Lampu Kecil di Ujung Jalan
Oleh: Alika Nur Azizah
Di sebuah desa kecil yang di kelilingi sawah hijau dan pohon-pohon besar, hiduplah seorang anak bernama Adit. Adit di kenal sebagai anak yang pendiam, tetapi ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Setiap sore sepulang sekolah, ia selalu berjalan menyusuri jalan tanah yang Panjang di dekat rumahnya.
Di ujung jalan itu berdiri sebuah lampu
jalan tua. Lampu itu berbeda dari lampu lainnya. Tiangnya sudah berkarat dan
catnya mengelupas. Anehnya , lampu itu selalu menyala paling terang saat malam
tiba.
Suatu malam, Adit merasa penasaran.
“Ayah, kenapa lampu di ujung jalan itu
selalu menyala lebih terang?.” Tanya Adit saat makan malam.
Ayahnya tersenyum kecil.
“Konon katanya, lampu itu sudah ada sejak
desa ini masih sangat sepi. Banyak orang bilang lampu itu seperti penjaga
jalan.”
Adit semakin penasaran. Setelah makan
malam, ia memutuskan untuk berjalan ke ujung jalan itu.
Angin malam berhembus pelan. Suara jangkrik
terdengar dari sawah. Langkah Adit terasa sedikit berat, tapi rasa penasarannya
lebih kuat dari rasa takut.
Saat ia sampai dibawah lampu itu, ia
melihat sesuatu yang aneh.
Lampu itu berkedip sebentar.
Adit mendongak.
“Tadi…lampunya berkedip?” gumamnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara pelan.
“Terimakasih sudah datang.”
Adit terkejut dan melihat ke sekeliling.
Tidak ada siapapun.
“Siapa itu?” Tanya adit dengan suara
gemetar.
“Di atasmu.”
Adit Kembali melihat lampu itu. Cahaya
lampu terasa hangat dan lembut.
“Aku sudah lama menunggu seseorang yang
cukup berani datang kesini,” Suara itu berkata lagi.
Adit menelan ludah.
“Kamu…lampu ini?”
“ya,” jawab suara itu lembut.
Adit tidak tahu harus takut atau tidak.
Tapi anehnya, ia merasa tenang.
“Aku sudah menerangi jalan ini selama
puluhan tahun,” kata lampu itu.
“ Banyak orang lewat di bawahku. Ada yang
tertawa, ada yang menangis ada yang pulang dengan harapan.”
Adit duduk dibawah tiang lampu itu.
“Kenapa kamu berbicara padaku?”
“ karena kamu berhenti,” jawab lampu itu.
“ Sebagian orang hanya lewat tanpa
memperhatikan apa pun.”
Adit terdiam. Ia baru menyadari bahwa
selama ini ia memang selalu memperhatikan lampu itu.
“Apa kamu tidak bosan berdiri di sini
terus?” tanya Adit.
Lampu itu berkedip pelan.
“ Tidak. Tugasku sederhana. Aku hanya perlu
memberi sedikit Cahaya agar orang tidak tersesat.”
Adit tersenyum kecil.
“ Meskipun kecil, Cahaya tetap berarti ya?”
“ Benar,” jawab lampu itu.
“ Kadang orang tidak membutuhkan Cahaya
yang besar. Cukup satu lampu kecil agar mereka tahu jalan pulang.”
Malam semakin larut. Adit berdiri dan
menatap lampu itu sekali lagi.
“ Terimakasih sudah menerangi jalan kami.”
Lampu itu bersinar sedikit lebih terang.
“ Dan terimakasih karena kamu mau
memperhatikanku.”
Sejak malam itu, Adit sering berjalan ke
ujung jalan. Ia tidak selalu mendengar suara lampu itu lagi, tetapi setiap kali
melihat cahayanya, ia teringat satu hal penting.
Bahwa sekecil apapun yang kita lakukan,
jika itu membantu orang lain menemukan jalan mereka, maka itu sudah sangat
berarti.
Dan di desa kecil itu, lampu tua di ujung
jalan tetap berdiri.
Menyala.
Sejak malam itu, Adit belajar satu hal
penting: Kebaikan kecil bisa menjadi Cahaya besar bagi banyak orang.
Diam-diam menerangi setiap orang yang
pulang kerumah mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar