Senin, 25 Mei 2020

Idul Fitri di Masa Pandemi: Lebaran atau Tidak?

Idul Fitri di Masa Pandemi: Lebaran atau Tidak? 
Oleh: Bina Ida 


(Sumber foto ilustrasi: google.com) 


"Baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama"

Lagu yang dipopulerkan oleh Dhea Ananda itu sering kali menyemarakkan suasana di hari raya. Hari dimana semua umat muslim kembali ke fitrahnya, kembali suci, setelah 30 hari lamanya menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Bagi sebagian besar orang, ketika lebaran datang, sudah menjadi keharusan untuk membeli pakaian baru dan banyak hal lagi yang dijadikan baru. Di negara kita, hal seperti itu nampaknya sudah terlalu mendarah daging bahkan menjadi tradisi. Maka tak heran, ketika mendekati lebaran, pasar, swalayan, mall, dan sejenisnya akan selalu saja menjadi kerumunan banyak orang.

Akan tetapi, lebaran tahun ini nampaknya tak seperti yang dulu lagi. Keberadaan wabah Corona Virus Disease (Covid-19) yang semakin menjadi kini telah memberikan dampak yang cukup luar biasa. Berbagai macam kebijakan telah pemerintah sampaikan demi pencegahan penyebaran virus ini. Termasuk pula dalam perayaan hari raya Idul Fitri. Mulai dari sholat ied sampai silaturahmi semuanya sudah diberi aturan sendiri-sendiri. Berdasarkan himbauan dari MUI, Sholat ied boleh dilaksanakan dengan catatan memakai masker, bawa alas sendiri serta tetap membaca jarak. Silaturahmi dianjurkan melalui media online yang tersedia, tanpa bertatap muka dan bersalaman. Maka wajar jika sebagian besar orang beropini bahwa ini lebaran, namun seperti tak lebaran meskipun aslinya tetap lebaran.

Sejatinya, silaturahmi merupakan suatu sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah". (HR.Daud,Tirmidzi & Ibnu Majah).  Namun dengan keadaan sekarang ini, meskipun dilakukan secara online semoga tidak menghilangkan esensi dari silaturahmi itu sendiri. 

Peningkatan Iman

Selama sebulan penuh umat muslim telah digembleng untuk selalu mengerjakan amalan di bulan penuh berkah, yaitu Ramadhan. Di bulan tersebut, seluruh amalan ibadah kita akan berbuah pahala. Setelah Ramadhan usai, bukan berarti rutinitas ibadah kita lantas turut usai. Justru kita harus meningkatkan keimanan kita untuk menggapai ketaqwaan dan tetap menjadi rutinitas ibadah hingga 11 bulan kedepan setelah hari kemenangan. Dilansir dari sebuah situs NU online, berikut penulis sampaikan 3 kiat untuk meningkatkan keimanan.

Pertama, mendengarkan ayat al-Qur’an dan hadits yang di dalamnya disebutkan perihal janji Allah subhanahu wata’ala, ancaman-Nya, perkara-perkara akhirat, kisah-kisah nabi, mukjizat, serta hukuman bagi mereka yang menentang para nabi. Begitu juga mendengarkan kezuhudan salafussalihin di kehidupan dunia, begitu juga kecintaan mereka kepada akhirat.

Kedua, melihat kebesaran langit dan bumi dengan segala sesuatu yang menakjubkan serta keindahan yang diciptakan di langit dan bumi. Salah satu contoh ayat yang menunjukan keagungan Allah di antaranya disebutkan dalam Al-Qur'an yang artinya: 

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya?” (Q.S. Al-Sajdah [32]: 4). 

Dengan membaca dan merenungkan ayat diatas kita dapat melihat kebesaran Allah subhanahu wata’ala, bahwasannya Allah adalah pencipta seluruh alam yang besar ini, bahwasannya kita ini sangat kecil dibanding alam besar yang penciptanya adalah Allah, lantas masihkah belum tumbuh rasa ketaqwaan kita kepada-Nya?

Ketiga, melaksanakan amal saleh secara teratur, juga menjaga dirinya supaya tidak tergelincir kepada kemaksiatan dan keburukan. Beliau juga menjelaskan bahwa iman itu dengan perkataan dan amal, bertambah sebab melakukan ketaatan dan menurun sebab melakukan kemaksiatan. 

Sebagai penutup, di hari yang fitri ini, semoga segala amal ibadah kita saat ramadhan diterima oleh-Nya. Mohonkan pula pada-Nya agar kita selalu diberikan keistiqomahan beribadah dan ditingkatkan keimanan kita. Di tengah pandemi yang belum usai hingga kini, semoga tidak menjadikan kita lengah dan lalai. Tetap berpegang teguh pada agama serta sejalan dengan mengikuti anjuran pemerintah dan tim medis agar segera disudahkan virus ini oleh sang Maha dari segala Maha. Aamiin 

1 komentar: