Nasi Goreng Malam
Itu
Oleh: Muannisa Lola Magfiroh
Sabtu sore itu rumah lagi enak banget suasananya, kami kumpul di ruang tamu. Aku, adik, ibu sama ayah duduk santai. Nggak ada yang sibuk sendiri-sendiri. Cuma ngobrol biasa, nonton TV sebentar, terus ketawa-ketawa.
“Nanti malam enaknya makan apa ya?”
tanya ibu
Belum sempat kami jawab, ayah
langsung bilang, “Nasi goreng aja. Itu kan favoritnya anak-anak.”
Aku sama adikku langsung senyum.
Emang kalau disuruh milih, nasi goreng nggak pernah salah. Apalagi kalau
makannya rame-rame. Setelah sholat Isyak berjamaah, kami berangkat ke rumah makan
nasi goreng langganan. Tempatnya sederhana banget. Kursinya plastik, mejanya
biasa aja, tapi entah kenapa selalu terasa nyaman. Sambil nunggu pesanan datang,
kami bercanda. Adikku cerita soal temannya. aku nyeletuk nggak jelas. Ayah
ketawa. Malam itu ayah kelihatan senang banget. Aku bahkan masih ingat suara
tawanya. Waktu nasi gorengnya datang, aromanya langsung kecium.
Hangat, ada bau kecap sama bawang putih. Kami langsung makan.
“Di tengah makan, adikku
bilang dia nggak habis.”
Biasanya kalau ada sisa makanan
adikku, ayah bakal bilang, “Udah kasih ibu aja, atau dibungkus dimakan nanti
kalau lapar lagi .” Tapi malam itu beda.
“Sini, ayah aja yang habisin,” kata
ayah sambil narik piring adikku.
Aku sempat lihat, tapi ya udah. Nggak
mikir apa-apa. Kupikir ayah lagi lapar. Habis makan, pas mau pulang, adikku
tiba-tiba bilang, “Yah, aku mau beli baju hitam. Buat ziarah .”
Biasanya ayah jawab, “Besok aja sama
ibu di pasar.”
Tapi malam itu ayah langsung bilang,
“Ayo sekarang aja sama ayah. Tapi besok dipakai ya.”Kami semua kaget, tapi
senang. Akhirnya kami beli baju hitam itu malam itu juga. Adikku kelihatan
bahagia banget. Sekarang kalau aku ingat-ingat, ayah malam itu kayak nurutin
semua yang kami mau.
Tengah malam, suasana berubah.
Penyakit ayah kambuh. Aku nggak terlalu ngerti detailnya, cuma tahu ibu panik
dan ayah minta ditemenin tidur di sampingnya. Subuhnya ayah masih bisa
sholat Subuh berjamaah. Itu bikin aku agak tenang. Kupikir mungkin cuma
kecapekan biasa. Jam 06.30 aku berangkat sekolah. Ayah mau dibawa ke rumah
sakit pagi itu. Tapi anehnya, kelihatannya ayah masih biasa aja. Bahkan sempat
bilang ke omku yang nyetir mobil, “Lewat sekolah anak anak dulu.”
Dan mobilnya benar-benar lewat depan
sekolahku dan adikku. Waktu itu aku nggak mikir aneh-aneh. Tapi sekarang rasanya
seperti ayah lagi lihat terakhir kali. Di mobil, ibu sempat nggak sengaja
jatuhin HP ayah.
Ayah bilang, “Hmmm… HP-ku dijatuhin
ya. Nanti ganti yang baru ya, Bu.”
Ibu jawab, “Iya ayah, cepet sembuh
dulu. Nanti diganti.”
Percakapan itu sekarang terus
terngiang di kepalaku. Sampai di rumah sakit, kata ibu, ayah berkeringat terus.
Minta keringatnya diusap. Lalu tiba-tiba kondisinya menurun dan dibawa ke ruang
pemeriksaan. Dan dari situ… ayah nggak kembali lagi. Aku dan adikku waktu itu lagi
di sekolah. Dari pagi sebenarnya aku udah ngerasa nggak enak. Rasanya pengen
pulang. Pelajaran jadi nggak fokus. Kakak angkat ku ternyata coba hubungi aku berkali-kali, tapi
HP-ku nggak aktif karena lagi jam pelajaran. Tiba-tiba ada tetanggaku datang ke
sekolah. Namaku dipanggil lewat speaker. Jantungku langsung deg-degan. Pas dikasih tahu kabarnya,
aku langsung lemes. Rasanya kayak kaki nggak kuat berdiri. Aku nggak nangis
langsung. Cuma kosong. Bingung. Nggak percaya. Aku pulang bareng tetanggaku.
Sepanjang jalan rasanya sunyi banget. Sampai rumah… semuanya udah beda.
Dan dari semua kejadian itu, yang
terus kepikiran malah malam Sabtu itu. Nasi goreng setelah Isyak. Tawa ayah.
Ayah yang ngabisin sisa nasi adikku. Ayah yang langsung beliin baju hitam.
Amanat:
Hal-hal kecil yang waktu itu terasa
biasa aja, sekarang jadi kenangan paling besar. Aku baru sadar, kita nggak
pernah tahu mana momen terakhir kita sama orang yang kita sayang. Kadang justru
momen itu datang dalam bentuk yang paling sederhana. Sekarang setiap lewat
rumah makan nasi goreng itu, aku selalu ingat malam tersebut. Rasanya campur
aduk. Sedih, tapi juga hangat. Karena ternyata, perpisahan terakhirku dengan
ayah bukan dalam suasana dramatis. Tapi dalam tawa, sepiring nasi goreng, dan
malam setelah sholat Isyak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar