Senin, 23 Maret 2026

Kehilanganmu Luka Bagiku

 

Kehilanganmu Luka Bagiku

Oleh: Tasya Mariska



Pagi itu terasa berbeda. Rumah yang biasanya hangat oleh suara ibu kini terasa sunyi. Tidak ada lagi suara lembut yang membangunkanku untuk salat subuh, tidak ada lagi aroma masakan yang selalu membuatku bersemangat memulai hari. Tapi kini semuanya hilang begitu saja. 

“Ibu…kenapa kamu pergi begitu cepat?” bisikku pelan.

Sejak kepergian ibu, hidupku terasa kosong. Setiap sudut rumah mengingatkanku padanya. Dapur yang dulu selalu ramai oleh suara ibu memasak kini sepi. Tidak ada lagi suara lembutnya yang memanggil namaku setiap pagi.

“Apa kamu sudah makan, Nak?” tanya Ayah pelan sambil menghampiriku.

Aku menggeleng. “Belum, Yah… Aku tidak lapar.”

Ayah menarik napas panjang. “Ibu pasti tidak ingin kamu seperti ini.”

Aku menunduk. Dadaku terasa sesak setiap kali mendengar kata ibu. Rasanya baru kemarin beliau tersenyum dan memanggilku dari dapur.

“Nak, sini sebentar,” suara ibu terngiang di kepalaku.

“Ada apa, Bu?” jawabku waktu itu sambil menghampiri.

Ibu tersenyum lembut. “Jangan lupa makan yang banyak. Kamu harus sehat.”

Aku tertawa kecil. “Iya, Bu. Ibu juga jangan capek-capek.”

Kenangan itu kini hilang begitu saj.

“Ayah juga sedih,” kata Ayah tiba-tiba. “Tapi kita harus kuat.”

Aku menatap Ayah dengan mata berkaca-kaca. “Aku kangen Ibu, Yah…”

Ayah menepuk bahuku. “Ayah juga.”

Tak lama kemudian sahabatku, Rani, datang ke rumah.

“Assalamu’alaikum,” katanya pelan.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku.

Rani duduk di sampingku. “Bagaimana keadaanmu?”

Aku menahan air mata yang hampir jatuh. “Aku masih tidak percaya Ibu sudah tidak ada.”

Rani menggenggam tanganku. “Aku tahu ini berat.”

“Aku merasa rumah ini kosong,” kataku lirih. “Tidak ada yang membangunkanku pagi-pagi lagi.”

Rani mencoba tersenyum. “Tapi kenangan ibu tetap ada.”

Aku terdiam sejenak.

“Dulu setiap pagi ibu selalu berkata,” kataku pelan, “‘Bangun, Nak. Cepat bantu ibu beres – beres rumah.’’

Rani bertanya pelan, “Apa lagi yang sering ibu katakan padamu?”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Ibu sering berkata, ‘Belajarlah yang rajin, Nak. Ibu ingin melihatmu sukses.’”

“Pasti ibu sangat bangga padamu,” kata Rani.

Aku menggeleng pelan. “Aku merasa belum membuat ibu bangga.”

“Kamu jangan berpikir seperti itu,” jawab Rani lembut. “Ibumu pasti sudah bangga hanya dengan melihatmu berusaha.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Aku ingin mendengar suara itu lagi,” kataku dengan suara bergetar.

Rani memelukku. “Ibumu pasti bangga melihatmu kuat.”

Aku menghapus air mata. “Tapi kehilangan ibu adalah luka besar bagiku.”

Rani mengangguk. “Luka itu mungkin tidak akan hilang. Tapi seiring waktu, kamu akan belajar menjaganya dengan kenangan yang indah.”

“Aku takut melupakan wajahnya,” kataku pelan.

“Kamu tidak akan lupa,” jawab Rani. “Karena cinta ibu selalu tinggal di hati anaknya.”

Aku memandang foto ibu yang tergantung di dinding.

“Bu,” bisikku pelan, “aku akan berusaha menjadi anak yang kuat.”

Ayah yang berdiri di dekat pintu ikut menatap foto itu.

“Kita semua merindukanmu,” kata Ayah pelan seolah berbicara pada foto ibu.

Angin pagi masuk melalui jendela, seolah membawa kehangatan yang dulu ibu berikan.

Walaupun ibu telah pergi, cintanya tetap tinggal di dalam hatiku.

Dan aku tahu, kehilangan ibu memang luka bagiku, tetapi cinta ibu akan selalu menjadi kekuatan dalam hidupku.

Amanat :

Kita harus menghargai dan menyayangi orang tua selagi ada. Ketika mereka telah tiada, kenangan dan nasihat harus kita jadikan kekuatan untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar