Kamis, 26 Maret 2026

Nasi Goreng Malam Itu

 

Nasi Goreng Malam Itu

Oleh: Muannisa Lola Magfiroh




                  

 Sabtu sore itu rumah lagi enak banget suasananya, kami kumpul di ruang tamu. Aku, adik, ibu sama ayah duduk santai. Nggak ada yang sibuk sendiri-sendiri. Cuma ngobrol biasa, nonton TV sebentar, terus ketawa-ketawa.

 “Nanti malam enaknya makan apa ya?” tanya ibu

Belum sempat kami jawab, ayah langsung bilang, “Nasi goreng aja. Itu kan favoritnya anak-anak.”

Aku sama adikku langsung senyum. Emang kalau disuruh milih, nasi goreng nggak pernah salah. Apalagi kalau makannya rame-rame. Setelah sholat Isyak berjamaah, kami berangkat ke rumah makan nasi goreng langganan. Tempatnya sederhana banget. Kursinya plastik, mejanya biasa aja, tapi entah kenapa selalu terasa nyaman. Sambil nunggu pesanan datang, kami bercanda. Adikku cerita soal temannya. aku nyeletuk nggak jelas. Ayah ketawa. Malam itu ayah kelihatan senang banget. Aku bahkan masih ingat suara tawanya. Waktu nasi gorengnya datang, aromanya langsung kecium. Hangat, ada bau kecap sama bawang putih. Kami langsung makan.

 

Di tengah makan, adikku bilang dia nggak habis.

 

Biasanya kalau ada sisa makanan adikku, ayah bakal bilang, “Udah kasih ibu aja, atau dibungkus dimakan nanti kalau lapar lagi  .” Tapi malam itu beda.

 

“Sini, ayah aja yang habisin,” kata ayah sambil narik piring adikku.

 

Aku sempat lihat, tapi ya udah. Nggak mikir apa-apa. Kupikir ayah lagi lapar. Habis makan, pas mau pulang, adikku tiba-tiba bilang, “Yah, aku mau beli baju hitam. Buat ziarah .”

 

Biasanya ayah jawab, “Besok aja sama ibu di pasar.”

 

Tapi malam itu ayah langsung bilang, “Ayo sekarang aja sama ayah. Tapi besok dipakai ya.”Kami semua kaget, tapi senang. Akhirnya kami beli baju hitam itu malam itu juga. Adikku kelihatan bahagia banget. Sekarang kalau aku ingat-ingat, ayah malam itu kayak nurutin semua yang kami mau.

 

Tengah malam, suasana berubah. Penyakit ayah kambuh. Aku nggak terlalu ngerti detailnya, cuma tahu ibu panik dan ayah minta ditemenin tidur di sampingnya. Subuhnya ayah masih bisa sholat Subuh berjamaah. Itu bikin aku agak tenang. Kupikir mungkin cuma kecapekan biasa. Jam 06.30 aku berangkat sekolah. Ayah mau dibawa ke rumah sakit pagi itu. Tapi anehnya, kelihatannya ayah masih biasa aja. Bahkan sempat bilang ke omku yang nyetir mobil, “Lewat sekolah anak anak dulu.”

 

Dan mobilnya benar-benar lewat depan sekolahku dan adikku. Waktu itu aku nggak mikir aneh-aneh. Tapi sekarang rasanya seperti ayah lagi lihat terakhir kali. Di mobil, ibu sempat nggak sengaja jatuhin HP ayah.

 

Ayah bilang, “Hmmm… HP-ku dijatuhin ya. Nanti ganti yang baru ya, Bu.”

 

Ibu jawab, “Iya ayah, cepet sembuh dulu. Nanti diganti.”

 

Percakapan itu sekarang terus terngiang di kepalaku. Sampai di rumah sakit, kata ibu, ayah berkeringat terus. Minta keringatnya diusap. Lalu tiba-tiba kondisinya menurun dan dibawa ke ruang pemeriksaan. Dan dari situ… ayah nggak kembali lagi. Aku dan adikku waktu itu lagi di sekolah. Dari pagi sebenarnya aku udah ngerasa nggak enak. Rasanya pengen pulang. Pelajaran jadi nggak fokus. Kakak angkat ku  ternyata coba hubungi aku berkali-kali, tapi HP-ku nggak aktif karena lagi jam pelajaran. Tiba-tiba ada tetanggaku datang ke sekolah. Namaku dipanggil lewat speaker. Jantungku langsung deg-degan. Pas dikasih tahu kabarnya, aku langsung lemes. Rasanya kayak kaki nggak kuat berdiri. Aku nggak nangis langsung. Cuma kosong. Bingung. Nggak percaya. Aku pulang bareng tetanggaku. Sepanjang jalan rasanya sunyi banget. Sampai rumah… semuanya udah beda.

 

Dan dari semua kejadian itu, yang terus kepikiran malah malam Sabtu itu. Nasi goreng setelah Isyak. Tawa ayah. Ayah yang ngabisin sisa nasi adikku. Ayah yang langsung beliin baju hitam.

Amanat:

Hal-hal kecil yang waktu itu terasa biasa aja, sekarang jadi kenangan paling besar. Aku baru sadar, kita nggak pernah tahu mana momen terakhir kita sama orang yang kita sayang. Kadang justru momen itu datang dalam bentuk yang paling sederhana. Sekarang setiap lewat rumah makan nasi goreng itu, aku selalu ingat malam tersebut. Rasanya campur aduk. Sedih, tapi juga hangat. Karena ternyata, perpisahan terakhirku dengan ayah bukan dalam suasana dramatis. Tapi dalam tawa, sepiring nasi goreng, dan malam setelah sholat Isyak.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar