Senin, 23 Maret 2026

Lampu Kecil di Ujung Jalan

 

Lampu Kecil di Ujung Jalan

Oleh: Alika Nur Azizah

 


Di sebuah desa kecil yang di kelilingi sawah hijau dan pohon-pohon besar, hiduplah seorang anak bernama Adit. Adit di kenal sebagai anak yang pendiam, tetapi ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Setiap sore sepulang sekolah, ia selalu berjalan menyusuri jalan tanah yang Panjang di dekat rumahnya.

 

Di ujung jalan itu berdiri sebuah lampu jalan tua. Lampu itu berbeda dari lampu lainnya. Tiangnya sudah berkarat dan catnya mengelupas. Anehnya , lampu itu selalu menyala paling terang saat malam tiba.

 

Suatu malam, Adit merasa penasaran.

“Ayah, kenapa lampu di ujung jalan itu selalu menyala lebih terang?.” Tanya Adit saat makan malam.

 

Ayahnya tersenyum kecil.

“Konon katanya, lampu itu sudah ada sejak desa ini masih sangat sepi. Banyak orang bilang lampu itu seperti penjaga jalan.”

 

Adit semakin penasaran. Setelah makan malam, ia memutuskan untuk berjalan ke ujung jalan itu.

 

Angin malam berhembus pelan. Suara jangkrik terdengar dari sawah. Langkah Adit terasa sedikit berat, tapi rasa penasarannya lebih kuat dari rasa takut.

 

Saat ia sampai dibawah lampu itu, ia melihat sesuatu yang aneh.

 

Lampu itu berkedip sebentar.

Adit mendongak.

“Tadi…lampunya berkedip?” gumamnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara pelan.

“Terimakasih sudah datang.”

 

Adit terkejut dan melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun.

“Siapa itu?” Tanya adit dengan suara gemetar.

“Di atasmu.”

Adit Kembali melihat lampu itu. Cahaya lampu terasa hangat dan lembut.

 

“Aku sudah lama menunggu seseorang yang cukup berani datang kesini,” Suara itu berkata lagi.

 

Adit menelan ludah.

“Kamu…lampu ini?”

“ya,” jawab suara itu lembut.

 

Adit tidak tahu harus takut atau tidak. Tapi anehnya, ia merasa tenang.

 

“Aku sudah menerangi jalan ini selama puluhan tahun,” kata lampu itu.

“ Banyak orang lewat di bawahku. Ada yang tertawa, ada yang menangis ada yang pulang dengan harapan.”

 

Adit duduk dibawah tiang lampu itu.

“Kenapa kamu berbicara padaku?”

“ karena kamu berhenti,” jawab lampu itu.

“ Sebagian orang hanya lewat tanpa memperhatikan apa pun.”

Adit terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia memang selalu memperhatikan lampu itu.

“Apa kamu tidak bosan berdiri di sini terus?” tanya Adit.

Lampu itu berkedip pelan.

“ Tidak. Tugasku sederhana. Aku hanya perlu memberi sedikit Cahaya agar orang tidak tersesat.”

Adit tersenyum kecil.

“ Meskipun kecil, Cahaya tetap berarti ya?”

“ Benar,” jawab lampu itu.

“ Kadang orang tidak membutuhkan Cahaya yang besar. Cukup satu lampu kecil agar mereka tahu jalan pulang.”

Malam semakin larut. Adit berdiri dan menatap lampu itu sekali lagi.

“ Terimakasih sudah menerangi jalan kami.”

Lampu itu bersinar sedikit lebih terang.

“ Dan terimakasih karena kamu mau memperhatikanku.”

 

Sejak malam itu, Adit sering berjalan ke ujung jalan. Ia tidak selalu mendengar suara lampu itu lagi, tetapi setiap kali melihat cahayanya, ia teringat satu hal penting.

 

Bahwa sekecil apapun yang kita lakukan, jika itu membantu orang lain menemukan jalan mereka, maka itu sudah sangat berarti.

 

Dan di desa kecil itu, lampu tua di ujung jalan tetap berdiri.

 

Menyala.

 

Sejak malam itu, Adit belajar satu hal penting: Kebaikan kecil bisa menjadi Cahaya besar bagi banyak orang.

Diam-diam menerangi setiap orang yang pulang kerumah mereka.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar