Doa Ibu Menembus Langit
Oleh : Rafli Adi. K
Prolog
Hidup kadang kerasa berat banget, apalagi kalau mimpi kita keliatannya jauh banget buat digapai. Tapi ada satu hal yang sering orang lupa, yaitu doa seorang ibu. Doa yang mungkin nggak keliatan, nggak terdengar, tapi diam-diam naik ke langit dan mengetuk pintu takdir.
Cerita ini tentang seorang anak yang
hampir nyerah sama hidupnya. Sampai akhirnya dia sadar, ada doa ibunya yang
nggak pernah berhenti menguatkan langkahnya.
Namaku Raka. Anak kampung biasa yang
punya mimpi gede: pengen kuliah dan ngebahagiain ibu. Tapi hidup nggak selalu
sesuai rencana.
Suatu malam aku duduk di teras rumah
kecil kami. Lampu kuning redup nyala, ditemani suara jangkrik.
“Ibu…” kataku
pelan.
Ibu yang lagi nyapu
halaman nengok.
“Iya, Ka? Kenapa?”
Aku ragu sebentar
sebelum ngomong.
“Kayaknya Raka mau
berhenti aja deh dari mimpi kuliah. Biayanya mahal banget… Raka capek.”
Ibu berhenti nyapu.
Dia duduk di sampingku.
“Raka yakin mau
nyerah gitu aja?”
Aku nunduk.
“Raka udah coba,
Bu… tapi rasanya susah banget.”
Ibu
tersenyum kecil, walaupun matanya keliatan capek.
“Ka, kamu tau nggak
kenapa ibu selalu bangun malam?”
Aku menggeleng.
“Buat doa.”
“Doa?”
“Iya. Ibu tiap
malam minta sama Allah supaya jalan hidup kamu dimudahin.”
Aku kaget.
“Ibu serius?”
Ibu ketawa kecil.
“Emang kelihatannya
ibu bercanda?”
Aku tiba-tiba
ngerasa dada sesak.
“Tapi Bu… kalau
tetep nggak bisa gimana?”
Ibu menatap langit
yang penuh bintang.
“Doa ibu itu kadang
jalannya muter dulu, Ka. Tapi percayalah… kalau udah waktunya, pasti nyampe.”
Beberapa
minggu kemudian, aku ikut tes beasiswa. Jujur aja, aku nggak terlalu berharap.
Pas
pengumuman keluar, aku buka website itu dengan tangan gemetar.
Dan…
namaku ada di sana.
Aku
bengong.
“Ibuuu!”
teriakku dari dalam rumah.
Ibu langsung keluar
dari dapur.
“Kenapa, Ka?”
Aku hampir nangis.
“Raka…
keterima beasiswa, Bu.”
Ibu diam beberapa
detik. Lalu matanya berkaca-kaca.
“Alhamdulillah…”
katanya lirih.
Aku memeluk ibu
erat.
“Bu… ternyata doa
ibu beneran nyampe ke langit ya.”
Ibu cuma tersenyum
sambil mengusap kepalaku.
“Bukan doa ibu aja,
Ka. Tapi usaha kamu juga.”
Beberapa tahun
berlalu.
Aku akhirnya lulus
kuliah dan dapet kerja yang cukup bagus. Hari pertama aku gajian, aku pulang ke
rumah dan kasih amplop ke ibu.
“Ibu, ini buat
ibu.”
Ibu kaget.
“Ini apa?”
“Gaji pertama
Raka.”
Ibu menatapku lama.
“Ka… ibu nggak
butuh uang kamu.”
Aku tersenyum.
“Tapi Raka butuh
bahagiain ibu.”
Ibu akhirnya
menerima amplop itu sambil tersenyum haru.
“Dulu ibu cuma
punya satu senjata buat bantu kamu,” katanya.
“Apa itu?”
“Doa.”
Epilog
Waktu akhirnya ngajarin aku satu hal:
kadang yang bikin mimpi jadi nyata bukan cuma usaha kita, tapi juga doa ibu
yang diam-diam terbang ke langit setiap malam. Dan saat mimpi itu tercapai,
barulah kita sadar… doa ibu memang nggak pernah salah jalan.
Amanat
Jangan pernah
meremehkan doa seorang ibu. Di balik kesederhanaannya, ada kekuatan besar yang
bisa mengubah hidup anaknya. Hormati ibu, bahagiakan dia, dan jangan pernah
berhenti berusaha, karena usaha yang diiringi doa orang tua bisa membuka jalan
yang sebelumnya terasa mustahil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar