Senin, 23 Maret 2026

Pesan Terakhir Di Draf

 

PESAN TERAKHIR DI DRAF

Oleh:Zayyin Masruroh

 


Layar ponsel Arlan retak di pojok kanan bawah, persis seperti hatinya setiap kali melihat notifikasi "Kenangan 1 Tahun Lalu" muncul di Google Photos. Di foto itu, ada sosok Genta yang sedang tertawa lebar, memegang stik PS dengan latar belakang kamar kos mereka yang berantakan.

Genta bukan cuma sekadar roommate atau sahabat buat Arlan. Genta itu player 2 dalam hidupnya. Kalau Arlan adalah tipe yang kaku dan serius, Genta adalah sosok yang selalu punya stok candaan garing untuk mencairkan suasana.

Tapi sekarang, kursi di sebelah Arlan kosong. Hanya ada tumpukan buku yang mulai berdebu dan sebuah headset yang kabelnya melilit tidak beraturan.

"Lan, makan dulu. Kamu sudah di depan PC dari pagi," suara lembut Ibu dari balik pintu memecah keheningan.

"Iya, Bu. Bentar lagi tanggung," jawab Arlan datar. Suaranya serak.

Arlan tidak sedang main game. Dia sedang mencoba meretas sebuah akun yang sangat dia kenal: akun media sosial Genta yang sudah tidak aktif selama tiga bulan sejak kecelakaan malam itu. Arlan hanya ingin satu hal: membaca draf pesan yang pernah Genta tulis.

Dia ingat, sebelum kejadian, Genta pernah bilang, "Lan, kalau suatu saat aku 'log out' duluan, cek draf aku ya. Ada sesuatu yang belum sempat aku publish."

Waktu itu Arlan cuma tertawa. "Halah, gaya kamu kayak mau mati besok saja. Paling isinya curhatan galau kamu karena gagal dapat tiket konser, kan?"

Kini, tawa itu terasa seperti sembilu. Setelah mencoba belasan kombinasi kata sandi, akhirnya layar itu terbuka. Access Granted.

Arlan langsung menuju folder Draft. Di sana, hanya ada satu pesan yang tersimpan. Tanggalnya tepat satu jam sebelum kecelakaan itu terjadi. Arlan menarik napas panjang, jarinya gemetar saat menekan layar.

"Woi, Lan. Aku tahu kamu pasti bakal baca ini kalau aku beneran nggak ada. Sorry ya, aku sering minjam korek kamu, nggak aku balikin. Tapi serius, makasih udah jadi teman yang nggak pernah nge-judge mimpi aneh aku buat jadi developer game."

"Aku sebenarnya mau bilang, tabungan yang kita kumpulkan buat beli konsol baru itu... aku pakai sedikit. Jangan marah dulu, Lan. Aku pakai buat bayar tunggakan kos kamu bulan kemarin yang kamu bilang 'sudah dibayar bokap'. Aku tahu kamu bohong, Lan. Aku tahu kamu lagi susah tapi sok kuat."

Air mata Arlan jatuh tepat di atas retakan layar ponselnya. Butirannya membuat tampilan teks di layar jadi sedikit terdistorsi.

"Genta, aku beneran bodoh ya..." bisik Arlan lirih.

Arlan menyandarkan punggungnya di kursi. Dia teringat betapa seringnya dia bersikap cuek saat Genta mengajaknya bicara. Dia lebih sering memakai noise-canceling headphone dan tenggelam dalam dunianya sendiri, sementara Genta duduk di sebelahnya, berusaha menceritakan hari-harinya yang melelahkan.

"Kita sering bareng, tapi aku merasa nggak pernah benar-benar ada buat kamu, Gen," gumam Arlan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Adik kecil Genta, Dito, berdiri di sana membawa sebuah kotak kecil.

"Kak Arlan? Ini... Ibu nemu ini di bawah kasur Kak Genta kemarin. Katanya buat Kakak," ucap Dito dengan mata sembab yang mirip dengan milik Genta.

Arlan membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah flashdisk dengan gantungan kunci berbentuk karakter game favorit mereka. Di dalamnya ada secarik kertas kecil: "Jangan lupa touch grass, Lan. Dunia itu luas, jangan cuma di kamar. Ini aset game yang kita rancang bareng, sudah aku selesaiin sebagian kodenya."

Arlan memasukkan flashdisk itu ke komputernya. Sebuah folder terbuka: Project: Player 2.

Arlan melihat barisan kode yang ditulis Genta dengan sangat rapi. Ada banyak catatan kecil di setiap barisnya, seperti "Bagian ini Arlan pasti lebih jago benerinnya" atau "Jangan lupa kasih warna biru, Arlan suka warna biru."

Malam itu, Arlan tidak menangis tersedu-sedu. Dia hanya duduk diam, menatap layar yang kini menampilkan karakter buatannya dan Genta yang berdiri berdampingan di sebuah bukit digital yang estetik.

"Aku bakal selesaiin ini, Gen. Aku janji," bisik Arlan.

Dia menyadari bahwa kehilangan seseorang di era digital itu unik. Jejaknya ada di mana-mana—di chat, di foto, di barisan kode—tapi keberadaannya tetap nol. Arlan menghapus air matanya, lalu mulai mengetik. Kali ini, dia bukan lagi bekerja untuk uang atau ranking, tapi untuk sebuah janji yang tertinggal di folder draft.

Dunia mungkin sudah kehilangan Genta, tapi di dalam barisan kode itu, Genta akan selalu hidup sebagai Player 2 yang takkan pernah tergantikan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar