Kerinduan di Sudut Saf Belakang
Karya :
Fatma Hidayati
Hujan gerimis membasahi pelataran Masjid sore itu. Fatimah, seorang mahasiswi tingkat akhir, duduk bersimpuh di sudut saf belakang yang sepi. Di pangkuannya terbentang kitab Asy-Syama'il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Matanya berkaca-kaca saat jemarinya menyentuh baris demi baris teks yang menjelaskan ciri-ciri fisik Rasulullah SAW.
Ada rasa sesak yang
aneh di dadanya. Sebuah kerinduan yang sulit dijelaskan kepada seseorang yang
belum pernah ia temui secara fisik. Konflik batin melanda Fatimah, ia merasa
cintanya kepada Nabi Muhammad SAW masih sebatas kata-kata di lisan, sementara
hatinya sering kali masih sibuk dengan urusan duniawi yang fana.
"Ya Allah,
bagaimana mungkin aku mengaku merindu, jika sunnahnya saja masih sering
kulalaikan?" bisiknya lirih. Air matanya jatuh, membasahi pinggiran
halaman kitab yang menceritakan betapa lembutnya tutur kata sang Nabi.
Seorang wanita
paruh baya dengan wajah teduh, Bu Sarah, yang merupakan guru mengaji di masjid
itu, mendekati Fatimah. Ia melihat bahu gadis itu terguncang kecil.
"Assalamu’alaikum,
Nak Fatimah. Ada apa? Kenapa menangis sendirian di sini?" tanya Bu Sarah
lembut sembari duduk di sampingnya.
Fatimah menyeka air
matanya dengan ujung kerudung. "Wa’alaikumussalam, Bu. Saya... saya sedang
membaca tentang Rasulullah. Tiba-tiba hati saya merasa sangat jauh. Saya rindu,
tapi saya merasa tidak pantas merindu."
Bu Sarah tersenyum,
lalu mengambil kitab itu dan membacanya sekilas. "Kenapa merasa tidak
pantas?"
"Beliau begitu
mulia, Bu. Beliau mencintai umatnya sampai akhir hayat. Sedangkan saya? Shalat
tahajud saja masih sering terlewat, lisan saya masih sering tidak terjaga.
Apakah Nabi akan mengenali saya sebagai umatnya nanti di telaga Al-Kautsar?"
Fatimah menumpahkan kegelisahannya.
Bu Sarah memegang
tangan Fatimah. "Nak, kerinduan itu adalah anugerah. Rasulullah pernah
bersabda bahwa akan ada kaum setelah beliau yang sangat mencintainya, bahkan
mereka rela memberikan keluarga dan harta mereka hanya untuk bisa melihat
beliau sekali saja. Itu adalah kamu, jika kamu menjaga rasa rindu itu."
"Tapi
bagaimana cara membuktikan rindu ini, Bu?" tanya Fatimah sungguh-sungguh.
"Rindu kepada
Nabi itu bukan hanya soal air mata, Fatimah. Buktikan dengan menghidupkan
sunnahnya di kehidupan sehari-harimu. Mulailah dari yang kecil; cara makanmu,
caramu berbicara pada orang tua, dan yang paling utama, perbanyaklah shalawat.
Setiap shalawat yang kamu ucapkan, itu adalah salam rindu yang langsung
disampaikan malaikat kepada beliau di alam barzakh," jelas Bu Sarah
panjang lebar.
Fatimah terdiam
sejenak. "Berarti, setiap kali saya bershalawat, beliau tahu kalau saya
sedang merindukannya?"
"Benar. Dan
ingatlah, seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di akhirat
kelak. Jika hatimu terpaku pada beliau, insya Allah, kalian akan bertemu,"
tambah Bu Sarah meyakinkan.
Fatimah merasakan
kehangatan menjalar di hatinya. Rasa sesak itu perlahan berganti menjadi
semangat baru. Ia bertekad tidak hanya ingin menangis saat membaca sirah, tapi
juga ingin menjadi "cermin" kecil dari akhlak beliau.
Malam itu, Fatimah
pulang dengan langkah yang lebih ringan. Di sepanjang jalan, bibirnya tak henti
melantunkan, "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad."
Kerinduan itu kini tidak lagi membuatnya sedih, melainkan menjadi energi untuk
memperbaiki diri. Ia sadar bahwa jalan menuju pertemuan dengan kekasih Allah
adalah melalui kesetiaan pada ajaran yang beliau bawa.
Amanat Cerita:
Kerinduan kepada
Rasulullah SAW adalah tanda hidupnya iman dalam hati seorang muslim. Namun,
rindu yang sejati tidak hanya berhenti pada perasaan emosional, melainkan harus
diwujudkan dalam ketaatan menjalankan sunnah-sunnah beliau. Mencintai Nabi
berarti mencintai apa yang beliau cintai dan menjauhi apa yang beliau benci.
Dengan memperbanyak shalawat dan memperbaiki akhlak, seorang hamba sedang
membangun jembatan untuk bertemu dengan sang kekasih di surga kelak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar