Aku Bukan Beban
Keluarga
Oleh: Lutfia
Hatin
“Makannya
jangan main hp terus star kamu ini gimana mau banggain ibu kalau kamu hari-hari
rebahan ga jelas gini bikin beban keluarga aja”
Ucapnya yang sangat keras di telingaku yang entah sudah berapa kali ku dengar.
“Namun aku tidak
hanya sedang bermain hp melainkan aku menjadi seorang affiliator aku bisa
menghasilkan uang hanya dengan bermain hp hanya saja aku belum sukses seperti
orang lain”. Ujarku dalam hati
Namaku
starlight remaja perempuan yang tinggal di pedesaan dekat lereng merbabu yang
berumur 18 yang sedang ingin berjuang mati matian hanya ingin menjadi dokter
bahkan aku juga ingin memutus rantai kemiskinan. Andai saja menjalani kehidupan
dengan kenangan yang pernah terluka tidak pernah ku lewati. Lantas nanti aku
akan tidakbisa terbentuk karna awal mula terbentu karena terbentur terbentur
dan terbentuk.
Malam itu menjadi
sunyi setelah kejadian ,makanan di meja makan pun juga terasa hambar seperti
tidak seperti biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja.
Langkahku
berhenti di ambang pintu aku melihat sesekali kearah meja belajar ku namun aku
tidak mengubrisnya sama sekali akhirnya aku beranjak ke meja belajar untuk
membaca suatu buku. Saat membacanya hatiku gemetar seakan akan harus bisa
menjadi sosok yang ada di dalam buku tersebut yang harus sempurna, sempurna di
mata keluarga, kerabat,bahkan di mata teman guru dan masi banyak lagi ia juga
sosok yang sangat popular di kalangan mahasiswa kedokteran UNIVERSITAS INDONESA
iyaa beliau ainun.
Aku mempunya
keinginan namun aku tak mempunyai uang yang cukup untuk bersekolah yang tinggi
sama seperti beliau, Maka dari itu aku memutuskan agar bisa kuliah memakai uang
sendiri.
Saat ini
pekerjaanku hanya bersih bersih rumah, memasak tidak ada hal lain yang bisa ku
lakukan karna aku tidak bisa bekerja secara offline dikarnakan motor rumah yang
hanya satu dan itupun dipakai untuk kakak ku bekerja sebelum ia bekerja saja
harus mengantar ayahku buruh dan ibuku juga hanya menjadi ibu rumah tangga.
“Star kamu ini
cuman di suruh cuci piring aja susah sekali apa kamu tidak mendengar suaraku
heii star”
“Apa bu aku
mendengar, aku sedang membersihkan debu di ruang tamu”
“aahhh kamu ini
hanya malas terus kerjaannya”
Hatiku berdegup
kencang seketika aku larut dengan kata malas yang baru saja di ucapkan oleh ibu
tiriku padahal aku setiap hari membantu pekerjaan rumah pekerjaan dia hanya
ngerumpi dengan tetangga saja.
“ayah pulang
star “
“alhamdulillah
bagaimana yah lancarkan tadi”
“iya ayah tadi
cuman di suruh mencabut rumput saja, ini sudah di gaji dua hari”
Dengan
mengeluarkan uang 50 ribu dengan disertai senyuman yang begitu hangat
“yah, star
ingin bekerja”
“tidak usah
bekerja biarkan ayah saja”
“star ingin
kuliah ayah star ingin menjadi dokter ”
Ayah tidak
menjawab ia hanya tersenyum lalu mengatakan
“iyaa star
kuliah lah, namun kamu harus janji sama ayah kuliah harus semangat jangan sia
siakan waktu”
“memangnya ayah
punya uang untuk mendaftar kuliah?”
“uang bisa di
usahakan star, jika kau mau pasti kau akan bersungguh sungguh bukan? Ayah juga
begitu nak jadi ayah akan berusaha okeee”
‘iya ayah,star
mau”
Mendengar hal
tadi aku masuk kekamar dengan penuh rasa bahagia senyum yang sangat lebar pipi
yang memerah karna tidak sabar.
Malam yang
hening nan penuh kesunyian aku membaca buku buku ,aku belajar anatomi yang
pernah kupelajari. Aku membayangkan betapa bahagianya aku akan berkuliah aku
terus belajar hingga larut malam dan sialnya aku bangun kesiangan.
“starr kamu ini
anak gadis masi tidur jam segini”
Yang awalnya
aku masi tertidur pulas jantungku rasanya ingin keluar dari dalam tubuh aku
yang awalnya masi berbaring langsung berdiri dan segera berlari ke kamar mandi’
“nahh anak
gadis baru bangun”
“maaf bu”
dengan sedikit senyum takut
“begadang lagi
yaa kamu?”.
Aku tersenyum
tipiss lalu segera membantu ibu memasak dan berberes rumah. Setelah pekerjaan
selesai aku pun hendak berburu buru belajar karna tadi malam aku sudah
mendaftar di universitas yang dekat dari rumah.aku hendak membaca buku namun
sebuah notif membuat mataku melotot dada yang mulanya berdegup biasa kini juga
berdebar amat sangat keras.
“ibuu,ayah aku
lolos ujian”
Suaraku
memenuhhi seisi rumah
Ibu dan kakak
ku sudah tau bahwa aku ingin berkuliah karna sudah di ceritakan ayah.
“ayah aku lolos
fakultas kedoteran”
“kakak ibuu aku
lolossss”
Seisi rumah
terasa hangatt hatiku yang tak berhenti berucap bersyukur atas karunianya.
**
Pagi yang cerah
kusambut dengan mandi pagi memakai baju putih celana hitam berjilbab hitam
berdandan se cantik mungkin karna hari ini aku akan most mahasiswa day 1
“Silahkan
berkenalan satu sama lain” ujar kakak kakak yang memakai baju pdh himpunan
tentunya dia panita kegiatan tersebut.
“hai semua aku
starlight kalian bisa panggil star”
Saat ku ucapkan
namaku sendiri hatiku bergetar aku gugup tidak menyangka aku bisa di titik ini.Semua
orang ikut terdiam ketika aku berbicara.Setelah aku berkenalan di sambut dengan
“hai star, kamu
di panggil star atau light ?”
“hallo, aku
biasa di panggil star kalau mau panggil light boleh kok”
“namamu cantik
seperti orangnya”
“ahh kamu ini
bisa saja, lalu siapa namamu?”
“namaku gisel
aleazizan panggil sela tau gisel”
“hai
Gisel,salam kenal”
**
Rasanya baru
kemarin aku mahasiswa baru ternyata aku bisa lulus tepat waktu.Melewatkan
banyak hal untuk bisa sampai ke titik ini.Selama aku berkuliah aku mendapatkan
bantuan dari pemerintah dan tidak hanya itu saja aku juga berhasil menjadi
affiliator dengan itu aku bisa hidup dan membiayai kuliahku dengan sendiri,
terkadang aku tidak meminta uang saku kepada keluarga malah aku bisa mengasih
keluarga dengan jerih payahku. Tidak ada waktu yang kusiasiakan untuk belajar
bahkan aku tidak mengikuti organisasi apapun. Selalu aktif dikelas selalu
mengerjakan tugas tepat waktu.tidak pernah absen, kalau telat pernah sesekali
karna alaram yang kupasang rusak dan hari ini aku berhasil lulus dengan predikat
cumlaude.
“ayah ibu dan
kakak sangat bangga sama kamu nak”
“terimakasih
ayah ibu kakak sudah bantu wujudin ke inginan star”
tangisku pecah,
hati ini rasanya campur aduk ibu juga menangis histeris memeluk ayah,ayah
memang tidak menangis dihadapanku namun aku yakin. Ayah pasti menangis di lubuk
hatinya.
Sedari tadi
kakak yang terus memelukku karna bangga aku aku bisa menjadi dokter pertama di
keluarga, anak pertama perempuan yang berkuliah. Kakak memang tidak berkuliah
tetapi karnanya aku bisa konsisten belajar mencari pengalaman.Hari itu aku tak
berhenti mengucapkan Syukur kepadanya terimakasih ya allah alhamdulillah.Karna
menuntut ilmu dan wawasan yang luas bukan harus punya uang yang banyak tapi
siapa yang mau berusaha dengan tenaga.Mengerahkan sesuai kemampuan terus
belajar ikhtiar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar