PESAN TERAKHIR DI DRAF
Oleh:Zayyin Masruroh
Layar ponsel Arlan retak di pojok kanan bawah, persis seperti hatinya setiap kali melihat notifikasi "Kenangan 1 Tahun Lalu" muncul di Google Photos. Di foto itu, ada sosok Genta yang sedang tertawa lebar, memegang stik PS dengan latar belakang kamar kos mereka yang berantakan.
Genta bukan cuma sekadar roommate atau sahabat buat Arlan.
Genta itu player 2 dalam hidupnya. Kalau Arlan adalah tipe yang kaku dan
serius, Genta adalah sosok yang selalu punya stok candaan garing untuk
mencairkan suasana.
Tapi sekarang, kursi di sebelah Arlan kosong. Hanya ada tumpukan
buku yang mulai berdebu dan sebuah headset yang kabelnya melilit tidak
beraturan.
"Lan, makan dulu. Kamu sudah di depan PC dari pagi,"
suara lembut Ibu dari balik pintu memecah keheningan.
"Iya, Bu. Bentar lagi tanggung," jawab Arlan datar.
Suaranya serak.
Arlan tidak sedang main game. Dia sedang mencoba meretas
sebuah akun yang sangat dia kenal: akun media sosial Genta yang sudah tidak
aktif selama tiga bulan sejak kecelakaan malam itu. Arlan hanya ingin satu hal:
membaca draf pesan yang pernah Genta tulis.
Dia ingat, sebelum kejadian, Genta pernah bilang, "Lan, kalau
suatu saat aku 'log out' duluan, cek draf aku ya. Ada sesuatu yang belum sempat
aku publish."
Waktu itu Arlan cuma tertawa. "Halah, gaya kamu kayak mau mati
besok saja. Paling isinya curhatan galau kamu karena gagal dapat tiket konser,
kan?"
Kini, tawa itu terasa seperti sembilu. Setelah mencoba belasan
kombinasi kata sandi, akhirnya layar itu terbuka. Access Granted.
Arlan langsung menuju folder Draft. Di sana, hanya ada satu
pesan yang tersimpan. Tanggalnya tepat satu jam sebelum kecelakaan itu terjadi.
Arlan menarik napas panjang, jarinya gemetar saat menekan layar.
"Woi, Lan. Aku tahu kamu pasti bakal baca ini kalau aku
beneran nggak ada. Sorry ya, aku sering minjam korek kamu, nggak aku
balikin. Tapi serius, makasih udah jadi teman yang nggak pernah nge-judge
mimpi aneh aku buat jadi developer game."
"Aku sebenarnya mau bilang, tabungan yang kita kumpulkan buat
beli konsol baru itu... aku pakai sedikit. Jangan marah dulu, Lan. Aku pakai
buat bayar tunggakan kos kamu bulan kemarin yang kamu bilang 'sudah dibayar
bokap'. Aku tahu kamu bohong, Lan. Aku tahu kamu lagi susah tapi sok
kuat."
Air mata Arlan jatuh tepat di atas retakan layar ponselnya.
Butirannya membuat tampilan teks di layar jadi sedikit terdistorsi.
"Genta, aku beneran bodoh ya..." bisik Arlan lirih.
Arlan menyandarkan punggungnya di kursi. Dia teringat betapa
seringnya dia bersikap cuek saat Genta mengajaknya bicara. Dia lebih sering
memakai noise-canceling headphone dan tenggelam dalam dunianya sendiri,
sementara Genta duduk di sebelahnya, berusaha menceritakan hari-harinya yang
melelahkan.
"Kita sering bareng, tapi aku merasa nggak pernah benar-benar
ada buat kamu, Gen," gumam Arlan.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Adik kecil Genta, Dito, berdiri di
sana membawa sebuah kotak kecil.
"Kak Arlan? Ini... Ibu nemu ini di bawah kasur Kak Genta
kemarin. Katanya buat Kakak," ucap Dito dengan mata sembab yang mirip
dengan milik Genta.
Arlan membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah flashdisk
dengan gantungan kunci berbentuk karakter game favorit mereka. Di
dalamnya ada secarik kertas kecil: "Jangan lupa touch grass, Lan.
Dunia itu luas, jangan cuma di kamar. Ini aset game yang kita rancang
bareng, sudah aku selesaiin sebagian kodenya."
Arlan memasukkan flashdisk itu ke komputernya. Sebuah folder
terbuka: Project: Player 2.
Arlan melihat barisan kode yang ditulis Genta dengan sangat rapi.
Ada banyak catatan kecil di setiap barisnya, seperti "Bagian ini Arlan
pasti lebih jago benerinnya" atau "Jangan lupa kasih warna biru,
Arlan suka warna biru."
Malam itu, Arlan tidak menangis tersedu-sedu. Dia hanya duduk diam,
menatap layar yang kini menampilkan karakter buatannya dan Genta yang berdiri
berdampingan di sebuah bukit digital yang estetik.
"Aku bakal selesaiin ini, Gen. Aku janji," bisik Arlan.
Dia menyadari bahwa kehilangan seseorang di era digital itu unik.
Jejaknya ada di mana-mana—di chat, di foto, di barisan kode—tapi
keberadaannya tetap nol. Arlan menghapus air matanya, lalu mulai mengetik. Kali
ini, dia bukan lagi bekerja untuk uang atau ranking, tapi untuk sebuah
janji yang tertinggal di folder draft.
Dunia mungkin sudah kehilangan Genta, tapi di dalam barisan kode
itu, Genta akan selalu hidup sebagai Player 2 yang takkan pernah
tergantikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar