca,” ucap Aluna pelan.

Caca mengangguk.”hati hati. Kabarin gue kalo udah sampe rumah ya, lun,”

 

Aluna hanya tersenyum tipis sebelum berbalik menuju mobil. Senyum yang telihat biasa saja bagi orang lain, tapi tidak bagi Caca. Ia tau,senyum itu selalu terasa dipaksakan.

 

 

Sepanjang perjalanan pulang, Aluna memilih diam. Pandangannya lurus ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang perlahan dipenuhi lampu sore. Ponselnya bergetar beberapa kali. Ia mengintip siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.

 

PAPA is calling..

 

Aluna mematikan ponselnya. Dan matanya Kembali menyusuri setiap sudut kota ini.

 

Rumahnya megah. Dilengkapi fasilitas tekhnologi zaman modern.bahkan hanya orag orang tertentu saja yang mempunyai akses masuk keluar rumah itu.

 

Begitu pintu terbuka, suara berat langsung menyambutnya.

 

“kamu dari mana? Papa udah nunggu dari tadi ,”

 

Aluna menunduk.tasnya masih menggelantung di bahu.

 

“Sekolah,pa,”

 

Pria itu  menghela napas panjang.

“ Formulir jurusan  sudah papa tanda tangani.minggu depan kamu mulai bimbingan,”

 

Kalimat itu terasa seperti palu yang jatuh tepat di dadanya.

 

“tapi,pa… Aluna mau…”

 

“ Papa tau mana yang terbaik buat kamu Aluna ,”

 

Tidak ada bentakan. Tidak ada amarah. Justru nada datar itu yang membuat Aluna kehilangan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya.

 

Akhirnya ia mengganguk pelan. Mengiyakan kemauan papa. bagaimanapun ia harus menuruti perintah karna ia anak semata wayang.

 

 

Kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan. Dimulai dari Aluna sepulang sekolah lalu pergi les lalu malamnya ia juga harus mengerjakan tugas tugas sekolah. Yang seharusnya Aluna sudah  tertidur lelap, namun ini malah justru menyiksanya.

 

Sejak saat itu, pintu kamar Aluna tertutup lebih cepat dari biasanya. Lampu masih menyala hingga larut. Buku gambarnya berserakan di meja, sketsa-sketsa mimpi yang perlahan harus ia tinggalkan. bahkan, Aluna membatasi interaksi dengan orang orang sekitar.

 

Sampai dimana hari itu tiba,  Aluna tak kuasa menahan emosi dirinya. Aluna berniat membeli pil pil terlarang untuk meminumnya.dan akhirnya  Aluna ditemukan tewas di kamarnya.

 

 

Ruangan itu tetap rapi, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar saja dan akan Kembali kapan saja.

 

Namun kenyataannya tidak.

 

Jam dinding berdetak pelan. Sunyi memenuhi setiap sudut kamar.

 

Dan untuk pertama kalinya sejak kepergian Aluna, pria itu membiarkan dirinya menangis tanpa berusaha terlihat kuat.

 

Karena kini ia mengerti …

 

Penyesalan selalu datang setelah kesempatan terakhir benar benar hilang,

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar