Senin, 23 Maret 2026

Aku Bukan Beban Keluarga

 

Aku Bukan Beban Keluarga

Oleh: Lutfia Hatin



“Makannya jangan main hp terus star kamu ini gimana mau banggain ibu kalau kamu hari-hari rebahan ga jelas gini bikin beban keluarga aja”

Ucapnya yang sangat keras di telingaku yang entah sudah berapa kali ku dengar.

“Namun aku tidak hanya sedang bermain hp melainkan aku menjadi seorang affiliator aku bisa menghasilkan uang hanya dengan bermain hp hanya saja aku belum sukses seperti orang lain”. Ujarku dalam hati

Namaku starlight remaja perempuan yang tinggal di pedesaan dekat lereng merbabu yang berumur 18 yang sedang ingin berjuang mati matian hanya ingin menjadi dokter bahkan aku juga ingin memutus rantai kemiskinan. Andai saja menjalani kehidupan dengan kenangan yang pernah terluka tidak pernah ku lewati. Lantas nanti aku akan tidakbisa terbentuk karna awal mula terbentu karena terbentur terbentur dan terbentuk.

 

Malam itu menjadi sunyi setelah kejadian ,makanan di meja makan pun juga terasa hambar seperti tidak seperti biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja.

Langkahku berhenti di ambang pintu aku melihat sesekali kearah meja belajar ku namun aku tidak mengubrisnya sama sekali akhirnya aku beranjak ke meja belajar untuk membaca suatu buku. Saat membacanya hatiku gemetar seakan akan harus bisa menjadi sosok yang ada di dalam buku tersebut yang harus sempurna, sempurna di mata keluarga, kerabat,bahkan di mata teman guru dan masi banyak lagi ia juga sosok yang sangat popular di kalangan mahasiswa kedokteran UNIVERSITAS INDONESA iyaa beliau ainun.

Aku mempunya keinginan namun aku tak mempunyai uang yang cukup untuk bersekolah yang tinggi sama seperti beliau, Maka dari itu aku memutuskan agar bisa kuliah memakai uang sendiri.

Saat ini pekerjaanku hanya bersih bersih rumah, memasak tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan karna aku tidak bisa bekerja secara offline dikarnakan motor rumah yang hanya satu dan itupun dipakai untuk kakak ku bekerja sebelum ia bekerja saja harus mengantar ayahku buruh dan ibuku juga hanya menjadi ibu rumah tangga.

“Star kamu ini cuman di suruh cuci piring aja susah sekali apa kamu tidak mendengar suaraku heii star”

“Apa bu aku mendengar, aku sedang membersihkan debu di ruang tamu”

“aahhh kamu ini hanya malas terus kerjaannya”

Hatiku berdegup kencang seketika aku larut dengan kata malas yang baru saja di ucapkan oleh ibu tiriku padahal aku setiap hari membantu pekerjaan rumah pekerjaan dia hanya ngerumpi dengan tetangga saja.

“ayah pulang star “

“alhamdulillah bagaimana yah lancarkan tadi”

“iya ayah tadi cuman di suruh mencabut rumput saja, ini sudah di gaji dua hari”

Dengan mengeluarkan uang 50 ribu dengan disertai senyuman yang begitu hangat

“yah, star ingin bekerja”

“tidak usah bekerja biarkan ayah saja”

“star ingin kuliah ayah star ingin menjadi dokter ”

Ayah tidak menjawab ia hanya tersenyum lalu mengatakan

“iyaa star kuliah lah, namun kamu harus janji sama ayah kuliah harus semangat jangan sia siakan waktu”

“memangnya ayah punya uang untuk mendaftar kuliah?”

“uang bisa di usahakan star, jika kau mau pasti kau akan bersungguh sungguh bukan? Ayah juga begitu nak jadi ayah akan berusaha okeee”

‘iya ayah,star mau”

Mendengar hal tadi aku masuk kekamar dengan penuh rasa bahagia senyum yang sangat lebar pipi yang memerah karna tidak sabar.

 

Malam yang hening nan penuh kesunyian aku membaca buku buku ,aku belajar anatomi yang pernah kupelajari. Aku membayangkan betapa bahagianya aku akan berkuliah aku terus belajar hingga larut malam dan sialnya aku bangun kesiangan.

“starr kamu ini anak gadis masi tidur jam segini”

Yang awalnya aku masi tertidur pulas jantungku rasanya ingin keluar dari dalam tubuh aku yang awalnya masi berbaring langsung berdiri dan segera berlari ke kamar mandi’

“nahh anak gadis baru bangun”

“maaf bu” dengan sedikit senyum takut

“begadang lagi yaa kamu?”.

Aku tersenyum tipiss lalu segera membantu ibu memasak dan berberes rumah. Setelah pekerjaan selesai aku pun hendak berburu buru belajar karna tadi malam aku sudah mendaftar di universitas yang dekat dari rumah.aku hendak membaca buku namun sebuah notif membuat mataku melotot dada yang mulanya berdegup biasa kini juga berdebar amat sangat keras.

“ibuu,ayah aku lolos ujian”

Suaraku memenuhhi seisi rumah

Ibu dan kakak ku sudah tau bahwa aku ingin berkuliah karna sudah di ceritakan ayah.

“ayah aku lolos fakultas kedoteran”

“kakak ibuu aku lolossss”

Seisi rumah terasa hangatt hatiku yang tak berhenti berucap bersyukur atas karunianya.

 

**

Pagi yang cerah kusambut dengan mandi pagi memakai baju putih celana hitam berjilbab hitam berdandan se cantik mungkin karna hari ini aku akan most mahasiswa day 1

“Silahkan berkenalan satu sama lain” ujar kakak kakak yang memakai baju pdh himpunan tentunya dia panita kegiatan tersebut.

“hai semua aku starlight kalian bisa panggil star”

Saat ku ucapkan namaku sendiri hatiku bergetar aku gugup tidak menyangka aku bisa di titik ini.Semua orang ikut terdiam ketika aku berbicara.Setelah aku berkenalan di sambut dengan

“hai star, kamu di panggil star atau light ?”

“hallo, aku biasa di panggil star kalau mau panggil light boleh kok”

“namamu cantik seperti orangnya”

“ahh kamu ini bisa saja, lalu siapa namamu?”

“namaku gisel aleazizan panggil sela tau gisel”

“hai Gisel,salam kenal”

**

Rasanya baru kemarin aku mahasiswa baru ternyata aku bisa lulus tepat waktu.Melewatkan banyak hal untuk bisa sampai ke titik ini.Selama aku berkuliah aku mendapatkan bantuan dari pemerintah dan tidak hanya itu saja aku juga berhasil menjadi affiliator dengan itu aku bisa hidup dan membiayai kuliahku dengan sendiri, terkadang aku tidak meminta uang saku kepada keluarga malah aku bisa mengasih keluarga dengan jerih payahku. Tidak ada waktu yang kusiasiakan untuk belajar bahkan aku tidak mengikuti organisasi apapun. Selalu aktif dikelas selalu mengerjakan tugas tepat waktu.tidak pernah absen, kalau telat pernah sesekali karna alaram yang kupasang rusak dan hari ini aku berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

“ayah ibu dan kakak sangat bangga sama kamu nak”

“terimakasih ayah ibu kakak sudah bantu wujudin ke inginan star”

tangisku pecah, hati ini rasanya campur aduk ibu juga menangis histeris memeluk ayah,ayah memang tidak menangis dihadapanku namun aku yakin. Ayah pasti menangis di lubuk hatinya.

Sedari tadi kakak yang terus memelukku karna bangga aku aku bisa menjadi dokter pertama di keluarga, anak pertama perempuan yang berkuliah. Kakak memang tidak berkuliah tetapi karnanya aku bisa konsisten belajar mencari pengalaman.Hari itu aku tak berhenti mengucapkan Syukur kepadanya terimakasih ya allah alhamdulillah.Karna menuntut ilmu dan wawasan yang luas bukan harus punya uang yang banyak tapi siapa yang mau berusaha dengan tenaga.Mengerahkan sesuai kemampuan terus belajar ikhtiar.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar