Kamis, 26 Maret 2026

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

 

Kerinduan di Sudut Saf Belakang

Karya : Fatma Hidayati



Hujan gerimis membasahi pelataran Masjid sore itu. Fatimah, seorang mahasiswi tingkat akhir, duduk bersimpuh di sudut saf belakang yang sepi. Di pangkuannya terbentang kitab Asy-Syama'il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Matanya berkaca-kaca saat jemarinya menyentuh baris demi baris teks yang menjelaskan ciri-ciri fisik Rasulullah SAW.

Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Sebuah kerinduan yang sulit dijelaskan kepada seseorang yang belum pernah ia temui secara fisik. Konflik batin melanda Fatimah, ia merasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW masih sebatas kata-kata di lisan, sementara hatinya sering kali masih sibuk dengan urusan duniawi yang fana.

"Ya Allah, bagaimana mungkin aku mengaku merindu, jika sunnahnya saja masih sering kulalaikan?" bisiknya lirih. Air matanya jatuh, membasahi pinggiran halaman kitab yang menceritakan betapa lembutnya tutur kata sang Nabi.

Seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh, Bu Sarah, yang merupakan guru mengaji di masjid itu, mendekati Fatimah. Ia melihat bahu gadis itu terguncang kecil.

"Assalamu’alaikum, Nak Fatimah. Ada apa? Kenapa menangis sendirian di sini?" tanya Bu Sarah lembut sembari duduk di sampingnya.

Fatimah menyeka air matanya dengan ujung kerudung. "Wa’alaikumussalam, Bu. Saya... saya sedang membaca tentang Rasulullah. Tiba-tiba hati saya merasa sangat jauh. Saya rindu, tapi saya merasa tidak pantas merindu."

Bu Sarah tersenyum, lalu mengambil kitab itu dan membacanya sekilas. "Kenapa merasa tidak pantas?"

"Beliau begitu mulia, Bu. Beliau mencintai umatnya sampai akhir hayat. Sedangkan saya? Shalat tahajud saja masih sering terlewat, lisan saya masih sering tidak terjaga. Apakah Nabi akan mengenali saya sebagai umatnya nanti di telaga Al-Kautsar?" Fatimah menumpahkan kegelisahannya.

Bu Sarah memegang tangan Fatimah. "Nak, kerinduan itu adalah anugerah. Rasulullah pernah bersabda bahwa akan ada kaum setelah beliau yang sangat mencintainya, bahkan mereka rela memberikan keluarga dan harta mereka hanya untuk bisa melihat beliau sekali saja. Itu adalah kamu, jika kamu menjaga rasa rindu itu."

"Tapi bagaimana cara membuktikan rindu ini, Bu?" tanya Fatimah sungguh-sungguh.

"Rindu kepada Nabi itu bukan hanya soal air mata, Fatimah. Buktikan dengan menghidupkan sunnahnya di kehidupan sehari-harimu. Mulailah dari yang kecil; cara makanmu, caramu berbicara pada orang tua, dan yang paling utama, perbanyaklah shalawat. Setiap shalawat yang kamu ucapkan, itu adalah salam rindu yang langsung disampaikan malaikat kepada beliau di alam barzakh," jelas Bu Sarah panjang lebar.

Fatimah terdiam sejenak. "Berarti, setiap kali saya bershalawat, beliau tahu kalau saya sedang merindukannya?"

"Benar. Dan ingatlah, seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di akhirat kelak. Jika hatimu terpaku pada beliau, insya Allah, kalian akan bertemu," tambah Bu Sarah meyakinkan.

Fatimah merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Rasa sesak itu perlahan berganti menjadi semangat baru. Ia bertekad tidak hanya ingin menangis saat membaca sirah, tapi juga ingin menjadi "cermin" kecil dari akhlak beliau.

Malam itu, Fatimah pulang dengan langkah yang lebih ringan. Di sepanjang jalan, bibirnya tak henti melantunkan, "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad." Kerinduan itu kini tidak lagi membuatnya sedih, melainkan menjadi energi untuk memperbaiki diri. Ia sadar bahwa jalan menuju pertemuan dengan kekasih Allah adalah melalui kesetiaan pada ajaran yang beliau bawa.

Amanat Cerita:

Kerinduan kepada Rasulullah SAW adalah tanda hidupnya iman dalam hati seorang muslim. Namun, rindu yang sejati tidak hanya berhenti pada perasaan emosional, melainkan harus diwujudkan dalam ketaatan menjalankan sunnah-sunnah beliau. Mencintai Nabi berarti mencintai apa yang beliau cintai dan menjauhi apa yang beliau benci. Dengan memperbanyak shalawat dan memperbaiki akhlak, seorang hamba sedang membangun jembatan untuk bertemu dengan sang kekasih di surga kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar